Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 64 : ....... Membayangkan


__ADS_3

Mauren berjalan lemas menuju apartemennya. Dia tidak langsung berganti pakaian tetapi langsung merebahkan dirinya di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Dia memeluk guling sambil menangis sesegukan. Dia bingung harus menghadapi masalah ini terlebih lagi ia tidak mungkin memberitahukan kepada orang tuanya.


Dia tidak memiliki teman curhat tetapi sampai ia teringat adik kelasnya dulu.


Mauren meraih ponselnya dan mencari nomor tersebut, agak ragu untuk menelpon karena sudah lama mereka tidak berkomunikasi.


"Hallo," ucap suara gadis yang mengangkat telepon Mauren.


"Zara? Ini aku, Mauren"


"Oh ada apa kak?"


"Tidak apa-apa, kabarmu dengan Sera baik-bajk saja 'kan? Aku merindukanmu"


"Kakak kenapa? Sepertinya kakak sedang sedih," tanya Zara menyimpulkan setelah mendengar suara Mauren yang berbeda.


Hiks hiks hiks huaaaa hiks hiks...


Mauren menangis membuat Zara kebingungan, sedangkan Sera yang di sebelah Zara langsung merebut ponsel itu.


"Ini Kak Mauren? Kenapa kakak menangis?" tanya Sera.


Mereka sudah dekat semenjak berada di satu sekolah yang sama. Bahkan bisa dibilang teman dekat. Walaupun anak konglomerat tetapi Sera dan Zara tidak pernah pilih-pilih dalam berteman.


Mauren lalu seketika curhat dengan mereka melalui panggilan telpon. Mauren menceritakan semua masalahnya kepada dua gadis kembar itu. Dia sangat terbuka dengan mereka.


Sera dan Zara memang tidak berpengalaman dalam masalah percintaan tetapi ia tetap menyemangati Mauren.


"Yang jadi pertanyaannya, Siapa pacar Kakak itu? Kata kakak dia orang kaya raya. Siapa tahu kami mengenalnya," tanya Sera.


Mata Mauren terbelalak, ia menyadari jika Sera dan Zara adalah cucu dari Kakek Askar yang sangat terkenal itu.


Aku bodoh! Berarti mereka saudaranya Oppaku? Batin Mauren sambil memegang keningnya.


"Kak Mauren?" tanya Sera yang tidak mendengar jawaban dari Mauren.


"Ah... tidak apa-apa. Ku tutup dulu ya, nanti ku telpon lagi"


Dasar beg* kau Mauren! Kenapa baru sadar sekarang jika mereka saudara Oppa.


Mauren yang kesal lalu berguling-guling dan kakinya menghentak-hentak di ranjang yang luas itu. Dia menghela nafas lalu mencoba meraih remote TV yang ada di meja, dia ingin menghilangkan galaunya dengan menonton televisi.


"Dasar kau anak miskin! Bisa-bisanya kau mendekati anakku!"


"Hiks hiks maafkan aku ibu mertua yang telah salah mencintai anakmu, hiks hiks"


TIT! (Suara ketika berpindah chanel tv)


Mauren menekan tombolnya, ia muak dengan adegan sinetron itu.


"Aku mencintaimu, Romi"


"Aku juga mencintaimu, Julie. Tapi kita harus berpisah karena orang tua kita tidak merestui hubungan ini, hiks... hiks"


TIT!


Mauren memindah chanel lain lagi. Dia harus mencari acara TV yang membuatnya terhibur bukan malah menambahnya sedih.


"Kita putus! Kita tidak pantas hidup bersama. Aku miskin dan kau kaya. Kita tidak selevel"

__ADS_1


"Aku mencintaimu Siti. Kumohon jangan tinggalkan aku"


Bruaaaak


Mauren melempar remote itu mengenai teletivi hingga televisi itu retak dan langsung mati. Dia sangat kesal saat melihat semua acara televisi sangat pas dengan kejadian yang dialaminya.


Dia menarik selimut sampai ke kepalanya dan menangis sekencang-kencangnya.


Huaaa hiks hiks hiks hiks


Di ruangan Sean.


Sean gelisah dan tidak berkonsentrasi bekerja yang ia pikirkan hanya Mauren yang sedang sakit.


Bahkan Mauren juga tidak mengangkat telponnya membuat Sean semakin cemas.


"Kim! Kim!"


"Iya Tuan"


"Tolong gantikan pekerjaanku! Aku mau pulang dan menjaga Orenku. Kasihan dia berada di apartemen sendirian," ucap Sean sambil berdiri mengenakan jas hitamnya.


"Baik Tuan"


Sean segera meninggalkan kantornya dan bergegas menuju apartemennya. Kali ini ia menyetir mobil sendiri.


Terlihat hujan telah reda tetapi masih meninggalkan genangan-genangan air di jalan besar itu.


