Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 180 - Aku tidak mencintaimu


__ADS_3

"Dimana Om Ali?" tanya Sera sekali lagi.


"Tuan Sean menyuruhnya kembali ke kantor dan saya disini menggantikannya untuk menemanimu," jawab Asisten Kim.


Sera masih tidak menyangka jika Ali akan meninggalkannya tanpa berbicara.


Sera meraih tasnya lalu berjalan meninggalkan Asisten Kim.


Asisten Kim memegangi tangannya membuat gadis itu terhenti dari langkahnya.


"Mau kemana nona Sera?" tanya Asisten Kim.


"Aku mau pulang," jawab Sera ketus.


"Tunggu! Ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda," ucap Asisten Kim.


Sera menepisnya lalu berlari menjauhi Asisten Kim dan mencari keberadaan mobil Ali.


Benar saja jika Ali sudah tidak ada disana, Sera merasa kesal kepada Ali karena telah mempermainkannya.


Jika Om Ali ada perlu ke kantor kan bisa bilang padaku tetapi kenapa malah menyuruh Asisten Kim kesini? Batin Sera.


Asisten Kim mengejarnya tetapi Sera seolah tidak peduli.


Asisten Kim lalu memegang tangan Sera dan menatap wajahnya.


Sera terpaku dengan wajah tampannya tetapi tiba-tiba ia memalingkan wajah.


"Aku ingin pulang," ucap Sera.


Asisten Kim lalu mengantar Sera untuk kembali ke apartemen Sean. Dalam perjalanan Sera nampak berkutat pada ponselnya. Dia mengirimi pesan kepada Ali.


Sera


Om kok ninggalin aku gitu?


Zachary Ali


Maaf manis. Aku ada keperluan mendadak. Bagaimana makan siang mu dengan Kim?


Sera


Kalian memang sengaja ya? Om berusaha deketin aku dengan Asisten Kim kan?


Zachary Ali


Bukan begitu, nanti malam kita bicara lagi ya sayang.


Sera


Aku benci Om!


Jangan temui aku!


Ali menghela nafas, sepertinya ia melakukan kesalahan kepada Sera.

__ADS_1


Padahal ia hanya ingin membuat Sera bahagia walau caranya salah.


Ali pulang ke rumahnya dengan lesu.


Ibunya yang melihatnya nampak heran.


"Al, kok pulang cepat?" tanya Ibu.


"Iya bu, Ali mau istirahat di kamar ya?" ucap Ali.


"Ali, kau kapan mau menikah dengan Sera? Ibu ingin sekali menimang cucu. Lihatlah teman-temanmu sudah menikah dan mempunyai anak," ucap Ibu.


Ali menghentikan langkahnya. Dia tersenyum kecut. Dia ingin sekali menikah tetapi apakah meyakinkan jika ia bisa menikahi gadis yang di cintainya.


Ali berjalan menghampiri ibunya dan menggenggam tangan ibunya dengan erat.


"Doakan Sera cepat sembuh bu, supaya Ali bisa menikahinya," ucap Ali dengan mata berkaca-kaca.


"S--sera sa--sakit apa?" jawab Ibu terbata-bata.


Ali lalu menggandeng tangan sang ibu untuk duduk di sofa dan menceritakan tentang penyakit Sera. Ibu menangis mendengarnya. Dia tidak menyangka gadis yang akan menginjak 18 tahun itu memiliki penyakit mematikan bahkan sudah di prediksi umurnya tinggal beberapa minggu lagi tetapi belum ada yang mendonorkan hati untuk Sera.


"Seraku yang malang, lalu bagaimana dengannya? Pasti dia sangat tersiksa," ucap Ibu.


"Kita hanya menunggu pendonor hati untuk Sera saja. Ibu jangan khawatir! Sera pasti sembuh," ucap Ali sambil mengusap air mata ibu.


Setelah menenangkan sang ibu, Ali memutuskan untuk beristirahat di kamar sambil menunggu balasan dari Sera.


Gadis itu tidak mengangkat telpon atau membalas pesannya membuat Ali resah.


"Nona Sera sepertinya kesal," ucap Asisten Kim.


"Ku pikir Sera akan senang jika bersamamu. Coba kejar Sera lagi, Kim. Dia sangat menyukaimu," ucap Ali.


"Bagaimana pun itu saya sudah punya pacar dan lagi pula itu kan pacar anda," jawab Asisten Kim juga nampak kebingungan.


