
Sebuah mobil mewah berhenti dirumah yang terlihat sederhana, nampak seorang wanita setengah baya memperhatikan dengan seksama yang keluar dari mobil itu.
Matanya terbelalak ketika mengetahui jika putrinya yang keluar dari mobil bersama dua pria tampan.
Mauren dengan cepat memeluk sang ibu, ibu masih seperti sangat syok dengan kehadiran mereka yang menggunakan mobil mewah.
Sean dengan cepat mencium tangan sang ibu mertua dan tak lupa asisten Kim mengikutinya di belakang.
Ibu sangat terpana dengan penampilan Sean dan asistennya yang terlihat tampan dan keren.
"Emak!" ucap Mauren menepuk bahu sang ibu.
"Maaf, mari silahkan masuk"
Mereka masuk kedalam rumah dan duduk di sofa sedangkan Mauren membantu ibu membuatkan minuman di dapur.
Ibu sesekali melirik Mauren seolah ingin bertanya mobil siapa itu.
Tetapi seolah Mauren tau isi hati ibunya lalu menjelaskan siapa sebenarnya Sean.
Ibu sangat terkejut sampai memukul punggung Mauren.
"Sudah Emak bilang cari pasangan yang seperti kita, kamu juga bilang orang tua Sean belum mengetahui pernikahan kalian? Dasar anak bodoh!" ucap ibu seperti ingin menangis.
Tiba-tiba Bapak Mauren datang seolah ingin tahu apa yang terjadi dengan istrinya yang ingin menangis. Mauren hanya terdiam menunduk.
Ibu menjelaskan kepada bapak, bapak sontak terkejut.
Bapak segera menemui Sean, ia terlihat sangat marah.
"Pergi kau! Untuk apa kau datang kesini lagi? Aku tidak ingin melihatmu lagi! Keluargamu sudah membuat kami sengsara sekarang apa lagi rencanamu Tuan Sean? Kau ingin menghancurkan masa depan putriku?" ucap bapak sambil menodongkan parang.
Asisten Kim dengan sigap melindungi tuannya, ia menatap bapak Mauren dengan dingin seolah tidak takut dengan ancaman pria di depannya itu.
Sean masih kebingungan dengan ucapan bapak mertuanya, ia melirik Mauren yang mulai menangis.
"Cepat ceraikan putriku!" bentak bapak Mauren.
Setelah mendengar ucapan itu tubuh Sean sigap menarik asistennya ke belakang kemudian ia maju dan mulai bersujud dibawah kaki sang mertua. Dia memohon ampunan jika memang mempunyai kesalahan. Bapak Mauren terlihat memalingkan muka.
"Berdirilah Tuan Sean! Anda tidak boleh seperti itu!" ucap Asisten Kim berusaha membangunkan tuannya.
"Diam kau Kim! Dia bapak mertuaku! Wajar saja jika aku bersujud dibawah mertuaku!"
Itu untuk pertama kalinya asisten Kim melihat tuannya bersujud dihadapan orang lain.
Lantas ia berpikir tuannya sangat mencintai istrinya itu. Tiba-tiba dengan cepat Mauren ikut bersujud disamping Sean, ia menangis terisak.
"Huaaaaaa... Bapak jahat! Waktu itu bapak merestui kami bahkan menikahkan kami tapi sekarang huaaaaa hiks hiks... Kenapa bapak seperti ini? Aku masih umur 19 tahun pak! Aku tidak ingin menjadi janda muda huaaaa.... Bahkan kami belum melakukan anu-anu hiks hiks....," ucap Mauren dengan bodohnya.
__ADS_1
Cewek sinting! Seperti itu pun dibicarakan.
Dasar tidak tau malu.
Bapaknya berdecak, ia mundur dari hadapan mereka yang tengah bersujud di depannya.
Dia bersedekap sambil memandang dua orang bodoh.
"Pergilah kalian! Aku masih sakit hati dengan keluargamu Tuan Sean," ucap Bapak sambil masuk ke dalam kamar.
Ibu Mauren membangunkan mereka, ia sangat tahu jika suaminya sangat membenci keluarga Askar karena masalah masa lalu.
Ibu Mauren menyuruh mereka duduk kembali,
ia mengambilkan makanan yang telah dimasaknya.
Sean nampak bingung dengan situasinya sekarang, yang ia pikirkan bagaimana cara meluluhkan hati bapak mertuanya itu.
Masalah selalu berdatangan tanpa henti tetapi tidak ada solusi yang baik.
20 menit kemudian mereka sudah selesai makan, ibu Mauren memandang Sean yang kebingungan.
