
Setelah selesai makan, Sean dan Mauren mengajak Seina bermain di taman. Sean memegangi kedua tangan Seina. Kini Seina terkadang sudah bisa berjalan sendiri walau kadang terjatuh. Tetapi selalu ada Sean yang ada di belakangnya untuk menangkap Seina.
Mauren terduduk di bangku taman, memperhatikan sang suami dan putrinya bermain-main.
Mauren lalu mengelus perutnya yang masih nampak rata. Kebahagiannya akan sempurna ketika calon jabang bayinya lahir nanti.
Sudah setahun lebih ia menikah dengan Sean, banyak kejadian tak terduga menghampiri rumah tangganya yang sempat retak itu.
Dia berjanji untuk lebih hati-hati lagi mengambil sebuah keputusan. Dia tidak akan meninggalkan Sean lagi.
"Oren, lihatlah! Seina sudah bisa berjalan tanpa bantuanku," ucap Sean membuyarkan lamunan Mauren.
Mauren tersenyum girang ketika putri kecilnya melangkah menghampirinya.
Mauren mengulurkan tangannya untuk meraih Seina.
"Sheren sudah pandai berjalan? Uuuhhh lucunya anak mama," ucap Mauren.
"Sudah ku bilang Oren, jangan panggil Sheren tapi Seina!" ucap Sean protes.
"Weekk, tidak mau"
Mauren menggandeng langkah Seina lalu berjalan menuju bunga cantik tumbuh di sekitaran taman itu.
Mauren memetikan bunga merah untuk Seina lalu memasangkannya di telinga putri kecilnya.
"Cantik sekali, Sherenku"
Sean tersenyum lalu memetik juga bunga warna kuning lalu memasang di telinga Mauren.
"Kalian memang sangat cantik," ucap Sean membuat Mauren tersipu malu.
***
Disisi lain,
Sera membaca lembar demi lembar surat perjanjian. Tulisan demi tulisan ia baca dan ia tercengang lalu melihat pria berwajah datar di depannya siapa lagi jika bukan Asisten Kim.
"Apa ini Kak? Menikah? Kita menikah?" tanya Sera.
"Saya hanya memenuhi wasiat Tuan Askar jika saya harus menikahi salah satu cucunya, berhubung Zara sudah menikah jadi dengan TERPAKSA saya harus menikahi anda, Nona Sera," ucap Asisten Kim.
Sera langsung merobek surat perjanjian itu. Dia memang sangat menyukai Asisten Kim tetapi bukan seperti ini untuk mendapatkannya.
"Yang anda robek hanya duplikatnya dan yang asli bersama saya. Bukankah itu keinginan anda untuk menikah dengan saya?" tanya Asisten Kim.
__ADS_1
"Untuk apa menikah jika terpaksa apalagi setelah menikah kita berbeda kamar dan aku tidak boleh menyentuhmu dan kau boleh menyentuhku jika bernafsu saja. Memang kau pikir aku apa?" ucap Sera dengan berteriak.
Asisten Kim berdiri lalu memandang kearah Sera yang sangat kesal kepadanya. Sera memang sangat senang jika menikah dengan pria yang di sukainya tetapi setelah membaca surat perjanjian itu seolah-olah Asisten Kim hanya bermain-main saja.
"Anda pikir saya mau menikah dengan bocah kekanakan seperti anda? Bahkan Ali saja menjadi korban mainanmu padahal anda tidak menyukainya," ucap Asisten Kim menatap Sera. "Jika Zara belum menikah pasti saya lebih memilih menikah dengan Zara daripada menikah dengan anda," sambung Asisten Kim.
"Sana menikahlah sama Zara!" jawab Sera kesal.
Asisten Kim tidak menggubris ucapan Sera lalu berjalan keluar dari cafe. Sera hanya menatap punggung Asisten Kim.
Menikah? Bahkan dia saja baru lulus sekolah dan baru masuk kuliah.
Ada-ada saja masalah di keluarga Adinata ini.
Sera menelpon Sean lalu bertanya perihal masalah tadi. Kenapa dia tidak di beritahu tentang hal ini?
"Kak Sean tahu masalah perjodohanku dengan Asisten Kim? Kenapa mendadak sekali?" tanya Sera melalui panggilan telepon.
"Aku juga terkejut, Sera. Kim baru memberitahuku tadi pagi. Tapi bukankah kau senang jika menikah dengan Kim?"
