Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 183 - Mual


__ADS_3

5 bulan kemudian,


Sera kini menerima hasil kelulusan, dia dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Dia kembali ceria seperti biasanya walaupun masih ada noda kesedihan di raut wajahnya.


Hari ini ia langsung menuju ke rumah ibu Ali. Dia mau menunjukan bahwa nilainya sangat bagus kepada orang yang dianggapnya ibu itu.


Setelah sampai rumah, dia langsung membuka pintu dan melihat ibu sedang menatap foto wisuda Ali dengan penuh sendu.


"Ibu?" ucap Sera.


Ibu menatap Sera lalu tersenyum sumringah. Beliau langsung memeluk Sera dengan erat. Ibu sudah menganggap Sera seperti anak sendiri dan Sera sering menginap di rumah itu untuk menemani Ibu.


"Ibu, aku lulus sekolah. Nilaiku bagus, bu," ucap Sera kegirangan.


"Benarkah? Ibu sangat senang mendengarnya," jawab Ibu.


Sedangkan Mama Sera tersenyum melihat mereka berpelukan. Rania memiliki hutang budi kepada keluarga Ali karena membuat Sera sembuh.


Ibu melepas pelukannya lalu memandang Rania. Rania memeluk Ibu dan menganggapnya seperti kakak sendiri.


"Mah, ibu, aku mau bikin minuman ya?" ucap Sera langsung berlari ke dapur.


Sera sudah menganggap seperti rumahnya sendiri. Dia lalu mengambil gelas dan membuka kulkas. Dia tersenyum ketika ada minyak goreng dan baygon di dalam kulkas.


"Ibu kebiasaan deh," gumam Sera sambil tersenyum.


Sera mengeluarkan benda itu dari kulkas dan mencari minuman tetapi tidak ada. Hanya ada sebotol air putih di dalamnya membuat Sera berlari menghampiri kedua wanita tercintanya.


"Mah, ibu. Kulkasnya kosong. Sera mau ke supermarket ya beli makanan?" ucap Sera.


"Sama siapa? Sopir sudah mama suruh pulang," tanya Mama.


"Sama kak Dewi," ucap Sera sambil berlari ke lantai 2.


Sera membuka kamar Dewi dan ternyata masih tidur. Sera membangunkannya.


"Kak Dewi, ayo ke supermarket naik motor! Ayo temenenin Sera! Aku gak bisa naik motor," ucap Sera sambil menggoyangkan tubuh Dewi.


Dewi menguap lalu melihat wajah Sera yang diimut-imutkan. Dia mendengus lalu berjalan menuju kamar mandi dengan keadaan masih mengantuk berat.


"Aku tunggu di kamarnya Om Ali ya?" ucap Sera sambil berjalan keluar dari kamar Dewi.


Sera memasuki kamar Ali, tidak ada yang berubah. Semua masih sama dan tertata rapi. Sera lalu berjalan mengambil salah satu buku milik Ali lalu membacanya sambil duduk di ranjang.


Sera masih ingat jelas ketika Ali selalu mengajaknya membaca buku dan teringat akan kata-kata bijak Ali.


Pria itu selain tampan juga sangat pandai.


Sera lalu merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memeluk buku itu. Air matanya tak terasa menetes. Dia sangat merindukan Ali.


"Aku kangen om Ali, aku pengen ketemu om Ali," ucap Sera sambil terisak.


Sera menutup matanya dan membuat air matanya tertahan di kelopak matanya. Dia sangat merindukan sosok Ali di kehidupannya.


"Om Ali, aku kangen"


Sampai ketika kepala Sera terasa disentuh oleh seseorang dan samar-samar terdengar suara yang sangat familiar di telinganya.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu, manis," ucap suara itu.


Sera langsung membuka mata dan mencari keberadaan sumber suara itu dan ia tercengang.


"Om Ali?"


CERITA SERA DAN ALI TAMAT SAMPAI DISINI.


...****************...


Hari ini adalah hari ulang tahun Seina.


Waktu begitu cepat berjalan dan tak terasa umur Seina sudah satu tahun.


Ulang tahun Seina di rayakan di ballroom gedung apartemennya.


Hanya keluarga besar yang di undang.


Sean tidak ingin mengundang banyak orang karena Seina takut pada keramaian.


Seina memakai rok mekar berwarna merah muda dan kalung yang bertuliskan namanya. Rambutnya sangat tebal dan sudah panjang sebahu.


