
Sean duduk di sofa sementara Mauren masih berdiri di depan pintu. Dia cukup ragu untuk melangkah mendekati Sean, ia takut akan terkena hukuman karena tadi sudah memeluk asisten Kim di depan Sean.
Sean yang melihat Mauren berdecak lalu mencoba menyuruh Mauren mendekat dengan memberi kode lewat jemarinya.
Mauren melangkah pelan sambil melantunkan doa.
Apakah aku harus bersujud di kakinya supaya ia tidak menghukumku bahkan memecatku?
Sean menarik tangan Mauren untuk duduk di sampingnya, tangannya dengan cepat memegang kepala Mauren dan memperhatikan dengan seksama.
"Apakah ada yang terluka? Alana tidak memukulmu kan? Apakah sangat sakit ketika rambutmu dijambak olehnya?" Tanya Sean khawatir.
Mauren menggelengkan kepala dan melepas tangan Sean yang memegangi kepalanya. Dia juga bernafas lega karena Sean tidak memarahinya. Kini Mauren malah risih jika ia selalu datang ke ruangan Sean, ia segera berpamitan untuk keluar sebelum banyak pegawai yang mencurigainya.
"Tuan sebaiknya jangan sering memanggilku untuk datang kesini kecuali jika aku mengantarkan dokumen penting untuk Tuan. Teman-temanku mulai curiga denganku yang sering masuk ke ruangan Tuan padahal aku anak baru," jelas Mauren.
"Tampar mulutnya jika bergosip seperti itu!"
Huh! Enak sekali oppa bilang begitu. Batin Mauren.
Sean menyisir rambut Mauren dengan jemarinya, rambut Mauren yang halus membuat Sean terasa nyaman berada didekat sang istri. Setelah itu Sean memeluk Mauren dari samping, ia membenamkan wajahnya di dada Mauren. Dia bisa mendengar detak jantung Mauren yang berdegup kencang. Bibirnya tersenyum karena ia tidak sendirian merasakan detak jantung yang meledak-ledak. Sean sebelumnya tidak pernah merasa sebahagia ini, hanya cinta yang membuatnya luluh dan tergila-gila dengan seorang gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
Sean mendorong tubuh Mauren untuk tiduran di sofa, ia menindihnya lalu membuka kancing baju Mauren.
"Tuan saya tidak mau melakukan itu," ucap Mauren membuat Sean terhenti.
"Kenapa kau sudah tidak perawan makanya kau takut melakukan itu denganku?"
"Bukan begitu Tuan," ucap Mauren.
Sean melum*t bibir Mauren dengan lembut, lidah mereka saling beradu dalam kenikmatan yang tiada tara. Perasaan seakan menggebu-gebu membuat mereka lupa diri jika sedang berada di kantor.
"Keluar kau Sean! Sedang apa kau di dalam?"
Asisten Kim menenangkan kakek Askar dan menyuruhnya menunggu karena hari ini Sean cukup sibuk tetapi sang kakek tidak sabar untuk bertemu dengan Sean.
Bagaimana ini? Ada Nona Mauren di dalam.
Apa yang harus ku lakukan? Batin Asisten Kim.
Tetapi tiba-tiba pintu ruangan Sean terbuka dan yang membukanya adalah Mauren.
Mauren tersenyum ramah kepada kakek Askar dan menyuruhnya masuk.
Kakek Askar mengerutkan dahi karena kebingungan kenapa Mauren berada di ruangan Sean.
Kakek Askar memandang meja depan sofa yang terdapat setumpuk dokumen dan laptop.
Dia juga melihat Mauren segera duduk mengerjakan semua itu.
__ADS_1
"Adik manis kenapa kamu berada disini?" tanya kakek Askar.
"Dia kuperintahkan untuk membantu pekerjaanku, hari ini aku sangat lelah karena sedari pagi mengurus proyek kapal pesiar," ucap Sean menjawab pertanyaan dari sang kakek.
"Kenapa kau tidak menyuruh Yuna?"
"Dia cuti hari ini," jawab Sean.
Kakek lalu menyuruh Mauren untuk keluar, dalam hati Mauren ia sangat berterima kasih kepada kakek jika tidak keperawanannya akan hilang pada saat itu juga.
Dia berjalan keluar dan sang kakek mulai membom pertanyaan untuk Sean.
"Siapa gadis yang kau bawa ke apartemen?"
Sean diam tidak memperdulikan pertanyaan kakek, ia fokus memeriksa dokumen yang telah tersusun rapi di meja untuk segera ditanda tangani. Kakek Askar mendekatinya lalu menjewer telinga Sean.
"Jika orang tua bertanya segeralah menjawab!"
Sean merasa kesakitan dan memohon kepada kakek untuk melepaskan jewerannya.
Sean mendengus lalu memegangi telinganya yang memerah.
"Dia gadis sewaan untuk memuaskan nafsuku! Puas?"
"Sungguh? Cucu kakek sudah besar rupanya. Bagaimana rasanya? Maka dari itu cepatlah nikahi Alana bukan malah menyewa wanita lain!"
