Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 70 : Mata-mata


__ADS_3

"Tuan?"


"Apa kau?"


"Anda besok menyuruh saya cuti padahal besok hari minggu Tuan," ucap Asisten Kim sambil menyetir mobil menuju cafe.


"Sudah tahu masih bertanya kau"


Tidak mungkin Tuan Sean memberiku cuti dengan percuma bahkan dia sendiri tidak pernah cuti.


Mereka menuju ke cafe dengan khawatir jika terjadi sesuatu dengan Mauren.


Asisten Kim melajukan mobilnya dengan cepat selama 15 menit lalu mereka sampai di cafe itu.


Mereka langsung masuk ke cafe itu, untungnya cafe itu terdapat penyekat ruangan sehingga Mauren dan Alana tidak menyadari kedatangan Sean dan Asistennya.


Sean memilih duduk di dekat ruangan tempat Mauren dan Alana mengobrol, lalu ia melirik Asisten Kim yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa kau duduk disini?" tanya Sean bingung.


"Jika saya duduk diseberang anda maka seperti terlihat sedang berkencan, Tuan"


"Cih! Mesum sekali kau"


Mereka lalu mendengarkan pembicaraan Mauren dan Alana yang kelewat serius. Sean mengerutkan kening ketika mendengar tangisan yang ia kenal yaitu tangisan Alana.


"Hiks hiks aku cukup terluka oleh Sean tetapi bagaimana lagi dia tidak menyukaiku, aku seperti orang yang bodoh menyukai dia secara sepihak, hiks hiks," ucap Alana sambil menangis pilu.


Mauren menatapnya secara iba, sebagai perempuan ia tahu apa yang dirasakan oleh Alana. Dia juga pernah merasakan rasa sakit karena tersakiti oleh laki-laki.


Mauren menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Alana yang ada diseberangnya sambil tersenyum.


"Laki-laki bukan hanya Sean. Kak Alana bisa cari pria yang lebih baik daripada Sean, Kak Alana harus semangat," ucap Mauren.


Mauren berdiri lalu memeluk Alana, ia tahu kesedihan gadis itu, hanya sebuah pelukan hangat bisa memenangkan Alana. Alana merasa berdegup kencang saat dipeluk oleh Mauren, ia merasakan sensasi yang berbeda ketika gadis itu memeluknya.


Siapa sebenarnya gadis ini? Apakah aku pernah mengenalnya sebelumnya?


Kenapa merasa hangat dan tenang saat dipeluk dia? Batin Alana.


Saat di meja Sean dan Kim.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan.


"Sejak kapan aku punya adik?"


"Hmm.. maaf. Mau pesan apa, Pak?"


"Sejak kapan aku menjadi bapak kau? Panggil aku Tuan!" pinta Sean.


"Baik. Jadi mau pesan apa, Tuan?"


"Air putih"


Pelayan itu mengerutkan dahi, dua pria tampan memakai jas lengkap mampir ke cafe hanya memesan air putih.


Asisten Kim nampak malu, ia segera memesan dua porsi kentang goreng dan jus jeruk untuk dirinya dan sang tuan.


"Tujuan kita kesini untuk melihat Oren bukan untuk makan"


"Tapi Tuan, kita bisa diusir jika tidak memesan makanan," jelas Asisten Kim.


"Alasan! Ya sudah tapi kau yang bayar"


Pelit sekali Tuan Sean. Batin Asisten Kim.


Mereka melanjutkan menguping Mauren dan Alana, Sean cukup terharu dengan Alana yang tidak membenci Mauren walaupun Alana mengetahui hubungannya Mauren dengan Sean.


Sebenarnya kau sangat baik, Alana.


Aku sudah mengenalmu sejak kecil, semoga saja kau mendapat jodoh yang baik juga.


"Makananku sudah habis, Kak Alana lama sekali makannya," ucap Mauren yang melirik piring Alana.

__ADS_1


"Kau pesan lagi camilan, tenang saja aku yang bayar"


Mauren tersenyum ia memanggil pelayan lalu memesan beberapa camilan, sedari tadi Alana melirik kecantikan Mauren. Pantas saja jika Sean menyukai gadis itu.


"Kakak tidak membenciku?" tanya Mauren masih ragu.


"Untuk apa aku membencimu? Kau tidak salah apa-apa. Kita menyukai pria yang sama bukan berarti aku harus membencimu," jawab Alana dengan pemikiran dewasa.


Mauren tersenyum dan terharu mendengar ucapan Alana. Entah kenapa ia berpikir jika gadis itu memang baik tidak seperti yang ia pikirkan sebelumnya.


Di meja Sean dan Kim.


Makanan mereka sudah datang, Sean sedang asyik mendengar obrolan para gadis itu. Dia menarik sedotan yang berada dalam jus jeruk sedangkan tangannya mencoba menggapai ponsel miliknya yang berada di atas meja dengan pandangan yang kosong ke depan.


