Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 185 - Sean puasa


__ADS_3

Karena banyak yang nanya kelanjutannya Sonia maka ku gabung disini saja. Mau lanjut disana tapi sepi pembaca jadi males jadi ku lanjut sekalian disini karena Reno dan Sonia juga teman Sean.


Sean menyuruh Asisten Kim untuk mengantarnya ke rumah sakit. Dia ingin menemui Dokter Juna. Ada hal penting yang harus ia bicarakan.


Di dalam mobil, ia terdiam seperti patung. Dia memandang langit hitam pertanda hujan akan datang.


"Tuan?"


"Apa?"


"Anda seperti sedang ada masalah?" ucap Asisten Kim.


"Hem"


Asisten Kim tersenyum pasti mengenai Mauren. Dia lalu fokus menyetir mobil lagi dan membiarkan Sean terdiam melamun tidak jelas.


Sesampainya di rumah sakit, Sean segera masuk dan bertemu Dokter Juna diruangannya.


Sean duduk di sofa, Dokter Juna membuatkannya minuman.


"Zara bagaimana?" tanya Sean.


"Dia sudah pulang, dia hanya salah paham," jawab Dokter Juna sambil mengaduk minuman itu.


Setelah itu, ia memberikannya kepada Sean. Sean menyeruputnya.


Dokter Juna memandang Sean dan terlihat ada jerawat di jidat Sean.


"Jerawatmu, Sean?" ucap Dokter Juna.


Sean tersenyum kecut sambil meletakan secangkir kopi di meja. Setelah menikah dia tidak mau memikirkan penampilannya lagi.


"Kau kesini untuk apa? Oh ya, sudah ku putuskan untuk pindah bulan depan," ucap Dokter Juna.


"Hah... Saat Zara hamil muda dulu kau berpuasa malam?" tanya Sean.


Dokter Juna tertawa, ia tahu Sean galau karena itu. Dia lalu pindah duduk di sebelah Sean dan mulai ngerumpi ala laki-laki dewasa.


Sedangkan Asisten Kim hanya sebagai pendengar setia.


"Dengar Sean! Ada kalanya kita harus menahan ego kita," ucap Dokter Juna.


"Kau tau Juna? Seminggu saja aku tidak tahan apalagi Dokter Ana bilang sampai 4 bulan tidak hihihi dengan Orenku. Aku takut ularku mati mengenaskan," jawab Sean panik.


Sean begitu panik sampai memegangi kepalanya. Dia berdiri sambil berjalan mondar-mandir memikirkan cara untuknya.


"Kau tinggal melubangi sabun saja, Sean," ucap Dokter Juna.


"Ularku alergi sabun," jawab Sean cepat.


"Jadi selama ini kau mandi dengan apa?"


"Ssssst... jangan bilang siapa-siapa! Sebenarnya jika mandi ularku ku plastiki," ucap Sean.


"Kim, tuanmu sintingnya makin parah," bisik Dokter Juna.


Asisten Kim hanya tersenyum sedangkan Sean masih mondar-mandir.


Sean begitu paniknya sampai tidak mengetahui ia mengandung kaki dokter Juna yang panjang dan ia terjatuh.


Gubraaaaak...


"Sialan kau, Juna!" ucap Sean berdiri sambil menarik kerah Dokter Juna.

__ADS_1


Asisten Kim melerai mereka jika tidak pasti bertengkar.


Dokter Juna mendengus dan membenarkan jas putihnya.


"Sudah sana kau pulang!" ucap Dokter Juna.


"Lalu aku bagaimana? Apa yang harus ku lakukan sambil menunggu 4 bulan ke depan?" tanya Sean frustasi.


"Jika nafsumu sudah tidak tertahankan lagi lakukan olahraga saja, Sean atau kau bisa menyewa wanita malam"


"Apa kau bilang? Kau pikir aku seperti dirimu?" jawab Sean marah.


Dokter Juna lalu mendorong Sean untuk keluar dari ruangannya. Sean sangat menggangunya sedangkan Sean langsung berjalan dengan frustasi keluar dari rumah sakit itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di gedung Young Group.


"Sudah ada janji dengan Tuan Sean?" tanya resepsionis pada Sonia.


"Belum, tapi ku mohon ini sangat penting," ucap Sonia mengiba.


"Maaf, tidak bisa jika belum ada janji dengan Tuan Sean"


Sonia memohon sampai pegawai lain meliriknya, mereka terkejut melihat Sonia tiba-tiba datang ke kantor Young Group setelah kepergiannya ke luar negeri.


"Ku mohon mbak, ini sangat penting," rengek Sonia membuat resepsionis itu iba.


Resepsionis itu lalu menelpon asisten pribadi Arsean. Lalu bertanya apakah sang presdir mau menemui Sonia karena Sonia sangat memaksa untuk bertemu.


10 menit kemudian.


"Apa tujuanmu kesini?"


Sean mengamati Sonia dengan seksama, Sonia nampak kurus dengan rambut sebahu.


"Pergilah! Aku tidak menerima pegawai sepertimu," ucap Sean sambil mengibaskan tangannya.


Sonia terkejut, ia sudah menduga jika Sean akan menolaknya.


