Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 125 : Kesialan Tuan Sean


__ADS_3

"Cukup!" ucap Asisten Kim menghentikan adu jotos mereka.


Nampak kedua preman itu banyak mengeluarkan darah membuat Asisten Kim merasa puas karena sudah membalas apa yang mereka lakukan kepada Mauren.


Asisten Kim masih bersedekap dengan gaya berbicara santai tetapi seolah para preman itu ketakutan.


"Siapa yang menginjak kepala pria tadi?" tanya Asisten Kim.


Preman itu hanya terdiam sambil menundukan kepala. Asisten Kim memandang pria itu dengan sangat murka.


"Kalian tidak tau siapa pria tadi? Kalian tidak pernah melihat berita? Harusnya kalian jangan takut kepadaku melainkan takut kepada Tuan Sean. Dia orang berpengaruh dinegeri ini bahkan ia memiliki julukan si pria pembunuh tanpa menyentuh," ucap Asisten Kim membuat mereka bergetar.


Asisten Kim turun dari meja, dengan langkah pelan ia mendekati pria yang telah menginjak kepala Sean.


Pria itu menundukan kepalanya seolah ketakutan.


"Berdiri!"


Pria itu tidak bergeming, ia masih bertekuk lutut dihadapan Asisten Kim.


Keringat dingin mulai bercucuran ketika Asisten Kim membungkuk dan membisikan sesuatu kepada pria itu.


"Sepertinya kepalamu sangat keras jika dilindaskan ke truk?" ucap Asisten Kim membuat pria itu merinding. "Tapi aku tidak suka membuat orang langsung mati, itu tidak seru. Aku lebih suka membuat orang mati secara perlahan," sambung Asisten Kim dengan tersenyum menyeringai.


Pria itu sangat ketakutan, ia langsung bersujud dibawah kaki Asisten Kim dan memohon ampunan. Asisten Kim tersenyum kecut, apalagi ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kepala sang tuan diinjak oleh pria itu. Itu sangat kurang etis dan tidak sopan.


Duaaaak


Sebuah tendangan keras terlontar dari kaki Asisten Kim membuat pria itu langsung terkapar. Dia sangat marah sampai ingin mencincang pria itu tetapi ia tahan.


Asisten Kim mulai berjalan menuju pintu keluar dan baru beberapa langkah ia terhenti tanpa membalikan badan.


"Tetap disini kalian! Sebentar lagi petugas kesehatan datang untuk mengobati kalian. Aku tidak mau kalian datang di kantor Young Group dengan terluka seperti itu dan jangan coba kabur dariku. Aku sudah mengingat wajah-wajah kalian," ucap Asisten Kim.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sampai di rumah orang tua Mauren, Sean langsung merebahkan dirinya di sofa. Rasa lapar, lelah dan mengantuk menjadi satu sedangkan Mauren terlihat langsung mandi supaya badannya menjadi segar.


Baru beberapa menit terpejam, ponsel Sean berbunyi yang rupanya dari Valto. Dia segera mengangkatnya.


"Sean? Kau sungguh sangat sibuk sampai melupakan klub motormu? Kita akan mengadakan touring," ucap Valto.


"Maaf Val, memang akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Hari ini kalian mengadakan kumpulan?"


"Iya dan kurang kehadiranmu saja. Klub tidak asyik tanpamu Sean. Oh ya... kami juga menemukan bengkel motor bagus, nanti ku kirim 'kan alamatnya. Motormu diservice disitu saja," ucap Valto.


"Iya baiklah, akan ku coba ke bengkel itu dan untuk touringnya bagaimana jika minggu depan? Aku akan melonggarkan jadwalku dan kalian tentukan tempat yang kita kunjungi saja," jawab Sean.


"Oke, Sean. Kami akan mengaturnya, bye"


Sean meletakan ponselnya di meja lalu melihat Mauren sudah selesai mandi secepat kilat. Sean memperhatikan Mauren yang bercermin sambil mengoles skinker pada wajahnya.


"Minggu depan aku akan touring, kau mau ikut, Oren?" tanya Sean.


"Naik motor?"


"Terus naik apa lagi?"


