
"Apa yang dikatakan Mamaku kepadamu, Oren?" tanya Sean sambil bibirnya tidak berhenti mengecup pipi Mauren membuat gadis itu sangat risih karena Ibu mertuanya melihat Sean melakukan itu tanpa merasa malu.
"Hentikan, Oppa!" ucap Mauren merasa risih.
Sean tidak menggubris ucapan Mauren, ia malah menggigit bibir sang istri dengan mesra di depan sang Mama.
Mama hanya menatap merinding melihat anaknya yang berani melakukan itu di depannya.
"Urat malumu sudah putus, Sean?" tanya Mama.
Sean menghentikan ciumannya, ia menatap Mama dengan santai.
Dia kini bersedekap sambil menghadap Mama yang melotot kearahnya.
"Kim?"
"Iya, Tuan"
"Siapkan barang-barang Mamaku dan kirim beliau ke Australia sekarang juga!"
"Kau lebih memilih gadis murahan ini ketimbang Mama mu sendiri? Kau keterlaluan Sean bisa-bisanya kau mau mengurung Mama disana"
"Aku sudah memberi Mama kesempatan tapi buktinya Mama masih bersikap tidak adil kepada Mauren. Mama ingin mempunyai menantu seperti apa? Cantik? Pandai? Tinggi? Baik? Itu semua juga ada pada diri Mauren. Atau mungkin kaya? Haha untuk apa mencari gadis kaya? Sean sendiri pun sudah punya segalanya," ucap Sean dengan bangganya.
Mama terdiam, ia lalu bersujud di bawah kaki sang anak. Memohon ampunan dari Sean, ia sangat tidak ingin berada di Australia walaupun disana ia tetap akan diperlakukan layaknya seorang ratu tetapi disana ia tidak bisa bertemu dengan Sean, anak kesayangannya.
"Berdiri, Mah! Mama tidak pantas bersujud di kaki ku. Sean tidak mau berdosa"
"Mama minta maaf, Sean. Mama berjanji akan memperlakukan Mauren dengan baik," ucap Mama sambil berdiri dan mendekat kearah Sean tetapi Sean langsung memalingkan wajah.
Cih! Omong kosong. Batin Sean.
"Kesalahan Mama sangat fatal, Aku sudah memaafkan Mama tetapi Mama selalu mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak ingin emosi, aku tidak ingin marah-marah. Silahkan Mama mengikuti ucapanku untuk tinggal di Australia! Sean akan mengunjungi Mama tiap akhir bulan. Renungkan kesalahan Mama! Jika bisa Mama bawa pulang Papa baru untukku. Sean tahu Mama sangat kesepian, ketimbang Mama melakukan sesuatu yang tidak berguna dan mengganggu rumah tanggaku lebih baik Mama mengurusi rumah tangga Mama sendiri. Carilah suami untuk menemani hidup Mama! Sean tidak pernah melarang Mama untuk menikah lagi"
Oppa berpidato. Batin Mauren.
Mama menangis, ia tidak menyangka jika Sean yang selalu cuek ternyata memperhatikan kebahagiaan Mamanya.
Mauren yang melihat Ibu mertuanya menangis merasa tidak tega, ia lalu mendekatinya dan mengusap air mata Mama.
"Oppa tidak usah memaksa Mama untuk ke Australia! Biarkan Mama disini! Jika Mama ke Australia, bagaimana aku bisa mendekati Mama dan mengambil hati Mama? Memang aku sangat sakit hati ketika Mama memperlakukanku seperti itu, tapi sudahlah aku tidak ingin ribut dengan ibu mertuaku. Ku mohon Oppa biarkan Mama disini. Kami janji jika kami akan akur," ucap Mauren sambil memeluk Mama dari samping.
