
Hueeeeek... Hueeeeek... Hueeeeek...
Pagi hari Mauren sudah absen di kamar mandi, perutnya yang tidak enak dan mual membuatnya ingin muntah.
Dia berusaha memuntahkan semua isi perutnya tetapi tidak bisa dan hanya cairan kental yang keluar.
Sedangkan Sean menepuk-nepuk punggung sang istri dengan sabar.
Dia melihat Mauren sangat lemas dan tidak berdaya membuatnya tidak tega membawanya ke kantor apalagi meninggalkannya sendirian di apartemen.
Sean dan Mauren ternyata sudah memakai pakaian kerjanya. Mereka terlihat sudah siap untuk berangkat bekerja tetapi Sean memutuskan untuk libur hari ini untuk menjaga Mauren di apartemen.
"Oppa berangkat saja, jangan pikirkan aku!" pinta Mauren yang melihat Sean sudah rapi mengenakan jas biru dongkernya.
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini? Hari ini aku libur saja, Kim bisa menggantikan pekerjaanku," jawab Sean sambil melepaskan jasnya.
Sean berganti pakaian dan tidak lupa mengambil pakaian Mauren.
Dia dengan sigap memapah sang istri ke ranjang lalu membantu melepas seragam kerja Mauren dan menggantinya dengan baju biasa yang nyaman dikenakan Mauren.
"Ada yang mau kau makan?" tanya Sean sambil memakaikan baju ke Mauren.
Mauren menggelengkan kepalanya.
"Sungguh?"
Mauren menganggukan kepala.
Sean lalu menyuruh Mauren membaringkan badan di ranjang, dia dengan sigap memijat kaki sang istri dengan lembut membuat Mauren semakin mengagumi sang suami.
Sean memandang sang istri yang wajahnya tidak bersemangat, ia semakin merasa kasihan dengannya.
"Masih mual?" tanya Sean.
Mauren hanya menganggukan kepalanya.
Sampai ketika suara bel berbunyi, Sean segera membukanya yang ternyata pelayannya yang membawakan sarapan pagi untuk mereka.
Setelah menerimanya, Sean segera menyuapi Mauren tetapi gadis itu menolak dan tidak berselera makan.
"Makanlah Oren sayang! Ini bubur ayam kesukaanmu," ucap Sean sambil menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulut Mauren.
Mauren menggelengkan kepala, ia tidak berselera makan hari ini. Dia juga merasa lemas dan ingin tidur saja.
Sean merasa kebingungan dan memilih membiarkan Mauren tertidur.
Dia juga ikut terbaring bersama Mauren sambil mengelus perutnya yang masih datar. Mauren berusaha tidur tetapi tidak bisa karena perutnya yang masih merasa tidak enak.
"Kenapa sayang?" tanya Sean yang selalu melihat mimik Mauren yang berubah-ubah.
"Perutku tidak enak, Oppa"
"Muntahkan saja sayang"
__ADS_1
Mauren hanya menggelengkan kepalanya.
Sean meraih ponselnya dan berusaha menelpon sang Mama untuk bertanya seputar kehamilan.
"Hallo? Mama?" ucap Sean ketika sang Mama mengangkat telponnya.
"Apa? Kau masih menganggapku Mama?"
"Jangan begitu Mah! Mama tetap Mamaku yang paling cantik," rayu Sean.
"Huh! Ada apa lagi? Mama masih marah denganmu"
"Waktu Mama mengandung Sean apakah Mama muntah-muntah?"
"Iya. Setiap pagi Mama muntah-muntah dan bahkan selalu pingsan tetapi yang kulahirkan anak kurang ajar sepertimu," ucap Mama kesal.
Sean tersenyum kecut, ia melontarkan ucapan-ucapan mautnya untuk merayu sang Mama dan cara itu pun berhasil membuat sang Mama luluh dan tidak jadi marah kepada Sean.
"Huh! Anak Mama selalu tau bagaimana merayu Mama. Hem... jadi apa mau mu, Sean?"
"Aku ingin bertanya Mah. Bagaimana cara mengurangi mual pada ibu hamil?"
Tut... tut... tut... tut...
Tiba-tiba telpon terputus yang sepertinya sang Mama langsung menutup telponnya saat mendengar pertanyaan dari Sean.
Sean menghela nafas, ia sadar jika kesalahannya sangat fatal karena diam-diam menikah tanpa sepengetahuan sang Mama.
Sean akhirnya menelpon Juna, ia lalu bertanya dengan hal sama yang ia tanyakan kepada Mamanya.
