Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 152 - Aku ingin bayi itu


__ADS_3

**Karena level bulan ini naik maka season 2 akan update hari ini. Insya Allah sehari 2 bab jika sanggup karena mengejar target bulan ini.


Please, Vote nya!


"Oeeee... oeee... oeee... oeee..."


Waktu menunjukan pukul 5 pagi, bayi itu menangis membuat Sean dan Mauren terkejut. Mauren berlari membuatkan susu sedangkan Sean menguap sambil melirik bayi itu. Dia seolah cuek dan memainkan game di ponselnya.


Mauren yang datang membawa sebotol susu terkejut melihat sang suami yang cuek dengan bayi itu.


"Oppa keterlaluan membiarkan bayi ini menangis," ucap Mauren sambil memangku bayi itu lalu memberikannya susu.


"Lalu aku harus apa? Aku tidak bisa menggendong bayi"


"Oppa bagaimana mau menjadi seorang ayah jika tidak bisa menggendong bayi," ucap Mauren kesal.


"Diam kau! Masih pagi sudah mengajak ribut saja kau," ucap Sean sambil merebahkan tubuhnya lalu membelakangi Mauren.


Mauren mendengus kesal lalu tidak memperdulikan sang suami. Dia menatap bayi mungil itu, sungguh malang. Bayi secantiknya di buang oleh manusia tak berotak.


2 jam kemudian.


Sean terlihat mengenakan jas dan dasinya, ia menatap Mauren yang sedang bermain-main dengan bayi itu.


Dia tahu jika sang istri ingin mempunyai seorang bayi tetapi Tuhan belum memberinya kesempatan.


"Polisi akan datang untuk membawa bayi itu untuk melakukan pemeriksaan. Orang tua yang membawa bayi itu sudah tertangkap, ternyata pasangan remaja yang membuangnya," ucap Sean.


Mauren menatap Sean lalu bergantian menatap bayi itu.


"Lalu bayi ini bagaimana?" tanya Mauren.


"Akan di kembalikan kepada walinya jika tidak ada maka akan dirawat di panti asuhan," jawab Sean.


"Bagaimana jika kita yang merawatnya, Oppa?"


Sean menaikan alisnya lalu berjalan menghampiri Mauren. "Tidak bisa! Kita bisa membuatnya sendiri"


"Tapi Oppa sendiri kan tahu jika aku sulit hamil. Aku ingin mengadopsi bayi ini Oppa"


"Tidak bisa! Tidak usah membantah kau!"


Mauren tersentak mendengar ucapan Sean, ia sangat sedih jika harus berpisah dengan bayi malang ini. Ya, dia harus bisa mengadopsi bayi ini walau tanpa persetujuan Sean.


"Aku mau berangkat kerja. Sebentar lagi polisi akan datang, ia juga akan menyuruhmu menjadi saksi. Bersiaplah!" ucap Sean.

__ADS_1


Tetapi Mauren menghentikan langkahnya, ia memohon untuk menemani bayi itu sebentar karena Mauren akan mandi.


"Plis Oppa! 5 menit saja, aku akan mandi secepat kilat. Temani bayinya sebentar saja!" pinta Mauren.


Sean memutar bola matanya jengah, ia menghela nafas lalu menyuruh Mauren untuk segera mandi. Sean lalu terduduk di sebelah bayi imut itu. Dia memperhatikannya dengan penuh seksama.


"Kenapa kau menatapku? Aku bukan bapakmu," ucap Sean kesal.


Sean memalingkan wajah lalu ia mencuri pandang lagi dan bayi itu masih menatapnya.


"Kau ingin menantangku ya? Dasar bayi gendut!" ucap Sean.


Bayi itu menguap membuat Sean merasa terhina karena seolah sedang mendongengkan bayi itu.


"Wah kau mengejekku?"


Bayi itu menunjukan mimik muka menangis dan setelah itu benar-benar menangis membuat Sean kelimpungan.


"Diam kau!" bentak Sean. "Dasar cengeng! Kau dilahirkan untuk menangis saja? Diam! Atau ku tutup mulutmu"


Mauren yang keluar dari kamar mandi terkejut melihat sang suami malah memaki bayi itu. Mauren yang masih mengenakan baju handuk lalu menggendong bayi itu.


"Cup... cup... cup... jangan menangis sayang!" ucap Mauren menimang bayi itu. "Oppa ini aneh ya? Oppa malah memarahi bayi malang ini," sambung Mauren kesal.


"Aku tidak melakukan apapun kepadanya tiba-tiba dia menangis. Dasar cengeng! Bayi gendut bisanya menangis saja kau," ucap Sean kesal.


"Siapa bilang? Kata Mama saat aku bayi dulu tidak pernah menangis," ucap Sean.


"Pantas saja gedenya tidak normal," gerutu Mauren.


"APA KAU BILANG?"


Mauren menggigit bibirnya, ia tidak memperdulikan ucapan Sean. Dia menimang bayi itu tetapi bayi itu semakin menangis kencang.


Mauren memegang bok*ng bayi itu dan rupanya basah.


