Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 141 : Touring 3 ( Hotel )


__ADS_3

Setelah puas makan jeruk mereka segera melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi akan sampai di sebuah air terjun yang indah.


Mauren sangat senang karena bisa pergi jalan-jalan dengan sang suami tercinta.


"Aku tidak sabar untuk berbulan madu dengan Oppa," ucap Mauren diatas motor.


"Bulan depan kita bulan madu, Oren"


"Oppa, aku sangat bahagia bisa menikah denganmu. Rasanya seperti mimpi. Kita yang baru kenal tiba-tiba menikah tanpa pacaran dulu"


Sean menggenggam tangan Mauren yang berada di perutnya. Memang benar mengingat kejadian saat ia mengajak Mauren menikah secara tiba-tiba sungguh menggelikan. Dia tidak menyangka gadis yang ia sukai dan sempat membuat ia frustasi kini sudah menjadi istri tercintanya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di air terjun yang sangat indah. Para rombongan segera memarkirkan motor lalu berjalan beriringan menuju air terjun yang jaraknya 10 menit jika berjalan kaki.


Sedari tadi Sean menggandeng tangan Mauren yang mendingin. Mereka membuat mereka iri apalagi hanya Sean yang membawa gadisnya.


"Kau membuat mereka tidak nyaman, Sean," ucap Dokter Juna yang berjalan di belakang Sean dan Mauren.


"Iri bilang bos!" ucap Sean.


Setelah sampai di air terjun mereka lalu berfoto ria sambil bermain air yang super dingin.


Sean mencegah untuk Mauren masuk kedalam air itu, ia lalu menemani Mauren di sebuah gubuk untuk duduk menunggu mereka.


Hari ini adalah akhir pekan membuat tempat wisata ini ramai di kunjungi banyak orang dan beberapa orang seolah tau akan Sean.


"Mereka memandang, Oppa," ucap Mauren.


"Biarkan saja selagi tidak mengganggu kita. Oh ya mau mie rebus? Dingin-dingin begini enaknya makan mie," ucap Sean.


Mauren menganggukan kepala, Sean lalu berjalan ke sebuah warung untuk memesan 2 mie rebus beserta teh panas. Setelah memesan, ia kembali lagi ke gubuk.


Mauren menyandarkan kepala di bahu Sean sedangkan Sean meraih ponsel di saku lalu mencoba mencari sinyal untuk menghubungi Mamanya.


"Tidak ada sinyal, Oppa?" tanya Mauren.


"Hanya sedikit"


Setelah video call tersambung, ia bisa melihat wajah sang Mama di layar ponselnya.


"Aku sudah sampai, Mah"


"Anak bandel kau, Sean. Bagaimana pekerjaan di kantor jika kau tinggal?"


"Aku masih punya bawahan yang bisa mengurus kantor selama 2 hari"


"Ya sudah hati-hati. Jangan telat makan! Pakai jaket yang tebal! Oh ya... dimana Mauren?"


Sean mengarahkan kameranya ke wajah Mauren. Mauren tersenyum melihat Mama mertuanya.


"Mama sudah kirimkan paket lulur terbaik ke apartemenmu. Kau harus pakai Mauren supaya saat hari resepsi kalian kau tidak jelek-jelek amat," ucap Mama.


Mauren menganggukan kepala lalu tersenyum. Masih sedikit rasa kesal kepada ibu mertuanya yang dulu sempat menyakiti dan menggugurkan anaknya membuat kini ia susah untuk hamil lagi.


"Mauren cantik begini dibilang jelek," ucap Sean tidak terima.

__ADS_1


"Hahaha... maksud Mama tidak begitu, Sean. Mauren sangat cantik dan Mama ingin saat hari H nanti dia jadi tambah cantik"


"Ya sudah, aku tutup dulu. Bye Mah"


Setelah itu mie rebus mereka datang, lalu mereka menyantapnya dengan nikmat. Terlihat Mauren makan dengan cepat hanya 4 sendok saja sudah habis membuat Sean tercengang.


"Oppa, aku kurang," ucap Mauren.


"Ya sudah pesan lagi sana!"


Mauren menganggukan kepala, ia menuju ke warung itu untuk memesan mie rebus lagi. Setelah itu ia kembali lagi ke gubuk menemui Sean yang sedang makan.


"Sudah pesan?" tanya Sean.


Mauren menganggukan kepala lalu Sean terlihat mengelus perut Mauren.


"Semoga saja kau hamil sayang," ucap Sean.


"Semoga saja, Oppa"


Disisi lain Dokter Juna dan Asisten Kim duduk di sebuah batu dekat air terjun. Air yang dingin membuat mereka enggan untuk berenang seperti yang lain.


Walaupun kini tujuan Dokter Juna hanya ingin bersenang-senang tetapi pikirannya selalu mengarah kepada Anita.


