Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 85 : Hukuman lagi? 2


__ADS_3

Mauren meneruskan menulisnya. Tangannya mulai pegal karena sudah menulis hampir 1 jam.


Dia melirik Sean yang berada duduk di sofa sedang meminum kopi dengan santainya.


Enak sekali hidupnya. Bangun pagi, mandi, masuk mobil, main game, sampai dikantor kerja sebentar lalu minum kopi, main game lagi, setelah itu makan siang, main game lagi, pulang kerja, mandi air hangat, lalu rebahan diranjang tidak lupa ihik-ihik ah ih ah ih, lemas tak berdaya baru tertidur.


Esoknya begitu lagi dari awal. Berangkat Kerja, pulang kerja, ihik-ihik asoy-asoy. Syahdunya hidup Oppa. Batin Mauren.


"Apa kau?" tanya Sean yang melihat Mauren melirik kearahnya.


Mauren menggelengkan kepalanya, ia lantas meneruskan menulis lagi.


Tangannya sangat pegal sehingga membuatnya kesemutan.


"Tuan?"


"Hmm"


"Sebentar lagi kita bisa berlayar, Tuan"


"Maksudmu?"


"Lihat tanganku mulai kapalan! Jari ku yang imut kini mulai mengeras dan membentuk sebuah kapal"


Sean berdiri dari sofa termahalnya, ia mendekati Mauren lalu melihat jari telunjuknya yang kapalan.


Dia menarik kearah mulutnya lalu mencium jari telunjuk Mauren.


"Muaah... sekarang sudah sembuh. Tulislah lagi! Jangan banyak alasan kau!"


Mauren merengut, dia menghela nafas panjang. Dia sudah cukup lelah untuk menulis, ia berpikir jika sang suami begitu tega dengannya.


Sean yang masih berdiri disebelah Mauren lalu melihat buku itu lagi.


Dia mengecek apakah yang ditulis Mauren sudah benar atau belum.


Sean meraih bolpoin yang tergeletak dimeja, ia memukulkan bolpoin itu ke kening Mauren.


TOK


"Aaaww... sakit Tuan," ucap Mauren meringis kesakitan.


"Kau bodoh? Setelah angka 545 itu 550?"


"Tuan yang bodoh! Setelah angka 545 yaitu 546, Tuan"


Sean menyerahkan buku itu dan menunjukan tulisan Mauren yang salah.


Mauren menggigit bibirnya lalu tersenyum karena dirinyalah yang salah.


"Hehehe... salah sedikit, Tuan. Mari biar aku ganti, hehe"


Sean tersenyum lalu mengacak-acak rambut Mauren. Dia menarik dagu Mauren lalu melum*t bibirnya dengan lembut, Sean yang berdiri membungkuk sedangkan Mauren yang masih terduduk di kursi saling menikmati setiap sentuhan lidah yang saling berkelahi.


Setelah itu Sean melepaskan ciumannya lalu berjalan dengan santai menuju kursi direkturnya.


"Apakah hukumanku sudah selesai, Tuan?"


"Enak saja! Lanjutkan menulismu!" ucap Sean yang sudah duduk di kursi termahalnya.


Mauren menghela nafas, kali ini ia sangat bosan mendapat hukuman dari sang suami. Dia mengambil sebungkus permen lalu membukanya diam-diam dan memasukannya ke mulut tanpa sepengetahuan Sean.


Mauren menulis lagi, otaknya kini hanya dipenuhi angka-angka dan membuatnya semakin pusing. Bibirnya bergerak yang memakan permen membuat Sean curiga lalu menyuruh gadis itu untuk membuka mulut.


"Buka mulutmu!"

__ADS_1


Mauren menggelengkan kepalanya.


"Makan apa kau?"


Mauren masih menggelengkan kepalanya.


"Ku potong gaji kau bulan ini," gertak Sean.


Mauren membuka mulutnya lalu Sean melihat sebuah permen berada didalam mulut gadis itu.


"Cepat buang!"


"Tapi Tuan..."


"Berani membantah kau?"


Mauren menghela nafas, ia berjalan ke tempat sampah lalu membuang permen itu. Setelah itu ia segera menulis lagi dengan perasaan yang kesal.


Sampai akhirnya ia berpikiran untuk menggoda suaminya.


Dia menarik rok spannya sampai keatas, memamerkan pahanya yang putih mulus dan terlihat gundukan harta karun di sela-selanya. Mauren masih berpura-pura menulis sedangkan Sean mulai memperhatikan paha mulus Mauren yang bisa terlihat di sela-sela meja.


"Jadi begini jika kau sedang bekerja? Memamerkan auratmu?" tanya Sean kesal.


"Aku hanya begini di depan Oppa," jawab Mauren dengan suara nakal-nakal manja.


Kenapa gadis itu? Sepertinya dia sudah ketagihan ularku. Tidak ku sentuh 2 hari saja dia langsung begini. Hehe sepertinya akan ku kerjai habis-habisan kali ini.


Mauren membuka kancing teratasnya dan menunjukan belahan dadanya. Kini Mauren menyentuh leher seolah memberi kode manja.


