
Suasana yang tadinya meriah kini menjadi senyap. Semua orang kebingungan dan bisa merasakan suasana mencekam ketika seorang presdir menumpahkan amarahnya.
Bahkan alunan musik pengiring pun dihentikan.
Terlihat Asisten Kim mulai kesal, ia sadar jika Mauren menangis karena hal ini.
Asisten Kim mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang untuk mengirimkan rekaman CCTV siang tadi yang berhubungan dengan Mauren.
Kakek Askar terlihat menahan malu karena ulah sang cucu di depan semua koleganya dan saat itu juga Sean turun dari atas panggung dengan sorot mata mematikan.
Kakek Askar memberikan kode kepada seseorang lalu orang tersebut bergantian mengode satu sama lain.
Sekitar 20 orang bodyguard yang berpura-pura menjadi tamu langsung menyergap Sean.
Asisten Kim yang mengetahui hal itu langsung memberikan kode kepada 40 orang bodyguard suruhannya yang juga berpura-pura menjadi tamu untuk membereskan para bodyguard suruhan Kakek Askar.
Suasana disana menjadi ricuh dan saling baku hantam, pesta yang mewah dan elegan bagi Alana kini telah hancur berkeping-keping. Dia hanya bisa menangis, sementara sang Papa langsung memeluknya.
Sean dan Asisten Kim langsung keluar dari keributan itu dan memilih kabur menuju ke mobil.
Di dalam mobil Sean masih sangat marah dan menyalahkan Asisten Kim yang telah lalai tidak mencari tahu tentang informasi pesta itu terlebih dahulu.
"Maafkan saya Tuan. Saya memang tidak pecus sebagai asisten anda," ucap Asisten Kim sambil menyetir mobil.
"Dasar tidak berguna kau!"
"Maaf, Tuan"
"Bagaimana jika Oren menonton acara pesta sialan itu di TV, Kim?" jawab Sean panik.
"Eh... tidak mungkin Oren bisa menonton TV. TV nya telah rusak," sambung Sean sambil bernafas lega.
Asisten Kim menepikan mobil lalu melihat ponselnya yang bergetar karena pemberitahuan pesan masuk.
Dia langsung membukanya yang ternyata berisi rekaman CCTV di kantor siang tadi.
Asisten Kim membukanya dan mengajak Sean untuk menonton bersama.
Di rekaman CCTV itu terlihat Mama Sean bertemu dengan Mauren di depan lift.
Dan terlihat mereka mengobrol sebentar setelah itu Mauren mengikuti Mama Sean.
Mauren mengikuti Mama Sean sampai di teras gedung megah itu lalu ia masuk ke mobil bersama Mama Sean dalam kondisi hujan yang sangat deras.
15 menit kemudian, Mauren kembali ke kantor dengan berlari menerpa hujan sampai basah kuyup dan tak terlihat mobil Mama Sean mengantarnya.
Sean geram ia merem*s jemari tangannya, ia berpikir kenapa Mamanya membiarkan Mauren kehujanan dan tidak mengantarnya kembali ke kantor menggunakan mobil.
"Nona Mauren tadi menangis di ruang fotocopy, Tuan. Maaf saya tidak memberitahu anda," ucap Asisten Kim.
Sean lalu menghadap wajah sang Asisten Kim dengan penuh tanda tanya, " Kenapa dia menangis Kim?"
"Maaf, Nona Mauren tidak bercerita, Tuan"
__ADS_1
"Apa yang dibicarakan Mamaku dengan Oren, Kim? Aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini," ucap Sean sangat sedih.
Disaat bersamaan ponsel Asisten Kim berbunyi, ia mengangkatnya. Dia langsung menunjukan ekspresi terkejut sedangkan Sean memperhatikannya dengan kebingungan.
"Tuan. Nona Mauren kabur dari apartemen," ucap Asisten Kim.
"APA?" tanya Sean terkejut.
Sesampainya di apartemen.
Sean langsung berlari menuju apartemen teratasnya tanpa memperdulikan ketua bodyguard yang mencoba menjelaskan kenapa Mauren bisa kabur.
Rasa khawatir menyeruak dipikirannya, ia sangat khawatir dengan keadaan Mauren.
Sean lalu menuju ke lemari pakaian, ia melihat baju Mauren masih ada. Sepertinya Mauren tidak membawa semua bajunya.
"Suruh para bodyguard mencari Orenku, Kim!"
"Baik Tuan"
Sedangkan Sean mencoba menelpon Mauren tetapi nomor gadis itu telah tidak aktif.
"Sial! Brengs*k!" ucap Sean yang kesal karena nomor Mauren tidak aktif.
Sean teringat dengan Valto, ia lalu menelponnya dan jawaban Valto mengecewakan jika Mauren tidak ada di rumahnya.
