Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 106 : Kemarahan Tuan Sean 4


__ADS_3

Sean melajukan mobilnya sekencang mungkin, ia tidak bisa menerima fakta jika bayinya telah tiada dan Mauren kini sulit untuk hamil lagi.


Amarahnya sudah tak terkendali membuat setiap mobil yang menghalangi laju mobilnya ia klakson berkali-kali.


Tin... tin... tin... tin...


"Brengs*k! Bisa menyetir mobil atau tidak? Dasar beg*!" umpat Sean kepada pengendara lain.


Dia melajukan mobil dengan cepat dan berkali-kali hampir menabrak tetapi untungnya nasib baik menemaninya, ia masih selamat lalu sampai dirumah sang Mama.


Setelah memarkirkan mobil dihalaman rumahnya, Sean keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.


Dia lalu melangkah masuk ke rumahnya dengan kemarahan berapi-api.


"Mama! Tante! Keluar kalian!" teriak Sean dari ruang tamu, "Cepat keluar kalian! Jika tidak akan ku bakar rumah ini"


Para pembantu tidak berani mendekat, mereka lalu memanggil Mama Sean dan Mama Zara yang sudah tertidur di kamar.


Sedangkan Zara dan Sera keluar dari kamarnya, ia bisa melihat kemarahan sang kakak.


"Sera, aku takut. Kak Sean sangat marah, itu semua gara-gara kita yang ember bilang ke Mama tentang hubungannya dengan Kak Mauren," ucap Zara sambil memegang tangan Sera.


"Aku juga takut Za, kita disini aja," jawab Sera juga ketakutan.


Mama dan Tantenya belum keluar juga membuat Sean berjalan menuju guci-guci besar dan sangat mahal yang dikoleksi oleh Mama dan tantenya.


Dia membanting guci-guci bernilai milyaran itu membuat bunyi yang nyaring dan memekakan telinga.


Praaang...


Pyaaar...


*Praaang...


Pyaaar*...


Dia membanting semua barang mahal itu tanpa ampun dan tidak ada yang tersisa. Sean menghancurkan semuanya tanpa sisa.


Disaat bersamaan Mamanya dan Tantenya datang, mereka sangat terkejut ketika rumah mereka sudah berantakan, guci-guci mereka pecah dan pecahannya berhamburan di lantai.


"Apa yang kau lakukan Sean? Cukup Sean!" ucap Mama.


"Kurang ajar sekali kau Sean," ucap Tantenya.

__ADS_1


Sean berhenti, ia memandang Mama dan Tantenya yang sudah berdiri di tangga menatap Sean yang marah.


"Kau sudah gila Sean menghancurkan barang-barang mahal kami? Kau pikir kau sudah hebat Sean?" ucap sang tante yang kesal.


"Kalian kesal karena aku sudah menghancurkan barang mahal kalian? Begitu pula denganku, kalian sudah menghancurkan kebahagiaanku," jawab Sean.


"Kau memang sudah tidak waras Sean, ini semua barang mahal dan di dunia hanya ada beberapa saja. Kau menghancurkannya seenakmu," ucap Tante Sean.


Sean berdecih dan tersenyum kecut.


"Jika barang kalian tidak suka disentuh bahkan sampai dihancurkan makanya jangan menyentuh barang orang duluan dan menghancurkannya seenak jidat kalian!!! Aku bisa mengganti semua guci ini, berapa? berapa harganya? Biar kuganti semuanya. Tetapi apakah kalian bisa mengembalikan bayiku yang kalian sudah aborsi dan apakah kalian bisa mengembalikan rahim Mauren supaya tidak cacat lagi hah?" ucap Sean yang berapi-api.


Mama dan Tantenya hanya terdiam, mereka tidak bisa menjawab.


Mama lalu turun dari tangga dan seketika itu Sean menghampirinya dengan kemarahan. Semua orang yang berada disana seolah takut jika Sean akan menyakiti sang Mama.


Sang Mama hanya berdiri diam, ia bisa menerima jika ia nantinya akan disakiti oleh Sean karena ini memang kesalahannya.


Sean berjalan menatap sang Mama, darahnya mendidih pertanda kemarahannya sudah berada di puncak.


Atmosfer diruangan itu semakin panas dan membuat tegang bagi yang melihatnya.


Tetapi hal tak terduga terjadi, bukannya Sean menyakiti sang Mama malah ia duduk bersimpuh di bawah kaki Mamanya. Dia menangis menumpahkan kekecewaan dan kesedihannya.


