
Kota demi kota dilewati dan kini rombongan Sean mulai berhenti dirumah makan. Waktu menunjukan jam 11 siang dan terlihat Mauren sudah mengeluh merasakan pegal pada pinggangnya. Dia masih bisa menahannya dan tidak mau mengeluh di depan Sean.
"Kita makan siang dulu lalu istirahat sejenak disini setelah itu baru lanjut perjalanan," ucap Sean.
"Baik bos"
Mereka turun dari motor lalu masuk ke rumah makan. Mereka memilih makanan sendiri yang mereka mau.
Terlihat Mauren mengambil banyak lauk membuat Sean heran.
Setelah mengambil makan mereka lalu duduk berempat di meja yang sama.
Mauren makan dengan lahap, ia mengambil daging sapi kecap, ayam goreng, ikan asap dan tidak lupa tahu tempe beserta telur bacem favoritnya.
"Makanmu banyak sekali nanti gendut kau Oren," ucap Sean.
Mauren yang tengah asyik makan lalu terhenti seketika dan meletakan sendoknya. Dia seakan tidak suka dengan ucapan Sean.
"Kenapa berhenti?"
"Aku tidak mau makan," ucap Mauren mulai manja.
"Jiahhh segitu saja marah kau. Cepat dimakan! Jangan buang-buang makanan kau!"
Mauren bersedekap, ia tidak mau menatap Sean. Sean membujuknya dengan memeluknya dari belakang.
"Jangan marah Oren! Entar cantiknya hilang," goda Sean.
Mauren mendengus, ia tidak memperdulikan ucapan Sean. Sean menggelitiki Mauren membuat gadis itu kegelian lalu tidak sengaja tangannya mencolok mata Sean.
"Aaaaaw... mataku.... kurang ajar kau, Oren!" ucap Sean sambil mengucek matanya.
Asisten Kim dengan sigap mendekati Sean, ia membantu Sean untuk meniup mata Sean. Majikan dan asisten itu sangat romantis bak sepasang kekasih. Mauren cemburu dengan kedua pria itu.
"Oppa selingkuh dengan Kak Kim, kalian maho," ucap Mauren.
"Mulut kau yang maho! Setiap dekat denganmu pasti aku terluka," ucap Sean.
Setelah dirasa sang tuan membaik, Asisten Kim kembali duduk di bangkunya sendiri sedangkan Dokter Juna sedari tadi tidak menghiraukan mereka dan asyik makan.
Setelah itu mereka melanjutkan makan dengan tenang sampai habis tidak tersisa lalu mereka melanjutkan perjalanan yang kurang 2 jam lagi mereka sampai.
Suara deru motor saling menggema membelah jalanan pegunungan yang berliku, saat ini mereka mengendarai mereka dengan hati-hati karena jalanan sangat licin dan kanan kirinya adalah jurang curam.
Mauren menggenggam jaket Sean karena merasa sangat kepanasan. Jalan semakin berliku membuatnya tambah pusing dan tangannya semakin kaku.
"Oppa, berhenti...," ucap Mauren dengan lemas.
Sean mengklakson 5 kali sebagai tanda untuk berhenti dan mengkode yang lain.
Rombongan itu menepikan motornya di pinggir jalan yang sedikit lapang.
Setelah berhenti, Sean menggenggam tangan Mauren, ia sangat panik ketika tangan sang istri sangat dingin. Terlihat Mauren juga tidak bisa diam di atas motor.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Kim turun dari motor.
"Mauren badannya dingin. Cepat turunkan dulu dari motor!" ucap Sean sambil memegang tangan Mauren yang berada di belakangnya.
Mereka menurunkan Mauren dari motor Sean, terlihat wajah Mauren sangat pucat dan nafasnya sesak.
"Apa dia punya riwayat asma, Sean?" tanya Dokter Juna.
"Aku tidak tau"
"Mauren sering begini jika kedinginan dan kelelahan," ucap Valto.
Sean semakin panik tatkala Mauren mengeluh tangannya tidak bisa bergerak. Dia juga menangis sesegukan membuat para rombongan itu panik.
"Sean, lepaskan jaket Mauren lalu lepaskan sepatu dan kaos kakinya juga," ucap Dokter Juna sambil berjongkok di depan Mauren yang di pangku oleh Valto.
Sean melepaskan apa yang disuruh Dokter Juna lalu Dokter Juna memijat telapak tangan Mauren lalu memberikannya sugesti supaya Mauren tidak semakin menangis.
"Apa yang kau rasakan kini jangan kau rasakan! Buang semua rasa dingin dan kaku pada tubuhmu! Berpikirlah positif dan jangan memikirkan hal macam-macam!" ucap Dokter Juna.
"Tanganku tidak bisa bergerak, huaaaa, dingin sekali dan badan ku panas...," ucap Mauren.
"Ini sudah sampai di hutan, jadi jangan banyak melamun. Sini biar ku coba, aku minta air putih," ucap Hasan teman Sean yang bisa di bilang indigo.
