Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 200 - Rumah duka


__ADS_3

Happy 200 Bab


"Tante, papa mama mana?" tanya Daleon yang tidak mau tidur.


"Mereka akan segera pulang, Dale bobok dulu. Lihat si Ali udah bobok!" ucap Sera.


"Papa mama ninggalin Dale," ucap Daleon lalu menangis.


Waktu menunjukan pukul 10 malam tetapi mereka tak kunjung memberi kabar. Daleon terus saja menanyakan keberadaan orang tuanya membuat Sera sedikit khawatir. Apalagi sang suami belum memberi kabar apa yang sebenarnya terjadi.


Sera meraih ponselnya lalu mencoba menelpon sang suami dan tak berselang lama Asisten Kim menjawab telpon istrinya.


"Ayang, kok belum pulang? Dale menangis mencari papanya," tanya Sera.


"Seina meninggal Sera, kami sedang mengurus jenazahnya untuk di bawa pulang. Sera, tolong jaga Daleon dulu! Tuan Sean dan Nona Mauren sedang terpukul dengan meninggalnya Seina"


Sera sangat terkejut, ia seolah tidak percaya dengan ucapan sang suami.


Kemungkinan Asisten Kim tidak pulang malam ini untuk mengurus semua pemakaman Seina.


"Tante, papa mama mana?" tanya Daleon, ia masih saja bertanya dimana keberadaan orang tuanya.


Sera langsung menyudahi telponnya lalu menggendong Daleon menuju ke dapur.


Sera memberi Daleon susu kotak dan wafer supaya bocah kecil itu berhenti menangis.


Kenapa Seina bisa meninggal?


Sepertinya ia sehat-sehat saja.


Disisi lain,


Sean memeluk Mauren dengan erat. Mauren tak henti menangis, kepergian Seina secara mendadak membuatnya kehilangan akal sehat.


Baru di tinggal sehari untuk menjaga ibunya malah Seina harus mengalami nasib buruk seperti ini.


Asisten Kim membantu mengurus pemakaman Seina dan membantu mengurus berkas untuk membawa Seina pulang ke rumah duka.


Dia tidak tega melihat sang tuan dan istrinya sangat kacau.


"Ini semua salahku, kenapa aku meninggalkan Sheren? Andai saja aku membawa Sheren untuk menjaga emak," ucap Mauren dengan isak tangis.


"Ini salahku sayang. Tadi aku memarahinya, mungkin dia kecewa dengan ucapanku untuk mengirimnya di sekolah asrama. Aku papa yang jahat"


Mauren terkejut lalu menatap tajam Sean. Dia telah menduga pasti Seina pergi akibat ucapan menyakitkan dari papanya.

__ADS_1


"Aku sudah berulang kali bilang kepada oppa supaya jangan sering memarahi Sheren. Oppa tahu, Oppa membentak Sheren sedikit saja hatiku sangat sakit? Oppa bilang akan mengirim Sheren ke asrama? Kenapa oppa seperti itu? Apa karena Sheren bukan anak oppa jadi oppa menganggap remeh perasaan Sheren?" ucap Mauren berapi-api.


Sean hanya terdiam, ia mendengar seluruh ocehan istrinya. Dia memang bersalah dan pantas mendapat kemarahan sang istri yang begitu menyayangi Seina.


"Tuan, dokter ingin berbicara kepada anda," ucap Asisten Kim.


Sean menganggu kan kepala, ia menemui dokter.


Sedangkan Asisten Kim menemani Mauren yang masih menangis sambil menutup muka dengan kedua tangannya.


Asisten Kim tidak bisa berkata apa-apa, ia tidak ingin membuat Mauren semakin sedih.


Hanya isak tangis terdengar di lorong rumah sakit yang sunyi itu. Mauren menumpahkan semua kesedihannya dengan hanya menangis.


Tiba-tiba dokter Juna menelpon Asisten Kim, pria tampan itu segera mengangkatnya.


"Berita kematian Seina apa benar, Kim?"


"Benar dok, malam ini juga jenazahnya akan dibawa ke rumah duka"


"Aku kaget melihat berita di media. Kenapa Seina bisa begini, Kim?" ucap Dokter Juna.


"Seina keluar apartemen tanpa sepengetahuan Tuan Sean lalu tertabrak mobil. Pelakunya juga sudah di tangkap, ia sempat melarikan diri"


"Pasti Sean sangat terpukul," ucap Dokter Juna.


Sean melihat Mauren tak henti menangis, dia lalu berjongkok di depan Mauren.


