
3 hari kemudian.
Pekerjaan demi pekerjaan terlewati saatnya untuk kaki beristirahat tetapi malah teman-teman Mauren mengajak untuk makan malam diluar, gadis itu ingin menolak tetapi tidak enak karena ia anak baru. Dengan berat hati ia ikut makan malam di sebuah cafe modern, kali ini Mauren menyuruh Asisten Kim pulang langsung dan jangan menunggunya karena ia akan pulang ke rumah saudaranya dan menginap disana. Mauren termasuk orang yang gampang bergaul dengan orang lain itu yang membuat dia disukai karena sifatnya yang kocak dan periang. Bahkan banyak yang naksir dengan Mauren tetapi mereka sudah patah hati terlebih dahulu karena mereka sudah tahu jika Mauren sudah menikah.
"Guys aku pulang duluan ya, takut suamiku menungguku," ucap Mauren berbohong padahal ia ingin cepat merebahkan diri di ranjang.
Mauren memesan ojek online untuk menuju ke rumah Valto, butuh 45 menit untuk sampai dirumah saudaranya itu sampai ketika ojek yang dikendarainya mogok.
"Neng bagaimana ini? Mau tunggu apa mau saya pesankan ojek lain?" tanya tukang ojek itu.
"Saya jalan kaki saja sudah mau dekat kok," jawab Mauren sambil menyodorkan uang.
Butuh waktu 15 menit untuk sampai dirumah Valto dari jalan itu, ia berjalan menatap fokus kedepan. Pada saat itu sangat sepi karena sudah menunjukan pukul 10 malam, ia sedikit was-was karena sekitar jalan itu sering kali dibuat orang-orang mabuk. Tapi dia cukup lega setelah mengetahui tidak ada sekumpulan orang mabuk disana.
Tetapi ia sangat terkejut ketika sebuah motor melaju lambat dan menarik tas yang dibawa Mauren, Mauren sontak mempertahankan tasnya tetapi tidak membuat penjambret itu menyerah dan malah mempercepat laju kendaraannya membuat Mauren ikut terseret sejauh 10 meter. Rasa perih menyeruak ketika kulitnya bergesekan dengan aspal, ia menahan perih itu dan lebih mementingkan tasnya sampai tangannya tidak kuat memegang dan akhirnya tas itu terlepas.
Saat itu memang tidak ada orang yang lewat membuat Mauren harus berusaha bangun sendiri, ia mendapat luka gesekan yang cukup parah di pipi dekat telinga sebelah kiri, lengan dan kaki sebelah kiri bahkan membuat lengan bajunya terkoyak.
Dia berjalan terseok-seok menahan rasa perih itu, ia sangat sedih karena kehilangan tas yang berisi dompet dan handphone padahal baru dibelinya setengah tahun yang lalu.
Sesampainya di rumah Valto.
Valto dan Mamanya cukup terkejut melihat keadaan Mauren yang terluka. Mereka segera mengobati Mauren dengan obat antiseptik, Mauren tidak mau dibawa ke rumah sakit karena ia sudah sangat lelah dan ingin segera tidur.
"Val, Tita punya baju hem putih kan? Aku pinjam dong buat kerja besok," ucap Mauren.
"Kondisimu seperti ini mau kerja?"
Mauren menganggukan kepala, ia tidak bisa libur karena ia anak baru dalam masa training apalagi ia baru berangkat kerja 2 minggu.
"Biar kutelpon Sean supaya bisa menjemputmu disini"
"Jangan! Dia sedang sakit aku tidak ingin menambah beban pikirannya," ucap Mauren.
Setelah berdebat cukup alot pada akhirnya Valto mengalah dan membiarkan Mauren tertidur. Gadis itu mencoba untuk tidur tetapi rasa perih menyeruak di tubuh, ia meringis kesakitan sampai mengeluarkan air mata.
Sampai ia mendengar sebuah bunyi pesan masuk di ponsel Valto yang ternyata dari Asisten Kim. Mauren memang tidur disebelah Valto, ia sudah terbiasa tidur bersama dengan sepupunya itu.
Nona sudah sampai dirumah Valto? Bunyi dari pesan itu.
"Nah si Kim kirim pesan, mau dibalas atau tidak?" tanya Valto.
__ADS_1
Mauren dengan cepat membalas dan meyakinkan ia sampai dirumah saudaranya dengan selamat, ia tidak ingin merepotkan Asisten Kim.
Sementara itu Asisten Kim khawatir karena sedari tadi ia mencoba menelpon Mauren tetapi tidak aktif
"Besok kita lapor polisi, memang akhir-akhir ini banyak jambret berkeliaran"
"Apes bangetlah hidupku, barang hilang badan penyok begini," gerutu Mauren.
***
"Kau kenapa Mauren?" tanya Desy kaget melihat luka Mauren yang begitu parah.
"Kau bisa minta izin untuk tidak berangkat, kenapa kau malah nekat begini? Lihat Maurenku yang cantik terluka seperti ini!" ucap Lala.
"Aku anak baru tidak mungkin bisa meminta izin"
"Hey perusahaan ini tidak sekejam itu, mau ku izinkan ke HRD?" tanya Desy.
Mauren menggelengkan kepala, ia tidak mengalami kesulitan bekerja dengan luka itu. Toh ia masih bisa berjalan walaupun sedikit pincang karena perih. Dia berpamitan dengan temannya untuk mengantar berkas ke ruangan Asisten Kim, ia sudah mengingat apa yang harus ia ucapkan ketika Asisten Kim bertanya tentang lukanya itu.
