
"Masukkan oppa! Masukkan! Kurang oppa! Dikit lagi oppa! Nah.. Nah.. Aaaaaaaaaah," ucap Mauren sedikit kesal dan geram.
"Aaaaaaarggggghhh," teriak Sean.
Mauren terkejut lalu memegangi benda panjang itu, ia memasukan kedalam mulutnya. Diisapnya seperti sebuah permen.
Sean hanya mengernyitkan dahi, ia menatapnya tanpa berkedip, tersadar dilihat oleh sang suami Mauren hanya tersenyum dan menggarukkan kepala. Sean menatapnya heran kenapa ia bisa suka dengan gadis sangat aneh dan lugu ini.
"Memasukan benang ke jarum bisa heboh sekali kau! Lihat tanganku tertusuk jarum!" ucap Sean sambil melihat Mauren yang tengah mengisap jari telunjuknya.
Sean menarik jari telunjuknya dan melihat apakah lukanya parah, ia segera menelpon dokter Juna tetapi dokter itu malah memakinya, ia hari ini cukup sibuk dan tidak mau mengurusi orang yang terluka karena tertusuk jarum. Mauren melihat Sean yang berlebihan segera mengambil plester dan memplester jari telunjuk sang suami yang tidak nampak terluka.
Pria itu menatap lekat wajah Mauren dan memberikan kecupan sekilas dibibirnya.
Gadis itu memalingkan wajah dan segera mengambil celana yang pernah dirobeknya saat tidak menemukan kunci gembok. Dia ingin menjahit kancing celana itu tetapi ia tidak bisa memasukan benang ke jarum lalu meminta bantuan Sean.
"Pakailah celana yang lain beg*! Buang saja celana itu!" pinta Sean.
"Oppa selalu bicara kasar kepadaku, Bisakah oppa tidak menggunakan kata-kata sialan, beg*, brengs*k dan sebagainya untuk mengataiku? Bahkan orang tuaku saja tidak pernah berkata seperti itu kepadaku! Oppa menganggapku apa? Aku ini istri oppa," ucap Mauren sambil menangis sesegukan.
Sean yang telah berdiri dari ranjang menatap Mauren dengan kasian, ia mendekati gadis itu lalu duduk disebelahnya. Sean menghela nafas dan meminta maaf kepada Mauren, ia berjanji tidak akan mengumpat kasar kepada sang istri. Sean juga berjanji akan memberikan uang 100 ribu jika ia mengatakan umpatan kasar kepada Mauren dan gadis itu menyetujuinya.
Aku harus mengerem mulutku supaya tidak mengumpat kasar lagi ke Mauren jika tidak melayanglah uangku setiap perkata umpatan kasar yang terlontar. Batin Sean.
Ayo oppa bicaralah kasar kepadaku supaya aku bisa panen uang setiap hari. Batin Mauren.
20 menit kemudian
"Sialan kau! Lama sekali mandimu" \= Rp. 100 ribu
5 menit kemudian
"Pakai baju ini saja kau bodoh!" \= Rp. 100 ribu
10 menit kemudian
"Brengs*k! Cepatlah kau!" \= Rp. 100 ribu
5 menit kemudian
"Sialan! Cari mati kau? Lama sekali" \= Rp. 100 ribu
__ADS_1
Saat di mobil.
Mauren dengan bangganya mengipaskan uang yang didapatnya dari Sean setiap umpatan yang terlontar. Sedangkan Sean menyetir mobil sambil menutup mulut dengan satu tangannya, ia tidak ingin mengeluarkan uang dengan percuma.
Dia juga terlihat menepuk mulutnya dan mengumpati dirinya sendiri didalam hati.
Sean melirik Mauren yang sedang mengejek dirinya, ia menatap sinis.
"Huaaachooooo," Mauren yang bersin dan air liurnya menyiprat mobil Sean yang mahal itu.
"Sia....," ucap Sean seketika menghentikan ucapannya.
"Apa sayang?"
"Tidak apa-apa sayang, bersinmu berirama sekali," jawab Sean sambil tersenyum kesal.
Jika disini ada Asisten Kim, aku ingin mengajaknya tertawa bersama melihat tuannya ku kerjai habis-habisan. Batin Mauren
Awas kau Mauren. Habislah kau nanti malam. Batin Sean.
Kali ini Sean menyetir mobilnya sendiri karena Mauren mengajaknya ke tower milik Young Group yang berada di pusat kota.
