
Hukuman apa lagi setelah ini yang Oppa akan berikan kepadaku?
Matilah aku telah membangunkan kemarahan sang raja rimba.
"Lipstick baru, Tuan?" tanya Mauren yang melihat sedikit bekas tinta yang masih menempel di bibir Sean.
Sean melotot sepertinya ia akan balas dendam saat ini juga sedangkan Mauren mengalihkan pandangan dan melanjutkan menulisnya.
Sean mengambil ponselnya, ia membuka kamera lalu mengaca pada kamera itu, mulutnya berdecak.
"Bagaimana ini, Kim? Nanti siang aku ada rapat dengan kolegaku. Sialan! Wajahku yang tampan telah ternodai gara-gara istri kurang ajar itu. Kau bisa masuk neraka Oren karena telah kurang ajar dengan suamimu," ucap Sean sangat kesal.
"Pintu neraka ditarik apa didorong, Tuan?" jawab Mauren santai.
"Pakai sidik jari bodoh! Huh... Ya Mana aku tahu. Awas kau Oren!"
Mauren menundukan kepala, ia melanjutkan menulisnya sampai kepalanya ingin pecah karena dipenuhi angka-angka pada pikirannya.
Setengah jam kemudian.
Asisten Kim masuk ke ruangan Sean, ia membawa pembersih tinta yang aman digunakan oleh wajah. Dengan cepat Sean mengambil kapas dan menuangkan pembersih itu pada kapas lalu mengusapkannya pada area bibir dan dagu.
Untungnya tinta itu hilang dan nyawa Mauren terselamatkan oleh Sean.
Jika tidak, entah hukuman berat apa yang di lakukan oleh Sean untuk Mauren yang dianggapnya sebagai pegawai itu.
"Untung saja kau tidak jadi menikahi gadis itu, Kim. Jika iya kujamin kau hari pertama menikah sudah berbaris di depan pengadilan," ucap Sean.
"Untuk menceraikannya, Tuan?"
"Untuk upacara bodoh," jawab Sean.
Asisten Kim dan Mauren menahan tawa melihat ucapan Sean semakin hari semakin aneh.
Nona Mauren memang hebat dan luar biasa. Baru pertama kali ada seseorang yang berani mengerjai bos besar Young Group. Wajar saja Tuan Sean sangat mencintai dan tergila-gila olehnya. Batin Asisten Kim.
Jam demi jam berganti, otak Mauren semakin pusing. Dia meletakan kepalanya di meja, Hah! Sungguh melelahkan hari ini, jika bisa memilih ia ingin bekerja seperti biasanya yang mondar-mandir ke ruangan satu ke ruangan lainnya dari pada harus menulis angka-angka yang membuat dirinya sakit kepala.
Sean melirik Mauren, ia tersenyum melihat Mauren yang sudah tepar akibat hukumannya. Dia mendekati Mauren lalu membelai kepalanya membuat gadis itu terbangun dan menatap Sean yang sudah berdiri di depannya.
"Ayo makan siang!" ajak Sean
Dia langsung berjalan menuju kearah pintu dengan Mauren yang mengikuti dibelakangnya.
Sean mengajak Mauren untuk ke ruangan makan pribadinya, Mauren tercekat melihat hidangan di meja yang sangat lezat dibanding makanan pada kantin perusahaan itu. Makanan ala restoran bintang 5 untuk sang presdir Young Group membuat Mauren menelan ludah.
"Cepat makan! Setelah ini bisa istirahat di kamar," ucap Sean.
Mauren langsung mengambil beberapa lauk lalu memakannya dengan lahap.
Mereka makan dengan diam tidak saling bicara, otak Mauren yang tadinya pusing kini sudah mulai bisa berpikir jernih lagi.
Gadis itu melirik minuman favoritnya tetapi tidak ada.
"Tidak ada susu kotak, Oppa?" tanya Mauren.
"Tidak ada. Jadi benar kata Kim jika kau istirahat hanya meminum 2 susu kotak saja?" tanya Sean.
"Benar. Aku tidak selera makan"
__ADS_1
"Jangan menyusahkanku kau! Jika sakit bagaimana? Ya sudah mulai besok jika jam makan kau makan disini bersamaku saja"
Dibalik sikap Oppa yang keras dan pemarah dia ternyata sangat baik dan peduli. Aku kagum denganmu, Oppa.
Setelah makan mereka menuju ke kamar rahasia untuk melepaskan rasa penat mereka.
Sean langsung merebahkan dirinya di ranjang besar nan mewah itu sedangkan Mauren menutup tirai pada jendela kamar yang besar.
Mauren tersenyum ketika melihat Sean sudah memejamkan matanya, sepertinya ia sangat kelelahan.
Dia mendekatinya lalu mencium kening Sean dan tiba-tiba Sean membuka matanya.
"Bangunkan aku setengah jam lagi! Aku ingin memejamkan mataku sebentar," ucap Sean sambil membelai rambut Mauren.
"Baik, Oppa"
Sean lalu memeluk Mauren dan menjadikan gadis itu sebagai guling.
Dan baru beberapa menit saja, Mauren bisa mendengar nafas Sean yang teratur seperti sudah terlelap.
Mauren tersenyum lalu membenamkan wajahnya pada dada Sean dan menciumi aroma parfum kesukaannya.
Aku milikmu dan kau milikku, selamanya akan bersama. Aku akan mengingatnya, Oppa. Aku mencintaimu.
Setengah jam kemudian.
