Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 181 - Pengorbanan ibu


__ADS_3

Seminggu kemudian,


Mauren nampak resah ketika di apartemen. Pikirannya selalu terfokus kepada Sera. Sean mengabarkan jika Sera semakin parah dan bahkan ia sudah tidak sadarkan diri.


Mauren menangis teringat kenangan bersama Sera. Sera sudah menjadi temannya sejak mereka satu sekolah.


Mauren mencoba menelpon Sean tetapi Sean tidak mengangkatnya.


Mauren menelpon Asisten Kim tetapi pria itu juga tidak mengangkatnya.


Dia teringat Ali, dia langsung mengangkatnya.


"Kak Ali dimana?"


"Ini sedang dirumah dan akan menuju ke rumah sakit, nona," ucap Ali.


"Kak Ali bisa tidak menjemputku di apartemen. Suamiku dan Kak Kim tidak mengangkat telponnya. Aku ingin melihat Sera"


"Baiklah nona, setengah jam lagi saya akan sampai sana," jawab Ali.


Ali lalu menutup telponnya. Dia memasukan beberapa baju ke dalam tasnya untuk di bawa ke rumah sakit. Baru tadi pagi ia pulang dari rumah sakit setelah menemani Sera selama seminggu dan kini ia pulang untuk membawa pakaiannya yang kotor dan membawa pakaian baru untuk di bawa ke rumah sakit.


Setelah mengemasi barangnya ia lalu turun dari kamarnya dan menuju keluar dari rumahnya.


"Ali, Sera bagaimana?" tanya Ibunya.


"Dia akan sembuh, bu. Ibu jangan khawatir! Ya sudah. Ali mau berangkat lagi," ucap Ali sambil mencium tangan ibunya.


"Hati-hati Ali! Dimanapun berada tetap berdoa"


Ali tersenyum lalu memeluk ibunya. Entah kenapa ia ingin memeluk ibunya dengan erat. Ibunya pun sampai menangis tanpa sebab seolah melepas kepergian Ali padahal Ali hanya pergi ke rumah sakit.


Setelah itu Ali menaiki mobilnya lalu menjemput Mauren di apartemen.


Setengah jam kemudian, Ali sudah sampai di apartemen dan terlihat Mauren sudah berada di luar untuk menunggunya.


Ali membukakan pintu dan Mauren duduk di sebelah Ali yang mengemudi.


"Seina mana, nona?" tanya Ali.


"Dia ku titipkan pada mamaku"


Disisi lain, Anggota keluarga di kumpulkan menjadi satu.


Mereka tak kuasa menahan tangisnya ketika dokter sudah angkat tangan untuk kesembuhan Sera karena penyakit gadis itu mulai menyebar.

__ADS_1


Hati adalah organ terpenting manusia, jika hati sudah tidak berfungsi lagi maka akan berpengaruh pada organ lainnya termasuk ginjal. Kini ginjal Sera yang mulai ikut terserang karena harus bekerja ekstra menggantikan tugas pada hati.


Zara menangis kencang dan terlihat sang suami menenangkannya. Zara tidak ingin kehilangan Sera. Zara menangis histeris sampai Dokter Juna membawa Zara keluar dari ruangan itu.


"Honey, aku gak bisa kehilangan Sera. Aku sadar honey, mimpiku tentang Sera ternyata menjadi kenyataan. Kenapa aku gak menyadarinya. Aku terlalu bodoh," ucap Zara sambil terisak.


"Sudah sayang, ikhlaskan Sera! Itu yang terbaik daripada ia terus merasakan sakit"


"Aku gak bisa honey, kami selalu bersama. Kalo gini caranya aku juga pengen mati bareng Sera," jawab Zara.


"Husss... jangan bilang begitu! Kasian si kembar. Sudah jangan menangis lagi!" ucap Dokter Juna sambil memeluk Zara.


Sean yang berada didalam ruangan hanya terus bisa berdoa supaya Sera mendapat mukjizat.


Sean selalu menangis ketika teringat ia selalu ribut dengan Sera.


Sera yang selalu ceria dan sering jahil kepadanya. Sera yang selalu meminta disisir rambutnya.


Itu semua tidak akan terlupakan oleh Sean.


Tiba-tiba ponsel Sean berbunyi, ia langsung mengangkatnya. Dia sangat terkejut setengah mati.


"APA KAU BILANG?" ucap Sean membuat semua orang memandangnya.


Ali menyetir mobil dengan pelan sedangkan Mauren hanya melihat kaca mobil. Pikiran mereka hanya satu yaitu keadaan Sera. Mereka segera ingin melihat Sera yang sudah di nyatakan koma oleh dokter.


