
"Aku masih butuh waktu Oppa. Dan lagipula..."
Belum sempat Mauren melanjutkan ucapannya tiba-tiba Sean melum*t bibirnya membuat Mauren terkejut. Burung-burung seketika bersahutan melihat 2 sejoli ini sedang berkasih ditemani suara deburan ombak yang khas.
Jantung mereka saling berdegup kencang menambah gairah ingin bercinta.
Mauren dengan cepat melepaskan ciuman itu, ia takut jika Sean akan terbawa suasana.
Mauren berdiri menghadap laut lalu melangkah ke depan dan bermain pasir putih.
Sean tersenyum lalu menghampirinya, ia membuat tulisan di atas pasir bertuliskan 'Oppa Love Oren' membuat Mauren menghentikan dirinya yang sedang membuat istana pasir. Matanya mendelik membaca tulisan itu.
"Oppa, mitos mengatakan jangan membuat tulisan seperti itu di atas pasir pantai nanti bisa membuat hubungan orang itu kandas," jelas Mauren.
Tetapi tiba-tiba air laut datang menghempas tulisan itu dan seketika terhapus.
Sean menatap tajam Mauren dengan tatapan marah.
"Mulutmu apa tidak bisa berucap lebih baik lagi?" tanya Sean marah.
M*mpuslah aku telah membangunkan kemarahan singa.
Mauren dengan cepat berlari dan memeluk Sean erat, ia meminta maaf karena berucap yang aneh-aneh. Sean menghela nafas, ia memgelus rambut Mauren. Gadis yang 6 tahun lebih muda darinya tidak bisa membuat ia marah lama-lama. Lalu dengan cepat Sean melepaskan pelukan dan menggendong Mauren membuat gadis itu terkejut.
"Turunkan aku Oppa!"
"Tidak"
Sean menciumi wajah Mauren yang ia gendong, sedangkan tangan Mauren menggelayut di leher Sean. Tak lupa kebiasan favorit mereka saling menggesekan hidung mereka lakukan.
Mereka tertawa bersama-sama berbagi kecerian di pantai yang memang khusus disewa untuk Sean supaya bisa berduaan dengan sang istri.
Setelah lelah tertawa dan berlari-larian disepanjang pinggir pantai mereka memutuskan untuk duduk sambil menikmati matahari tenggelam. Warna oranye mendominasi sore menjelang malam itu, apalagi warna itu adalah warna favorit Sean.
"Oppa, samsatnya indah sekali ya?"
Samsat? Batin Sean
"Sanlet," ucap Sean.
"Sanblok," balas Mauren.
"Sandal," ucap Sean tak mau kalah.
Mereka saling menatap, "Sunset beg*," ucap mereka bersamaan sambil tertawa.
(Note: Sunset \= matahari tenggelam)
Setelah lelah tertawa, Sean mengajak Mauren untuk berdiri, ia menatap lekat wajah Mauren dan mengeluarkan kotak perhiasan, ia membukanya yang ternyata sebuah kalung emas berwarna putih dengan liontin bernama 'Arse', lalu dengan cepat Sean memakaikan ke leher Mauren.
__ADS_1
"Arse itu siapa Oppa?" tanya Mauren.
"Arse adalah nama panggilanku dari Papaku dan lagi pula tidak mungkin ku tulis Sean karena nanti akan ketahuan 'kan?"
Mauren menganggukan kepala, ia memberanikan diri untuk bertanya dimana keberadaan Papa Sean tetapi tiba-tiba sebuah helikopter lewat dan terbang rendah.
Mauren mengerutkan dahi, rambutnya diterpa angin yang dihasilkan oleh baling-baling helikopter.
Tiba-tiba helikopter itu mengeluarkan kain panjang yang bertuliskan 'ARSE LOVE MAUREN' membuat Mauren ternganga lalu menatap Sean yang tersenyum kepadanya.
"Uuuuh... Oppa aku jadi terharu," ucap Mauren sangat kagum.
Tapi setelah itu hanya sebentar saja helikopter itu pergi dengan cepat.
Kok cepat sekali? Pasti Oppa tidak memperbolehkanku naik helikopter. Dasar pelit.
"Nah, ayo kita pulang," ucap Sean.
Mereka segera pulang karena matahari sudah tidak nampak lagi, Mauren cukup senang karena memiliki suami yang romantis.
Di atas motor, ia memeluk Sean semakin erat membuat Sean semakin senang.
Haha... empuk sekali. Pantas saja mereka yang berpacaran lebih suka naik motor**.
Di lampu merah, selama berhenti Sean mengelus dengkul Mauren dan tidak memperdulikan orang lain yang melihat kemesraan mereka seolah dunia hanya milik berdua.
Sesampainya di depan gedung apartemen, Sean dikejutkan dengan kedatangan sang Mama yang menunggu di depan gedung.