Mauren membangunkan Sean dengan cara merem*s sang ular dan cara itu sangat ampuh membuat Sean terbangun lalu memandangi Mauren yang tersenyum menyeringai.
Sean berdecak lalu terduduk dan mengusap matanya. Lumayan bisa tidur pulas walaupun setengah jam.
"Setelah ini siap-siap kau karena sebentar lagi kita akan ke kota Y untuk meeting membahas bisnis baruku," pinta Sean.
Ketika mereka keluar dari kamar rahasia itu mereka sudah melihat Asisten Kim menyiapkan berkas yang akan dibawa untuk meeting nanti.
"Jetnya sudah siap, Tuan," ucap Asisten Kim.
"Baiklah. Ayo segera berangkat!"
"Tuan. Aku akan kembali bekerja," ucap Mauren sambil melangkah mendahului Sean.
Tetapi Sean langsung menarik lengan baju Mauren membuat gadis itu terhenti dari langkahnya.
"Mau kemana kau? Aku sudah bilang jika kau harus ikut denganku. Hari ini kau harus menjadi sekertarisku dan mencatat apa yang kau dengar dari meetingku nanti"
"Tapi Tuan saya tidak paham," ucap Mauren kebingungan.
"Tinggal tulis saja apa yang kau dengar!"
Mauren menghela nafas, ia lalu mengikuti langkah Sean yang berjalan keluar ruangan. Tetapi Mauren terkejut saat Sean menggandeng tangannya dengan erat sedangkan karyawan yang melihat mereka hanya saling berpandangan dan berpikiran yang tidak-tidak kepada Mauren.
"Bisa lepaskan tanganku, Tuan? Pasti sebentar lagi akan ada gosip miring tentangku," pinta Mauren khawatir.
"Siapa yang berani menggosip buruk ke pegawai kesayanganku? Akan ku bunuh mereka"
Mauren menatap wajah Sean yang tak main-main. Bukannya senang, justru Mauren takut dan menunduk ketika dalam perjalanan ke mobil ia berpapasan dengan karyawan lain.
"Kau tidak suka bergandengan tangan denganku?" tanya Sean yang melihat raut wajah Mauren yang ketakutan.
"Sangat suka, Tuan"
__ADS_1
Sean tersenyum lalu merangkul tubuh Mauren hingga membuat gadis itu sangat terkejut dan para karyawan semakin curiga dengan hubungan mereka.
Matilah aku! Sepertinya setelah ini aku akan mendapatkan bom besar dari karyawan lain dan khususnya karyawan si mulut bebek yang suka menggosip. Batin Mauren.
Mereka masuk mobil dan menuju ke bandara untuk naik jet pribadi Sean.
Mauren sangat takjub akan kekayaan Sean dan sifat matrenya seakan keluar.
Setelah masuk ke jet mewah itu, mereka duduk bersebelahan dan Mauren memandangi wajah Sean.
"Oppa tidak muntah jika naik jet?" tanya Mauren penasaran.
"Ka.. kata si... siapa aku muntah naik jet?" jawab Sean terbata-bata.
"Ku dengar Oppa akan muntah jika naik helikopter? Apakah berlaku juga saat naik jet?"
Sean melirik Asisten Kim dan pria itu malah memalingkan wajah seolah tidak ingin ikut campur.
Sialan kau, Kim! Batin Sean.
"Aku tidak pernah muntah naik apapun"
Oppa berbohong. Batin Mauren.
Mauren tersenyum lalu memeluk tubuh Sean, ia menciumi parfum yang menempel pada pria tercintanya itu, sungguh menenangkan.
Untuk sampai ke kota Y hanya menempuh waktu 30 menit saja menggunakan jet pribadi dan jika menggunakan transportasi darat akan membutuhkan waktu 2 jam perjalanan.
Untuk mengusir rasa bosannya, Mauren membuka obrolan yang membuat dirinya bersemangat.
"Tuan. Jika aku ulang tahun aku ingin meniup lilin dan mendapat hadiah spesial dari Tuan Sean," ucap Mauren.
"Tiup obor saja kau! Aneh-aneh sekali tiup lilin"
"Dasar pelit!" ucap Mauren memalingkan wajah dan tangannya bersedekap di dada.
Mauren lalu melirik Asisten Kim lalu ia tersenyum menyeringai.
"Kak Kim ingat waktu itu memberikanku kejutan saat hari ulang tahunku?" tanya Mauren.
Asisten Kim mengerutkan kening dan tidak berani menjawab. Lalu Sean merangkul tubuh Mauren dan seolah bersikap baik kepada gadis itu.
"Jangankan tiup lilin, tiup api neraka pun akan ku kabulkan Orenku sayang," ucap Sean dengan gemas.
"Akankah ada pesta besar untukku, Tuan?"
"Pastinya ada. Akan ku undang seisi kebun binatang untuk memeriahkannya"
"Kak Kim. Saat kau berikan pesta kejutan untukku waktu itu aku sangat senang," ucap Mauren langsung menghadap ke Asisten Kim.
Sean menarik kepala Mauren dan menghadapkan ke wajahnya, " Akan ku gelar pesta ulang tahunmu semeriah mungkin. Puas kau?" ucap Sean yang menatap tajam ke mata Mauren.
"Terima kasih, Tuan," jawab Mauren tersenyum girang.
"Cih!" ucap Sean.
_________________________
Bantu VOTE LIKE KOMEN RATE5 ya teman.
__ADS_1
boleh kasih saran juga kok di komentar..