
"Aku mencintaimu Kak Fai"
Asisten Kim terdiam lalu melamun, ia menghela nafas lalu tersenyum kepada gadis cantik itu. Gadis yang di kenalnya sudah 5 tahun ini dan gadis itu cepat-cepat menyuruh pria 25 tahun itu segera menikahinya.
"Jia. Aku...."
"Hahaha... jangan dianggap serius Kak Fai! Kau tau 'kan sebentar lagi aku akan menikah?"
Asisten Kim tersenyum, ia tahu jika Jia adalah gadis yang baik dan tidak pernah memaksakan kehendak seperti Alana yang memaksa Sean untuk segera menikahinya.
Jia memang pernah sakit hati dengan Asisten Kim karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Tetapi dia sudah menerima fakta jika Asisten Kim tidak menyukainya dan hanya menganggap Jia sebagai adik.
"Terima kasih Kak Fai. Aku sangat menyukai kalungnya"
"Sama-sama Jia"
Beberapa menit kemudian. Makanan yang mereka pesan datang dan mereka segera melahapnya. Jia nampak merindukan makanan Indonesia, dia sangat menikmati makanannya.
Kedatangan Jia kali ini hanya untuk datang ke pesta ulang tahun Alana. Mereka sudah kenal cukup lama dan bahkan Alana dulu adalah kakak kelas Jia.
"Besok ulang tahun Kak Alana. Aku sudah membelikan hadiah istimewa untuknya. Lama tidak bertemu dengannya, aku sangat merindukannya," ucap Jia sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Benarkah? Pasti dia juga merindukanmu"
"Eh tunggu dulu! Bagaimana kabar gadis yang dulu Kak Fai suka?"
**
Alana asyik mencoba gaun yang akan di pakai di pesta ulang tahunnya. Dia terlihat cantik dan sangat anggun. Dia tidak bisa membayangkan sebentar lagi akan bertunangan dengan Sean.
Sean. Sebentar lagi aku akan memilikimu. Aku mencintaimu Sean.
Alana memandangi tubuhnya di cermin besar, dia melenggak-lenggok mengenakan gaun putih itu sampai tersadar jika sang Papa memperhatikannya.
"Ehem... Putri Papa sepertinya tidak sabar dengan pesta ulang tahunnya besok"
"Ah! Sejak kapan Papa berada disitu? tanya Alana malu.
Sang Papa memeluk Alana, ia tidak menyangka putri kecilnya kini sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah.
Alana tersenyum dan membalas pelukan sang Papa dengan hangat.
Tiba-tiba ponsel milik Alana berdering, ia melepas pelukannya dan segera mengangkat telpon itu.
"Benarkah Jia? Kenapa kau tidak menelpon dari tadi, aku bisa menjemputmu di bandara," ucap Alana. "Ah ya sudah jika begitu, selamat bertemu di pesta ulang tahunku besok malam," sambung Alana sambil menutup telponnya.
"Siapa?"
"Adik kelasku dulu, Pah"
Sang Papa tersenyum sambil mengusap rambut Alana. Dia bersyukur masih memiliki Alana yang selalu menemani kehidupannya semenjak istrinya meninggal.
Alana kini tumbuh besar menjadi seorang gadis yang cantik dan Papa sangat menyayangi Alana bahkan ia tidak diperbolehkan bekerja oleh sang Papa.
Papa menjamin kehidupan Alana supaya tidak menderita seperti kehidupannya dulu, sebelum mengenal kakek Askar, mereka dulu sangat miskin. Bahkan Papa Alana dulu pernah bekerja sebagai cleaning service di kantor Young Group yang saat itu Kakek Askar masih menjabat sebagai presdir.
Kakek Askar melihat ketekunan dan kejujuran Papa Alana mencoba memodali dengan membukakan sebuah toko kelontong.
Papa Alana sangat senang, ia berterima kasih dengan Kakek Askar. Dia mulai merintis pelan-pelan hingga kini ia bisa membuka supermarket di berbagai kota dengan bantuan Kakek Askar.
