Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 171 - Seina rewel


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah diadakan pemakaman semua orang lalu pulang. Tampak keluarga Adinata berkumpul disana. Kedua putri kakek Askar menangis didekat batu nisan. Mereka begitu kehilangan sang ayah tercinta.


Sean membantu mereka untuk berdiri lalu mengantar mereka ke rumah.


Asisten Kim menyetir yang di dalamnya ada Sean, Mauren, Mama Sean dan Mama Zara.


Sedangkan Sera diantar oleh Ali karena Dokter Juna tidak bisa mengantar karena Zara mengeluh perutnya sakit akibat kelelahan.


"Kak Ali sudah punya pacar?" tanya Sera.


"Belum nona tapi saya masih menunggu seseorang," jawab Ali dengan sopan.


"Sambil menunggu ayo pacaran denganku. Aku sebel sama Ayang Kim yang tidak pernah peduli kepadaku bahkan menolakku mentah-mentah," ucap Sera sedikit ngasal.


Ali menaikan alisnya lalu melirik Sera yang menatap kaca mobil. Ali berpikir ini adalah kesempatannya untuk membuat cemburu Alana dengan memanfaatkan gadis cantik itu.


"Nona sedang berduka kenapa memikirkan pacaran?" tanya Ali.


"Otakku yang berduka tapi hatiku tidak. Aku sangat galau"


Ali menghentikan mobilnya lalu menatap Sera. Ali tersenyum lalu mencubit wajah Sera dengan gemas.


"Anda mau punya pacar tua sepertiku?" tanya Ali.


"Berapa umurmu?"


"30 tahun"


Sera memandang lekat Ali. Ali sangat tampan membuat Sera mengira jika umur Ali seumuran Sean.


"Hahaha... anda pasti tidak mungkin mau dengan saya yang sudah tua ini," ucap Ali.


"Aku mau. Aku mau kau jadi pacarku," jawab Sera sangat yakin.


Ali tersenyum lalu menganggukan kepala sedangkan Sera tersenyum manis. Oh inikah rasanya pacaran? Nampak biasa saja karena mereka pacaran untuk bersenang-senang tanpa rasa cinta.


"Bisakah aku memelukmu Kak Al?" tanya Sera.


Ali melepas sabuk pengamannya dan memeluk Sera. Dia tidak tahu masalah yang dihadapi Sera tetapi sepertinya gadis itu banyak menyimpan kesedihan.


"Kenapa menangis? Oh ya namamu siapa?"


"Huaaaaa... pacarku sendiri tidak tahu namaku," ucap Sera.


"Sudah jangan menangis! Aku akan mencari tahu namamu secepat mungkin," jawab Ali sambil mengelus kepala Sera.


...----------------...


Setelah sampai di rumah, pengacara dan ajudan kakek Askar mengumpulkan anggota keluarga. Ini adalah waktu yang tepat untuk membahas perusahaan dan harta yang di tinggalkan.


Sudah jauh hari Kakek Askar membuat surat wasiat ini dan masing-masing anggota keluarga mendapat surat dan amanah.


Sean mendapat surat khusus dari sang kakek tetapi ia tidak langsung membacanya tetapi menyimpannya.


Termasuk Mauren, ia mendapat surat khusus dari kakek Askar.

__ADS_1


Tiba-tiba Seina menangis dan rewel membuat Mauren memilih untuk keluar dan menenangkan Seina.


Terlihat diluar masih banyak pelayat berdatangan dan beberapa awak media yang meliput. Tetapi pandangan Mauren tertuju pada Arkan yang datang dengan pakaian serba hitamnya.


"Kak Arkan?" ucap Mauren sambil menggendong Seina.


"Abang Sean ada di dalam?"


Mauren menganggukan tetapi Arkan seolah ragu untuk masuk karena ia bukan termasuk keluarga Adinata.


"Mau ku panggilkan Sean?" tanya Mauren.


"Aku takut diusir oleh mamanya"


Mauren merasa kasian dengan Arkan, ia menelpon Sean dan menyuruh menemui Arkan diluar.


Beberapa menit kemudian Sean datang dan menyuruh Arkan untuk masuk tetapi Arkan menolak karena takut akan diusir oleh anggota keluarga yang lain.


"Ayo masuk! Apa yang kau takutkan?" tanya Sean.


"Aku takut mama abang mengusirku," jawab Arkan.


"Selama ada aku, kau tidak akan diusir. Kau adikku dan termasuk keluarga Adinata"


Sean menggandeng Arkan untuk masuk dan meninggalkan Mauren yang masih diluar untuk menenangkan Seina.


