
Sepulang dari Tower of YG mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen mewah. Pada saat itu masih sore hari, mereka memutuskan minum teh bersama di depan kolam renang, pemandangan langit oranye menyejukkan mata khususnya Sean. Dia sangat menyukai warna oranye terlebih lagi warna sunset setiap sore menjelang malam.
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Oren, itu adalah panggilan kesayanganku untukmu," ucap Sean sambil mengelus rambut Mauren.
Mauren hanya manggut-manggut padahal tidak mendengar apa yang diucapkan Sean, ia asyik memainkan game di ponsel miliknya sampai terbawa suasana. Sean yang geram mencubit pipi Mauren, gadis itu kesakitan dan meminta Sean untuk melepaskan cubitannya.
"Tadi aku bilang apa?," tanya Sean.
"Kucing oren?"
Sean melototi Mauren yang sedari tadi ternyata tidak mendengarkan ucapannya, ia merem*s dada sang istri hingga membuat berteriak kaget.
Mauren tidak habis pikir semakin hari sang suami semakin ganas dan ingin menerkam.
"Sudah berapa banyak Oppa meniduri wanita?"
Sean tersentak mendengar ucapan Mauren, bibirnya langsung menyesap leher sang istri tanpa ampun, ia meninggalkan bulatan merah yang nampak terlihat jelas walaupun ditutupi dengan kerah baju.
"Kau tadi tanya apa?"
"Sudah berapa banyak Oppa meniduri....,"
Belum sempat menyelesaikan kalimat Sean dengan sigap menyesap lagi leher sang istri, kali ini cukup kuat membuat Mauren merasa risih dan mencoba mendorong Sean dengan kuat. Sean tersenyum menyeringai melihat istrinya syok.
"Coba tanya sekali lagi akan ku perkosa kau saat ini juga"
"Tapi media pernah mengatakan jika presdir Young Group kerap meniduri gadis-gadis cantik," ucap Mauren sedikit takut.
"Itu kakekku bukan aku"
Mauren tercengang mendengarkan ucapan Sean, ia mengerutkan dahi apakah kakek Askar yang dianggapnya baik ternyata seperti itu. Sungguh kita tidak bisa melihat sifat seseorang dari satu sudut pandang saja karena mungkin sifat yang ditunjukan pada kita adalah sifat palsunya.
Mauren teringat akan teman-teman SMA yang selalu memanfaatkan kepolosan dan kebaikan Mauren.
"Saat itu kakek ku bilang apa padamu setelah keluar dari ruanganku?" tanya Sean penasaran.
"Dia hanya menanyakan umurku"
Sean bernafas lega karena umur Mauren bukan selera sang kakek. Sang kakek hanya menggunakan gadis-gadis berumur 25 tahun keatas untuk melayani nafsunya.
Kakek Askar telah ditinggalkan istrinya sejak 10 tahun yang lalu, istri sang kakek mempunyai penyakit jantung yang membuat ia meninggal dunia saat Sean masih SMP dan setelah itu sang kakek memutuskan untuk pensiun lebih awal dan menyuruh Sean menggantikannya dengan terpaksa.
Dari keluarga Adinata hanya Sean lah satu-satunya penerus laki-laki dari keluarga konglomerat itu bahkan anak dari adik kakek Askar semua perempuan termasuk cucu-cucunya.
__ADS_1
Matahari semakin tenggelam di ufuk barat menandakan sore telah berganti malam, hawa diluar semakin dingin mereka memutuskan untuk masuk ke kamar.
Tangan Sean menggapai tirai putih transparan dan menariknya supaya menutupi jendela besarnya.
Tetapi ponselnya berdering yang ternyata dari sang Mama. Sean terkejut saat tahu jika keluarganya akan mengadakan makan malam di gedung apartemen miliknya dan akan sampai setengah jam lagi.
Dengan tergesa-gesa Sean berganti baju sedikit formal dan menyisir rambutnya, ia sangat panik membuat Mauren curiga.
"Kau tetap disini saja. Kunci pintunya setelah aku keluar, jangan biarkan orang lain masuk kesini! Bodyguard akan ada diluar untuk menjagamu"
"Ada apa Oppa?" tanya Mauren ikut panik.
"Keluargaku mengadakan makan malam di restoran gedung ini tapi aku tidak akan membiarkan mereka bisa naik sampai kesini"
Setelah itu Sean segera turun kebawah tak lupa sebelumnya ia mencium kening Mauren dan menggesekan hidungnya ke hidung istri kesayangannya. Semakin hari semakin besar rasa sayangnya kepada sang istri dan semakin besar pula rasa ingin melindungi.
Dia membuka pintu, saat itu juga Asisten Kim sudah berada disana menunggunya. Mereka berjalan bersama menuju lift, Asisten Kim bisa melihat wajah sang tuan yang khawatir.
Khawatir akan jika keluarganya memaksa masuk ke apartemen termewah digedung itu.
Lift itu langsung menuju ke restoran dengan langkah wibawa Sean menuju meja yang telah disiapkan. Asisten Kim menarik kursi dan mempersilahkan duduk untuk Sean.
Sean menyuruh sang asisten untuk duduk disebelahnya tetapi Asisten Kim menolak dan memilih berdiri di belakang Sean.