Dan saat itulah Kakek Askar mengenalkan Sean ke Alana saat mereka masih kecil dan sampai kini masih berteman. Seolah-olah kehidupan Sean sudah diatur sedemikian rupa oleh sang kakek.
Tugasku kali ini hanya menikahkan Alana dengan Sean. Setelah itu aku tidak punya hutang budi lagi dengan Tuan Askar.
Aku juga sudah mengembalikan modal yang pernah Tuan Akar beri kepadaku. Aku sudah tidak punya hutang lagi kepadanya.
________________________________________
Setelah selesai bercinta di kamar rahasia, Sean mengusap pipi Mauren yang lembut.
Dia tersenyum melihat wajah Mauren yang kelelahan akibat pertarungan sengit itu.
"Kau selalu kalah Mauren. Lihatlah wajah kekalahanmu saat imut!"
"Oppa kuat sekali. Jangan-jangan Oppa meminum obat kuat?"
__ADS_1
"Kau mengejekku? Huh! Ularku ini sangat hebat bahkan masih kuat untuk 5 ronde lagi"
Dasar hipersex. Batin Mauren.
Mereka segera memakai pakaian dan segera keluar dari kamar rahasia itu. Entah kenapa tubuh Sean masih nampak bugar setelah melakukan dua ronde sedangkan Mauren sangat lemas dan tidak bertenaga.
Gadis itu dengan langkah lemas meninggalkan ruangan Sean dan saat itulah Asisten Kim masuk.
Ketika Asisten Kim masuk, ia melihat sang tuan sedang berkirim pesan dengan seseorang. Asisten Kim menunggu dengan sabar.
"Eh?" ucap Sean kebingungan sambil menatap ponselnya.
"Ada apa, Tuan?"
"Jiaaaah... buahahaha bangs*t hahaha"
Asisten Kim kebingungan dengan sang tuan yang tertawa terbahak-bahak.
"Kau tau, Kim? Aku ingin membalas pesan dari kakekku 'Tau Kek' menjadi '*** kek', buahahaha. Aduh Kim perutku sakit. Lihat Kim, Kakek tua itu marah-marah. Buahahaha," ucap Sean tertawa sambil memegangi perutnya.
"Tuan. Bukankah itu tidak sopan? Tuan harus segera meminta maaf"
"Sialan kau malah mengajariku"
Asisten Kim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sean yang kekanakkan. Sean tidak berhenti ketawa padahal itu sama sekali tidak lucu.
Otak Tuan sebenarnya terbuat dari apa sih? Batin Asisten Kim.
Setelah berhenti tertawa, Sean memandang Asisten Kim yang berdiri di sampingnya.
Dengan sigap Asisten Kim melaporkan tentang meeting yang dibicarakan tadi pagi bersama direksi Stars Group. Sean tidak bisa datang dan menyuruh sang Asisten untuk menghadari meeting tersebut.
Sama seperti biasanya Asisten Kim membacakan isi laporan tetapi tidak di gubris oleh Sean dan Sean malah asyik bermain game.
"Tuan?"
"Hm"
"Anda tampan sekali, Tuan"
"Anda juga sangat pandai, Tuan"
"Hm"
"Anda sangat menawan, Tuan"
"Benar"
"Tapi Tuan"
"Apa?"
"Emmmm..."
"Ngomong yang jelas Kau!" ucap Sean sambil memainkan game.
"Otak anda terbuat dari apa, Tuan? Sedari tadi saya melaporkan hal penting tetapi anda tidak menggubris dan malah sedang asyik bermain game dengan santainya sambil menginjak kaki saya sampai kesakitan. Saya punya kesabaran Tuan dan ini adalah batas kesabaran saya," ucap Asisten Kim kesal.
5 menit kemudian.
"Lari kau, Kim! Sialan kau! Cepat lari jangan letoy! Dasar lemah! Beraninya kau memarahiku. Setan iblis kau!" teriak Sean di teras gedung itu.
Sedangkan Asisten Kim berlari memutari di halaman gedung Young Group yang saat ini cuacanya cukup terik.