Ya... terkadang Sean sangat peduli dengan Seina dan terkadang cuek dengan bayi malang itu.


Ketika Arkan masuk, Mama Sean sangat terkejut. Dia memaki Arkan dan menyuruhnya pergi. Arkan sudah menduganya tetapi Sean membela Arkan.


"Arkan juga anak Papa. Mama tidak boleh seperti itu," ucap Sean.


Arkan memilih untuk pergi, Sean hanya menghela nafas dan menyuruh Arkan bersabar karena ini masih keadaan berduka dan emosi mama masih belum stabil.


"Terima kasih sudah datang, Arkan. Aku akan membujuk Mama untuk menerimamu," ucap Sean.


"Sama-sama bang. Aku yakin tante tidak semudah itu menerimaku"


"Lambat laun dia akan menerimamu," ucap Sean.


Sean mengantarkan Arkan sampai halaman rumah yang luas itu dan setelah Arkan pergi Sean melirik Mauren yang kewalahan karena Seina menangis dan rewel. Sean mendekati mereka.


'Kenapa Oren?" tanya Sean.


"Seina rewel oppa"


Sean menggendong Seina dan sama saja tetap rewel bahkan tangisannya semakin keras.


Sean menyerahkan bayi itu kepada Mauren dan ia memanggil Ali untuk mengantarkannya pulang sedangkan Kim di suruh menyelesaikan urusan dengan pengacara Kakek Askar.


Di dalam mobil Seina tetap menangis dan tidak mau minum susu.


Ali melirik melalui kaca spion nampak kedua orang tua aneh itu kelabakan mencari cara supaya Seina diam.


"Tuan, nona, mungkin Seina rewel karena giginya akan tumbuh makanya badannya terasa tidak enak," ucap Ali.


Sean mencoba melihat ke dalam mulut Seina dan benar 2 gigi sudah terlihat akan tumbuh.

__ADS_1


"Wah, Seina sudah punya gigi. Anak papa mama sudah besar ya?" ucap Mauren dengan gemas.


Sean tersenyum kecut, ternyata hanya masalah tumbuh gigi. Sean menghela nafas panjang lalu bersandar pada kursi.


"Cih... alay kau Seina. Tahu begini aku tetap ada di rumah kakek," ucap Sean membuat Mauren sedikit tersinggung.


"Oppa kok bilang begitu? Jika menurutmu Seina tidak penting kembali saja ke rumah kakek!" ucap Mauren.


"Kau salah Mauren, kenapa kau mengadopsi tanpa persetujuanku? Dan untuk apa aku mengkhawatirkan anak orang lain?" jawab Sean membuat Mauren tersentak.


Jadi selama 7 bulan ini oppa hanya bersandiwara baik kepada Seina?


"Al, putar balik ke rumah kakek," pinta Sean.


"Berhenti Kak Al! Aku mau turun disini," ucap Mauren.


"Tapi nona,"


"Ku bilang berhenti!" ucap Mauren.


Sean terkejut lalu mencegah Mauren untuk turun. Dia meminta maaf karena sudah semena-mena kepada Seina.


Mauren sudah sangat kesal kepada Sean.


"Carilah istri yang bisa memberikanmu anak!" ucap Mauren.


"Maafkan aku Oren sayang. Aku tidak bermaksud begitu. Mari Seina biar ku gendong"


"Tidak perlu! Tidak usah sok baik kepada Seina," ucap Mauren membuat Sean memeluk Mauren dan memohon ampunan kepada sang istri.


Sedangkan Ali yang melihat keributan pasangan aneh itu hanya tersenyum kecil. Sean yang di kenalnya tegas, garang di perusahaan ternyata seorang suami takut istri.


Mereka pasangan menggemaskan. Batin Ali.


Tiba-tiba ponsel Ali berbunyi, sebuah nomor tidak dikenal menelponnya.


"Hallo om sayang, dimana?"


Ali mengerutkan dahi. Om sayang?


"Aku pacarmu, Om Ali"


"Oh... si manis? Maaf aku pergi tanpa memberitahumu. Aku mengantar tuan dan nona pulang ke rumah," jawab Ali.


Sean yang kepo menatap Ali dengan tajam lalu setelah itu ia melontarkan pertanyaan untuk Ali.


"Siapa itu si manis?" tanya Sean.


Ali yang terkejut langsung menutup telponnya.


"Ehhm... itu...," jawab Ali ragu.


"Itu siapa?" tanya Sean.


"Oppa kepo sekali dengan urusan orang," ucap Mauren.


"Aku curiga dengan si Al tadi dia mendekati Sera atau jangan-jangan?" ucap Sean menerka-nerka.

__ADS_1



__ADS_2