"Aku ikut Oppa"


"Baiklah. Persiapkan dirimu karena 2 hari kita akan berada diatas motor"


"Jangankan diatas motor, diatas badan Oppa aku pun kuat"


"Mesum sekali kau"


Tiba-tiba Asisten Kim datang lalu Mauren menyuruhnya duduk. Asisten Kim melihat Sean yang terbaring disofa merasa kasian. Raut wajah Sean sangat lelah dan mengantuk membuat siapa yang melihatnya merasa kasian.


"Oppa, bagaimana kita makan pecel dan minum es campur? Di kampung ini pecelnya enak banget. Lama aku juga tidak makan pecel kampung ini?" tawar Mauren.


"Boleh juga. Ayo kita beli!" ucap Sean sambil bangun dari sofa.


"Biar saya yang belikan saja, Tuan"


"Tidak usah, kau tunggu disini! Aku dan Mauren yang akan pergi"

__ADS_1


Asisten Kim menganggukan kepala, Sean dan Mauren segera berjalan ke pedagang pecel yang berjarak 10 menit dari Mauren.


Terlihat Sean mulai kesal karena dibohongi jika rumah pedagang pecel itu dekat dengan rumah Mauren.


"Mending kita naik mobil. Sialan! Jauh sekali"


"Belum 10 menit berjalan sudah mengeluh"


Sean berdecak, ia menggerutu disepanjang jalan membuat Mauren malas menanggapi dan membiarkan Sean mengoceh sendiri.


Dan setelah sampai di tukang pecel itu mulut Sean langsung diam.


"Mbak, pecel sama es campurnya 3 bungkus ya," pinta Mauren.


"Eh... Mauren? Baru kelihatan? Dia suamimu?"


"Iya mbak, dia suamiku"


Tanpa basa-basi mbak-mbak tukang pecel itu membuatkan pesanan Mauren.


Sean dan Mauren terduduk didepannya.


Sean terlihat memperhatikan cara mbak itu mengulek.


"Tidak capek mengulek tiap hari?" tanya Sean.


Cerewetnya Oppa mulai lagi nih. Batin Mauren.


"Enggak mas, jika capek nanti gak makan"


"Oh begitu... kenapa tidak memakai attack kekuatan 1000 tangan?" tanya Sean.


Nah, mulai lagi lawakan Oppa.


"Apa hubungannya attack (deterjen) sama ngulek, mas?"


"Lah.. mbaknya tidak menonton iklan? jika memakai attack saat mengulek maka kekuatan mengulek mbaknya setara dengan diulekin tangan sekabupaten," ucap Sean.


Mauren dan tukang pecel itu tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.


Sean hanya terdiam padahal baginya tidak lucu.


"Suamimu lucu juga, Mauren"


"Iya mbak. Pandai ngelawak dia"


Orang disekitarku sinting semua. Mereka selalu menertawakanku saat aku berbicara. Batin Sean.


15 menit kemudian pesanan Mauren telah siap, Mauren segera membayar lalu berpamitan pulang.


Dalam perjalanan, Sean terdiam seolah sudah sangat lelah. Mauren lalu menggandeng tangan Sean.


Sampai ketika Sean melihat sebuah batu kerikil didepannya, ia dengan refleks menendang batu itu tetapi sialnya malah mengenai kepala angsa.


Sang angsa melirik Sean, Sean menelan ludah, dengan cepat si angsa besar itu mengejar mereka berdua.


"Aaaaaah..." teriak Mauren panik.


Mereka berlari tanpa arah membuat mereka semakin jauh dari rumah Mauren, angsa tersebut sangat ganas hingga mematuk kaki Sean. Sean berteriak kesakitan tetapi ia tidak mungkin berhenti karena melihat angsa itu saja membuatnya ketakutan.


"Bagaimana ini, Oren? Angsa itu tidak berhenti mengejar kita," ucap Sean sambil berlari.


"Lari aja terus, Oppa. Aaaaaaaaa... emak tolongi Mauren, maaak," rengek Mauren.


Mereka berlari sekencang mungkin sampai menemukan sebuah pohon mangga. Mereka berdua langsung memanjat secepat kilat dan terlihat angsa itu tidak bisa naik.


"Kwek... kwek... kwek... kwek..."


"Angsa bangs*t! Lihat kaki ku kau gigit! Dasar brengsek!" umpat Sean.


"Mana ada angsa menggigit? Angsa itu mematuk, Oppa"


"Terserahlah!" jawab Sean kesal.


