
PERINGATAN : Ada unsur 21+
Waktu menunjukan pukul 10 malam, Sean memasuki kamar apartemen dengan semangat untuk melakukan ronde kedua.
Dia langsung menuju ke kamar mandi dan mandi mengenakan sabun termahal di dunia setelah itu menggunakan parfum andalannya supaya Mauren tertarik dengannya. Sean meraih baju handuk lalu mengenakannya dan berjalan ke luar kamar mandi menuju Mauren yang tengah tertidur pulas.
"Oren. Bangun kau!" ucap Sean menggoyangkan tubuh Mauren.
Mauren terbangun dengan ekspresi yang datar, terlihat ia masih syok dengan kejadian tadi siang.
"Ayo lagi!" pinta Sean sambil menarik tubuh Mauren hingga terduduk.
Mata Mauren sayu, ia masih terbengong menatap Sean. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak mau.
"Aku belum siap Oppa, aku masih ingin bekerja"
"Apa hubungannya nganu-nganu dengan bekerja?" tanya Sean heran.
Mauren menjelaskan jika menuruti nafsu Sean maka itu akan membuatnya hamil dan ia harus berhenti bekerja. Padahal ia harus mengirimi uang kedua orang tuanya.
"Aku sudah mengirim uang ke orang tuamu. Apakah itu kurang?" tanya Sean.
"Mereka tidak mau menerima bahkan mereka sudah mengembalikannya. Oppa tadi juga tidak menjelaskan kenapa Oppa mencium Alana?"
"Dia yang menciumku"
"Tapi Oppa mau juga 'kan?"
"Terserah kau saja. Aku lelah dan ingin tidur"
Benarkan Oppa juga menyukai gadis itu.
Aku harus bagaimana?
**
Keesokan harinya mereka berangkat seperti biasa. Mauren masih terlihat syok dan terbengong menatap kaca mobil menerawang jauh suasana ibukota pagi ini.
Perih yang dirasa di area intimnya masih terasa sangat menyakitkan, apalagi saat kencing.
"Jauh sekali kau duduk," ucap Sean melihat Mauren yang duduk menjauh darinya di dalam mobil.
Mauren masih terdiam dengan mata masih sayu, ia hari ini juga tidak mengenakan make up sedikitpun. Dia sangat syok karena Sean seperti memperkosanya waktu itu.
"Undur 4 jam jadwalku pagi ini Kim. Dan kosongkan mall untuk 2 jam"
Asisten Kim terkejut padahal jadwal pagi ini sangat padat. Tetapi ia tidak bisa membantah perintah sang Tuan. Sambil menyetir mobil Asisten Kim menelpon lalu menyuruh bawahannya untuk mengatur jadwal baru untuk sang Tuan dan juga menyuruh menutup mall selama 2 jam.
Sean terlihat mendekati Mauren, ia menyentuh wajah gadis itu. Mauren tidak bergeming, ia terdiam seperti orang yang tidak mempunyai harapan.
Apa kemarin aku terlalu kasar dengannya? Sampai membuat ia sangat syok begini.
Sean mengelus pipi Mauren yang masih terlihat bekas luka yang sudah mengering, obat yang di berikan dokter Juna ternyata sangat ampuh untuk mengeringkan luka dalam beberapa hari. Sean yang menyayangkan wajah cantik Mauren yang akan meninggalkan bekas luka tetapi ia sudah menyewa dokter hebat untuk menghilangkan bekas koreng itu.
Sesampainya di mall.
Sean menyuruh Mauren memakai jaket lalu menggandengnya masuk ke dalam mall.
Terlihat mall luas itu sangat sepi karena memang telah di kosongkan sebelumnya.
Mereka melangkah ke sebuah salon kecantikan, Mauren tetap terdiam tanpa ekspresi.
"Buatlah terlihat cantik gadis ini. Manjakan kulitnya supaya selembut sutera, tapi hati-hati masih ada bekas luka di kulitnya," ucap Sean.
