Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 144 : Touring 6 ( Tersesat )


__ADS_3

Sore pukul 4 mereka memutuskan untuk pulang ke kota mereka. Setelah makan mereka melajukan motor mereka dengan penuh stamina dan konsentrasi tinggi.


Mauren terlihat menyandarkan kepalanya di punggung Sean sambil berpegangan erat pada sang suami.


Dari jalanan rusak sampai bertemu jalanan aspal mereka lewati dan kini mereka mulai memasuki kawasan hutan. Sore ini nampak sepi dan matahari terlihat sudah berada di ufuk barat untuk tenggelam dan berganti malam.


Mereka melajukan motor dengan hati-hati karena walaupun jalanan di tengah hutan itu mulus tetapi berkelok dan curam.


Sean dan Asisten Kim berada paling belakang dari rombongannya karena mereka melajukan dengan pelan mengingat Mauren mengeluh sakit kepala.


Sambil melajukan motor ia sesering mungkin mengajak mengobrol Mauren supaya sang istri tidak pada pingsan di tengah jalan sampai Sean tidak sadar jika ia tertinggal jauh dari rombongannya.


Sean lalu menghentikan motornya dan bingung harus mengambil jalan ke kanan atau ke kiri.


"Kim? Kita harus kemana, Kim?" tanya Sean sambil menghentikan motornya.


"Saya tidak tau, Tuan," jawab Asisten Kim.


"Seingatku tadi kita berangkat lewat jalur kanan," ucap Dokter Juna.


"Awas jika kau salah, Juna!" ucap Sean.


Mereka lalu mengambil jalur kanan sesuai ucapan Dokter Juna. Mereka melewati jalanan hutan semakin dalam dan terasa panjang membuat Sean tidak yakin dengan jalan itu.


Dia lalu menghentikan motornya.


"Kenapa jalannya semakin panjang dan tidak berujung, Kim?" tanya Sean.


"Saya tidak tau, Tuan"


"Yasudah kita kembali saja di pertigaan tadi," ucap Sean.


Mereka lalu kembali di jalan cabang tadi tetapi nihil, mereka malah menemukan jalan tidak berujung membuat mereka tambah kebingungan.


"Mana jalannya? Kita sudah setengah jam berada disini?" tanya Sean mulai jengkel.


"Biar saya telpon Valto, Tuan"


Asisten Kim mengambil ponselnya lalu mencoba menelpon Valto tetapi sialnya tidak ada sinyal membuat mereka semakin kebingungan.


"Coba kau hubungi satelit, Kim!"


"Maaf, Tuan. Tidak ada sinyal untuk menelpon"


"Sudah Sean kita ikuti jalan ini saja dulu," ucap Dokter Juna.


Mereka lalu mengikuti jalan itu sampai benar-benar tidak berujung padahal sudah satu jam mereka berputar di tempat yang sama yaitu jalan pertigaan saat mereka kebingungan memilih jalan.


Mereka lalu menghentikan motornya untuk beristirahat dan berpikir secara logis tentang kejadian yang mereka alami.


Waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore dan matahari sudah tenggelam membuat suasana menjadi gelap. Hanya lampu motor yang menjadi pencahayaan mereka.


Mereka lalu terduduk di pinggir jalan karena panik dengan keadaan Mauren yang semakin merintih.


Sean memangku Mauren lalu memijat kepala gadis itu.


"Kau lakukan sesuatu, Juna! Kau seorang dokter harusnya tau pertolongan pertama untuk istriku," ucap Sean.


"Bagaimana mau menolong? Aku menyentuh istrimu saja tidak boleh"


"Pakai telepati bodoh, tidak berguna kau," umpat Sean.


Dokter Juna berdecih, ia mengambil obat ditasnya lalu memberikan kepada Mauren.


"Itu obat apa?" tanya Sean.

__ADS_1


"Ini paracetamol. Cepat minum Mauren!" ucap Dokter Juna.


"Istriku sakit kepala bukan demam"


"Sialan kau, Sean. Ini juga untuk meringankan sakit kepala," ucap Dokter Juna mulai kesal.


Sean mengambil obat itu lalu memberikannya kepada Mauren. Dia membantu Mauren untuk minum dan setelah itu mengelus kepala Mauren.


Sedangkan Asisten Kim sedari tadi mencari sinyal tetapi tetap tidak ada.


Mereka kini duduk terdiam tanpa suara karena hari semakin gelap dan sunyi membuat mereka semakin khawatir karena tidak bisa pulang.


"Ini salahmu Juna. Aku sudah berpikir ambil jalur kiri malah kau menyuruh jalur kanan," ucap Sean.


"Terus kenapa kau tidak jadi ambil jalur kiri?"


"Itu karena mulutmu yang sok tau," jawab Sean.


"Sudah jangan bertengkar! Kasihan Nona Mauren," ucap Asisten Kim menengahi mereka.


Mereka langsung terdiam sambil menyandarkan kepala di batang pohon pinus. Rasa khawatir dan takut menjadi satu jika memang mereka tersesat di tengah hutan tanpa makanan. Apalagi mereka mulai merasa haus karena mengoceh sedari tadi.


"Baru ikut touring sekali sudah kena sial," ucap Dokter Juna.


"Itu kau yang bikin sial. Dirumah saja kau main dokter-dokteran sama kucing sialan itu," jawab Sean.


"Hahaha... berbicara tentang kucing aku jadi teringat saat Mauren meminta bantuanku untuk memeriksa kucing imutmu itu," ucap Dokter Juna.


