
"Nona Mauren, tetaplah disitu saya akan mengantarkan anda pulang," ucap Asisten Kim melalui panggilan telepon.
Mauren menolak, ia tetep kekeh untuk pulang sendiri. Dia meminta asisten Kim untuk menjaga Sean dengan baik, ia cukup tenang karena ternyata Sean hanya kelelahan dan butuh istirahat beberapa hari kedepan.
Dia menutup telponnya dan mulai memesan ojek online untuk pulang ke rumah.
Hari yang melelahkan sebagai karyawan baru, ia harus melakukan apa yang disuruh oleh para seniornya sampai kakinya membekas biru kebulatan. Dia memegangi perutnya yang berbunyi pertanda lapar telah datang, dalam bayangannya ia ingin makan enak malam ini.
Setengah jam kemudian.
Mauren segera membayar ongkos tukang ojek itu, dan segera masuk ke dalam rumah tetapi ia sangat terkejut ketika pintu rumah terbuka. Disaat itu juga telpon genggamannya berbunyi ternyata dari Asisten Kim.
"Nona jangan ke rumah dulu! Disana ada orang-orang suruhan Tuan Askar, rumah itu sudah diketahui oleh Tuan Askar," ucap Asisten Kim panik.
"Aku harus bagaimana?"
"Sekarang anda dimana Nona?"
"Di depan rumah"
"Berjalanlah ke gang Nona! Saya akan menjemput anda disana, dan jangan sampai ketahuan orang-orang itu"
Mauren menutup telponnya dan berjalan cepat ke arah gang. Sepertinya kakek Askar baik tetapi kenapa bertindak berlebihan seperti itu.
Kenapa hidupku seperti di sinetron? Rumit sekali.
Mauren menunggu di gang cukup lama sampai ia kelaparan. Dia menatap langit sepertinya akan turun hujan.
Tak berselang lama Asisten Kim datang dan menyuruh Mauren untuk masuk ke dalam mobil.
"Nona Mauren anda sudah makan?"
Mauren menggelengkan kepala, asisten Kim tersenyum lalu mengajak makan di apartemen.
Sepanjang perjalanan Mauren hanya diam, ia sangat bingung dengan situasinya sekarang.
"Nona jangan khawatir. Anda masih aman, Tuan Askar tidak akan mengetahui keberadaan anda. Saya pastikan itu. Tuan Sean akan melindungi anda," ucap Asisten Kim seolah mengetahui kepanikan Mauren.
Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah apartemen mewah, apartemen itu sangat terlindungi privasinya terlihat banyak bodyguard memakai jas hitam berdiri di pintu utama. Mereka menunduk memberi hormat kepada Asisten Kim dan Mauren membuat gadis itu cukup risih.
__ADS_1
Asisten Kim mengajak ke lantai paling atas dan menuju ke apartemen pribadi milik Sean.
Mauren sangat takjub dengan ruangan super megah itu, matanya memandangi setiap kilauan perkakas mewah di dalamnya.
"Ini adalah apartemen pribadi Tuan Sean bahkan untuk keluarganya sendiri tidak diperbolehkan masuk hanya saya dan Nona yang boleh masuk disini. Keamanan disini sangat ketat jadi tidak mungkin orang-orang suruhan Tuan Askar bisa menembus sampai sini," jelas Asisten Kim.
Mendengar semua itu membuat tubuh Mauren merinding, ia tidak menyangka suaminya begitu berkuasa dan memiliki semua ini.
"Tapi apartemen yang sebelumnya?"
"Itu hanya apartemen sementara, tidak sering Tuan Sean beristirahat disana, ia lebih memilih tidur di rumah sederhananya atau bahkan disini," jelas Asisten Kim.
Mauren menganggukkan kepala, ia melihat keberbagai arah, ia bisa melihat gemerlap malam ibukota yang tampak indah dari atas apartemen itu. Apartemen itu juga terdapat sebuah kolam renang pribadi. Di kolam itu ia bisa melihat pemandangan kota dari atas.
Sepertinya asyik buat instastory. Hahaha.
"Anda tidak diperbolehkan foto di tempat ini," ucap Asisten Kim seolah bisa membaca pikiran Mauren.