"Dari mana saja kamu Sean? Dari tadi Mama telpon kamu tapi kamu tidak mengangkatnya?" ucap Mama sambil melihat Mauren.
"Habis kumpulan klub motor Mah," jawab Sean sambil melepas helmnya.
10 menit kemudian.
Akhirnya mereka mengobrol di restoran dan terpaksa Mauren melepas helmnya, ia hanya menunduk tidak berani melihat wajah Mama Sean yang sedari tadi melototinya.
Sedangkan Sean memakan kentang goreng dan meminum kopi sambil melihat mereka berdua yang baginya terlihat lucu.
"Jangan menatap Mauren seperti itu Mah! Nanti dia menangis, hahaha," ucap Sean sambil mengunyah kentang goreng.
Plaaaaak
Sang Mama memukul bahu Sean, ia sangat kesal kepada Sean. Anak satu-satunya selalu membuatnya marah.
"Dia pegawaimu 'kan Sean?" tanya Mama masih tidak percaya.
Sean mengelus bahunya yang panas lalu menjelaskan jika Mauren kini sudah menjadi pacar kesayangannya. Sean belum ingin memberitahu sang Mama jika ia sudah menikah karena saatnya belum tepat.
"Sampai mana hubungan kalian?"
__ADS_1
"Sampai buat dedek lucu," jawab Sean dengan santai membuat Mauren yang meminum kopi tersedak.
Uhuk... uhuk... uhuk...
Sean langsung menepuk punggung Mauren dan memberinya minum air putih. Mamanya hanya menatap dengan heran.
"Nakal sekali kamu Sean. Jangan-jangan kalian tinggal bersama?"
Sean menganggukan kepala, ia bisa melihat ekspresi wajah sang Mama yang kelewat lucu.
"Hey kamu bisa-bisanya memacari bosmu sendiri, kamu pakai pelet apa? Hah?" tanya Mama kepada Mauren.
"Mah, kita saling menyukai jadi jangan salahkan Mauren. Kita sebelumnya bertemu saat Mauren belum bekerja di perusahaanku," jelas Sean.
"Jika kakekmu tau hubungan kalian bagaimana?"
"Makanya jangan beritahu siapapun Mah," pinta Sean dengan wajah memelas.
Sedangkan sedari tadi Mauren sudah berkeringat dingin dan ketakutan.
Mama menatap lagi wajah Mauren, ia memang kagum dengan wajah cantik gadis itu tetapi ia harus menyelidiki asal-usul Mauren.
"Mama senang jika kamu punya pacar tapi jika tidak jelas asal-usulnya Mama tidak setuju," jelas Mama sambil menatap sinis Mauren.
Sean tiba-tiba mengecup pipi sang Mama membuat beliau meleleh dan tersenyum.
"Tolong rahasiakan hubungan kami Mah, hanya Mama yang bisa Sean percaya. Sean sayang Mama"
15 menit kemudian.
Untuk pertama kalinya sang Mama masuk ke dalam apartemen mewah milik Sean. Hal yang pertama ia lakukan adalah mengecek ruang ganti milik Sean. Mama Sean terkejut ketika melihat baju-baju perempuan tertata rapi di lemari besar.
Sedangkan Mauren memutuskan untuk mandi.
Sean hanya terduduk di ranjang sambil menunggu Mauren selesai mandi, ia tersenyum melihat Mamanya emosi karena tingkahnya.
"Kamu keterlaluan Arsean, Mama mendidikmu..."
Belum selesai berbicara sang Mama ternganga melihat sekotak kndm berada diatas meja, ia mengambil lalu membukanya yang ternyata sudah terpakai semua.
"Sean. Kamu sungguh anak nakal. Siapa yang mengajarimu seperti itu? Zina itu dosa Sean"
"Ssssssstt... Sudah Mama pulang saja, itu semua urusan Sean. Mama sayang Sean 'kan? Maka dari itu jangan beritahu siapapun jika Mauren tinggal disini"
"Ingat dosa Sean! Nakal sekali kamu. Jika gadis itu hamil bagaimana? Kamu tetap harus menikahi Alana"
"Sejak kapan menikah dengan Alana menjadi sebuah keharusan? Aku muak membahas perjodohan, lebih baik Mama pulang! Aku percaya Mama sayang padaku jadi jangan beritahu siapapun jika Mauren pacarku dan dia tinggal disini!"
Sean menyuruh sang Mama keluar tapi sebelum itu ia mengecup dan memeluk Mamanya. Dia tau jika Mamanya baik dan tidak akan memberi tahu kepada siapapun tentang hubungannya dengan Mauren.
__ADS_1
Setelah memastikan sang Mama telah pulang, ia melangkah masuk apartemen dan melihat Mauren sudah selesai mandi. Wajahnya kebingungan dengan kondisinya yang sekarang.
"Jangan khawatir! Mama ku tidak akan membongkar hubungan kita, beliau orang baik," ucap Sean sambil memeluk Mauren.