"Vino?"


"Iya. Bayiku yang masih dalam bentuk janin sudah ku beri nama Vino jika laki-laki dan ku beri nama Seina jika perempuan. Tapi Mama malah membunuh cucu Mama sendiri. Sean sangat kecewa dengan Mama," ucap Sean masih menangis.


Hati Mama langsung bergetar melihat anak semata wayangnya menangis dibawah kakinya padahal sebelumnya ia belum pernah melihat Sean seperti ini.


Rasa bersalah menyelimutinya, ia merasa menjadi sosok ibu yang jahat dan egois telah menghancurkan kebahagiaan sang anak tercinta.


"Mama tau jika Mauren sudah divonis untuk sulit hamil lagi? Bagaimana jika itu terjadi pada Mama? Mama juga perempuan 'kan? Pasti Mama sangat tau perasaan Mauren sekarang. Sekarang ini Mauren belum tau tetapi jika sudah tau aku yakin dia akan sangat sedih dan hancur," ucap Sean yang masih meneteskan air matanya.


Sang Mama lalu terduduk di depan Sean, ia memandang wajah Sean yang sudah dipenuhi air mata, ia lalu mengusapnya.


Hatinya terasa sakit melihat anak tersayangnya sampai menangis dibawah kakinya.


Sang Mama lalu memeluknya, ia ikut menangis. Dia merasa bersalah kepada Sean dan Mauren, ia sudah menjadi ibu yang sangat jahat.


"Mama minta maaf Sean. Mama bersalah dan berdosa kepada kalian, hiks... hiks..."


"Mama meminta maaf pun sudah tidak bisa mengembalikan bayiku"

__ADS_1


"Mama harus bagaimana Sean supaya kau bisa memaafkan Mama?"


"Aku bisa memaafkan Mama tetapi apakah Mauren bisa memaafkan Mama?"


"Mama akan melakukan apapun supaya Mauren bisa memaafkan Mama bahkan Mama akan bersujud dibawah kaki Mauren"


Sean menatap wajah sang Mama. Dia bisa melihat Mama yang tulus dan merasa bersalah, ia lalu memeluk Mamanya. Suasana yang tadinya tegang kini malah menjadi haru, semua orang tak terasa meneteskan air mata.


Setelah berpelukan, Mama mengusap air mata Sean lalu mengecup keningnya.


"Mama terakhir melihatmu menangis saat kau akan di sunat dan kini Mama melihat tangisanmu lagi, Mama menjadi tidak tega," ucap Mama.


"Jadi Mama menyuruhku sunat lagi? Aku tidak mau Ma...," ucap Sean.


Sang Mama tersenyum mendengar ucapan Sean, disaat seperti ini pun Sean masih bersikap konyol. Mama lalu membantu Sean untuk berdiri, ia melirik sang adik dan memberi kode untuk meminta maaf.


Sang Tante cukup ragu untuk minta maaf, ia terpaksa meminta maaf supaya kartu debit dan kreditnya tidak di blokir lagi.


"Tante minta maaf Sean," ucap Tantenya sambil memeluk Sean.


Sean tau jika sang tante tidak tulus dalam meminta maaf. Tetapi ia tidak menghiraukannya yang terpenting sang Mama sudah meminta maaf dan mengaku salah.


**


Di ruangan Mauren.


Waktu menunjukan hampir 11 malam, Sean tidak kunjung datang tetapi Asisten Kim lega setelah mengetahui sang tuan menuju rumah sang Mama.


Asisten Kim tidak bisa tidur karena sedari tadi Mauren mengigau karena mungkin efek obat biusnya sudah hilang.


"Jangan! Jangan! Jangan sentuh bayiku! Tidak! Jangan bawa pergi bayiku!" ucap Mauren mengigau.


Asisten Kim yang terduduk di sofa lalu menghampiri Mauren. Dia dengan sigap menggenggam tangan Mauren dan mengelus kepala Mauren.


"Tidurlah yang nyenyak Nona! Aku disini menunggumu"


Asisten Kim lalu menyandarkan kepalanya di ranjang sambil menggenggam tangan Mauren.


Sampai dirinya terlelap karena sudah mengantuk dan sangat lelah karena aktivitas hari ini.


Sampai ketika Sean datang melihat Asisten Kim tertidur sambil menggenggam tangan Mauren.


"Awas kau, Kim!" ucap Sean kesal.

__ADS_1


__ADS_2