
Sebuah motor Ninja biru terparkir di depan gedung Young Group. Pria itu langsung turun dari motornya dan melepas helmnya. Dia juga nampak menata rambut pirangnya sambil berjalan menuju dalam gedung itu.
Para pegawai perempuan nampak asyik menatap ketampanan pria itu.
Dia masuk kedalam lift dengan penuh karisma.
Setelah sampai di lantai yang akan ia tuju, ia langsung masuk keruangan presdir tetapi saat masuk di ruangan Asisten Kim ia di cegah untuk masuk.
"Untuk apa anda datang kesini Arkan?" tanya Asisten Kim.
"Ooooh... Kim? Kau masih menjadi kacungnya Arsean? Haha... miris sekali"
"Anda lebih baik pergi karena saat ini Tuan Sean suasana hatinya tidak baik"
Pria itu tidak mendengarkan ucapan Asisten Kim, ia langsung masuk ke ruangan Sean. Asisten Kim mengikutinya dari belakang, ia langsung menarik bahu Arkan tetapi Arkan menepisnya dan saat itu Sean melihat Arkan, ia terkejut melihat pria itu menunjukan batang hidungnya lagi di depannya.
"Hai Abang Arsean. Lama tidak berjumpa"
Sean berdiri sambil menggebrak meja, ia menatap tajam kearah Arkan.
"Uiiii... jangan begitu, Bang! Harusnya kau senang karena bertemu adikmu"
"Sialan kau! Aku tidak punya adik. Untuk apa kau datang kesini lagi?"
"Hahaha... walaupun kita berbeda Ibu tetapi kita satu Ayah. Kita masih bersaudara Bang," jawab Arkan santai sambil duduk di sofa dengan kaki yang diangkat keatas meja.
Sean mendelik melihat orang yang ia sangat benci tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia lalu menyuruh sang asisten untuk menyeret Arkan untuk keluar dari ruangannya.
Arkan diseret paksa oleh Asisten Kim menuju keluar. Setelah sampai diluar ruangan Arkan memberontak lalu menatap kesal Asisten Kim.
"Tidak usah menyeretku aku akan pergi sendiri," ucap Arkan sambil membetulkan kerah jaketnya.
Arkan lalu berjalan meninggalkan Asisten Kim menuju lift.
Lift itu hampir tertutup dengan cepat tangannya memegang pinggir pintu lift itu membuatnya terbuka lagi.
Dia terkejut saat melihat gadis yang membuat motornya rusak berada di dalam lift.
"Kau yang tadi?" tanya gadis itu yang ternyata Mauren.
"Uuuuh... jodoh memang selalu bertemu ya?" ucap Arkan sambil masuk ke dalam lift lalu menekan tombolnya.
"Mana KTP ku?"
"Semua itu tidak gratis baby, temui aku di Cafe Deluxe!" jawab Arkan sambil tersenyum.
Seketika itu Mauren memukul wajah Arkan, ia tidak suka digoda oleh pria tetapi pukulannya malah mengenai hidung mancung Arkan membuat pria itu merintih kesakitan sambil memegang hidungnya.
"Aaaaarggh... Tega sekali kau memukulku. Tanggung jawab kau! Kau sudah merusak motorku dan kini malah memukulku," ucap Arkan yang berpura-pura kesakitan.
"Makanya jadi pria jangan kegatelan!" bentak Mauren.
Arkan langsung menatap tajam Mauren, ia mendekati gadis itu dengan perlahan.
Mauren yang ketakutan hanya bisa mundur sampai tubuhnya terpentok dinding lift. Dia tidak bisa melarikan diri, dia memalingkan wajah ketika Arkan mendekati wajahnya.
Arkan menunjukan tangannya di depan Mauren membuat gadis itu berpikiran macam-macam jika Arkan akan memukulnya, Mauren sudah menutup matanya dan berharap lift segera terbuka.
Tetapi sesuatu menempel di kening Mauren, ia membuka mata melihat jari jempol Arkan menempel di keningnya.
Arkan tersenyum memandang wajah Mauren yang sudah merah padam.
__ADS_1
"Sudah kutandai jika kau milikku," ucap Arkan sambil menekan jempolnya dengan kuat di kening Mauren.
Ting...
Terdengar pintu lift terbuka, Mauren langsung menendang kaki Arkan dan seketika ia lari untuk kabur dari pria aneh itu.
Arkan melirih kesakitan sambil memegangi kakinya, ia menatap kesal kearah Mauren.
Awas kau! Kau sudah merusakan motorku, memukul wajahku, menendang kakiku dan kini malah membuat aku tertarik denganmu. Batin Arkan.
...Visual : Arsekan Leonardo (Arkan)...
...22 tahun....
Diruangan Sean.
"Anak kampret itu kenapa bisa datang kesini, Kim? tanya Sean masih kesal.
"Dia tidak menjelaskan kedatangannya, Tuan"
"Sialan! Untuk apa dia kemari? Awas saja dia berani datang kesini lagi akan ku patahkan kakinya"
Sean lalu mengibaskan tangannya kearah Asisten Kim untuk menyuruhnya keluar dari ruangannya.
Kepala Sean berdenyut, ia menyandarkan kepalanya di kursi termahalnya.