Pegawai lain menahan senyum akan tingkah sang bos besar dan asistennya.
Terlihat Asisten Kim sudah mulai terengah-engah lalu Sean sudah senang memberikan hukuman asisten yang lancang memarahinya.
Tetapi tiba-tiba dari belakang ada yang menjewer telinga Sean dengan keras. Sean berteriak kesakitan dan melirik jika yang menjewer telinganya adalah Kakek Askar.
"Cucu kurang ajar kau, Sean! Beraninya mengatai Kakek di pesan tadi. Apa maksudmu mengatai Kakek kotoran?" ucap Kakek sambil menarik telinga Sean dengan kuat.
"Aw.. aw.. aw.. aw.. ampun Kek. Aku salah ketik, Kek"
"Alasan saja Kau! Apa ya hukuman yang pas untukmu?"
__ADS_1
Asisten Kim terhenti dari larinya, ia menahan senyum ketika sang bos besar dijewer oleh kakeknya. Terlihat juga pegawai yang lewat juga ikut tersenyum.
"Suruh dia berlari dengan saya, Tuan Askar," ucap Asisten Kim yang secara langsung ingin balas dendam.
"Sialan kau, Kim"
"Ide bagus Kim. Cepat kau berlari memutar halaman 100 kali! Jika tidak mau akan ku blokir semua kartu kredit maupun debitmu," ucap Kakek Askar yang masih menjewer telinga Sean.
Mau tidak mau Sean menuruti perintah sang kakek yang menyuruhnya berlari di halaman dengan cuaca yang sangat terik. Di dalam hati Sean ia mengumpat ke Asisten Kim. Sedangkan di dalam hati Asisten Kim, ia sangat puas mengerjai sang tuan.
Mereka berlari beriringan dengan Kakek Askar yang masih memantau mereka.
"Hah.. hah.. hah.. awas kau, Kim. Setelah ini akan ku cincang ular kau," ucap Sean terengah-engah.
Asisten Kim tersenyum, ia tetap berlari walaupun sang tuan mulai mengoceh tidak jelas.
"Sialan! Bagaimana jika kulitku terbakar, Kim?"
"Brengs*k! Rambutku mulai berminyak, Kim"
"Aw... kaki ku mulai lecet, Kim"
"Lihat Kim! Ketiakku mulai basah, Kim"
"Kim! Kim! Aku mulai haus, Kim. Bagaimana jika aku mati kehausan, Kim?"
Ya Tuhan. Lebih baik saya lari sendiri daripada lari bersama Tuan Sean yang terus menerus mengoceh tidak jelas. Batin Asisten Kim.
__________________
Jangan lupa vote, like, Komen, rate5 biar author semangat ngetiknya.
jangan pelit vote dan Komen gaesss !!!!!
Besok berarti update sore ya gaess.
Fakta tentang karakter Sean yang cerewet :
Karakter Sean sedikit terinspirasi dari orang tercinta saya yang bawelnya setengah mati.
Tapi ya gak separah Sean sih.
contohnya :
"Marr, ganti pakaian mu. kenapa kau pakai baju macam tu?"
"Marr, cepat dikit napa. Lama kali dandannya"
"Marr, cepatlah kau lemot amat"
"Marr, kaki ku pegel nih lama kali kau"
"Cepat kau! Apa gak jadi pergi nih kita"
**
Dan setelah jadi pergi ke mall.
"Cepat cari apa kau?"
"Lama amat kau"
"Pilih mana yang ini atau itu? Gak usah beli sekalian jika kelamaan mikirnya"
"Marr. Kaki ku pegel marr"
"Aduh.. lama amat marr. Ayok pulang aja, marr"
"Marr.. aku laper.. marr. jika pingsan gimana marr?"
Setaaaaaaaaaaan.... Batin author.
**wkwkwk... agak alay ya.. tapi emang kadang ada lelaki sifatnya kek gitu. cerewet dan tidak sabaran. tapi itu yang membuat suka dan sifat itu menurutku unik.
kek sifatnya Sean unik banget**...
__ADS_1