
Mauren mengusap kepalanya, ia pun juga merasakan sakit kepala karena masalah yang tidak kunjung henti.
Asisten Kim lalu duduk di sebelah gadis itu dan menepuk bahu Mauren.
"Tenang saja nona, saya akan segera menyelesaikannya dan setelah itu saya akan kembali ke Cina," jelas Asisten Kim.
Mauren terkejut mendengar ucapan Asisten Kim. Ke Cina? Apa ini hanya candaan Asisten Kim?
"Oeeee... oeeee... oeeee"
Seina tiba-tiba terbangun sepertinya ia tidak bisa tidur nyenyak malam ini.
Mauren mencoba menggendong Seina dan menimangnya.
"Mama disini sayang, cup... cup... jangan nangis!"
Dan disaat bersamaan, Asisten Kim mendapat telpon dari dokter Juna jika Sean dilarikan ke rumah sakit karena keracunan alkohol. Asisten Kim terkejut ia ingin menuju ke rumah sakit tetapi tidak mungkin meninggalkan Mauren yang sedang kelimpungan karena Seina menangis kencang.
"Mungkin bayi itu haus lagi nona," ucap Asisten Kim.
"Baru saja minum susu 5 menit yang lalu Kak Kim," jawab Mauren.
Asisten Kim mencoba menggendong bayi itu dan menimangnya. Dia sangat pandai seperti pernah menggendong bayi sebelumnya dan benar saja belum ada 2 menit di gendongan Asisten Kim, bayi itu terlelap lagi.
Setelah itu Asisten Kim meletakan Seina di tengah ranjang.
"Kak Kim pandai sekali," ucap Mauren.
Asisten Kim tersenyum lalu berpamitan untuk pulang karena sudah malam dan ia tidak ingin terjadi fitnah tetangga karena mereka hanya berduaan di rumah Mauren.
Dia segera menuju ke rumah sakit tempat Sean dirawat. Walau kini ia sudah tidak bekerja lagi bersama Sean tetapi ia masih menganggap Sean seperti majikannya.
Satu jam kemudian.
Setelah sampai di rumah sakit, ia bergegas ke ruangan Sean. Dia melihat keluarga Sean sudah berkumpul disana.
"Kim, dimana Mauren?" tanya Mama Sean.
"Dia ada di rumah orang tuanya"
"Apa mereka bertengkar? Kenapa Sean sampai berani mabuk? Gadis itu benar-benar membuat masalah saja," ucap Mama Sean.
Asisten Kim baru teringat jika ia belum memberi tahu jika Sean masuk ke rumah sakit dan tiba-tiba Kakek Askar datang di ruangan itu untuk melihat keadaan Sean.
"Cepat carikan Sean seorang istri yang tepat untuknya! Urus perceraian mereka, dalam minggu ini aku ingin mereka sudah bercerai," ucap Kakek Askar sambil menatap Sean yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit.
"Yah, Sean sedang sakit kenapa memikirkan hal itu. Biarkan Sean yang mengambil keputusan," ucap Mama Sean.
"Aku tidak mau tahu. Jika kau tidak mau mencari calon istri untuk Sean maka aku yang akan mencarikannya," jawab Kakek Askar.
Mama Sean hanya menghela nafas, ia sangat lelah berdebat dengan ayahnya yang keras kepala dan ambisius.
__ADS_1
Tidak mungkin ia memisahkan Sean dan Mauren yang saling mencintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kantor Young Group,
Kakek Askar menghela nafas, ia kini menggantikan Sean untuk mengurus perusahaannya sendiri. Dengan bantuan ajudannya dan Asisten Kim, mereka bisa melaporkan Dasha di balik kasus ini dan menuntut Assound Group atas penipuan dan pencemaran nama baik.
"Kim, kau mau menjadi direktur untuk memimpin perusahaan ini? Sean anak bodoh itu sudah tidak pecus mengurus perusahaan," tanya kakek Askar.
Asisten Kim terdiam dan berfikir sejenak lalu mulai menjawab dengan tenang.
"Maaf Tuan Askar, saya tidak bisa. Lagipula saya sudah di pecat oleh Tuan Sean dari Young Group dan saya memutuskan untuk pulang ke Cina," jawab Asisten Kim.
"Sean bodoh itu bisa-bisanya memecat pegawai terbaik sepertimu. Tapi ya sudahlah aku tidak bisa memaksamu karena kau sudah bekerja lama untuk Young Group. Terima kasih Fai, kau banyak berjasa untuk Young Group. Bahkan kau harus rela berpura-pura seumuran Sean padahal sekarang ini kau berumur berapa?"
"29 tahun, tuan".
Kakek Askar tersenyum lalu berdiri dari kursi direkturnya. Dia memeluk Asisten Kim dan berterima kasih kepadanya. Kakek Askar juga sudah menganggap Kim sebagai cucunya sendiri.
Kakek Askar lalu melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari kantongnya.
"Ini alamat orang tua kandungmu, setelah ini kau bisa menemuinya"
Asisten Kim menerima kertas itu, tangannya bergetar saat menerimanya.
Orang tuanya yang dianggapnya sudah meninggal ternyata masih hidup.
Asisten Kim menangis lalu kakek Askar menepuk bahunya.