Temannya yang lain mengambil air putih di tasnya lalu memberikannya pada Hasan. Hasan membacakan doa menurut agamanya lalu setelah itu meminumkannya pada Mauren.
"Ku rasa dia terkena hipotermia," ucap Dokter Juna menyangkal.
"Hipotermia bukan seperti ini. Mauren sedari tadi melamun dan beberapa makhluk hutan ini mencoba untuk mengikutinya dan terjadilah gesekan energi membuat badan Mauren terkena imbasnya," jelas Hasan.
"Maaf dokter tapi orang yang seperti ini tidak mesti selalu berkaitan dengan ilmu kedokteran yang anda sudah pelajari. Kita di dunia ini hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata bahkan kehadiran mereka bisa menimbulkan kita sakit seperti yang di rasakan Mauren," jelas Hasan.
Mereka semakin berdebat antara ilmu kedokteran VS ilmu kebatinan apalagi dokter Juna merasa paling benar karena ia adalah seorang dokter hebat.
"Apa kau bisa menjelaskan secara logika apa yang tengah di rasakan oleh Mauren?" tanya Dokter Juna.
Hasan terdiam sambil memberikan minum kepada Mauren, ia tidak ingin berdebat dengan orang yang memang tidak percaya dengan hal begituan.
"Percuma saja aku sekolah kedokteran bertahun-tahun tetapi di kalahkan oleh ilmu tidak masuk akal," oceh Dokter Juna.
"Diam saja kau, Juna!" ucap Sean kesal melihat temannya mengoceh
Asisten Kim menepuk bahu Dokter Juna, ia menyuruh Dokter Juna mengalah untuk kali ini saja.
Sedangkan Mauren sudah terdiam dan nampak mulai bisa mengontrol nafasnya. Sean lalu bergantian memangku Mauren dan memeluknya erat. Dia sangat khawatir dengan keadaan Mauren.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Jangan membuatku ketakutan!" ucap Sean.
"Aku sudah tidak apa-apa, Oppa"
Mauren lalu meminta air putih lagi, Sean lalu membantunya minum. Setelah itu Sean memberikan minyak kayu putih pada hidung Mauren.
"Lihat apa tadi, Mauren?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Aku tadi melihat perempuan berkebaya sedang menyebrang di tikungan curam tapi anehnya ia berjalan ke arah jurang lalu menghilang," jelas Mauren.
"Ini siang bolong mana ada setan?" timpal Dokter Juna masih tidak percaya.
"Mulutmu harus kau jaga, Juna! Ketemu setan baru tau rasa kau," jawab Sean.
Setelah itu Sean membantu Mauren berdiri, ia menyuruh Mauren untuk membaca doa di sepanjang perjalanan.
Setelah di rasa badannya membaik mereka lalu melanjutkan perjalanannya lagi.
Walaupun siang ini sangat cerah tetapi sinar matahari nampak malu-malu untuk masuk menembus pepohonan yang lebat itu. Suasana rindang membuat mereka merasa nyaman karena tidak kepanasan. Sedari tadi Sean menggenggam tangan Mauren, ia tahu jika Mauren sedari tadi melihat apa yang tidak harusnya ia lihat.
"Tidak usah di perdulikan, Oren!"
Mauren menundukkan kepala dan menggenggam erat jaket Sean.
2 jam kemudian.
Setelah melewati jalanan hutan mereka akhirnya keluar dari hutan itu lalu masuk ke area pemukiman. Pemandangan sangat indah terdapat 3 gunung yang mengapit. Terdapat hamparan perkebunan sayur milik warga dan perkebunan jeruk yang membuat Sean menelan ludah.
Sean membunyikan klakson lagi untuk mengkode rombongannya untuk berhenti.
"Apa kita bisa memakan jeruk di kebun itu? Sepertinya sangat manis," ucap Sean.
"Ini memang dibuat untuk wisata petik jeruk. Kita bisa memakannya langsung disana," jawab Andy.
Mereka lalu memutuskan untuk mampir ke kebun jeruk itu setelah meminta izin sang pemilik kebun. Beruntungnya, sang pemilik kebun menggratiskan mereka makan sepuasnya membuat mereka sangat senang apalagi yanh gratisan.
Sean menggandeng tangan Mauren lalu mengajaknya untuk memilih jeruk yang ia ingin makan.
"Oppa, itu yang besar sepertinya manis," ucap Mauren.
Sean lalu memetiknya lalu mengupaskan untuk Mauren dan menyuapinya.
"Tuan, mari saya fotokan kalian berdua," ucap Asisten Kim.
Mereka lalu berpose sangat romantis dengan latar belakang gunung dan perkebunan jeruk.
CEKREK
CEKREK
CEKREK
Beberapa foto sudah diambil lalu mereka melihat hasilnya. Tentu saja sangat bagus karena Sean dan Mauren sangat tampan dan cantik.
"Ayo kita foto bersama!" ucap Sean meminta rombongannya untuk berfoto.
Mereka lalu berkumpul menjadi satu dan salah satu mereka ada yang memfotokan.
CEKREK
CEKREK
__ADS_1
CEKREK