Mereka langsung duduk dengan tenang, nampak pelayan membawakan makanan terlezat dan termewah yang di masak oleh chef handal dari negara lain.
Mereka nampak menikmatinya dengan tenang tetapi tidak dengan Sean ia merasa cemas.
Sean menyuruh sang Asisten menunduk dan membisikan sesuatu kepadanya.
"Kau sudah membereskan orang-orang itu supaya tidak membuka mulut tentang aku yang mengosongkan lantai 404 siang tadi hanya untuk makan siang dengan Mauren?" bisik Sean khawatir.
"Tenang saja Tuan. Saya sudah menutup mulut mereka rapat-rapat"
Sean lega mendengar semua itu, ia lalu mulai menyendokan makanan ke dalam mulutnya tetapi ucapan sang kakek membuatnya tersedak. Orang-orang suruhan Kakek Askar menemukan celana dalam wanita di kamar mandi saat menggeledah rumah sederhanya.
Dengan cepat Mamanya memberikan air putih kepada Sean. Dia menenggaknya habis sampai tak tersisa lalu menatap sang kakek.
"Kakek telah melewati batas privasiku. Aku tidak suka itu, aku sudah dewasa dan itu semua hak ku untuk melakukan apapun," jelas Sean.
Sang Mama yang duduk disebelah Sean mencubit paha putranya, ia tidak menyangka Sean senakal itu, Sean kesakitan lalu mengelus pahanya.
"Siapa yang mengajarimu Sean? Kenapa kamu jadi nakal begini?"
"Aku belajar dari kakek"
__ADS_1
"Itu semua salah Ayah mencontohkan yang tidak baik kepada cucu-cucunya," ucap Mama Sean memarahi kakek Askar.
Mereka terlibat perdebatan kecil membuat Sean tersenyum lalu melanjutkan makannya tetapi Sera yang ada di sebelahnya tiba-tiba mengajaknya berbicara, ia mengatakan akan magang di kantor Sean selama 2 bulan. Sean menyetujuinya tetapi hanya salah satu dari gadis kembar itu yang boleh magang di kantor Sean karena aturan yang tidak diperbolehkan bekerja bersama dengan saudara kandung.
"Ayolah kak. Aku dan Zara tidak bisa terpisahkan masak kita harus berbeda tempat magang," rengek Sera merayu sang kakak.
"Jika tidak mau carilah tempat lain!" ucap Sean.
Zara menengahi pertikaian mereka, ia mengalah dan memilih mencari tempat magang lain. Dia berencana akan magang di hotel Aiden milik Reno. Sera memeluk Zara karena mereka akan berbeda tempat magang.
"Kau bisa magang di kantor cabang lain Zara," ucap Mamanya.
Zara menggelengkan kepala, ia sudah yakin akan magang di hotel Reno seperti rencananya. Bayangannya yang akan magang bersama orang disukainya membuat ia tersenyum sendiri membuat keluarganya heran. Dia menyendokan sendok yang bekas makanannya ke dalam minuman.
"Memang anak kalian aneh semua," ucap kakek menggelengkan-gelengkan kepalanya.
Mereka melanjutkan makan hingga tak tersisa sambil bercengkrama layaknya keluarga, kali ini Sean cukup lega karena sang kakek tidak membicarakan masalah perjodohan. Mereka hanya memastikan Sean baik-baik saja karena ia masih dalam kondisi belum pulih.
Setelah menyelesaikan makan malam, keluarga Sean berpamitan untuk pulang. Tetapi sebelum itu Mamanya masih menanyakan siapa gadis yang pernah diunggah di akun IG nya, Sean tersenyum ia akan mengenalkan kepada sang Mama tetapi bukan sekarang.
"Sekali lagi kamu jangan nakal Sean. Dan jangan sampai menghamili gadis itu. Hah! Nakalnya kakek malah turun ke kamu," ucap Mama sambil mencubit perut Sean.
Sean tersenyum dan hanya mengiyakan ucapan sang Mama.
Setelah memastikan mereka pulang, Sean mengajak Asisten Kim untuk singgah di sebuah bar yang berada di gedung mewah itu.
Sean memesan bir kepada bartender, Asisten Kim tercengang karena sebelumnya sang tuan tidak bisa minum minuman beralkohol.
Sang Asisten lalu menuangkan bir kedalam gelas yang sangat kecil tetapi Sean malah meminta sebuah sedotan.
"Tuan. Ini langsung ditenggak bukan diminum memakai sedotan," jelas Asisten Kim.
"Sialan kau malah mengajariku. Cepat ambilkan sedotan!"
Asisten Kim meminta sedotan kepada bartender, ia langsung menyerahkan kepada sang tuan. Sean dengan cepat menyedot minuman alkohol yang berada digelas mini itu.
"Cuiiiih... Tidak enak sekali. Menjadi nakal susah juga rupanya," ucap Sean melepeh bir itu.
Sean lalu berdiri dan berjalan menuju lift, Asisten Kim hanya mengerutkan kening melihat tingkah sang tuan yang sangat konyol. Dia tersenyum lalu segera membayar minuman itu dan menyusul sang tuan yang telah berjalan jauh meninggalkannya.
______________________
Hallo ini author mohon dukungannya dengan like, komen, rate5 dan vote pada novel ini.
Terima kasih
__ADS_1