"Baik Tuan"
Sean dan Asisten Kim menunggu di ruang tunggu, sedangkan Mauren mengikuti langkah pegawai itu. Dia mendapatkan perawatan kulit dan rambut, sudah lama sekali ia tidak melakukan treatment, lidahnya yang masih kelu membuatnya sulit untuk menelan ludah. Dia tidak menyangka Sean yang pelit memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
Sedangkan Sean jenuh menunggu padahal masih setengah jam.
"Sialan. Lama sekali, apa yang mereka perbuat Kim? Lihat rambutku sudah mulai ubanan!
5 menit kemudian.
"Kenapa lama begini Kim? Tubuhku sudah mulai berjamur"
10 menit kemudian.
"Sialan! Lama sekali. Lihat rambutku mulai berambut!"
Rambut mulai berambut? Batin Asisten Kim kebingungan.
5 menit kemudian.
"B*ngsat! Sampai kebelet pipis, Kim. Bagaimana jika aku mengompol disini?"
Anda yang mengajaknya kesini, anda juga yang ribut sendiri Tuan.
Sean dengan cepat berlari ke kamar mandi, sedangkan Asisten Kim mengikutinya. Sean mengeluarkan air kotor itu sampai lega lalu segera keluar dari kamar mandi.
"Kau mesum juga Kim sampai menungguku disini"
"Saya memastikan jika ular Tuan baik-baik saja, jika terjepit lagi bagaimana anda akan melakukan ronde kedua dengan Nona Mauren?"
Sean mengingat ularnya terjepit seminggu yang lalu be like :
"Aaaaaaargghhhhh. Masa depanku Kim. Masa depanku, uaaaaaaaaa. Sakit sekali Kim! Bagaimana ini? Aaaaaarrrgggghhh," ucap Sean kesakitan.
Asisten Kim panik lalu mencoba membantu ular Sean yang terjepit risleting celana milik Sean. Asisten Kim menariknya pelan membuat Sean semakin berteriak kesakitan.
Tetapi caranya berhasil, ia melirik sang Tuan yang terengah-engah sambil bernafas lega.
"Sialan kau!" ucap Sean mengingat kejadian seminggu yang lalu di toilet kantor.
Anda sungguh menggemaskan Tuan.
Sean segera menuju ke salon tadi, ia melihat Mauren sudah selesai melakukan perawatan kulit, ia nampak lebih cantik dan segar.
Pegawai tadi juga memberikan sekantong skincare termahal untuk dipakai Mauren setiap hari.
Setelah itu Sean menggandeng tangan Mauren untuk membeli sebuah tas, Mauren masih bingung dengan sifat Sean yang tiba-tiba baik padanya.
"Merk luwis syaiton mau?" tanya Sean sambil memegang tas mahal yang harganya ratusan juta itu.
Mauren masih ternganga mengetahui harga tas itu tanpa pikir panjang Sean segera membelinya untuk istri tercinta.
Tangan Mauren memegang tas termahal itu sampai bergetar dan lidahnya semakin kelu.
Sebuah tas mahal ini bahkan bisa untuk membeli rumah. Batin Mauren.
Setelah membeli tas, Sean mengajak Mauren untuk datang ke showroom mobil dekat mall tersebut. Dia membelikan mobil mewah keluaran terbaru untuk Mauren.
"Nah, ini kunci mobilmu Oren. Mobil ini menjadi milikmu, kau bisa menggunakannya untuk berangkat kerja. Tapi kupikir kau belum pandai menyetir jadi aku akan memberikan sopir untukmu," jelas Sean.
Mauren semakin ternganga, lidahnya semakin kelu, skincare mahal, tas mahal, bahkan mobil mewah diberikan Sean dengan percuma.
Dia menggigit lidahnya sendiri untuk meyakinkan apakah dia mimpi atau tidak.
Aaaaaah ternyata memang kenyataan Oppa memberikanku semua ini.
Yang tadinya tidak bersemangat kini menjadi ceria dan tersenyum sendiri, ia memeluk Sean sebagai ungkapan terima kasih.