"Eh? Siapa yang mau berfoto? Cih norak sekali," ucap Mauren sambil berpura-pura berjalan melihat ruangan itu mewah itu.
Asisten Kim tersenyum setelah itu ia berpamitan untuk pulang. Dia bilang jangan khawatir di tempat ini sendirian karena keamanan yang terjamin dan makanan yang melimpah dan tidak mungkin kelaparan.
"Besok saya jemput anda disini untuk berangkat kerja"
Mauren mengangguk dan segera menyuruh Asisten Kim keluar, ia sangat lelah dan ingin berendam air panas. Dia akan menikmati keberuntungannya yang mendapat suami tampan dan fasilitas yang serba mewah tapi entah sampai kapan.
Ku nikmati hidupku sebagai Tuan putri sementara ini. Inilah memang hidup yang kuinginkan tetapi justru sekarang ini aku memikirkan orang tua ku yang berada dirumah. Apakah mereka makan enak sepertiku disini?
______________________________________
"Bagaimana kau bisa lalai untuk menjaga Sean? Aku membayarmu mahal untuk memantau kesehatannya," ucap kakek Askar marah kepada dokter Juna.
"Maafkan saya Tuan. Padahal tadi siang ia baru kontrol bersama saya, saya sudah memberinya vitamin dan suplemen"
Kakek Askar menghela nafas panjang, ia mencoba untuk mengontrol emosinya. Dia tidak ingin darah tingginya kambuh.
Kakek memandang Sean yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia belum sadar dari pingsannya. Nampak juga Mama Sean duduk di sebelah anaknya itu, ia cukup terpukul melihat anak semata wayangnya yang mendadak sakit.
"Ini semua salah Ayah yang memaksakan Sean sampai sakit seperti itu," ucap Mama Sean.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi dia satu-satunya cucu laki-laki ku"
Seketika itu juga Sean terbangun, orang yang berada disitu cukup lega termasuk Alana.
Sedari tadi ia yang menemani Sean sebelum Kakek Askar dan Mama Sean datang.
Sean melihat sekeliling, ia tidak mendapati Mauren berada diruangan itu.
Dokter Juna kembali memeriksa keadaannya dan menyuruh keluarga Sean untuk menunggu diluar. Sang Mama mengecup kening Sean dan mengelus pipinya sebelum beranjak pergi. Dia bisa melihat wajah Sean kelelahan lalu menyemangatinya.
"Cepat pulih Sean, muah"
Sean tersenyum kepada sang Mama. Setelah sang Mama pergi, dokter Juna memeriksa keadaan Sean kembali.
"Kau sakit apa gara-gara tidak mendapat jatah dari istrimu?" ejek dokter Juna sambil mengarahkan stestoskop ke dada Sean.
"Sialan kau!"
"Keluargamu belum tau jika kau sudah menikah?"
"Kau sudah bilang jika aku sudah menikah kepada mereka?" tanya Sean panik.
"Tidak. Kim menyuruhku untuk menutup mulut"
Sean menghela nafas, ia harus berterima kasih kepada asistennya yang pandai itu.
Dia malah teringat kepada Mauren, ia tidak bisa membayangkan ketika melihat ekspresi Mauren yang panik ketika dirinya pingsan di pelukan Mauren.
Disaat itu juga Asisten Kim datang, ia menginformasikan kepada Sean jika rumah sederhana miliknya sudah diketahui oleh kakeknya.
"Sekarang Mauren dimana? Dia baik-baik saja kan?" tanya Sean khawatir.
"Nona Mauren berada di apartemen pribadi anda, dia aman disana"
Sean bernafas lega lalu melirik dokter Juna yang mendengar obrolannya. Dia menyuruh dokter Juna untuk diam dan tidak boleh ikut campur.
"Hey aku ini dokter bukan penggosip. Aku tidak akan memberitahukan ini ke siapapun"
"Bagus! Beri dia 50 ribu Kim untuk mengapresiasi mulutnya yang tidak ember!" ucap Sean mengejek.
__ADS_1
"Huh! Pelit sekali kau! Ya sudah aku harus kembali ke ruanganku, jangan lupa minum sirupmu. Kau harus istirahat total dan jangan banyak pikiran"