
Tok... tok... tok...
Sean mengetuk pintu rumah Mauren, karena orang tua Mauren sedang berjualan di pasar maka Mauren sendirilah yang membukanya.
"Oren sayang?"
Mauren langsung menutup pintu tetapi Sean menghalaunya dan membuat tangan Sean terjepit. Dia berteriak kesakitan membuat Mauren tidak tega lalu akhirnya membuka pintu itu kembali.
Sean langsung masuk dan duduk di sofa sambil meniup tangannya yang kesakitan.
"Mau apa?" tanya Mauren.
"Oren, aku minta maaf. Aku memang salah, aku menyesal karena tidak mempercayaimu," ucap Sean.
"Oke, aku maafkan. Silakan pergi dari sini!"
Sean memeluk Mauren, ia meminta untuk kembali kepadanya. Mauren melepas pelukan Sean.
"Aku tidak bisa, aku masih kecewa dengan keluargamu," ucap Mauren.
"Beri aku aku kesempatan lagi, Oren! Kakek akan merestui kita jika kita bisa memberinya cicit laki-laki"
Mauren langsung mendorong Sean. Cicit laki-laki? Bahkan semua itu sangat sulit. Apalagi Mauren sulit hamil lagi karena ulah dari keluarga Sean.
Sean tidak kehilangan akal, ia mendorong Mauren ke sofa dan menciumnya dengan mesra. Entah kenapa Mauren tidak menolak, ia memang merindukan sentuhan dari Sean.
Mereka berciuman begitu lama sampai Sean sudah tidak tahan lalu menggendong Mauren ke kamar Mauren yang terdapat bayi tertidur. Sean bingung. Bayi siapa itu dan nampak tidak asing.
Karena nafsu Sean sudah tinggi ia tidak memperdulikan bayi itu. Dia merebahkan tubuh Mauren di ranjang dan menindihnya. Sean menciumi wajah Mauren dan tangan nakalnya membuka kancing baju gadis itu.
Bau parfum Sean begitu harum sampai memabukan Mauren dan menghipnotis Mauren. Mauren meremas baju Sean saking merasa gelinya mendapat ciuman dari Sean.
Saat Sean mulai menanggalkan semua baju Mauren dan melepas bajunya sendiri. Dia dengan cepat menghantamkan sang ular yang sudah berpuasa satu bulan tetapi sebelum dihantamkan tiba-tiba...
"Oeeee... oeeee.. oeeee"
Seina menangis kencang membuat Mauren tersadar. Dia mendorong Sean lalu memakai pakaiannya lagi dan menggendong Seina yang kini semakin menggendut.
Sedangkan Sean tercengang karena tidak jadi melakukan ihik-ihik mantap-mantab.
Sean memakai pakaiannya lagi, ia menatap bayi itu bercampur kesal.
Bayi siapa itu? Awas kau! Dasar Bayi! Kau sudah merebut kesempatanku untuk mendapatkan Mauren lagi.
"Oren? Ayo lanjutkan! Aku sudah terlanjur tegang," ucap Sean.
"Pergilah! Aku tahu jika kakak nafsu saja kepadaku. Aku sadar jika aku hanya boneka s*ks nya kak Sean saja," ucap Mauren sambil menggendong Seina.
Tiba-tiba pintu kamar Mauren di ketuk ternyata ibu Mauren yang ingin melihat cucunya yaitu Seina.
Mauren kelabakan karena ia didalam bersama Sean. Sean langsung melepas kaosnya lagi dan membuka pintu.
__ADS_1
Mauren ternganga melihat tingkah Sean yang membingungkan.
"Sean?" ucap ibu kebingungan.
"Bu, nikahkan kami lagi bu! Kami berbuat mesum disini. Ayo panggil Pak RT dan Pak RW supaya menggrebek kami dan menikahkan kami lagi," ucap Sean dengan antusias.
Ibu Mauren hanya kehabisan kata-kata, ia tidak menyangka jika Mauren berani kumpul kebo bersama mantan suaminya.
"Emak jangan percaya ucapan Kak Sean! Dia bohong, mak," ucap Mauren menggendong Seina dan berjalan menuju pintu.
Sean lalu menarik kerah Mauren dan terlihat beberapa bekas ciuman dari Sean yang memerah. Mauren sangat malu karena bekas itu di dapatkan dari Sean tadi.
Sean tersenyum menyeringai sedangkan Mauren melirik kesal kepada Sean karena membuatnya sangat malu.