"Tidak ada toleransi kali ini, keputusanku sudah bulat ingin mengirim Mama ke Australia"
Mauren menunjukan wajah terimutnya kepada Sean membuat Sean luluh lalu menghela nafas panjang. Dia merasa gemas melihat wajah Mauren yang imut dan tidak berkutik jika Mauren memohon dan memelas.
"Ya sudah. Ini semua aku lakukan karena permintaan istriku. Aku memberi waktu kalian untuk mengenal satu sama lain dan berbaikan. Jika kalian masih ribut-ribut, awas saja kalian! Aku akan mengirim kalian ke Afrika. Ku suruh kalian menyikat gigi kuda nil! Hahaha... Dan kau juga Kim. Awasi mereka, jangan sampai lengah! Jika iya kau akan ku suruh memandikan macan di Afrika. mamp*slah kalian!"
Mama dan Mauren saling berpandangan. Bisa-bisanya disituasi saat ini Sean malah bergurau.
Setelah itu Mama memeluk Mauren dan Mauren menerima pelukan itu dengan tulus.
Awas jika kalian hanya akting! Batin Sean.
__ADS_1
"Mama akan berusaha menerimamu. Tolong ambil hati Mama!"
"Mauren akan berusaha membuat Mama suka dengan Mauren," ucap Mauren.
Setelah berpelukan, sang Mama berpamitan untuk pulang dan Mauren mengantar Mama sampai mobilnya.
Sean membiarkan Mauren mengantarkan sang Mama karena ia tidak khawatir karena ada banyak CCTV di gedung itu dan sang Mama tidak akan menyakiti Mauren.
Mereka berdua berjalan kearah lift dan memasuki lift secara bersamaan. Suasana menjadi canggung karena mereka hanya saling diam.
Mama melirik Mauren, ia baru menyadari jika menantunya sangat cantik dan manis. Mauren juga terlihat seperti seorang model dengan tubuh yang ideal.
"Umurmu berapa?" tanya Mama mencairkan suasana.
"Saya 19 tahun tetapi beberapa bulan lagi 20 tahun"
"Kau tidak kuliah?"
"Emm... saya tidak memikirkan hal itu"
"Aku ingin mempunyai menantu bergelar sarjana dan setidaknya tidak memalukanku jika kau kubawa bertemu dengan teman-teman arisanku"
Mauren terdiam. Kuliah? Bahkan memikirkan pekerjaan saja ia sudah lelah apalagi dengan kuliah dan harus mengurus suaminya.
"Maaf Mama, saya sudah tidak ada waktu untuk kuliah. Jika Mama tidak suka dengan saya karena saya tidak punya gelar tidak apa-apa. Hidup saya tidak selamanya membuat Mama selalu berkesan. Mohon maaf, harusnya Mama yang mengambil hatiku karena Mama sudah membuat luka yang teramat sakit di hati ini. Berjuanglah, Mah! Dapatkan hatiku yang sudah sangat keras ini! Tetapi tenang saja, saya tidak akan sekejam itu. Saya tetap memperlakukan Mama dengan baik walaupun itu tidak ikhlas," ucap Mauren dingin.
Mama Sean terdiam, ia sangat kesal dengan ucapan Mauren. Dia menghela nafas dan menyimpan emosinya. Dia tidak ingin bertengkar dan ribut lagi dengan Mauren karena jika iya pasti Sean akan mengirimnya ke luar negeri dan harus berpisah dengannya.
"Besok minggu kau ada waktu, Mauren? Bagaimana jika kita shopping bersama?"
"Jangan bersama Sean! Kita berdua saja. Anggap saja kita berusaha mendekatkan diri"
Mauren mengerutkan dahi dan menganggukan kepalanya pertanda mau dan setuju. Dia juga sudah tidak lama shopping.
Setelah itu pintu lift terbuka, mereka keluar dan menuju mobil Mama. Mauren mencium tangan Mama dan melambaikan tangan kepadanya. Setelah itu ia kembali ke ruangan Sean.