"Sungguh berat untuk menceraikannya, aku harus bagaimana?" tanya Dokter Juna bingung.


"Saya belum berpengalaman untuk masalah rumah tangga, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Dokter Juna," jawab Asisten Kim.


"Pacarmu bagaimana?"


"Sifat wanita itu beda, Kim. Jangan selalu disamakan! Kau harus lebih pengertian dengan Lili dan Jangan sampai dia meninggalkanmu," ucap Dokter Juna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 4 sore.


Setelah mereka berkumpul, mereka segera melanjutkan perjalanan untuk ke tempat wisata selanjutnya. Mereka kini melewati perbukitan berkelok dan tentunya semakin dingin.


Mereka kini menuju ke bukit untuk melihat sunset di ketinggian 1700 mdpl.


Jalan menuju ke bukit cukup bagus untuk kondisi motor mereka.


Mauren sangat takjub melihat pemandangan yang sangat indah sepanjang perjalanan. Pemukiman warga terlihat dari atas.


"Dingin Oren?" tanya Sean.


"Dingin sekali Oppa. Tetapi dinginnya berkurang jika dekat dengan Oppa," ucap Mauren sambil memeluk Sean dari belakang.


"Ku dengar diatas bukit sana ada hotel, kita menginap disana saja"


Mauren menganggukan kepala dan semakin memeluk erat badan Sean.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di puncak. Mereka segera memarkirkan motor.


Asisten Kim lalu memesan 10 kamar untuk mereka menginap malam ini tetapi yang tersisa hanya 5 kamar karena yang lainnya sudah terisi.

__ADS_1


"Yasudah Kim. Ambil saja! Satu kamar bisa berempat karena ada 2 ranjang di setiap kamar," ucap Dokter Juna karena sudah merasa lelah dan ingin segera merebahkan diri di hotel.


"Saya harus bilang pada Tuan Sean dulu," ucap Asisten Kim lalu berjalan mencari sang tuan.


Asisten Kim mencari tuannya kesana dan kemari sampai ia memergoki sang tuan sedang berciuman dengan Mauren.


Asisten Kim segera membalikan badan lalu setengah berlari masuk ke dalam hotel lagi.


"Bagaimana Sean setuju?" tanya Dokter Juna.


"Sudah kita ambil saja 5 kamar itu," ucap Asisten Kim sedikit syok.


"Kau kenapa seperti lihat setan saja?"


"Iya benar, lebih seram dari setan"


Dokter Juna mengerutkan dahi, setelah Asisten Kim membayar administrasi ia segera memberikan 5 kunci itu kepada teman-temannya.


Waktu menunjukan setengah 5 sore mereka memilih mandi air hangat terlebih dahulu sebelum melihat sunset sore ini.


Sean sangat terkejut saat harus satu kamar dengan Juna dan Kim.


"Bangs*t! Aku ingin menginap disini karena ingin mendapat privasi dengan istriku," ucap Sean.


"Maaf, Tuan. Hanya tersisa 5 kamar dan lainnya penuh," ucap Asisten Kim.


"Diamlah Sean! Tahan dulu privasimu! Lagi pula ini bukan bulan madumu," ucap Dokter Juna sambil merebahkan diri di ranjang.


Sean sangat geram, Mauren lalu menenangkan Sean dan menyuruh untuk segera mandi air hangat sebelum rebutan dengan Dokter Juna dan Asisten Kim.


"Ayo Oren mandi bersama! Jangan mengintip kalian!" ucap Sean.


"Cih... siapa yang mau mengintip?" jawab Dokter Juna.


Mauren mengambil bajunya dan baju Sean. Tidak lupa membawa sabun dan shampo.


Dan benar, air di hotel itu sangat hangat tetapi sayangnya tidak tersedia bak mandi untuk berendam.


Mereka menanggalkan pakaian masing-masing lalu mulai berdiri di bawah guyuran air shower yang begitu hangat.


Sean nampak menyabuni tubuh Mauren dan begitu pula sebaliknya.


Sean dengan iseng menggelitiki tubuh Mauren membuat gadis itu berteriak.


"Aaaaah... ampun Oppa.... jangan Oppa!... Hentikan Oppa...."


Disisi lain.


"Sean sinting tidak tahu tempat. Sialan... mau tidur saja malah terdengar suara mendesah," ucap Dokter Juna.


"Pikiran anda yang terlalu kotor," ucap Asisten Kim sambil mengambil pakaian ganti dari dalam tasnya.


"Ayo kita bertaruh! Jika mereka memang mesum kau harus memberiku 100 juta begitupun sebaliknya," tantang Dokter Juna.


"Saya tidak mau mengganggu privasi mereka"

__ADS_1


"Haha tidak berani 'kan kau? Huh... dasar Sean sinting! Tidak tahu malu"


__ADS_2