"Oppa... ayo bertengkar di kamar!" ucap Mauren dengan mengedipkan sebelah mata.


"Selesaikan hukumanmu dulu! Lagipula aku sedang sibuk," ucap Sean yang sengaja berbohong dengan Mauren.


"Tidak!" bentak Sean.


Mauren menghela nafas panjang, ia gagal menggoda sang suami padahal ia hanya ingin terbebas dari hukuman konyol itu. Dia lalu memasang kancingnya lagi dan menutup pahanya yang kelewat mulus.


Sean yang meliriknya tersenyum sedangkan Mauren nampak sedih karena ia berpikir jika Sean sudah merasa bosan dengannya.


Apa aku sudah tidak menarik lagi?


Apa Oppa sudah bosan denganku?


Huh! Sepertinya aku harus menggemukan badanku sedikit supaya Oppa tidak bosan denganku.


Mauren melanjutkan menulisnya tetapi tiba-tiba bolpoin yang digunakannya macet dan tidak bisa digunakan lagi.


Mauren berinisiatif untuk mengambil isi bolpoin itu lalu menyedot tintanya menggunakan mulut supaya tinta itu naik.


"Jorok sekali kau sampai bolpoin saja kau makan," ucap Sean.


"Bolpoinnya macet Tuan," jawab Mauren.


"Nah, ini ada yang baru. Buang saja itu!"


"Tidak usah. Ini masih bisa digunakan jika kita menyedot tintanya"


Sean heran dengan Mauren, ia memperhatikan dengan seksama cara Mauren menyedot tinta itu.


"Siapa yang mengajari seperti itu?" tanya Sean heran.


"Tuan tidak tahu? Jaman sekolah sudah terbiasa seperti ini"


Sean hanya lulusan SMP, bahkan ia sekolah di sekolah paling favorit dan hanya orang pandai dan orang kaya yang bisa masuk di sekolah itu. Bahkan para murid-murid menggunakan bolpoin termahal yang diimport dari luar negeri. Jadi tidak mungkin melakukan hal yang dilakukan Mauren sekarang.

__ADS_1


"Apakah itu berhasil dan bolpoin itu masih bisa digunakan lagi?" tanya Sean penasaran.


"Tuan mau coba?"


"Jorok sekali dan itu bekas mulutmu"


"Kita bahkan setiap hari berciuman. Kenapa anda merasa jijik, Tuan?"


Mauren berdiri dari kursinya lalu mendekati Sean dan menyodorkan isi bolpoin kepada sang suami.


"Aku harus menyedotnya?" tanya Sean.


"Benar. Lakukanlah! Belum bisa dianggap lulus sekolah jika Tuan belum melakukan hal turun temurun ini," jawab Mauren menyeringai.


Sean merebut isi bolpoin itu lalu menyedotnya menggunakan mulutnya.


Dia menyedot dengan pelan tetapi tinta itu tidak bergerak naik.


"Sedot yang kuat, Tuan!"


Sean menyedotnya dengan kuat tetapi tinta itu malah kesedot keatas dan keluar mengenai mulut Sean.


Tinta itu kini meluber di mulut Sean.


"Bangs*t! Cuih... cuih... cuih...," ucap Sean melepeh tinta yang sudah masuk ke mulutnya.


Sedangkan Mauren tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Kim! Kim!" teriak Sean sambil mengelap mulut yang telah ternodai tinta itu.


Asisten Kim langsung masuk ke ruangan Sean. Dia sangat terkejut ketika mulut sang tuan telah membiru dan di dagunya juga telah ternodai tinta yang meluber itu.


"Buahahahaha ... hahaha... aduh perutku sakit," ucap Mauren tertawa terbahak-bahak.


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Asisten Kim sambil mengambil tisu untuk mengelap mulut sang tuan.


"Sialan! Gara-gara istri kurang ajar itu," ucap Sean sambil menunjuk Mauren yang masih menertawainya.


Asisten Kim melirik isi bolpoin yang sudah tergeletak di meja. Dia masih kebingungan.


"Anda meminum tinta bolpoin itu, Tuan?" tanya Asisten Kim.


"Sialan! Kau sedot tinta itu Kim!"


"Untuk apa, Tuan?"


"Lakukanlah! Kata Oren belum dianggap lulus sekolah jika belum pernah menyedot isi bolpoin yang macet," suruh Sean.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bodoh, Tuan"


"Jadi kau menganggapku bodoh?" tanya Sean sambil mengelap mulutnya.


"Maaf, Tuan. Sepertinya iya," jawab Asisten Kim sedikit takut.


"Sialan kau, Kim! Cepat sedot tinta itu!"


"Potong gaji saya saja, Tuan!"


Sedangkan Mauren masih tertawa terbahak-bahak. Dia sangat puas telah mengerjai suaminya yang aneh itu.


Sean menatapnya dengan tatapan mematikan sehingga Mauren berhenti tertawa lalu melanjutkan menulisnya tanpa rasa berdosa.


Hukuman apa lagi setelah ini yang Oppa akan berikan kepadaku?


Matilah aku telah membangunkan kemarahan sang raja rimba.

__ADS_1


__ADS_2