"Tinggal jawab saja kenapa? Berbelit-belit kau. Cepat jawab!"
"Sinting kau. Bertanya malah marah-marah. Hmmm untuk mengurangi rasa mualnya coba beri minum jahe hangat"
Mendengar hal itu, Sean langsung menutup telponnya. Dia lalu menyuruh chef terhandalnya untuk membuatkan minuman jahe hangat yang spesial untuk sang istri.
Sambil menunggu jahe itu datang, ia memijat kaki Mauren yang sudah mendingan. Dia dengan sigap mematikan AC Supaya sang istri tidak kedinginan.
"Masih mual?"
Mauren menganggukan kepala.
Sean lalu mengusap perut Mauren dan mencium perutnya, setelah itu ia meletakan kepalanya diatas perut Mauren.
"My boy... jangan menyusahkan Mama ya? Kasihan Mamamu. Lihatlah wajah semangatnya pudar dan tidak cantik lagi! Papa jadi sedih"
Mauren tersenyum mendengar ucapan Sean, ia mengelus kepala sang suami dengan lembut. Dia merasa terharu yang biasanya sang suami selalu keras kepadanya kini berubah menjadi sosok suami yang lembut.
"Tidak apa-apa my girl. Bunda sangat senang mengandungmu karena itu membuat Papa jadi lembut kepada Bunda," ucap Mauren.
My girl? Bunda? Batin Sean.
"Hei! Apa-apan my girl? Ha... Bunda?" ucap Sean terkejut.
__ADS_1
"Bayi kita 'kan nantinya perempuan dan aku ingin di panggil bunda olehnya," jawab Mauren senang.
"Tidak ada perempuan! Bunda? Cih... apa-apaan itu?" ucap Sean marah.
"Perempuan. Titik!"
"Laki-laki"
"Perempuan"
"Laki-laki"
Hueeeeeek... Hueeeeek...
Tiba-tiba Mauren mendadak mual membuat Sean panik lalu dengan cepat menengadahkan kedua tangannya di bawah mulut sang istri.
"Apaan sih, Oppa?" tanya Mauren sambil menepis tangan Sean.
"Muntahlah di tanganku tapi jangan muntah di ranjang termahalku!" ucap Sean.
Dalam kondisi seperti ini saja Oppa masih memikirkan hal itu. Dasar Oppa pelit!
Mauren membaringkan tubuhnya, ia memeluk guling dan di saat itu juga jahe hangat pesanan Sean datang dan segera menyuruh Mauren meminumnya.
"Oppa aku ingin minum ginseng Korea, aku tidak mau ini"
"Aneh-aneh saja kau. Minumlah apa yang ada! Yang penting mualmu bisa hilang"
Mauren menghela nafas, ia langsung menyeruput jahe hangat itu dan benar saja rasa uring-uringan di perutnya terasa hilang.
Setelah itu ia membaringkan lagi tubuhnya dan berusaha untuk tidur tetapi ia teringat sang kucing yang beberapa hari tidak terlihat di sekitar apartemen.
"Cimol mana Oppa? Jangan-jangan Oppa membuangnya?"
"Dia dijaga oleh orang suruhanku dan lagi pula kau masih hamil tidak boleh dekat-dekat dengan kucing"
"Tapi aku pun masih dekat dengan singa"
"Siapa yang kau maksud singa?"
Mauren tersenyum, ia pura-pura tidak mendengar ucapan Sean. Dia menarik selimut sampai ke kepalanya, ia berlindung dari amukan sang raja Young Group.
Sean langsung ikut masuk kedalam selimut bersama Mauren, mereka saling berpandangan lalu Sean mengelus pipi Mauren.
"Kenapa Oppa tampan menyukai gadis miskin sepertiku?" tanya Mauren.
"Tidak ada alasan untuk menyukai seseorang, kau cinta pertamaku dan aku harus mendapatkanmu"
"Hiks... hiks... terima kasih Oppa. Aku juga sangat mencintai Oppa. Oppa harus berjanji agar tidak akan meninggalkanku"
Sean tersenyum, ia telah berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak akan meninggalkan Mauren dan selalu menjaganya. Bagi Sean, dirinya hanya pria biasa yang jatuh cinta kepada gadis cantik di depannya.
Jatuh cinta memang menyenangkan. Apalagi jika kita bisa menikahinya.
__ADS_1
Aku mencintaimu Orenku.
Terima kasih sudah mau mengandung anakku.