Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 167 - Selamat datang, Arseina.


__ADS_3

Setelah melakukan ijab qobul secara sederhana dengan dihadiri keluarga mereka masing-masing, kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri lagi menurut agama dan negara walaupun Sean belum pernah menggunggat cerai maupun mentalak Mauren.


Itu di lakukan supaya mereka memiliki buku nikah lagi dan tidak melakukan zina jika mereka kembali bersama.


Mauren mencium tangan Sean dan Sean mencium kening Mauren.


Setelah ijab qobul selesai mereka mengadakan makan-makan di rumah.


Terlihat mama kandung Mauren ikut datang tetapi ia merasa risih dengan Kakek Askar.


Setelah semua acaranya selesai, Sean dan Mauren berpamitan kembali ke apartemen untuk memulai hidup baru dan membuka lembar baru.


Di dalam mobil, Mauren melirik Sean yang ada di sebelahnya, dia begitu rindu dengan Sean.


"Oppa, aku tidak sabar bermain-main dengan Seina," ucap Mauren.


"Siapa Seina?" tanya Sean.


Mauren belum menjawab tiba-tiba Sean mendapat telepon dari Kim. Dia mengangkatnya.


"Kim, kapan kau pulang?" tanya Sean.


"Minggu ini saya akan pulang, tuan"


"Kim, aku sudah rujuk dengan Orenku"


"Selamat tuan. Saya ikut senang mendengarnya," jawab Asisten Kim.


Mereka mengobrol cukup lama sampai tak terasa sudah sampai di apartemen.


Sean menutup telponnya lalu turun dari mobil sambil menggandeng sang istri tercinta. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Setelah sampai di apartemen ternyata semua perabotan sudah diganti.


Tanpa pikir panjang Sean langsung mencium bibir Mauren dan membuka kebaya milik Mauren.


Selama sebulan mereka tidak melakukan kontak fisik seperti ini membuat mereka sangat antusias.


Mereka akhirnya melakukan ihik-ihik mantap-mantab.


Di skip yaa... author gi males nulis gituan. hehe..


Setelah puas melakukan itu mereka segera mandi bersama. Mereka saling menggosok tubuh satu sama lain. Sean nampak menciumi aroma punggung Mauren yang sangat di rindukan.


"Oppa... Jangan begitu oppa!" ucap Mauren.


"Kenapa? Aku sangat rindu, Oren"


Mauren berdecih, ia segera beranjak dari bak mandi lalu mengenakan handuk. Sean tersenyum manis, ia tahu jika sang istri tidak mau di mintai ronde kedua.


Mauren keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaiannya dan sedikit mengenakan skinker supaya Sean semakin cinta kepadanya.

__ADS_1


Tiba-tiba bunyi bel pintu apartemennya berbunyi, ia tersenyum sumringah ketika sang mama menggendong Seina.


Mauren segera menggendongnya dan menyuruh sang mama masuk tetapi ia tidak mau karena tidak enak dengan Sean.


Setelah itu mama berpamitan pulang dan Mauren menggendong Seina masuk ke apartemennya.


"Welcome back home my baby," ucap Mauren sok inggris.


Mauren meletakan bayi berumur 1 bulan di ranjang lalu dengan gemas mencium pipinya. Mauren lalu menuju ke dapur menghangatkan air untuk membuat susu Seina.


Sean yang keluar dari kamar mandi kini memakai pakaiannya yang ada di ranjang yang sudah di siapkan oleh Mauren.


Matanya terfokus pada bayi yang bergerak aktif menghentakan kaki dan tangannya.


"Bayi datang darimana kau?" tanya Sean.


"Oreeeen? Oreeeen sayang? Ada bayi disini," teriak Sean memanggil sang istri.


Mauren yang membawa susu langsung menggendong bayi itu dan memberikannya susu. Sean masih belum paham dengan situasinya.


"Itu bayi siapa?"


"Perkenalkan ini Seina, bayi yang akan melengkapi rumah tangga kita," jawab Mauren.


Sean sangat terkejut, ia menatap tajam bayi itu dan melihat anting yang dikenakan pertanda bayi itu adalah perempuan.


"Usir bayi itu dari sini!" bentak Sean membuat Mauren terkejut.


"Maksud oppa?"


Mauren bersikeras untuk merawat bayi malang ini. Mereka akhirnya berdebat lagi padahal satu jam lalu mereka baru saja rujuk.