Seina sudah pandai merangkak bahkan sudah belajar berjalan.


Para keluarga sudah berkumpul dan si tokoh utama datang yaitu Seina.


Dia digendong Sean tetapi selalu melorot karena Seina selalu saja ingin turun.


Hari ini Mauren terlihat sedikit pucat karena tidak enak badan. Dia tidak ingin merusak suasana dan terlihat seolah baik-baik saja.


Mereka menyanyikan lagu ulang tahun lalu setelah itu lagu potong kue.


Setelah menyanyikan semua lagu itu kini berdoa sesuai permohonan Sean dan Mauren untuk Seina.


"Sekarang potong kuenya," ucap Mauren.


Tangan Sean dan tangan Mauren memegangi tangan kecil Seina. Mereka bersama-sama memotong kue dan menaruhnya pada wadah kecil.


Semua orang bertepuk tangan kepada pasutri bahagia itu. Mereka berdua mencium pipi Seina dengan gemas.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Sean.


Setelah itu mereka mempersilahkan keluarga besar untuk makan makanan yang telah di persiapkan oleh chef handal. Para anggota sangat menikmati kebersamaan mereka termasuk Ibu Ali dan Dewi yang sudah dianggap keluarga oleh Sean.


Terlihat Zara beserta kedua anak kembarnya datang. Anak Zara kini sudah berusia 5 bulan.


Dokter Juna sangat menyayangi mereka apalagi dengan kehadiran si kembar yang membuat sempurna kehidupannya.


Sedangkan Sera sedari tadi menatap Asisten Kim, cintanya memang tidak terbalaskan. Tetapi ia tidak membenci pria itu yang selaku tak acuh kepadanya.


Sera membuang pandangannya lalu menatap layar ponselnya yang memiliki wallpaper foto Ali.


Andai saja Ali masih ada pasti Sera sangat bahagia.


Mauren terus saja merasa mual. Bahkan ia harus menuju ke kamar mandi untuk muntah. Badannya terasa remuk padahal ia hanya menjaga Seina saja.


Memang beberapa hari yang lalu ia kehujanan dan berpikir hanya masuk angin saja.

__ADS_1


2 jam kemudian.


Setelah pesta selesai, anggota keluarga berpamitan untuk pulang.


Mauren bernafas lega dan bisa langsung istirahat.


Mauren merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidak lupa memberi perutnya minyak kayu putih.


Sean yang sedang mengganti baju Seina hanya terheran dengan Mauren yang tidak seperti biasanya.


Hueeeeek.... hueeeeek...


Mauren mual lagi membuat Sean terkejut. Dia menelpon dokter Ana untuk datang ke apartemennya.


Sean membaringkan Seina di sofa lalu memijat leher Mauren.


"Masih mual?" tanya Sean.


Mauren menganggukan kepala. Kepalanya ikut pusing dan semakin mual.


Hueeeeeek...


Mauren berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset. Sean sambil menggendong Seina menepuk-nepuk punggung Mauren dengan sabar.


"Jangan-jangan kau hamil, oren?" ucap Sean.


"Mungkin saja, oppa"


Setelah itu Sean menggandeng Mauren untuk berbaring di ranjang. Sean membuatkan minuman hangat untuk sang istri tercinta.


"Seina biar denganku saja, oppa," ucap Mauren.


Sean meletakan Seina di sebelah Mauren.


"Sein, jangan bandel! Mama lagi sakit," ucap Sean memperingatkan Sean.


Seina tertawa lalu memasukan kedua jempol kaki di mulutnya.


"Jangan makan kaki, Sein!" ucap Sean sambil membenarkan kaki Seina.


Mauren tersenyum melihat tingkah mereka yang begitu menggemaskan.


Seina lalu terbangun dan merangkak ke arah Sean lalu berdiri seolah meminta gendong.


"Sein sama mama dulu, papa mau bikin teh buat mama," ucap Sean.


"Pa pa pa pa pa," oceh Seina.


"Sudah oppa, aku nanti bisa bikin teh sendiri. Seina ingin bermain sama papanya," ucap Mauren.


Sean menghela nafas lalu menggendong Seina. Seina semakin aktif dan membuat Sean kewalahan.


Sedangkan Mauren mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya sendiri.


Dia berbaring memeluk guling sambil merasakan perutnya yang kian mual.


__ADS_1


__ADS_2