"Cih... itu bukan kucingku"


"Haha jangan begitu, Sean! Hahaha"


Flashback on saat kucing oren sedang sakit.


Saat itu kucing milik Mauren muntah-muntah. Mauren sangat panik sampai menelpon Dokter Juna dan berkata jika Sean sedang sakit supaya Dokter Juna mau datang.


Setengah jam kemudian Dokter Juna datang. Dia membawa alat dokternya lalu masuk ke apartemen Sean.


"Dimana Sean? Sakit apa dia?" tanya Dokter Juna.


"Sini dok! Oppa sedang tidur jangan di ganggu! Cepat periksa cimol! Dia muntah-muntah," jawab Mauren panik.


"Siapa cimol?"


Mauren menunjukan kucingnya yang lemas tidak berdaya di lantai.


"Kau menyuruhku untuk memeriksa kucing itu? Yang benar saja, Mauren! Aku dokter orang bukan dokter hewan"


"Cepat dokter ini sangat darurat! Aku akan membayarmu banyak," rengek Mauren.


Karena suara mereka, Sean terbangun lalu melihat Juna yang sedang berdebat dengan Mauren. Dia mengusap wajahnya dan melihat langit sudah mulai petang.


Sean berdiri dari ranjang lalu melihat cairan menjijikan yang sudah menodai lantainya.


"Ada apa ini?" tanya Sean.


"Istrimu aneh sekali. Aku disuruh memeriksa kucing orennya yang sakit"


"Jadi yang di lantai ini?" tanya Sean syok.


"Maaf Oppa, nanti aku bersihkan," ucap Mauren.


Sean mengusap wajahnya, sudah berulang kali kucing sial itu menodai kamarnya yang mewah.


"Ku mohon dokter Juna periksalah cimolku. Aku takut dia mati," rengek Mauren hampir menangis.

__ADS_1


"Cepat periksa saja, Juna! Aku takut kucing ini terkena rabies," ucap Sean.


"Kalian memang sinting. Sudah kubilang jika aku bukan dokter hewan"


Sean melotot kearah Dokter Juna, pria itu berdecak lalu memeriksa kucing itu sebisanya. Dia mengambil alat stetoskop lalu memeriksa dada kucing itu, denyut jantungnya terlihat normal.


Dia lalu memeriksa perut kucing itu lalu mengerutkan kening dan setelah itu ia berdiri menghadap mereka berdua.


"Cimol sakit apa dokter?" tanya Mauren.


"Selamat, kucingmu hamil, Mauren"


Mauren terdiam, ia sangat terkejut.


"Sialan. Sekalinya aku mendapat berita kehamilan malah kehamilan kucing sialan ini," umpat Sean kesal.


Dokter Juna menepuk bahu Sean. "Selamat Sean, kau akan menjadi ayah dan kira-kira kucing ini hamil kembar. Setidaknya ini berita yang luar biasa untukmu," ucap Dokter Juna.


Mauren menggaruk kepalanya seolah masih kebingungan.


"Uhhhh aku terharu, Juna. Apakah aku harus mengumumkannya di speaker masjid pusat kota?" tanya Sean.


"Tidak usah Sean. Kau bikin pesta saja atas kehamilan kucingmu"


Mauren memperhatikan kucingnya dengan seksama. Dia masih bingung tentang kehamilan kucingnya.


"Kucingku laki-laki dokter," ucap Mauren.


"Jiaaaah... kata siapa laki-laki? Dia perempuan," ucap Sean.


"Kau sudah bertahun-tahun bersama kucingmu tetapi kau tidak tahu jika ia perempuan?" tanya Dokter Juna.


"T--Tapi kucingku memang laki-laki," jawab Mauren masih bingung.


Sean lalu menyuruh Dokter Juna untuk memeriksa kelamin sang kucing itu tetapi Dokter Juna menolak.


"Periksa saja Juna!"


"Sinting kau, Sean! Kau saja yang memeriksanya," ucap Dokter Juna sambil mendorong Sean.


"Tapi tunggu dulu! Siapa yang menghamili kucingku?" tanya Mauren.


Sean dan Dokter Juna saling berpandangan. Mereka menuduh satu sama lain.


"Pikiranmu selalu mesum Juna. Ku rasa memang kau yang sudah menghamili kucing sial itu," ucap Sean menuduh Dokter Juna.


"Bukannya dirimu yang selalu tegang dan ingin melampiaskannya tetapi kau malah melampiaskannya kepada kucing oren itu," ucap Dokter Juna menuduh Sean.


Mereka saling melotot lalu secara bersamaan mereka teringat temannya yaitu KIM.


"Pasti ini ulah Kim, dia yang menghamili kucing ini," ucap Dokter Juna.


"Pastinya... pria pendiam seperti dia malah berbahaya," jawab Sean.


Flashback off...


Mereka tertawa terbahak-banyak mengingat kejadian itu sampai menuduh Kim yang menghamili kucing Mauren.


"Anda berdua memang aneh," ucap Asisten Kim kesal mengingat kejadian itu apalagi ia disuruh melihat kelamin sang kucing.


Sean dan Dokter Juna semakin tertawa keras melihat Asisten Kim marah saat itu. Dia di tuduh menghamili kucing jantan yang sering ia jaga.


"Hahaha... kau juga beg*. Disuruh melihat kelaminnya juga mau," ucap Dokter Juna.


"Saya hanya membela diri saya," jawab Asisten Kim sambil cemberut.

__ADS_1


"Huh... kalian berisik sekali," ucap Mauren yang terbangun dari tidurnya.


__ADS_2