"Terima kasih, tuan. Jika bukan karena tuan pasti saya tidak bisa seperti sekarang ini," jawab Asisten Kim.
**
Disisi lain, Mauren di jemput oleh seorang wanita berpakaian jas rapi.
Mauren di bawa entah kemana ke suatu tempat yang belum pernah ia singgahi.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Mauren.
Perempuan itu masih diam sambil menyetir tidak memperdulikan pertanyaan dari Mauren.
Mauren menghela nafas, ia bersandar pada kursi mobil sambil menatap kaca mobil.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah rumah. Perempuan itu keluar dan membukakan pintu untuk Mauren.
Mereka lalu masuk di sebuah rumah misterius dan pengawal itu menyuruh Mauren duduk.
"Tanda tangani surat perceraian ini!" ucap wanita itu.
Mauren membaca kertas itu dan ternyata adalah surat perceraian. Mauren lalu menatap perempuan itu dengan lekat.
__ADS_1
"Tanda tangani surat itu atau keluargamu akan menderita? Kami sudah menandai seluruh keluargamu termasuk orang tua asuhmu dan ibu kandungmu," ucap perempuan itu.
"Apalah ini ancaman?"
"Lebih tepatnya negosiasi, Tuan Askar akan menjamin kehidupanmu dan seluruh keluargamu jika kau mau bercerai dengan Tuan Sean"
"Bagaimana jika aku tidak mau? Bukankah secara hukum negara tidak sah jika bercerai seperti ini?" tanya Mauren.
Perempuan berjas itu menyunggingkan senyuman yang sulit diartikan. Mauren masih mengartikan arti dari senyuman itu.
"Keluarga Adinata bisa melakukan apapun bahkan bisa membunuhmu tanpa ketahuan. Jadi bagaimana? Kau mau menandatanginya atau tidak?" tanya perempuan itu.
Aku sungguh tidak sanggup jika harus bercerai dengan oppa. Aku tahu pasti ini bukan ulah oppa. Bahkan sampai sekarang ini walau dia salah paham denganku belum pernah mengatakan kata cerai kepadaku.
"Jika aku tidak mau?" ucap Mauren.
Perempuan itu tersenyum kecut lalu memukul wajah Mauren sampai gadis itu tersungkur di lantai.
"Maka dengan jalan kekerasan solusinya," ucap perempuan itu tersenyum menyeringai.
Mauren berusaha berdiri sambil mengelap hidungnya yang berdarah. Dia menatap tajam perempuan menyeramkan itu.
Perempuan itu melayangkan pukulan kearah Mauren tetapi Mauren menepisnya dan bergantian memukul wajah perempuan itu.
"Kau hebat juga," ucap perempuan itu.
Sebuah tendangan melayang di perut Mauren hingga gadis itu tersungkur lalu memegangi perutnya. Perempuan itu mendekatinya dan menjambak rambut Mauren tetapi Mauren tidak kehilangan akal ia mensleding perempuan itu sampai terjatuh.
Mereka kini bertarung menentukan siapa pemenangnya. Saling memukul hingga terluka parah lalu akhirnya perempuan itu menyerah dan memilih pergi karena ia tidak ingin menyakiti Mauren lebih parah lagi.
Sebelum pergi perempuan itu melempar sebuah foto bayi ke di depan Mauren.
"Bayi yang kau temukan itu akan mati jika kau tidak menandatangani surat ini. Kau masih punya waktu 6 jam untuk memikirkannya dan aku akan mengambil surat itu nanti malam di rumahmu," ucap perempuan itu. "Dan satu lagi, bela dirimu hebat juga. Belajar dimana?" sambung perempuan itu sambil berjalan meninggalkan Mauren.
Dengan langkah tergopoh, Mauren berjalan mencari taksi. Wajahnya penuh luka dan teramat sakit. Dia memandangi surat perceraian itu. Dia bingung harus melakukan apa, sampai ia ingin menangis saja tidak sanggup karena sudah saking menderitanya karena perlakuan dari keluarga Sean.
Disisi lain,
Sean sudah sadar, ia tercengang mendengar ucapan Mamanya.
Mananya bercerita jika Dasha pelaku utama kasus korupsi itu dan beberapa petinggi Young Group juga ikut terlibat. Tetapi semua sudah terselesaikan oleh pihak kepolisian.
"Sekarang kau istirahat saja Sean, sementara kakekmu yang akan menggantikan mu dan Juna sudah bercerita tentang kesalahpahamanmu dengan Kim dan Mauren. Mauren tidak berselingkuh dengan Kim. Saat di hotel itu mereka di jebak oleh Dasha supaya ia bisa mengalihkan pikiranmu ke masalah rumah tanggamu dan saat itulah Dasha bisa melakukan perbuatan itu di perusahaan kita," jelas Mama.
Bukan saat itu saja mereka bersama tetapi saat di apartemenku juga Kim menginap semalaman bersama istriku.
Tunggu saat itu bahkan aku belum melakukan ihik ihik dengan Mauren? Mauren masih menolak untuk melakukan itu.
Jadi benar jika Kim tidak melakukan itu kepada Mauren?
Kenapa aku baru teringat? Huh... rasa cemburu membakar otak warasku. Batin Sean.
__ADS_1
"Mah? Dimana Mauren?" tanya Sean.