"Kau harus menurut denganku, aku akan memberikan apapun untukmu," ucap Sean sambil mencium kening Mauren.
Setelah puas membeli barang-barang mewah itu, mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen. Sean beralasan ingin mengambil barangnya yang ketinggalan.
__ADS_1
Di dalam mobil, ia melihat Mauren sudah sumringah dan tersenyum sendiri.
"Senyam senyum kau," ucap Sean.
"Hehehe"
Sesampainya di apartemen, Sean mengajak Mauren untuk mencari barangnya yang ketinggalan. Sean berpura-pura kebingungan sedangkan Mauren hanya berdiam diri, Sean tidak memberitahu barang apa yang dicarinya membuat Mauren ikut kebingungan.
"Nah, ini dia," ucap Sean menyeringai.
Kndm? Untuk apa Oppa mencari itu. Batin Mauren.
"Kau bilang takut hamil karena tidak bisa membuatmu bekerja lagi, aku akan pakai ini. Dan jangan menolakku atau aku akan mengambil semua yang telah kuberikan kepadamu tadi"
Mauren menelan ludah, rasa sakit yang kemarin belum sembuh apalagi ini ditambah Sean yang meminta mengulanginya.
Dia memberanikan diri, ia yakin tidak akan hamil jika memakai pengaman.
Sean mulai mendekatinya, ia melempar semua pakaiannya dan mulai membuka pakaian yang di kenakan Mauren.
Mauren tidak menolak, justru ia menarik tubuh Sean untuk menindihnya diranjang, mereka sedang beradu lidah, menyesapi satu sama lain.
Kali ini Sean lebih lembut karena Mauren tidak memberontak seperti kemarin.
Nafas mereka mulai terengah-engah menambah hasrat untuk bercinta.
Setelah menciumi bibir sang istri, Sean menyusuri setiap lekukan tubuh Mauren membuat gadis itu bergelinjang kegelian.
Sean menghentikan aktivitasnya, ia menatap wajah Mauren.
"Sekarang?" tanya Sean seolah tidak sabar.
Mauren menganggukan kepala, Sean dengan cepat memasang kndm pada sang ular lalu dengan pelan ia memasukan ke sarangnya.
Dan dimulailah pergulatan hebat siang itu.
Satu jam kemudian.
Nafas mereka terengah-engah setelah melakukannya 3 kali dalam satu jam.
Sean tersenyum puas ketika sang istri menuruti permintaannya. Dia melihat Mauren terbaring lemas tidak berdaya, sepertinya ia sudah sangat kelelahan.
"Mau lagi?" tanya Sean menggoda Mauren.
"Aku lelah Oppa, untuk bekerja pun rasanya tidak kuat lagi," jawab Mauren dengan nafas terengah-engah.
Sean mengecup kening sang istri dan menyuruhnya beristirahat di apartemen, sedangkan ia harus kembali ke kantor untuk mengurusi pekerjaan penting hari ini.
"Bagaimana nanti aku menjelaskan kepada temanku atau HRD?"
"Kau tinggal bilang hari ini ada jadwal periksa lukamu itu dan aku akan menyuruh Juna membuatkan surat dokter untukmu," jawab Sean sambil mengenakan jasnya lagi.
Mauren tersenyum, lalu memeluk saat dirinya masih tanpa menggunakan sehelai benang. Entah kenapa ia semakin mencintai Sean.
Sean melepaskan pelukan Mauren.
"Cepat kau pakai baju! Atau kau ingin menambah lagi?"
"Aaah.. tidak Oppa. Cepat sana berangkat kerja!"
"Hahaha.. persiapkan nanti malam. Aku ingin melanjutkannya lagi"
Hebat sekali Oppa. Tenaganya bagai kuda.
M*mpuslah aku. Remuklah tubuhku.
___________________
__ADS_1
**Jangan lupa LIKE, RATE5, KOMEN DAN VOTE
Supaya author semangat nulis bab selanjutnya... Jangan pelit gaessss .. author udah gak nanggung2 bikin kalian tertawa.. hahaha**