"Asistenmu memang sinting kak. Dia membuat perjanjian pernikahan yang isinya menguntungkan dia saja," ucap Sera.
"Nanti malam datanglah ke apartemenku. Kita bicarakan dengan Kim sekalian," ucap Sean.
Saat malam hari tiba.
Asisten Kim dan Sera sudah ada di depan Sean yang membaca surat wasiat dari kakek Askar untuk Asisten Kim.
Dia tidak menduga jika Asisten Kim harus menikahi cucu kakek Askar.
"Bukanlah kau senang jika menikah dengan Kim, Sera?" tanya Sean.
"Senang sih senang tapi coba lihat perjanjian yang dibuat Asisten Kim. Itu semua menguntungkan pihak Asisten Kim saja," jawab Sera.
Sean lalu membaca surat perjanjian yang ditulis oleh Asisten Kim sendiri.
Sean mengerutkan dahi sambil membaca ia menatap Asisten Kim yang berwajah santai.
Perjanjian pertama : Setelah menikah tidur berbeda kamar.
Perjanjian kedua : Suami boleh meminta jatah kepada istri tetapi sebaliknya istri tidak boleh menyentuh suami.
Perjanjian ketiga : Istri tidak boleh cengeng dan lebay.
Perjanjian keempat : Istri tidak boleh pergi tanpa izin suami.
__ADS_1
Perjanjian kelima : Istri harus berbicara formal kepada suami.
Perjanjian keenam : Istri dilarang bertemu pria lain.
Dan perjanjian sampai ke seratus yang membuat lidah menjadi kelu saat dibicarakan.
Sean menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka jika sang asisten terlalu berlebihan.
"Kau tidak boleh seperti itu, Kim. Sera juga butuh kebebasan. Jika seperti ini aku tidak mengizinkan Sera menikah denganmu," ucap Sean.
Eeeeh.. kak Sean kok gitu? Aku mau sih menikah tapi aku pengennya aturan itu tidak ada.
"Sudah, kau tidak usah menikahi Sera. Aku tidak setuju dengan aturanmu," ucap Sean.
"Baik tuan, saya juga berpikir begitu," jawab Asisten Kim.
"Eitts kok gini? Aku mau menikah dengan Asisten Kim tapi aturannya di rubah. Gak usah pake aturan," ucap Sera panik jika pernikahan ini di batalkan.
Awas kau Asisten Kim, aku akan membalas dendam. Aku akan mengerjaimu di rumah tangga kita. Siapa suruh jadi pria sok banget?
Sera merebut surat perjanjian itu lalu menandatanganinya. Dia setuju menikah dengan asisten Kim tetapi dengan syarat ia harus lulus kuliah dulu 4 tahun lagi.
"Tidak usah, Sera. Aku tidak setuju kau menikah dengan Kim. Carilah pria lain!" ucap Sean.
"Tidak kak Sean. Aku mau menikah dengannya," ucap Sera sambil menatap Asisten Kim. "Kak Kim mau 'kan menungguku sampai 4 tahun ke depan?" tanya Sera.
"Maaf saya tidak bisa, nona. Jika anda ingin menikah dengan saya maka bulan depan harus segera menikah," jawab Asisten Kim.
"Aaah, sudahlah terserah kalian! Tapi awas sampai kalian bercerai, aku akan melakukan perhitungan dengan kalian. Terutama kau, Kim," ancam Sean.
Asisten Kim dan Sera keluar dari apartemen Sean. Mereka berjalan bersebelahan. Asisten Kim sedari tadi hanya diam dengan mimik wajah datar.
"Oh ya Kak Kim, setelah menikah kita bulan madu kemana?" tanya Sera.
"Di kamar," jawab Asisten Kim singkat.
Sera mendengus, ia tidak menyangka jika Asisten Kim yang pendiam seperti itu.
"Aku tau Kak Kim terpaksa menikahi ku karena wasiat kakek tapi ku mohon jangan pernah membuatku kecewa," ucap Sera.
"Bukannya anda yang membuatku kecewa? Baru kemarin anda menciumku tapi esoknya sudah berpacaran dengan Ali. Sudahlah! Orangnya juga sudah tidak ada," jawab Asisten Kim.
Asisten Kim cemburu?
Mendengar nama Ali, Sera langsung sedih. Pengorbanan Ali untuk Sera sangat besar bahkan ia tidak bisa menggantinya.
__ADS_1