Anak sialan! Sejak kapan aku punya adik? Huh! Membuatku kesal saja.
Sean lalu menelpon Asisten Kim menggunakan telpon di mejanya, ia menyuruh untuk Mauren untuk datang ke ruangannya.
Mauren menundukan kepalanya sedangkan Sean menatapnya dengan penasaran.
"Oren?"
"Iya, Tuan"
"Kau tau kesalahanmu?"
"Tidak, Tuan"
"Kenapa mobil bagian belakang bisa penyok?"
Mauren terdiam, ia sedang menyusun kalimat supaya Sean tidak marah kepadanya. Tetapi ia sangat gugup hingga membuat dirinya tidak sanggup berbicara.
"Aku sudah bilang berulang kali kepadamu, kau tidak boleh menyetir mobil sendiri. Untung yang penyok mobilnya jika muka kau yang penyok bagaimana?" tanya Sean yang masih terduduk di kursi direktur termahalnya.
Mauren tersenyum malu, ia hanya menggoyangkan kakinya yang berdiri sambil tangannya memainkan jemarinya.
"Kenapa? Kebelet berak kau?" tanya Sean heran.
"Tidak, Tuan"
"Pergi sana!"
Mauren langsung keluar dari ruangan Sean. Setelah ia masuk di ruangan Asisten Kim, ia melihat Sera duduk diam sambil memperhatikan Asisten Kim yang tengah bekerja.
"Sera, ayo ikut aku ketimbang melamun begitu!" ucap Mauren.
"Asisten Kim, bolehkah aku ikut Kak Mauren?" tanya Sera.
__ADS_1
"Silahkan, Nona"
Sera tersenyum lalu ia ikut bersama Mauren. Mauren mengajaknya ke ruang fotocopy. Disana mereka terduduk di sebuah bangku, mereka saling curhat layaknya perempuan pada umumnya jika saling bertemu.
"Kak Mauren, aku meminta maaf karena aku dan Zara telah ember memberitahukan kepada Mamaku jika Kak Sean sudah menikah denganmu. Jika itu tidak terjadi pasti kini Kak Mauren tidak akan keguguran," ucap Zara sedih.
"Sudahlah Sera, aku tidak mau memikirkannya lagi. Itu juga bukan kesalahanmu"
Sera memeluk Mauren dari samping, ia tidak menyangka jika Mauren berhati baik. Sedari dulu ia ingin mempunyai kakak perempuan tetapi malah yang ia miliki kakak sepupu laki-laki menyebalkan dan saudari kembar yang selalu mengajaknya bertengkar.
"Semoga Kak Mauren setelah ini bisa hamil lagi"
"Semoga saja, Sera"
...****************...
"Nih, benerin motorku! Habis nabrak nih," pinta Arkan kepada montirnya.
Arkan mempunyai bengkel motor yang ia rintis dari nol dan kini mempunyai karyawan 10 orang. Dia harus berjuang sendirian ketika sang ibu telah meninggal. Semua penderitaan ia pernah lalui dari yang ia harus tidur dijalanan sampai ia tidak punya uang sama sekali.
Tetapi sang penguasa memberi jalan, ia menjual sepetak sawah milik Papanya dan ia mendirikan bengkel kecil-kecilan.
Dan kini bengkel tersebut sudah berkembang menjadi besar lalu ia juga berencana akan membuka cabang.
Setidaknya aku sudah melihatmu, Bang.
Walau kau mengusirku. Kapan kau akan menganggap aku adikmu?
Arkan teringat akan KTP gadis yang dijumpainya tadi, ia segera mengambil KTP itu di dalam dompetnya.
Ini nama apa rel kereta api? Panjang banget. Hahaha... biar ku tebak pasti nama panggilannya Mauren.
Dia lebih muda 3 tahun dariku, di KTP juga ia masih lajang.
Cantik banget.
Malam hari tiba.
Mauren menyelinap keluar dari kantor dengan hati-hati. Dia tidak mau ketahuan Sean jika ia akan bertemu dengan pria yang padahal ia sangat tidak ingin menemuinya tetapi karena KTPnya berada di pria itu membuat ia terpaksa menemuinya.
Dia menyuruh Pak Zainal mengambil mobilnya tanpa sepengetahuan Sean dan Mauren memilih naik taksi menuju Cafe.
Sesampainya di Cafe, Mauren langsung menghampiri Arkan yang sudah terduduk di meja. Dia sangat tampan dengan setelah jeans membalut tubuhnya. Rambutnya yang pirang dan sangat tampan membuat banyak mata memandangnya.
"Sudah datang?" tanya Arkan.
"Mana KTP ku?"
"Ayo makan dulu setelah itu aku akan mengembalikan KTPmu!"
"Tidak bisa. Suamiku pasti mencariku"
Arkan mengernyitkan kening menatap Mauren, ia langsung tertawa membuat Mauren kebingungan.
"Hahahaha... sudah basi beralasan seperti itu untuk menolak makan denganku"
"Apanya yang lucu? Aku memang sudah bersuami"
"Hahaha... mana cincin pernikahanmu? Jari manismu masih kosong saja tuh, lalu di KTP mu juga tertulis belum kawin"
Sial! Aku memang belum sempat memperbaharui KTPku dan cincin pernikahanku aku simpan dirumah.
__ADS_1