"Bapak memang sangat benci dengan kakekmu. Jadi maklumlah jika dia tidak suka denganmu. Saat menikahkanmu dengan Mauren kami berpikir seperti pernah melihatmu sebelumnya tetapi waktu itu kamu mengaku sebagai tukang parkir, jadi kami pikir kamu bukan orang yang kami maksud. Dan ternyata sebaliknya, kamu adalah Tuan Sean cucu dari Tuan Askar," jelas ibu.
"Jangan panggil saya tuan bu. Panggil nama saya saja!" ucap Sean.
Ibu tersenyum, tak di sangka yang menjadi menantunya itu adalah presdir dari Young Group. Sempat berpikir untuk membenci tetapi ia adalah menantunya sendiri.
Ibu mengela nafas panjang, ia meyakinkan jika ada satu cara membuat bapak Mauren luluh dan merestui hubungan mereka.
Sean mendengarkan dengan seksama, ia mengernyitkan kening saat mendengar penjelasan dari ibu mertuanya.
Sean lalu menatap Mauren yang tengah tertidur di pundak ibunya, sepertinya Sean harus melakukan cara itu.
**
Mereka berpamitan untuk pulang, nampak Mauren masih setengah sadar dan mengantuk. Sean berterima kasih karena ibu Mauren sudah mau menerima sebagai menantunya, ia kini tinggal mengambil hati bapak Mauren saja.
Di dalam mobil, Mauren terlihat terkantuk-kantuk, Sean dengan cepat menarik kepala Mauren untuk bersandar di bahunya.
Setelah itu Sean menerawang jauh melihat kaca mobil tetapi pikirannya seolah jauh melayang memikirkan hal lain.
"Kau cari tau Kim penyebab Bapak Mauren membenci kakekku!" pinta Sean yang matanya masih menatap kaca mobil.
"Baik Tuan"
Saat itu juga tangan Mauren tidak sengaja menyentuh sang ular membuat Sean sangat terkejut.
Posisi macam apa ini? Batin Sean.
__ADS_1
"Kau pura-pura tidur Mauren? Kau tinggal bilang jika ingin melakukan itu," ucap Sean.
Mauren tidak menjawab, ia benar-benar tidur.
Lantas Sean membangunkannya dengan menepuk pipi Mauren. Mauren terbangun lalu mendongakan kepalanya menghadap wajah Sean dan posisi tangannya masih diatas sang ular milik Sean.
Sean seolah memberikan kode untuk melihat posisi tangan Mauren, Mauren menundukan kepala dan terkejut melihat posisi tangannya.
"Aaaaah... Oppa maafkan aku," ucap Mauren beringsut mundur menjauhi Sean.
Sean menarik tubuh Mauren supaya mendekat, " Peganglah jika kamu mau sayang," ucap Sean menyeringai.
Pede sekali oppa ku ini. Aku kan tidak sengaja memegang punya oppa.
"Bawa kami ke apartemen Kim! Dan besok jangan lupa bawakan baju kerja kami! Hari ini kami ingin bersenang-senang," ucap Sean.
"Baik Tuan"
Bersenang-senang? Perasaanku sudah tidak enak. Huh! Aku jadi takut.
**
Sesampainya di apartemen.
Mauren segera mandi lalu cepat merebahkan dirinya di ranjang. Dia terkejut melihat Sean sudah bertelanjang dada di ranjang, Mauren mendekatinya dengan rasa takut.
"Oppa sedang apa?" tanya Mauren ragu.
"Aku ingin mengetes sang ular apakah bisa menjinakan sang betina"
Sean mulai mendekati Mauren, Mauren seketika berangsur mundur dan terjatuh dari tempat tidur. Dengan cepat Sean menangkap tubuh Mauren lalu membantingnya ke ranjang.
"Oppa aku belum siap!"
"Tapi aku sudah siap"
"Oppa aku tidak mau!"
"Tapi aku mau!"
"Oppa tapi aku...."
"Diam kau! Kau mau membuatku marah?" tanya Sean dengan tatapan melotot ke arah Mauren yang sudah menjauhinya.
Wajah Mauren menjadi takut, hatinya terasa bergetar setelah Sean membentaknya.
Dia memasang muka memelas seolah mengharap belas kasihan dari sang suami.
"Huaaaaaaa.... Oppa aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau! Tidak mau! Tidak Mau! Hiks hiks hiks....," ucap Mauren sambil menangis berguling-guling di lantai.
__ADS_1
Sean memperhatikannya dengan heran, ia memegangi kepalanya yang nyeri akibat ulah sang istri.
"Sinting kau! Pergilah kau beg*!" ucap Sean sambil melempar guling ke arah Mauren.