"Val, Tolong tanyakan ke orang tua Mauren. Apakah Mauren ada disana?" pinta Sean.
"Kau telpon sendiri! Mereka 'kan mertuamu"
Valto menghela nafas, ia tidak bisa menolak permintaan teman dekatnya yang selalu membantunya saat kesusahan.
5 menit kemudian.
Valto menelpon Sean, ia menjelaskan jika Mauren tidak ada di rumah orang tuanya.
Itu semua membuat Sean semakin panik dan khawatir. Dia mengacak-ngacak kepalanya seolah sudah putus asa.
Asisten Kim berusaha menghibur Sean, ia tidak tega melihat sang tuan yang mulai panik dengan keadaan istrinya itu.
"Ayo Kim kita cari Oren! Aku tidak bisa berdiam diri menunggu disini"
"Baik Tuan"
Dengan langkah cepat mereka berjalan keluar dari apartemennya, mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Asisten Kim melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sedangkan Sean membuka kaca jendela supaya bisa melihat apakah ada Mauren melintas atau tidak.
"Jangan-jangan Oren diculik oleh orang suruhan Kakek Askar, Kim? Mulai sekarang perketat keamanan di gedung apartemenku, Kim!" perintah Sean.
"Bodyguard tadi bilang jika Nona Mauren kabur dengan menyelinap lewat pintu belakang berarti Nona Mauren tidak diculik, Tuan"
Sean menarik nafas panjang, ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Dia sangat kebingungan dan khawatir jika Mauren melakukan hal yang nekat.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Asisten Kim berdering, ia langsung mengangkatnya dan ternyata dari para bodyguardnya. Mereka melaporkan sudah mencari Mauren sampai penjuru kota tetapi nihil, mereka tidak menemukan Mauren dimanapun.
Asisten Kim melirik Sean, ia tidak tega jika harus melaporkannya kepada Sean.
"Kenapa? Orenku belum ketemu?"
Asisten Kim menganggukan kepala lalu Sean menghela nafas, ia mengusap-usap wajahnya yang putus asa.
"Bagaimana jika dia melakukan hal yang nekat, Kim?"
"Tidak mungkin Tuan. Nona Mauren tidak seperti itu"
"Tidak seperti itu bagaimana? Tadi siang saja TV termahalku dibuatnya retak dan rusak. Aku yakin itu semua ada hubungannya dengan ini," jelas Sean.
Sean kembali melihat kearah jendela, matanya sangat awas memandangi trotoar kota. Dia ingin menemukan Mauren malam itu juga, jika tidak maka ia menganggap dirinya gagal menjaga Mauren sebagai sang suami.
"Coba lacak Oren menggunakan GPS, Kim!"
"Tidak bisa Tuan. Ponsel Nona Mauren telah mati jadi tidak bisa melacak menggunakan GPS," jelas Asisten Kim sambil fokus menyetir mobil.
"Bagaimana jika lapor polisi saja?".
"Tidak bisa Tuan, Nona Mauren baru hilang beberapa jam dan tidak mungkin polisi menerima laporan itu"
Sean berpikir keras supaya ia cepat menemukan Mauren dan menjelaskan semua kepadanya.
"Bagaimana jika kau suruh orang satelit untuk melacak keberadaan Oren, Kim?"
Perusahaan Young Group memiliki satelit pribadi diluar angkasa. Perusahaan Young Group salah satunya memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi sehingga sangat diperlukan mempunyai satelit pribadi.
"Jika mau menggunakan bantuan satelit harus saat keadaan mendesak Tuan. Tetapi untuk saat ini kita bisa mencarinya dengan bantuan ratusan bodyguard"
"Sialan kau! Bodyguardmu tidak berguna! Mereka tidak becus mencari Orenku," jawab Sean marah.
Asisten Kim langsung menelpon orang suruhannya untuk menghubungi pihak satelit, ia tidak ingin berdebat dengan sang tuan yang sudah marah dan tidak sabar.
Asisten Kim lalu menepikan mobilnya dan menunggu telpon balik dari orang suruhannya.
15 menit kemudian.
Asisten Kim menerima telpon, ia senang jika keberadaan Mauren sudah ditemukan menggunakan satelit.
Sean tersenyum girang lalu secara tidak sadar memeluk tubuh sang asisten yang bisa diandalkan.
"Tidak percuma selama ini kau menjadi asistenku, Kim"
"Terima kasih, Tuan"
"Ayo kita menuju ketempat itu!"
"Baik, Tuan"
___________________________________
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE5 dan VOTE YAAA
KARENA DUKUNGAN KALIAN MEMPENGARUHI FREKUENSI UPDATE SETIAP HARINYA.