Dia melihat Sean sedang meminum kopi favoritnya dan langsung berdiri ketika Mauren datang.
"Bagaimana sayang? Mamaku menyakitimu?" tanya Sean sambil mengecup pipi Mauren.
"Tidak, Oppa. Kami sudah berbaikan," jawab Mauren sambil tangannya bergelayut di leher Sean.
Sean yang merasa gemas langsung mencium bibir Mauren dan melum*tnya dengan penuh gairah. Mereka berciuman dengan mesra sampai tidak sadar jika Zara dan Sera masuk ke ruangan mereka.
Saudari kembar itu sangat terkejut melihat mereka berciuman.
Bukannya langsung pergi, kedua bocah gesrek itu malah menontonnya dan Zara juga terlihat merekamnya.
Sera yang sangat bodoh dan polos tercengang melihat adegan ciuman langsung di depan matanya.
"Za.."
"Sssst...," jawab Zara kepada Sera, "Kita rekam dan kita bisa memeras Kak Sean. Hahaha"
__ADS_1
Sampai ketika Mauren membuka matanya dan terkejut melihat saudari kembar itu melihat mereka berciuman.
Mauren langsung mendorong tubuh Sean dan saat itu Sean sadar jika ada Sera dan Zara.
"Sialan kalian! Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sean marah.
"Cieee... ciuman ciee...," goda Zara.
"Rekam apa kau?" tanya Sean sambil melihat ponsel Zara.
"Disini ada rekaman ciuman kalian. Jika tidak ingin tersebar Kak Sean bisa memberi kami 1 M," ancam Zara.
"Adik laknat kau! Siapa yang mengajarimu seperti itu?"
"Hahaha... kami memang pandai berbisnis," jawab Zara.
Sedangkan Sera dari tadi hanya terdiam, ia masih terngiang-ngiang ciuman mereka tadi.
"Zara adikku tersayang, bagaimana jika kita barter? Kau akan ku comblangkan dengan Reno dan aku yakin jika Reno mau berkencan denganmu tetapi kau harus menghapus rekaman itu!"
Tanpa berpikir panjang, Zara langsung menganggukan kepalanya. Dia sangat senang dengan penawaran dari Sean.
Dia dengan cepat memberikan ponselnya kepada Sean lalu Sean menghapus rekaman itu.
"Jadi bagaimana caranya Kak Sean mendekatkanku dengan Kak Reno?" tanya Zara.
"Nanti bisa kuatur. Sudah kalian keluar saja! Dan kau Sera, kenapa kau sedari tadi terbengong seperti orang beg*?"
"Oh... tidak apa-apa Kak Sean"
Saudari kembar itu lalu keluar dari ruangan Sean. Dan Zara berpamitan untuk kembali ke tempat magangnya.
Sedangkan Sera mendekati Asisten Kim yang terduduk sambil menatap laptop.
"Asisten Kim?"
"Ada apa, Nona?"
"Emmm... Asisten Kim pernah berciuman?"
Asisten Kim tersentak, ia curiga jika Sera akan menanyakan hal aneh lagi.
"Berdirilah, Asisten Kim!" pinta Sera sambil menarik tangan Asisten Kim.
Asisten Kim berdiri, ia langsung di dorong oleh Sera ke tembok. Sera mencoba mencium Asisten Kim tetapi karena tubuhnya yang pendek membuat Sera kesusahan.
"Apa yang anda lakukan, Nona?"
"Menciummu"
Asisten Kim terkejut, ia mendorong tubuh Sera. Dia menatap wajah Sera dengan lekat, dia tidak habis pikir kenapa Sera selalu melakukan hal aneh kepadanya.
"Jangan membuat saya kesal kepada anda, Nona Sera! Anda pura-pura bodoh atau memang bodoh?"
__ADS_1
____________________
Hallo mohon dukungannya dengan LIKE KOMEN VOTE RATE5 pada novel ini.