"Dia mengompol, pantas saja menangis," ucap Mauren.


Sean terkejut lalu memeriksa ranjangnya dan ternyata benar jika ranjangnya basah. Dia kesal karena ranjang termahalnya basah karena ompol bayi.


Mauren mengganti popok kain pada bayi itu, Sean heran kenapa sang istri yang masih ABG sudah paham untuk masalah bayi.


"Kenapa tidak memakai popok sekali pakai? Lihat ranjangku jadi kotor," ucap Sean.


"Dia masih bayi, kasian jika di beri popok sekali pakai. Pasti pantatnya akan panas dan ruam"

__ADS_1


Sean mendengus lalu berdiri, ia melihat jam dan ia berpamitan untuk berangkat kerja. Sean menunggu Mauren untuk mencium tangan Sean dan memberikan ciuman yang sudah menjadi kebiasaan mereka sebelum berangkat kerja tetapi kini Mauren malah asyik mengurusi sang bayi membuat Sean iri dan cemburu.


Cih... Sampai lupa dia padaku. Jika itu anak kita tidak masalah jika dia cuek padaku. Justru aku sangat senang jika ia sangat sayang kepada anakku.


Tapi... bayi itu bukan anakku. Kenapa Mauren bersikap seperti itu? Batin Sean.


Setelah itu Sean berangkat bekerja lalu pihak kepolisian datang mengajak Mauren untuk menjadi saksi di kantor polisi. Setelah mengganti pakaian bayi itu, ia segera berangkat dengan di temani Dasha yaitu pengawalnya.


"Jika saya kemarin menjemput anda pasti anda tidak akan menemukan bayi ini," ucap Dasha.


"Aku suka jika kau tidak menjemputku. Bayi ini menurutku sangat berjodoh denganku," ucap Mauren di dalam mobil sambil memenggendong bayi yang terlelap itu.


"Tapi tidak untuk Tuan Sean. Dia tidak suka bayi perempuan," ucap Dasha yang tahu karakter temannya itu.


Mauren terdiam, ia masih memikirkan bagaimana cara untuk mengadopsi bayi ini. Bayi yang bisa membuatnya hamil. Ya... mitos mengatakan jika seseorang yang sulit hamil untuk bisa hamil walau kemungkinan kecil maka orang itu harus merawat atau mengadopsi bayi dan menganggap bayi itu seperti anaknya sendiri.


"Bayi laki-laki atau perempuan sama saja," ucap Mauren seolah tidak terima dengan ucapan Dasha.


"Bukan begitu nona, Tuan Sean menginginkan bayi laki-laki supaya bisa menjadi penerus dirinya untuk menjadi seorang presdir setelah Tuan Sean memutuskan pensiun"


"Terus bagaimana jika anak kami perempuan semua? Cih... bagaimana Tuhan akan memberi anak kepada kami jika kami pemilih dalam jenis kelamin," ucap Mauren kesal.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mereka akhirnya sampai di kantor polisi. Polisi segera membawa bayi itu lalu memberikannya kepada seorang dokter untuk di tangani lebih lanjut.


Mauren dan Dasha di persilahkan untuk duduk terlebih dahulu. Tetapi beberapa menit kemudian mereka mendapat kabar jika ibu dari bayi itu bunuh diri karena mengalami baby blues. Pihak kepolisian merasa kecolongan karena tidak menjaga tahanan dengan benar. Menurut mereka, ibu dari bayi ini melakukan bunuh diri dengan membentur-benturkan kepala ke dinding sel. Bisa di lihat bekas memar pada bagian kepalanya yang parah.


Mauren semakin iba dengan bayi malang itu, air matanya keluar.


----------------------------


Sehari kemudian.


Mauren duduk termenung sambil memegang baju bayi yang sempat di pakai oleh bayi malang itu. Mauren memeluk baju itu, ia sangat rindu dengan bayi malang itu.


"Oren? Cepat! Kita akan terlambat," ucap Sean.


Hari ini mereka akan melakukan bulan madu ke 7 negara. Tetapi bukannya senang justru Mauren sedih karena Sean tidak mengizinkannya mengadopsi bayi itu.


"Tidak jadi bulan madu? Bongkar lagi kopernya!" ucap Sean.


Mauren terkejut lalu segera berdiri dan mengusap air matanya. Dia memasukan baju bayi yang belum di cuci itu ke dalam koper membuat Sean merasa iba dengan Mauren.


Sean lalu memeluk Mauren dan mengusap punggungnya.


"Kau terlalu khawatir sayang, kita belum ada 4 bulan menikah tapi kau sudah berpikiran negatif jika tidak bisa hamil. Lihatlah Juna! 5 tahun dia menunggu buah hatinya dan kesabarannya membuahkan hasil bahkan mendapat bayi kembar walau dari perempuan yang berbeda," ucap Sean.

__ADS_1


"Jadi maksud Oppa mau menikah lagi, begitu? Dan punya anak dengan wanita lain?" tanya Mauren sedikit kesal.


__ADS_2