Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 143 : Touring 5 (Desa diatas awan)


__ADS_3

"Tunggu dulu! Ini cerita seram versiku, saat itu aku berjalan sendirian di kompleks rumahku..."


"Stop!" ucap Sean sambil menutup mulut Mauren.


"Kenapa, Sean?" tanya temannya.


"Hawanya mulai aneh, tidak usah cerita seram," ucap Sean sambil tertuju kepada salah satu korden kamar yang bergerak sendiri.


Sean memang bukan orang penakut tetapi ia lebih menghindari hal begituan ketimbang mendapat masalah apalagi malam semakin larut. Dia juga merasakan keanehan di hotel ini tetapi ia memendamnya dan tidak bercerita kepada yang lain.


Setelah mereka bercengkerama kurang lebih 2 jam, mereka memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing.


Sean terlihat kurang nyaman tidur sekamar dengan Juna dan Kim.


Setelah sampai di kamar mereka merobohkan di ranjang masing-masing.


Sean mengambil selimut tebal lalu menyelimuti tubuhnya dengan tubuh Mauren sampai menutupi kepala.


Sedangkan Dokter Juna dan Asisten Kim berbaring terdiam mendengar kesunyian malam ini dan hanya suara jangkrik yang menemani mereka.


"Kim?"


"Apa dokter?"


"Mereka berdua sedang apa?"


Asisten Kim menggelengkan kepala seolah tidak mau tau tentang pasangan itu di balik selimut yang mencurigakan.


"Selimutnya bergoyang, Kim. Pasti mereka sedang..."


"Cukup Dokter Juna! Anda terlalu negatif"


Dokter Juna berdecak, ia kini menghadap Asisten Kim. Pendengaran ia tajamkan untuk mendengar hal yang tidak harusnya ia dengarkan.


Ketika Asisten Kim akan terpejam Dokter Juna tiba-tiba mengajaknya mengobrol.


"Kim?"


"Apa lagi dokter? Tidur saja! Tidak usah memikirkan yang aneh!"


Dokter Juna terduduk, ia menghadap pasangan aneh yang bersembunyi di balik selimut itu.


"Apa yang kau lakukan, Sean?" tanya Dokter Juna.


Sean membuka selimutnya lalu menghadap Dokter Juna. "Apa kau?" tanya Sean.


"Jangan melakukan itu ketika ada kami, Sean!" ucap Dokter Juna.


"Melakukan apa?"


"Skidipapap," jawab Dokter Juna.


Sean sangat marah sampai ia memelototi Dokter Juna tetapi Dokter Juna merasa tidak takut kepada sang tuan. (Hanya di novel ini sang asisten dan sang dokter berani dengan tuannya).


"Terus kenapa selimutmu bergoyang?"tanya Dokter Juna.


"Silit ku gatal beg*. Makanya ku garuk. Sialan! Gatal sekali sampai rasanya ingin ku garuk dengan garpu," ucap Sean sambil menghadapkan pantatnya di hadapan Dokter Juna. "Hei kau Juna. Cepat resepkan aku obat gatal!"


"Sinting kau, Sean! Terus mau di tebus dimana obatnya? Kita ada di gunung," ucap Dokter Juna.


Sean semakin merasa risih dengan rasa gatalnya sampai ia membangunkan Mauren untuk memeriksa pantatnya.


Mereka lalu menuju kamar mandi dan melakukan pemeriksaan darurat itu.


"Pasangan sinting mereka, Kim," ucap Dokter Juna sambil merebahkan dirinya di ranjang.


Di dalam kamar mandi Sean langsung menghabisi Mauren. Ya.. dia tadi hanya modus dengan Dokter Juna.


Sean melum*t bibir gadis itu dengan lembut sambil meraba lekuk tubuh sang istri. Mauren mengikuti permainan Sean dengan senang.


Setelah 5 menit berciuman mereka kini bertatapan saling mengelus wajah satu sama lain. Apalagi hawa dingin mendorong nafsu mereka semakin tinggi.

__ADS_1


"Di kamar tidak bisa maka kamar mandi solusinya," ucap Sean menyeringai.


"Oppa licik sekali"


Mereka lalu menanggalkan pakaian mereka dan terjadilah pertempuran sengit di malam yang dingin itu.


Disisi lain.


"Sudah 15 menit mereka di kamar mandi," ucap Dokter Juna.


"Sudahlah dok, mereka juga bukan pasangan mesum dan lagi pula mereka sudah menikah," jawab Asisten Kim.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di pagi hari yang cerah mereka terbangun lalu rebutan ke kamar mandi. Siapa lagi jika bukan Sean, Mauren dan Dokter Juna. Asisten Kim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya.


"Ayo hompimpah dulu! Yang menang boleh ke kamar mandi duluan," ucap Dokter Juna.


"Sialan! Seperti anak kecil saja," ucap Sean.


"Ayo siapa takut," ucap Mauren antusias.


Sedangkan Asisten Kim mengambil handuk dan pakaiannya lalu menuju kamar mandi yang kosong karena mereka bertiga sibuk main hompimpah.


"Haha... aku menang, aku yang masuk duluan ke kamar mandi," ucap Dokter Juna lalu membuka pintu kamar mandi yang ternyata sudah terkunci.