"Aku hanya ingin Sera bahagia, salah satunya dia bisa bersamamu," ucap Ali.


Ali menutup telponnya lalu mencoba memejamkan matanya. Dia berpikir bagaimana cara agar Sera tidak marah kepadanya. Sampai ia terlelap karena saking lelahnya.


Dua jam kemudian,


Suara dering telpon membangunkan Ali. Ternyata dari Asisten Kim, ia mengabarkan jika Sera masuk ke rumah sakit karena penyakitnya kambuh.


Ali sangat syok, ia bergegas menuju ke rumah sakit dengan tergesa-gesa.


"Al, mau kemana?" tanya Ibu.


"Aku pamit ya, bu. Kemungkinan aku gak pulang dan menemani Sera di rumah sakit," ucap Ali.


Ibu menganggukan kepala lalu melihat kepergian anaknya naik mobil.


Hati ibu sudah tidak enak ketika Ali menginjakan kakinya keluar dari rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sera, si gadis 18 tahun nan selalu ceria kini terbujur lemas seperti mayat di ranjang rumah sakit. Badannya sudah di pasang alat bantu. Hanya tangisan dari Zara dan mamanya yang bisa terdengar.


Mereka sangat syok melihat kondisi Sera seperti ini.


Sean dan Asisten Kim menunggu di luar ruangan. Pikiran Sean sudah kacau karena sampai saat ini belum ada yang mendonorkan hatinya untuk Sera.


"Kata dokter jika sampai beberapa hari ke depan Sera tidak mendapat donor hati maka kita harus mengikhlaskannya. Tapi bagaimana aku bisa ikhlas. Dia adikku yang selalu manja denganku di banding Zara. Dia selalu merengek kepadaku, aku tidak bisa membayangkan jika Sera harus pergi," ucap Sean sambil meneteskan air matanya.


Asisten Kim menepuk bahu sang tuan untuk menenangkannya. Dia juga ikut sedih dan menyesal karena sering memarahinya.


Tiba-tiba Ali datang, ia menanyakan keberadaan Sera di rawat. Sean menyuruhnya duduk dulu karena untuk masuk di ruangan Sera hanya di perbolehkan 2 orang secara bergantian.


Ali duduk di sebelah Sean, ia berdoa dalam hati supaya Sera tidak kenapa-napa.


"Al, kau sungguh menyukai Sera?" tanya Sean.


"Saya menyukainya, Tuan," jawab Ali.


"Bagaimana dengan Alana? Alana sudah bercerita kepadaku tentang kedekatanmu denganya"


Ali terkejut, dia lupa jika Alana adalah sahabat Sean. Dia takut jika sang tuan tahu jika ia pernah tidur dengan Alana.


"Ku harap kau jangan menyakiti Sera! Sera sedang rapuh," ucap Sean.


"Aku tidak akan menyakitinya, Tuan"


Zara dan Mamanya keluar dari ruangan Sera. Kini Ali yang masuk sendirian.


Dia bisa melihat wajah pucat Zara yang sedang tertidur seperti orang mati.


Baru beberapa jam yang lalu ia bertemu Sera dan kini ia melihat Sera terbaring lemah seperti mayat.


Ali menggenggam tangan Sera, ia bisa melihat cincin pemberiannya masih di pakai oleh Sera.


"Sera sayang, aku mencintaimu," ucap Ali membisikan ke telinga Sera.


Mata Sera terbuka dan melihat Ali di depannya. Sera menggenggam tangan Ali dengan kuat.


"Aku akan pergi," ucap Sera dengan pelan.


"Tidak, kami tidak mengizinkanmu untuk pergi," jawab Ali.


"Aku akan pergi"


Ali menggelengkan kepalanya lalu mengusap kepala Sera dan memberikan kecupan di kening Sera.


"Aku tidak mencintai om Ali, maafkan aku," ucap Sera sangat pelan.


"Tidak papa, manis. Aku tahu. Tapi aku mencintaimu. Terserah jika kau tidak membalasnya. Aku sangat mencintaimu," jawab Ali.


"Maafkan aku," ucap Sera dengan suara lemas.


Ali menganggukan kepala lalu mencium tangan Sera. Dia tidak ingin menunjukan kesedihannya kepada Sera.


Ali hanya berharap jika Sera cepat sembuh seperti sedia kala.

__ADS_1



__ADS_2