"Kak Ali pasti sangat mencintai Sera," ucap Mauren mencairkan suasana.


"Saya sangat mencintai dia. Dia gadis kecil saya," jawab Ali sambil tersenyum.


Mauren tersenyum, ia merasa kasihan pada Ali. Sera selalu menceritakan Ali kepada Mauren bahwa Ali sangat baik tetapi sayangnya Sera hanya menganggap Ali temannya saja walau mereka berstatus pacaran.


Tetapi tiba-tiba sebuah trus besar oleng lalu menabrak pembatas jalan dan kini mengarah ke mobil mereka.


Ali yang menyetir mobil sempat terkejut, ia ingin mengerem mobil tapi percuma karena truk itu hanya berjarak 5 meter dari mobilnya.


Ali melepas sabuk pengamannya dan menyuruh melepas juga sabuk pengaman yang dikenakan Mauren.


Tanpa pikir panjang ia membuka pintu disebelah Mauren lalu mereka melompat dari mobil dengan Ali memeluk Mauren dengan erat.


Mereka terguling-guling di aspal cukup lama sampai kepala Ali membentur trotoar dengan sangat kuat.


DUAAAAAK...


Dan setelah itu mereka tidak sadarkan diri.

__ADS_1


**


Sesampainya di rumah sakit mereka segera di rawat. Sean kini begitu frustasi, masalah Sera belum terpecahkan kini malah Mauren dan Ali mengalami kecelakaan saat menuju ke rumah sakit.


Asisten Kim dan Mamanya menenangkan Sean. Sean tak kuasa membendung tangisannya. Biarlah dia terlihat cengeng, dia juga punya akal dan perasaan yang sewaktu-waktu tidak bisa membendung perasaannya.


Mobil yang ditumpangi mereka ringsek dan hancur akibat tabrakan dari truk besar dan bergandeng itu.


"Bagaimana keadaan istri dan teman saya, dok?" tanya Sean kepada dokter yang menangani mereka.


"Istri anda hanya luka ringan pada tangan dan kaki tetapi Tuan Ali mengalami pendarahan pada otaknya akibat benturan keras. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menangani mereka," ucap Dokter.


Dokter lalu memperbolehkan untuk melihat Mauren. Sean melihat sang istri sudah sadar. Dia langsung mengkecup keningnya.


"Mungkin ini salahku juga pergi tanpa izin, oppa," ucap Mauren.


"Tidak, sudahlah jangan di bahas! Yang penting kau tidak apa-apa," jawab Sean.


"Lalu Sera bagaimana, oppa? Aku ingin melihatnya dan Kak Ali bagaimana? Dia menyelamatkanku. Mungkin jika tidak ada dia aku sudah...."


"Sssst... Mereka berdua pasti sembuh. Jangan khawatir!" ucap Sean.


**


Ibu Ali bersama putrinya menjenguk Ali.


Ibu Ali nampak lebih tenang sedangkan Dewi ia menangis histeris.


Ibu seperti orang linglung membuat Sean merasa tidak enak.


"Kalo Kak Ali gak ada kita bagaimana, buk?" ucap Dewi dengan histeris.


Mauren menenangkan Dewi, ia mengajaknya untuk keluar dari gedung rumah sakit.


Sedangkan Sean menggenggam tangan Ibu Ali. Ibu Ali memandang Sean dengan sendu.


"Ali, dia anak yang baik. Dia tidak pernah marah. Dia anak yang penurut. Ali akhir-akhir ini bercerita tentang Sera. Ali menyukai Sera. Ibu juga suka Sera. Mereka sama-sama baik dan ingin mereka sampai menikah," ucap Ibu.


"Jadi ibu ingin mendonorkan hati kepada Sera. Supaya mereka selalu bersama. Awalnya Ali bilang sebelum mengalami kecelakaan, ia ingin mendonorkan hati kepada Sera dan menerima konsekuensi yang ada. Tapi ibu berpikir jika Ali yang meninggal bagaimana nasib adiknya yang masih kuliah dan membutuhkan biaya banyak. Dewi masih butuh Ali. Tetapi jika ibu yang mendonorkan hati lalu meninggal pasti Ali masih bisa menjaga Dewi dan bisa bersama Sera. Ibu sudah tidak bisa bekerja lagi karena memiliki riwayat masuk rumah sakit jiwa karena mental ibu sering kambuh dan terganggu," sambung Ibu.


Sean yang mendengarnya sangat tertegun. Betapa besar pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya.


Ibu yang memikirkan Ali dan Sera, ibu juga memikirkan nasib putrinya nanti.


__ADS_1


__ADS_2