Mereka bertiga melirik Asisten Kim yang sudah tidak ada di ranjangnya. Mereka menduga jika Asisten Kim yang masuk ke kamar mandi tanpa sepengetahuan mereka.


"Kim Sialan," ucap Sean kesal.


Satu jam kemudian.


Terlihat mereka sudah berkumpul di depan hotel dan siap melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata selanjutnya yaitu sebuah desa negeri di atas awan yang sempat viral karena keindahannya.



Mereka harus menempuh 3 jam perjalanan dari hotel yang pernah mereka singgahi.


Jalanan hari minggu cukup sepi membuat mereka melajukan motor dengan leluasa. Mauren sedari tadi tercengang melihat pemandangan yang jarang ia lihat di kotanya.


Satu jam kemudian.


"Oppa, aku kebelet pipis," rengek Mauren diatas motor.


"Pipis dimana? Tidak ada pom bensin," jawab Sean.


Sean lalu mengklakson teman-temannya supaya berhenti.


"Kamar mandi umum dimana?" tanya Sean.


"Tidak ada, Sean"


Mauren semakin diujung tanduk karena sangat kebelet pipis. Sampai ia menemukan sebuah semak-semak lalu berlari menuju kesana.


"Hati-hati Oren! Awas ada ular," ucap Sean.


Mauren segera membuang air kotornya dan setelah itu ia keluar dari semak-semak itu dengan senyum sumringah.


"Sudah?" tanya Sean.


"Sudah, Oppa"


Mereka lalu melanjutkan perjalanan yang masih kurang 2 jam lagi. Mauren memeluk erat Sean karena saking dinginnya daerah tersebut.


Sampai mereka melewati jalanan berliku yang membuat mereka harus hati-hati.


Dan mereka tidak lupa jika melewati jembatan harus mengklakson motor mereka pertanda jika mereka permisi melewati jembatan itu.


"Kenapa selalu mengklakson, Kim?" tanya Dokter Juna.


"Saya kurang tahu dok. Saya juga mengikuti mereka. Tapi mereka bilang supaya kita tidak kena sial," jawab Asisten Kim.

__ADS_1


"Haha... pasti di hubungkan dengan hal mistis lagi. Dasar manusia-manusia bodoh," ucap Dokter Juna.


2 jam kemudian.


Setelah merasakan pegal dan ngilu pada tubuh selama perjalanan 3 jam. Mereka sudah sampai di negeri atas awan.


Desa itu sangat unik terdapat di lereng gunung S seperti sebuah desa di negara Nepal.


Setelah memarkirkan motor mereka lalu mengisi buku tamu dan memasukan uang sumbangan sukarela untuk pembangunan desa tersebut.


Setelah itu mereka naik keatas menikmati setiap keelokan alam di sekitarnya.


"Oppa, fotokan aku!" pinta Mauren.


Sean menganggukan kepala lalu segera memotret Mauren. Mauren berpose sangat imut sampai membuat Sean meleleh.


"Kim. Fotokan kami berdua," ucap Sean meminta bantuan Asisten Kim.


"Baik, Tuan"


Asisten Kim memotret mereka sampai 10 kali jepretan.


Setelah selesai memotret, Asisten Kim menyerahkan ponsel Sean kepada Sean.


Sean melihat hasil jepretan itu dan benar sangat bagus.


"Mumpung disini ada sinyal kau tidak menelpon pacarmu, Kim?" tanya Sean.


"Ada sinyal, Tuan?" tanya Asisten Kim sambil melihat ponselnya.


Dia tersenyum lalu membuka beberapa pesan dari Lili yang selalu mengingatkannya untuk makan dan istirahat.


Asisten Kim lalu menelpon Lili dan gadis itu dengan cepat mengangkatnya.


"Hallo Lili? Maaf baru menelponmu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Asisten Kim.


"Aku sedikit flu. Mungkin besok sudah baikan"


"Segera minum obat sayang"


Asisten Kim lalu melanjutkan obrolannya dengan serius bersama Lili.


Sedangkan Dokter Juna hanya menatap kosong layar ponselnya karena Anita hanya membaca pesannya tanpa membalasnya.


Berat sekali Anita untuk berpisah denganmu. Apa bagusnya lelaki itu dari pada aku? Batin Dokter Juna.


Tiba-tiba bahunya di tepuk oleh Sean, Sean memberikan semangat untuk sahabatnya itu.


"Wanita seperti itu lepaskan saja, Juna! Dia tidak menghargaimu sebagai suami," ucap Sean.


"Iya Sean, minggu depan aku akan bercerai dengannya. Kau dan Kim harus datang"


"Aku pasti akan datang Juna"


Sedangkan Mauren kini mendekati kakak sepupunya yaitu Valto. Mereka bercengkerama layaknya kakak adik pada umumnya. Mereka juga terlihat asyik bersenda gurau.


"Sean memperlakukanmu dengan baik?" tanya Valto.


"Dia suami terhebat"


"Jangan pernah lepaskan Sean!"


"Haha... tidak akan pernah karena aku sangat mencintainya," jawab Mauren.


******


Plisss jangan lupa VOTE nya jika gak ingin cerita ini cepet tamat.


jangan lupa subcribe chanel youtube author : Mariana Vikram.


dan bunyikan loncengnya supaya dapat pemberitahuan jika sudah update tentang "Menggapai Cinta Asisten Kim"

__ADS_1


__ADS_2