"Ada apa ini?" tanya bapak.
"Kami mesum disini pak," jawab Sean.
"Tidak pak, kami tidak melakukan apapun," ucap Mauren.
"Lihat pak! Aku mencup*ng Mauren hingga membekas," ucap Sean sambil menarik kerah Mauren.
Mauren sangat tekejut melihat Sean yang tidak tahu malu. Dia menyerahkan Seina kepada sang ibu lalu mendorong Sean keluar dari rumahnya.
Sean memohon untuk diberi kesempatan lagi tetapi Mauren sudah malas menanggapi Sean.
Tok... tok... tok... tok...
Mauren membuka pintu.
"Kenapa lagi?" tanya Mauren.
"Kaosku ketinggalan di kamarmu Oren," ucap Sean.
Mauren tersadar jika Sean bertelanjang dada, ia mengambil kaos milik Sean di kamarnya lalu melemparkan di wajah Sean.
Braaaak...
Mauren menutup pintu dengan kencang membuat Sean menyabarkan dirinya.
Dia lalu masuk mobilnya, setidaknya ia tahu perasaan Mauren jika ia masih mencintainya. Sean tersenyum lalu pulang ke kota asalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sean memakai jas mewah beserta bunga mawar di kantongnya. Dia sedari tadi hanya memainkan makanannya.
Nampak seorang gadis ke 17 yang akan dijodohkan Sean bernama Ibel asyik menatap pria tampan itu.
Suasana makan keluarga terasa khidmat, mereka sekelas bangsawan makan dengan sopan dan diam lalu tiba-tiba...
"Duuuuuuuuut... preeet...trut.. trut" bunyi suara kentut yang sangat menggelegar dan tercium aroma busuk membuat semua anggota keluarga itu menutup hidung.
__ADS_1
Sean yang tidak menutup hidung sendiri membuat semua orang curiga kepadanya. Sera pun menatap Sean sambil tersenyum.
Sean menghela nafas, ia tertangkap basah kentut di acara makan malam penting itu.
"Maaf kelepasan," ucap Sean.
Keluarga Sean nampak malu dengan ulah Sean kali ini dan keluarga Ibel sudah nampak ragu.
Sean mengambil ponselnya lalu meletakannya di meja dan menekan tombol play pada ponselnya.
Duuuuuuuuut... preeet...trut.. trut
Duuuuuuuuut... preeet...trut.. trut
Duuuuuuuuut... preeet...trut.. trut
Duuuuuuuuut... preeet...trut.. trut
Duuuuuuuuut... preeet...trut.. trut
Semua orang tercengang mendengar bunyi rekaman dari ponsel Sean yang kencang.
Sean menggenggam tangan sang mama lalu menoleh kearah mamanya yang sudah sangat malu dengan kelakuan anaknya.
"Mah, Sean ingin ikut Kentut Got Talent. Sean sudah merekam kentut Sean dan semoga saja rekaman ini bisa membawa Sean lolos audisi," ucap Sean.
Nampak orang tua Ibel saling berbisik, seperti inikah sifat asli Arsean yang terkenal keren dan berwibawa itu? Sungguh mereka tidak menduganya.
Sedangkan Sera tertawa terbahak-bahak membuat suasana semakin aneh.
"Wuiiiiihh... kentutnya merdu kak," ucap Sera.
Mama Sera mencubit Sera membuat gadis itu kesakitan sedangkan Ibel mulai berdiri, ia menatap Sean lalu pergi meninggalkan makan malam yang sudah kacau itu.
"Ibel, tunggu!" ucap kedua orang tuanya.
Sean tersenyum karena misinya untuk membuat gadis itu jijik kepadanya berhasil. Dia berdiri tidak lupa mengendorkan dasinya dan membuang mawar di kantongnya ke meja makan.
"Kau keterlaluan, Sean," ucap Kakek Askar.
Sean menaikan alisnya lalu tersenyum tipis.
"Kakek yang keterlaluan kepadaku, aku masih mempunyai istri bisa-bisanya kakek menjodohkanku," ucap Sean kesal.
"Kau sudah bercerai bodoh," jawab kakek Askar.
"Perceraian kami tidak sah, aku masih menganggap jika Mauren istriku," ucap Sean sambil meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamarnya.
Sean berganti pakaian lalu merebahkan dirinya di ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya berharap masalahnya dengan Mauren terselesaikan.
Dia sangat mencintai Mauren walaupun kini gadis itu sudah tidak menganggapnya lagi.
__ADS_1