Gadis itu ingin sekali makan siang disana, makan siang di lantai 404, lantai tertinggi di gedung itu. Hanya orang-orang konglomerat yang bisa makan di lantai paling fenomenal itu karena untuk masuk perorangnya dikenakan tarif yang sangat fantastis bahkan makanannya pun berharga ratusan juta sampai lebih.
Gedung itu sudah berganti nama beberapa kali hingga sekarang bernama Tower of YG.
Didalam gedung itu terdapat hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, arena bermain anak dan masih banyak lagi.
Hanya orang-orang konglomeratlah yang beruntung masuk ke gedung tower itu dan termasuk Mauren yang bisa masuk secara gratis bersama sang pemilik perusahaan Young Group yaitu Arsean William.
Setelah sampai didepan gedung pencakar langit itu, mereka segera turun dan disambut dengan karpet merah, terlihat pengurus gedung itu dan beberapa bodyguard menunduk ketika mereka lewat.
Mauren mengenakan dress panjang sampai menutupi kaki tak lupa ia mengenakan masker, kacamata dan topi untuk menutupi wajahnya. Sedangkan Sean hanya memakai pakaian biasa ditambah jaket biru dongker.
Mereka diarahkan menuju lift VIP untuk petinggi Young Group, lift itu langsung menuju ke lantai 404 yang paling fenomenal.
Lantai itu telah dikosongkan supaya Sean dan gadis rahasianya bisa makan siang dengan leluasa tanpa gangguan dari orang lain. Bahkan CCTV lantai itu telah dimatikan.
Rasanya seperti cinderella yang mendapatkan pangeran tampan nan kaya raya.
Mereka duduk di meja favorit dekat jendela yang terlihat langsung awan putih bergerombol, samar-samar terlihat suasana ibukota yang nampak sangat kecil dari atas.
__ADS_1
"Oppa sebelumnya pernah makan disini?" tanya Mauren.
"Tidak sering. Aku tidak terlalu suka ketinggian"
Tidak suka ketinggian? Apartemen milik oppa juga sangat tinggi apalagi jika berenang disana, membayangkannya saja aku sudah merinding.
Beberapa menit kemudian makanan lezat sudah tersaji di meja, makanan yang bisa menggetarkan lidah bagi setiap yang merasakannya. Makanan yang nampak eksotis dan sayang sekali jika harus dimakan.
"Lepaskanlah maskermu! Mereka tidak akan masuk kecuali aku yang menyuruhnya"
Mauren menganggukan kepala, ia melepas masker, topi, dan kacamata yang sedari tadi tertempel dikepalanya.
Dia makan dengan hati-hati, ia tidak mau menyianyiakan makanan lezat itu. Tetapi ia teringat dengan kedua orang tuanya, apakah mereka bisa makan seenak ini bersamanya?
"Ada apa?" tanya Sean.
"Tidak apa-apa"
Mereka melanjutkan makan sampai habis dan terakhir makanan penutup yang membuat Mauren ternganga.
Es krim super mahal dibaluri dengan lapisan emas yang bisa dimakan, Mauren menelan ludah seolah sayang sekali jika dimakan.
Dengan cepat Sean menyuapinya.
"Cepat habiskan!" ucap Sean sambil menyuapi Mauren.
"Aku orang miskin," ucap Mauren seolah minder dengan Sean sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Tak terasa air mata menetes membasahi pipinya, ia sangat tidak percaya diri dengan dirinya bisa bersanding dengan orang terkaya dinegeri itu. Sedangkan ia hanya karyawan biasa yang berorang tuakan pedagang sayur dipasar.
Sean menggenggam erat tangan Mauren, itulah alasannya setelah menikah memilih tinggal di rumah sederhananya daripada apartemen bahkan di gedung pencakar langit ini. Karena rumah sederhananya telah ketahuan oleh sang kakek pada akhirnya Sean memutuskan tinggal di apartemennya untuk sementara waktu.
Sean tidak ingin sang istri merasa berkecil hati dan menganggap dirinya sendiri rendah.
"Sekarang kau orang kaya karena telah menikah denganku," ucap Sean menghibur Mauren.
Mauren menggelengkan kepala dan malah menangis sesegukan, Sean dengan cepat mengajak Mauren berdiri dan mencium bibirnya dengan lembut, lidah mereka saling beradu menyesapi satu sama lain di lantai teratas gedung nomor 1 itu, dengan pemandangan awan putih dan burung-burung berterbangan seolah mendukung mereka beradu kasih.
_______________________
Mohon dukungannya dengan like, komen, rate5 dan vote pada novel ini supaya author bisa tambah semangat...
__ADS_1
terima kasih
love you readersku :)