"Aku ingin rujuk dengan oppa bukan untuk bertengkar seperti ini," ucap Mauren kesal.


"Jika kau tidak ingin bertengkar kembalikan bayi ini ke panti asuhan," jawab Sean.


Mauren menolak dan bersikeras ingin mengadopsi bayi itu. Sean mendengus dan menatap tajam bayi itu.


"Dulu kau bawa kucing sialan itu, kini kau bawa bayi orang, kenapa tidak sekalian bawa ikan paus lalu letakkan di kolam renang?" ucap Sean.


"Biarkan Seina sayang, papamu memang sinting," ucap Mauren sambil mengelus pipi Seina.


"Apa kau bilang? Seina? Maksudmu Arseina?" tanya Sean.


Mauren dengan santai menganggukan kepala.


"Aaah... Arseina itu nama untuk anakku," ucap Sean kesal.


"Ini kan anak oppa juga"


"Itu bukan anakku!" teriak Sean.

__ADS_1


Mauren lalu meletakan Seina diranjang dan mengambil tasnya lalu berpura-pura untuk pergi meninggalkan Sean lagi.


Sean terkejut dan memohon supaya Mauren tidak pergi.


"Oke oren. Aku akan menganggap bayi itu anakku. Tapi kau jangan pergi," pinta Sean.


Mauren tersenyum lalu memeluk Sean dan setelah itu melepaskan pelukannya.


"Jadi oppa mau memberi nama lengkap Seina apa?"


^^^Cih... Sungguh aku tidak rela mengadopsi bayi ini. Jika bukan karena Oren pasti aku sudah membuangnya ke panti asuhan. Batin Sean sambil menatap sinis bayi itu.^^^


"Oppa? Oppa kok melamun?"


"Ehhh... Hmm... Akan ku beri nama Arseina Putri Sheren Adinata," ucap Sean secara terpaksa.


Mauren tersenyum, ia lalu menyuruh Sean duduk dan menyuruh Sean menggendong Seina tetapi Sean menolak.


"Aku tidak bisa menggendong bayi," ucap Sean.


Mauren tetap memaksanya dan mengajari Sean menggendong bayi dengan benar. Kini Seina sudah berada di gendongan Sean. Sean menatap bayi itu memang sangat menggemaskan dan tidak sadar Sean mencium kening Seina.


"Oppa, setelah ini kita berbelanja keperluan Seina ya? Baju Seina sudah tidak muat. Lihatlah ia semakin gendut!" ucap Mauren.


"Baiklah"


Sean tidak ingin semakin gemas dengan bayi lucu itu tiba-tiba menyuruh Mauren untuk menggendongnya dan ia berjalan menuju ke kolam renang dan terduduk di pinggir kolam.


Masalahku dengan Oren sudah selesai kini muncul masalah bayi. Aku sungguh tidak ikhlas dengan kehadiran bayi itu. Dia bukan anakku, dia anak orang lain. Aku tidak rela untuk mengadopsinya.


Sean melirik Mauren melalui jendela besar, ia melihat Mauren sangat bahagia dengan kehadiran bayi itu.


Huh... semua kulakukan demi Mauren.


Setidaknya aku masih bisa akting baik dengan bayi itu di depan Mauren.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi yang tenyata dari Dokter Juna. Dia segera mengangkatnya.


"Sean, nanti siang kau ada jadwal bertemu psikiater," ucap Dokter Juna.


"Kau pikir aku gila?"


"Kau hampir gila, Sean. Periksakan keadanmu dulu! Kau belum pulih dari depresimu," ucap Dokter Juna.


Sean waktu kecil memang sempat terjatuh dan membuat kepalanya terbentur dengan keras sehingga mempengaruhi otaknya. Dulu ia baik dan periang tetapi karena kecelakaan itu ia menjadi pemarah dan gampang emosian.


"Iya, nanti aku kesana. Oh ya Juna, bagaimana reaksimu tiba-tiba istrimu mengadopsi bayi orang lain?" tanya Sean.


"Hemm... Mauren mengadopsi bayi, maksudmu?"


"Benar, kau tau jika aku tidak suka bayi itu. Aku harus menyingkirkan bayi itu," ucap Sean.

__ADS_1


"Jangan begitu, Sean! Hormati keputusan istrimu. Kau baru rujuk dan jangan sampai keputusanmu membuat Mauren pergi meninggalkanmu lagi," jawab Dokter Juna.



__ADS_2