Mereka menunggu angsa itu pergi dan 10 menit kemudian angsa itu benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua yang masih tersangkut dipohon mangga.

__ADS_1


Mereka berdua segera turun dan bisa bernafas lega.


"Sialan!" umpat Sean.


Mereka berdua mulai berjalan lagi lalu terlihat matahari semakin terik dan sangat panas.


Mereka berjalan dengan santai sampai mata mereka terbelalak memandang seekor anjing bulldog hitam sedang mengintai mereka.


"Oren?"


"Iya Oppa?"


"Lari, Oren!"


"Aaaaaaaa... anjing itu mengejar kita, Oppa"


Mereka berlari sekencang mungkin untuk kedua kalinya. Rasa panas dan haus tidak mereka hiraukan yang terpenting mereka bisa melarikan diri dari anjing menyeramkan itu.


"Guk... guk... guk... guk... guk..."


Nafas mereka terengah-engah, mereka berlari kencang dan terlihat anjing itu masih mengejar.


"Guk... guk... guk... guk... guk..."


Sampai mereka melihat dinding terbuat dari batako seperti pembatas sesuatu dan dibawahnya ada tumpukan batu-bata merah membuat mereka berdua bisa naik diatas dinding itu.


Mereka segera naik, dengan Sean yang naik duluan lalu disusul Mauren.


Mereka kini nangkring diatas dinding itu dan nampak anjing itu tidak bisa naik.


"Dasar anjing sialan! Kau membuatku berlari untuk kedua kalinya," umpat Sean sambil terengah-engah.


"Hah... hah... hah... aduh... capek sekali"


Sean mencoba melempar anjing itu dengan batu bata dan berhasil membuat anjing hitam itu pergi.


Mereka mengontrol nafas mereka, sungguh menyesakan berlari dibawah matahari yang sangat terik.


Sean lalu memandang wajah Mauren yang kelelahan, ia tersenyum. Selama bersama Mauren, ia mengalami kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya seperti kejadian saat ini. Mereka saling memandang dan mulai tertawa bersama ketika mengingat kejadian demi kejadian yang telah mereka lalui bersama kurang lebih 2 bulan ini. (Mereka masih nangkring diatas tembok)


Dan saat itu Sean tidak sengaja melirik disisi tembok lain yang ternyata disampingnya terdapat sungai keruh beserta orang yang sedang BAB dibawah mereka.


"Bangs*t! Pantas saja baunya seperti e'ek, ternyata ada orang e'ek dibawah kita," umpat Sean terkejut dan hilanglah keromantisan mereka.


Mereka langsung turun dan Mauren terlihat menahan tawa. Sean mulai mengoceh tidak jelas.


"Sialan! Disini termasuk kota besar masih ada yang berak di kali," oceh Sean.


Mauren menahan tawa mendengar setiap umpatan Sean. Sambil berjalan pulang Sean tidak berhenti mengoceh karena saking kesalnya.


Sampai ia tidak menyadari menginjak sesuatu dan Mauren langsung terkejut.


"Jiaaaaah... apa ini Oren? Coklat-coklat empuk? Apakah tanah?" tanya Sean sambil melihat sepatunya.


"Emmmmm... itu e'ek kuda, Oppa," jawab Mauren.


"Cabut nyawa saya, Tuhaaaaaan... Kau memberi hambamu ini sebuah kesialan berturut-turut," teriak Sean.


**


Sesampainya dirumah Mauren, Sean masih nampak kesal, ia membanting tubuhnya disofa sedangkan Asisten Kim kebingungan melihat Sean yang terlihat kesal.


"Bangs*t! Brengsek! Sialan! Apes sekali hari ini. Sudah dihajar preman, dikejar angsa dan anjing lalu melihat orang berak di kali lalu menginjak e'ek kuda. Bangs*t! Sialan!" ucap Sean kesal.


Mauren tertawa terguling-guling dilantai mengingat setiap kejadian tadi.


"Hey kau, Oren! Malah tertawa kau"


"Buahahahah... hahaha"


"Eh.... dimana pecelnya? Aku sudah sangat lapar," ucap Sean.


Mauren langsung berhenti tertawa, ia lupa jika pecelnya terjatuh saat berlari dikejar anjing tadi.


"APAAAAA?" teriak Sean.

__ADS_1


_______


Jangan pelit vote komen like nya gaes.


__ADS_2