Tangan Sean mulai mencari ponsel itu, ia meraba diatas meja sampai ia tidak sengaja memegang tangan Asisten Kim lalu ia menggenggamnya.


Mereka sama-sama terkejut dan saling berpandangan cukup lama.


Sean tersenyum memandang wajah Asisten Kim yang seperti kagum sambil menyedot jus jeruk miliknya.


Asisten Kim membalas senyuman itu.


Lalu tiba-tiba ekspresi Sean berubah dan mulai menyemburkan jus jeruk dari dalam mulutnya ke wajah Asisten Kim.


Asisten Kim terkejut dengan wajah yang basah dan sedikit lengket.


"Cari mati kau, Kim? Ku pikir kau bukan gay ternyata kau makin gay," ucap Sean.


"Yang gay itu anda, Tuan. Anda yang menggenggam tangan saya dan tersenyum kearah saya," jawab Asisten Kim mengelap wajahnya dengan tisu.


"Sialan! Mulai berani Kau denganku? Ayo bertengkar Kim!"


"Ayo Tuan"


Mereka bertengkar seperti anak kecil saling mencubit badan satu sama lain sedangkan Mauren dan Alana curiga dengan pengunjung yang berada di ruangan sebelah yang sedari tadi bertengkar. Mereka jika sangat familiar dengan suara tersebut lalu memutuskan mendatangi ruangan itu.


"Oppa? Kak Kim?" ucap Mauren terkejut saat melihat Sean dan Asisten Kim saling menjambak rambut.


"Kenapa kalian ada disini? Kalian menguping pembicaraan kami?" tanya Alana.


Sean dan Asisten Kim mengelak dan beralasan jika mereka sedang makan malam bersama.


Sean dengan cepat mengambil beberapa potong kentang goreng lalu menyuapi Asisten Kim dengan mesra.


Begitu pun dengan Asisten Kim, ia juga menyuapi Sean dengan beberapa potong kentang goreng.


Mereka tampak mesra dan serasi sedangkan Mauren dan Alana ternganga dan saling bertukar pandang.


"Kenapa kita menjadi gay sungguhan, Kim?" bisik Sean.


"Tidak apa-apa Tuan supaya mereka tidak curiga jika kita menguping mereka," bisik Asisten Kim.


5 menit kemudian.


Mereka berempat keluar dari cafe.


Sean berterima kasih kepada Alana yang mau merahasiakan hubungannya dengan Mauren. Alana tersenyum karena kebahagiaan Sean adalah kebahagiaannya juga.


Setelah itu Alana pulang menaiki mobilnya sendiri.


Sedangkan Mauren ikut ke dalam mobil Sean.


Didalam mobil, Mauren bersandar pada bahu Sean. Hari ini ia sangat lelah dan ingin berendam air panas.


Tetapi sebuah pesan masuk membuyarkan lamunannya, Mauren segera membaca pesan tersebut.


Dia terkejut dan senang karena besok pagi ibunya akan datang mengunjunginya.


"Oppa?"


"Hmm"


"Emakku besok akan datang"

__ADS_1


"Sungguh?"tanya Sean, " Kim. Tolong besok siapkan kamar kosong untuk ibu mertuaku!"


"Baik Tuan"


"Oppa, besok kita masak apa untuk Emak?" tanya Mauren.


"Jangan khawatir! Kita pakai koki terhebat untuk memasakan makanan lezat untuk ibumu"


Mauren memeluk Sean, ia begitu beruntung memiliki suami yang sangat sempurna.


Dibawah ini adalah lagu yang cocok untuk Mauren ke Sean. Bayangkan saja jika mereka didalam mobil dengan soundtrack lagu ini.


Kerispatih - DIA


Dia hanya dia di duniaku


Dia hanya dia di mataku


Dunia terasa telah menghilang


Tanpa ada dia di hidupku


Sungguh sebuah tanya yang terindah


Bagaimana dia merengkuh sadarku


Tak perlu ku bermimpi yang indah


Karena ada dia di hidupku


Ku ingin dia yang sempurna


Untuk diriku yang biasa


Ku ingin hatinya ku ingin cintanya


Ku ingin semua yang ada pada dirinya


Ku hanya manusia biasa


Tuhan bantu ku tuk berubah


Tuk miliki dia tuk bahagiakannya


Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia


Ku ingin dia yang sempurna


Untuk diriku yang biasa


Ku ingin hatinya ku ingin cintanya


Ku ingin semua yang ada pada dirinya


Ku hanya manusia biasa


Tuhan bantu ku tuk berubah


Tuk miliki dia tuk bahagiakannya


Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia untuk dia


"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Sean heran.


"Tidak apa-apa, Oppa. I love you"


"Love you too, Oren"


Dan Kim menjadi obat nyamuk lagi.


SAD BOY :(


__ADS_1


__ADS_2