"Ku mohon beri aku pekerjaan, bahkan menjadi petugas kebersihan aku mau. Tolong aku kak!" ucap Sonia memelas.


"Kau bisa menjadi petugas kebersihan di kantor papamu"


Sonia terdiam, bahkan sang papa sudah tidak menganggapnya sebagai anak. Dia sendiri pun sudah tidak berani berurusan dengan sang papa.


"Jika begitu aku pamit undur diri. Maaf sudah mengganggu waktumu kak," ucap Sonia sedih.


Sonia berjalan menuju pintu, Sean masih memperhatikan Sonia yang terlihat kecewa.


"Tunggu!" ucap Sean.


Sonia terhenti dari langkahnya lalu menghadap Sean.


"Bisa apa saja kau?" tanya Sean.


"Emm... aku paham akutansi, bisa berbahasa inggris dengan lancar dan..."


"Cukup!" ucap Sean.


Sonia menaikan alisnya seolah kebingungan.


"Kau bisa menemani istriku dirumah? Akan ku gaji kau seperti pegawai disini asalkan kau menemaninya di rumah, mengantarnya kemanapun dia pergi," ucap Sean.

__ADS_1


"Menjadi bodyguard istri kak Sean?" tanya Sonia masih bingung.


"Bukan, lebih tepatnya menjadi temannya. Aku tidak tenang meninggalkannya di apartemen sendirian. Awasi makanannya, jangan biarkan ia makan makanan yang tidak sehat. Laporkan semua kegiatannya kepadaku. Kau harus datang jam 8 dan pulang jam 7 malam, kau sanggup?" tanya Sean.


"Aku sanggup kak," ucap Sonia senang.


Sean lalu menyuruh Sonia mulai bekerja siang ini, Sonia menyetujuinya lalu ia segera menuju ke apartemen Sean untuk menemani istri Sean yaitu Mauren.


Tidak apalah menjadi babu. Yang penting aku bisa dapat uang. Gajinya juga banyak. Tapi sejak kapan Kak Arsean menikah? Kenapa aku tidak diberitahu?


Di apartemen Sean, nampak Mauren sedang memotong kuku Seina.


Seina terus saja bergerak membuat Mauren kewalahan.


"Sheren, jangan bergerak!" ucap Mauren.


Sejak Seina berumur satu tahun, Mauren berubah memanggil namanya dengan Sheren. Sheren adalah singkatan dari Sean Mauren, entah kenapa nama itu lebih cocok untuk nama panggilan balita gembul itu.


Tiba-tiba Mauren ingin makan mangga tetapi dimana mencari mangga mentah? Dia juga tidak ingin merepotkan Sean yang sedang bekerja.


Sean sangat panjang umur, dia menelpon Mauren.


"Hallo Oren? Sedang apa sayang?" tanya Sean.


"Aku barusan memotongi kuku Sheren"


"Sudah ku bilang, jangan panggil Sheren tapi Seina!"


"Huh... terserah aku dong oppa! Oppa aku pengen mangga muda," ucap Mauren.


Sean tersenyum, akhirnya Mauren mengidam juga.


"Nanti oppa carikan, selain mangga apa lagi?"


"Sudah itu saja, oppa," jawab Mauren.


Sebelum Sean memberitahu jika Sonia akan datang ke apartemen mereka, Mauren sudah menutup telponnya.


Setengah jam kemudian, Mauren membuka pintu apartemen. Matanya terbelalak melihat Sonia datang ke apartemennya.


"Hallo, aku kesini disuruh Kak Sean untuk menemanimu dan membantu mengurus anak kalian," ucap Sonia ramah.


Mauren mempersilahkannya masuk dam menyuruh Sonia duduk di sofa setelah itu ia berlari di depan kolam renang menelpon Sean sambil menggendong Seina.


"Oppa, kenapa oppa menyuruh mantan pacar oppa kesini?"


"Sialan! Gara-gara mulut Juna kau jadi salah paham. Sonia bukan mantanku," ucap Sean.


"Oppa 'kan tahu sendiri aku sedang hamil dan cemburuan. Kenapa Oppa malah menyuruh dia menemaniku disini?" ucap Mauren marah.


Sonia yang mendengar percakapan mereka merasa tidak enak.


"Eheeem... maaf kak Mauren, aku disini hanya bekerja dan tidak akan menggoda Kak Arsean. Aku butuh pekerjaan ini karena selain Kak Arsean tidak ada yang mau memperkerjakanku karena aku sudah di cap buruk oleh semua perusahaan," ucap Sonia menyela pembicaraan mereka.


Mauren mematikan ponselnya dan menatap Sonia. Mauren tahu masalah yang terjadi pada gadis cantik itu.


Mauren lalu menghela nafas.


"Baiklah, kau boleh bekerja disini Kak Son. Tapi benar 'kan dulu kau tidak ada hubungan dengan suamiku?"


"Tidak ada kak Mauren. Kita dulu kenal karena perusahaan Kak Sean dan perusahaan papaku bekerja sama. Oh ya, Kak Mauren butuh apa? Aku juga bisa memasak," ucap Sonia.


"Tidak ada, ayo kita rebahan di ranjang sambil curhat," jawab Mauren.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2