Setelah sampai ia segera memarkirkan mobilnya dan berjalan cepat menuju kamar teratasnya tanpa memperdulikan penjaga yang memberi hormat kepadanya.


Di sisi lain Mauren mendengar suara pintu terbuka, ia segera menghapus air matanya dan pura-pura tertidur.


"Oren?" tanya Sean sambil menghampiri Mauren yang bersembunyi di balik selimut.


Sean membuka selimut itu, ia bisa melihat Mauren tertidur. Dia memegang kening Mauren yang masih hangat.


"Oppa?" ucap Mauren pura-pura terbangun.


"Apa terjadi gempa? Kenapa TV nya retak?"


Mauren menggelengkan kepala dan berusaha tertidur lagi. Tetapi Sean menarik selimut Mauren dan ia melihat gadis itu belum berganti pakaian.


Sean berinisiatif untuk mengambil baju Mauren di lemari dan setelah itu ia menarik tubuh Mauren untuk terduduk menghadapnya.


Mauren menepis tangan Sean lalu memasang wajah cemberut.


Sean mengerutkan dahi tapi ia tidak menggubris Mauren yang jutek kepadanya.


Dia melepaskan kancing seragam Mauren dan memakaikan baju santai kepadanya dengan sabar.


Aku seperti seorang Ibu yang memakaikan baju putrinya.


Lihatlah saat dia manyun! Ingin sekali aku melum*t bibir itu.


Setelah memakaikan baju, kini giliran melepas rok span hitam yang di kenakan Mauren. Mauren tidak menolak.


Setelah terlepas kini meninggalkan celana dalam yang masih melekat di tubuh gadis itu.


Sean menelan ludah, memang bukan pertama kali ia melihat pemandangan indah itu.


Tapi membuat naluri kejantanannya mulai naik, dengan cepat ia membenamkan wajahnya di bukit itu.

__ADS_1


Mauren terkejut dan tidak sengaja menjambak rambut Sean dan menariknya supaya menjauhi harta karunnya.


"Kenapa kau menjambak rambutku?" tanya Sean yang melihat Mauren sedang memakai celana.


Mauren cuek lalu mengambil selimut dan berlindung di bawah selimut sambil berbaring memeluk guling. Sean masih heran kenapa sikap Mauren hari ini berbeda seakan ketus kepadanya.


"Apakah kau sedang menstruasi hingga membuat suasana hatimu kacau?"


Mauren tetap diam, ia tidak menjawab pertanyaan dari Sean.


Sean menyimpulkan jika memang Mauren sedang menstruasi, ia lalu mencoba menelpon Sera dan bertanya bagaimana cara memperbaiki suasana hati yang sedang menstruasi.


"Hallo?" jawab Sera melalui panggilan telepon.


"Kakak mau bertanya bagaimana memperbaiki mood jelek saat perempuan sedang menstruasi?"


"Kenapa kakak tanya hal itu?


"Cepatlah jawab dan jangan banyak tanya!"


"Huuuft... ajak dia shopping untuk memperbaiki moodnya"


"Tapi dia sedang sakit tidak mungkin ke mall"


"Hmmm... belikan dia perhiasan"


"Tapi kakak sudah membelikan perhiasan minggu lalu"


"Hmmm... ajak dia menonton TV"


"Tapi TV nya rusak," jawab Sean.


"Hmmm... belikan dia coklat dan bunga"


"Kau pikir ini valentine?" jawab Sean sewot.


"Emmm... kenapa kakak tidak berpikir sendiri? Kakak itu aneh, bertanya lalu dijawab malah marah-marah. Bye!" ucap Sera langsung menutup telponnya.


"Hallo? Sera? Adik kurang ajar kau! Malah menutup telponnya"


Sean berdecak, ia sangat kebingungan.


Dia selalu mengajak berbicara dengan Mauren tetapi gadis itu tetap diam.


"Oren. Oppa minta maaf jika ada salah denganmu. Jangan begini, Oren! Oppa takut jika kau ketus denganku terlalu lama"


Mauren terduduk lalu menghadap Sean yang sedih, " Aku mengantuk, Oppa. Tolong biarkan aku tidur," ucap Mauren berbohong.


Sean lega lalu tersenyum sambil mengecup kening Mauren. Dia membiarkan Mauren untuk tidur lalu menyelimutinya.


Dia senang ternyata Mauren tidak marah kepadanya dan hanya mengantuk saja.


Asal kau tau, Oppa. Hatiku tercabik-cabik dan terluka setelah tau kau mengkhianatiku.


Kau jahat Oppa!


_____________________________


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE5 dan VOTE YAAA


KARENA DUKUNGAN KALIAN MEMPENGARUHI FREKUENSI UPDATE SETIAP HARINYA.

__ADS_1


__ADS_2