"Ayo kita antar Seina pulang! Jangan sedih, sayang! Seina akan merasa sedih jika kita seperti ini," ucap Sean.


Sean membantu Mauren untuk berdiri, Mauren sebisa mungkin untuk kuat dan tidak pingsan.


Air mata tak henti mengalir mengingat wajah terakhir Seina tadi pagi yang nampak sedih ketika ia tinggal.


"Kau naik mobil diantar Kim ya? Biar oppa naik ambulan menemani Seina"


"Aku juga ingin naik ambulan. Aku ingin menemani putriku"


Mauren terus memaksa membuat Sean mengalah lalu mengajak Mauren untuk duduk di belakang bersama putri tercintanya. Air mata tak bisa di bendung tatkala melihat peti mati berwarna putih itu terbaring putri tercintanya. Sean terus menenangkan Mauren padahal hatinya juga sangat sedih.


Ambulan sudah mulai berjalan meninggalkan rumah sakit. Mereka menuju di rumah duka milik keluarga Adinata. Sedangkan Asisten Kim mengikut di belakang menggunakan mobilnya.


Waktu semakin larut, bukannya mengantuk tapi air mata semakin keluar tanpa ampun.


Mauren mengingat saat ia menemukan Seina, saat melihat bayi Seina ia yakin jika dirinya berjodoh untuk menjadi ibunya Seina. Walau Sean dan keluarganya tidak setuju tetapi ia meyakinkan jika Seina akan menjadi anak yang baik.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan menuju rumah duka ternyata suasana rumah duka sudah ramai. Mereka menunggu kedatangan jenazah Seina.


Terlihat mama Sean udah ada disana, ia tidak bisa berkata apa-apa. Dia sangat menyesal pernah jahat kepada Seina.


Sean dengan sigap menurunkan peti mati putrinya dengan dibantu beberapa orang. Sedangkan Mauren langsung dibantu Delia untuk masuk ke dalam.


Peti mati Seina di letakan pada meja pendek tetapi panjang. Tidak lupa foto Seina berada di samping peti matinya.


Sean menyuruh Asisten Kim untuk awak media pergi karena ia tidak ingin membuat keributan disini.


Tutup peti mati Seina di buka, semua orang melihat wajah pucat Seina dengan kapas di hidungnya. Seina masih mengenakan balutan kain putih. Dia akan di dandani secantik mungkin setelah dimandikan esok hari oleh keluarganya.


Isak tangis terdengar, semua anggota keluarga tidak bisa membendung tangisannya. Dia tidak menyangka Seina pergi secepat ini.


Sedangkan Sean berdiri bersandar pada tembok melihat istrinya menangis di samping peti mati Seina.


"Sean, aku turut berduka cita," ucap Dokter Juna yang sudah berada disana.


Hanya anggukan kepala dari Sean, dia bahkan sudah tidak sanggup berbicara. Dokter Juna memberikan pelukan untuk Sean. Sean meneteskan air mata.


"Sabar, Sean! Kita semua merasakan kehilangan Seina. Biarkan dia pergi dengan tenang"


"Ini salahku, Juna. Dia pergi karenaku. Aku selalu memarahinya"


"Ini sudah kehendak Tuhan, Sean"


Tiba-tiba Asisten Kim datang dan bilang kepada Sean jika Daleon terus menangis mencari mama dan papanya. Sean sempat melukapan Daleon.


"Jemput Daleon kesini, Kim. Biar dia bisa melihat kakaknya untuk terakhir kalinya," ucap Sean.


'Tapi ini hampir jam 12 malam, tuan. Anda yakin untuk membawa Daleon kesini?"


"Tidak papa, Kim. Ketimbang Daleon menangis"


Asisten Kim menganggukan kepala. Dia segera menuju ke apartemennya untuk membawa Daleon.


Sean kini ikut duduk bersama sang istri di dekat putrinya. Mauren terlihat sudah diam tetapi ia melamun dan terlihat kurang bertenaga.


"Oren, ku bawakan makanan, ya?" ucap Sean.


"Untuk apa aku makan? Sedangkan putriku tidak bisa makan"


"Jangan begitu! Lihatlah Seina tidur dengan tersenyum. Dia sudah ikhlas, dia sudah pergi jauh," ucap Sean.


Mauren menggelengkan kepala, ia lalu mengambil posisi tidur miring di samping peti putrinya. Air mata lalu menetes, Mauren berusaha untuk tidur dan berharap ia terbangun lalu menganggap semua itu hanya mimpi.

__ADS_1


Sean mengelus kepala Mauren sampai Mauren terlelap di samping peti mati putrinya.


__ADS_2