Sean mendorong sang kakek untuk keluar, ia tidak ingin mendengarkan perjodohan lebih jauh lagi. Sudah cukup lelah seharian ini membuatnya sakit kepala.
Aku ingin berhenti menjadi direktur tetapi kini aku sudah memiliki keluarga yang harus ku nafkahi dan jika aku berhenti pun pasti kakek tidak akan memberiku uang dengan percuma.
Aku hanya sebagai robotnya saja jika aku tidak berguna lagi pasti aku akan dibuang.
Aku harus mengumpulkan uang banyak untuk masa depan keluargaku termasuk ibu ku.
Walaupun kakek Askar adalah kakek ku tetapi ia orang yang harus ku waspadai.
20 menit kemudian.
Sean melanjutkan pekerjaannya, ia menatap layar laptop untuk memeriksa dokumen penting. Tetapi hanya tulisan kabur yang dilihatnya, tulisan itu berubah menjadi buram.
Sean nampak bingung dan mengucek matanya tetapi tetap sama, ia tidak bisa membaca tulisan itu dengan jelas.
Dia menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya ke kursi.
Sudah 10 tahun terakhir ini aku selalu menatap layar komputer dan ini terjadi juga. Padahal aku selalu menjaga mata ku dengan baik, aku selalu meminum vitamin untuk kesehatan mataku.
"Tuan Sean?"
Sean membuka mata dan menyadari jika Mauren sudah masuk ke ruangannya dengan membawa beberapa berkas penting yang harus di tanda tangani oleh Sean.
__ADS_1
Sean lantas berdiri dan menghampiri Mauren tetapi yang dilihatnya sama, wajah Mauren menjadi buram. Sean menggeleng-gelengkan kepala dan memeganginya. Sampai ia jatuh pingsan di pelukan Mauren.
"Tuan!" ucap Mauren khawatir.
Mauren begitu panik, ia menepuk-nepuk punggung Sean tetapi lelaki itu tidak bergeming sama sekali.
"Tuan jangan bercanda! Bangun Tuan"
"Asisten Kim! Tolong! Asisten Kim!"
Asisten Kim datang lalu terkejut saat tuannya sudah tidak sadar, dia memapah tubuh Sean supaya berbaring di sofa lalu ia segera memanggil ambulance.
Mauren sangat panik, ia takut jika suaminya terjadi apa-apa.
"Bolehkah anda keluar Nona Mauren? Saya khawatir jika pegawai lain curiga saat anda berada disini ketika Tuan Sean pingsan?" pinta Asisten Kim
Dengan berat hati Mauren melangkahkan kaki menuju ke pintu tetapi langkahnya langsung terhenti dan berjalan lagi ke arah Sean yang tengah berbaring di sofa.
Mauren membungkukkan badan di mengecup bibir Sean, ia juga mengelus rambut Sean.
"Cepat sembuh oppa! Aku sayang oppa"
Mauren lalu berjalan keluar ruangan Sean dan saat itu juga petugas ambulane datang dan membawa Sean ke rumah sakit.
Mauren hanya bisa menatap sedih saat Sean di bawa oleh petugas itu. Dia ingin sekali mengantar Sean tetapi apalah daya, ia tidak bisa melakukan itu.
Para pegawai lain cukup terkejut mendengar bos besarnya pingsan padahal selama ini mereka mengira Sean sehat-sehat saja dan tidak pernah sakit. Berita itu terdengar sampai keseluruh perusahaan naungan Young Group, mereka turut bersedih dan mendoakan Sean untuk cepat sembuh.
Mauren menuju ruangan Desy dan Lala dengan wajah murung, ia sangat ingin sekali menemani Sean.
"Ku dengar Pak Sean pingsan, aku tidak menyangka jika dia bisa pingsan juga," ucap Lala.
"Iya ku pikir dia tidak bisa sakit," jawab Desy.
"Hey kalian! Tuan Sean juga manusia, ia bisa sakit juga. Jadi selama ini kalian menganggapnya apa?" ucap Mauren marah.
"Kok kau yang jadi sewot?" tanya Lala bingung.
Mauren terkejut dengan ucapan Lala, ia segera meminta maaf karena tidak sadar membentak mereka. Desy dan Lala tersenyum.
"Jangan-jangan kau suka dengan Pak Sean? Hey sadar kau sudah punya suami, hehe," ucap Desy.
"Jangan malu, bukan kau saja yang suka. Banyak kok karyawati lain yang suka dengan Pak Sean. Tapi kau cukup beruntung lho bisa setiap hari datang ke ruangannya," ejek Lala.
"Aku datang keruangannya kan untuk mengantar berkas dari senior-senior disini," jelas Mauren.
"Cieee.. Mukanya jadi merah"
Mauren memegang wajahnya, ia menggigit bibir dan mulai pergi meninggalkan kedua temannya itu. Dia tersenyum sendiri bahwa ia sangat beruntung mendapatkan Sean.
__ADS_1
Lelaki yang tampan dan kaya seperti idamannya.