Dia membuka pintu ruangan Asisten Kim, ia bisa melihat pria itu tengah menatap serius layar komputer.
"Ada apa Nona Mauren?"
Dia sangat terkejut melihat luka yang cukup panjang di kaki Mauren yang putih itu.
Asisten Kim mendekatinya, matanya terbelalak ketika bukan hanya kaki yang terluka tetapi pipi dan lengan Mauren juga.
"Kenapa bisa seperti ini Nona?"
"Gara-gara jambret sialan itu, ia membawa kabur tasku dan aku mencoba menarik tasku tetapi malah aku ikut terseret motor mereka"
"Habislah saya Nona jika Tuan Sean tau pasti saya digantung seperti bendera di tower pusat kota milik Young Group," ucap Asisten Kim panik.
"Uuuuhhh... Baguslah aku bisa memberi hormat. Kepada Asisten Kim hormaaaaat graaaak," ucap Mauren sambil berpose hormat kepada bendera.
Asisten Kim merasa kesal kepada Mauren karena menganggap hukuman dari sang Tuan terkesan main-main, padahal hukuman dari Sean jika marah sangat mengerikan apalagi terkait dengan keselamatan orang yang dicintainya.
"Jangan panik! Oppa kan mulai berangkat minggu depan, kuusahakan luka ini cepat hilang walau mustahil," jelas Mauren menenangkan Asisten Kim.
Tiba-tiba pintu ruangan Sean terbuka, mata Mauren terbelalak ketika mengetahui yang membuka pintu adalah Sean. Dengan cepat Mauren berlindung dibalik badan Asisten Kim. Dia sangat ketakutan. Terlihat Asisten Kim sudah siap mendapatkan hukuman dari sang tuan.
__ADS_1
Reaksi Sean juga terkejut melihat istrinya berdekatan dengan sang asisten, ia sangat marah kepada Asisten Kim.
"Tuan. Maafkan saya Tuan, saya telah lalai menjaga istri anda," ucap Asisten Kim.
plaaaaak
Mauren memukul punggung Asisten Kim, ia cukup kesal malah pria itu berbicara yang sebenarnya. Asisten Kim mengelus punggungnya yang panas akibat pukulan dari Mauren.
"Kenapa kalian sangat aneh hari ini? Ada apa sebenarnya?" tanya Sean mencoba mendekati mereka.
Asisten Kim mencoba menarik tubuh Mauren yang berlindung dibelakangnya, ia lebih memilih jujur ketimbang membohongi sang tuan. Tetapi reaksi sang tuan masih biasa saja, ia malah menunjukan ekspresi kebingungan. Asisten Kim dan Mauren saling memandang menyimpulkan jika Sean memang sangat bodoh karena tidak menyadari luka Mauren.
10 menit kemudian.
"Oh Mauren kenapa kau? Darimana luka ini?" Ucap Sean panik setelah menyimpulkan apa yang ia lihat.
Lola sekali oppaku ini. Batin Mauren.
Sean mengajak Mauren untuk masuk keruangannya, ia menyuruh Mauren duduk di sofa. Dia melihat luka begitu banyak ditubuh gadis kesayangannya itu dan ingin segera mengeksekusi Asistennya yang tidak becus menjaga sang istri tercinta.
Asisten Kim menundukan kepala, ia sudah pasrah bila dipecat bahkan dibunuh hari ini.
"Kim," ucap Sean geram sambil terduduk disofa di sebelah Mauren.
"Iya Tuan"
"Cepat siapkan pesawat jet!"
"Untuk apa Tuan?"
"Untuk mengirimmu ke Antartika. Ku suruh kau menanam padi disana. Jangan harap bisa pulang sebelum kau membawakan beras untukku!"
Asisten Kim menelan ludah dan tidak berani menatap wajah sang Tuan.
"Ku pikir oppa mau menggantung Asisten Kim di tower milik Young Group," ucap Mauren dengan percaya diri.
"Ide bagus. Dengan senang hati aku akan menghukum Kim seperti itu tapi sebelum itu aku ingin...... Memukul kau brengsek! Matilah kau Kim!" ucap Sean sambil mengarahkan pukulan ke Asisten Kim membuat ia jatuh tersungkur.
Mauren terkejut dan menghentikan suaminya yang akan memukul Asisten Kim lagi, Mauren memeluk Sean dari belakang. Tapi Sean dengan sekuat tenaga melepaskan pelukan Mauren, dia melontarkan tendangan berkali-kali kearah Asisten Kim yang meringkuk di lantai. Asisten Kim tidak melawan, itulah hukuman yang pantas yang ia terima padahal jika ia berani melawan maka Asisten Kimlah yang akan menang karena ia lebih jago berkelahi dibanding Sean.
Mauren dengan cepat melindungi tubuh Asisten Kim, Mauren menangis ketika melihat Sean secara langsung menjadi brutal seperti itu. Sean tidak tega melihat istrinya menangis lalu menghentikan aksinya dan terduduk disofa. Dia melirik Mauren yang membantu Asisten Kim untuk berdiri.
__ADS_1
Cih! Sialan! Enak sekali kau Kim! Pura-pura kesakitan kau ya. Batin Sean.