
Ali melihat Sera sedang berdiri menunggunya di lantai 2. Ali lalu menggandeng Sera masuk ke dalam kamarnya.
Sera sempat ragu tapi Ali meyakinkan tidak ada terjadi apa-apa.
Sera masuk ke kamar Ali. Walaupun Ali termasuk orang kaya tetapi ia nampak sederhana bisa dilihat rumahnya seperti rumah perkampungan pada umumnya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Sera lalu duduk di tepi ranjang, ia melihat Ali yang sedang mengambil buku di rak buku.
Ali menyerahkan buku untuk Sera, Sera hanya mengerutkan dahi.
"Kau suka baca buku?" tanya Ali.
"Iya, aku suka membaca buku"
Mereka lalu membaca buku dengan tenang, Sera nampak serius lalu Ali meliriknya diam-diam. Gadis berponi itu sangat cantik apalagi jika ia sedang diam. Entah kenapa pecicilan Sera mulai berkurang semenjak penyakitnya sering kambuh.
"Manis, kau keluar malam begini tidak di marahin mamamu?" tanya Ali.
"Enggak, mama juga gak ada di rumah"
Sepertinya Sera anak broken home. Batin Ali nampak kasian.
"Oh ya yang sedang hamil itu saudari kembarmu?" tanya Ali lagi.
"Iya, dia Zara. Semenjak Zara menikah aku jadi kesepian"
Entah kenapa Ali refleks mengelus kepala Sera, ia tahu kesedihan Sera.
Anak seusia Sera memang butuh banyak perhatian mungkin sebab itulah Sera mencari pacar supaya di beri perhatian oleh sang pacar.
Sera membaca buku yang di berikan Ali dan Ali juga membaca bukunya sendiri.
"Terus gaya pacaran orang dewasa kayak apa?" tanya Sera.
"Seperti ini, membaca buku bersama," jawab Ali sambil membenarkan kacamatanya.
"Unik juga ya? Sera pikir ngelakuin..."
"Ngelakuin apa?" tanya Ali sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sera.
Sera memalingkan wajah lalu fokus membaca buku lagi tetapi ia tidak bisa fokus karena pertanyaan dari Ali yang membuat Sera malu.
Tiba-tiba ponsel Ali berbunyi ternyata dari Alana. Dia sempat ragu untuk mengangkatnya karena ada Sera dan ia memutuskan untuk tidak mengangkatnya.
"Kenapa tidak diangkat, om sayang?"
"Telpon tidak penting," jawab Ali.
Dan beberapa detik kemudian Asisten Kim menelpon di ponsel Sera. Sera sempat ragu mengangkatnya karena ada Ali tetapi ia tetap mengangkatnya karena jarang sekali Asisten Kim menelponnya.
"Kau dimana, nona? Aku mencarimu di rumah tidak ada," tanya Asisten Kim.
__ADS_1
"Sera sayang, jika ada pacarmu kau tidak boleh mengangkat telpon dari pria lain," ucap Ali merebut ponsel Sera dan mematikan telpon dari Asisten Kim.
Asisten Kim tercengang ternyata Sera bersama Ali malam-malam begini. Entah kenapa ia menjadi resah tetapi apalah daya ia bukan siapa-siapanya. Sedangkan Sera menatap Ali dan merebut ponselnya.
"Kenapa?" tanya Sera.
"Aku tidak suka"
Sera menghela nafas lalu melanjutkan membaca bukunya.
Ali keluar dari kamarnya untuk membuatkan minum dan membawakan camilan supaya tidak bosan.
Di dalam dapur, ia melihat sang ibu sedang bersih-bersih.
"Cepat sekali, Al?" tanya ibu.
"Cepat apanya, bu?" jawab Ali sambil membuka kulkas.
Ibu tertawa melihat anaknya yang terlalu polos padahal kepolosan Ali sudah pernah menjebol gawang Alana dengan keadaan sadar.
Ali melihat ada sabun cair pencuci piring dan cairan pembersih lantai di dalam kulkas. Dia menghela nafas pasti ini ulah sang ibu.
"Ibu, sudah aku bilang ini ditaruh di lemari biasa jangan di kulkas," ucap Ali.
"Biar dingin, Al," jawab Ibu sambil membersihkan kompor yang sudah sangat bersih.
Ali menggenggam tangan sang ibu, ia sangat kasian dengan beliau semenjak suami dan anak ketiganya meninggal ia jadi seperti ini. Walaupun begitu ia tidak pernah membahayakan orang justru ia semakin ramah kepada orang yang ditemuinya.
"Dewi sudah pulang?" tanya Ali menanyakan sang adik perempuannya.
Seketika Ali membuka ponselnya lalu mengirim pesan kepada Dewi untuk segera pulang jika tidak maka ia tidak akan memberikan uang jajan kepada Dewi yang sedang kuliah jurusan hukum itu.
"Ibu sekarang istirahat saja! Ayo biar Ali antar ke kamar ibu," ucap Ali sambil mendorong ibunya masuk kamar.
"Sera bagaimana? Dia ikut bergoyang atau diam saja?" tanya ibu.
"Aissh ibu ini. Jangan berpikiran yang tidak-tidak ibu!"
Setelah mengantar ibu di kamar, Ali segera menuju ke dapur lagi mengambil makanan dan minuman.
Setelah itu ia menuju ke kamarnya dan melihat Sera meringkuk di tempat tidurnya.
"Manis, kau kenapa?" tanya Ali terkejut.
Sera menggelengkan kepalanya, sebenarnya dadanya terasa sakit tetapi ia tidak mau bilang.
Ali memberikannya minum dan melihat wajah Sera yang memucat.
"Kau sakit?" tanya Ali.
Sera menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Manis, ayo makan camilannya setelah ini aku antar pulang"
"Aku tidak mau pulang, aku mau disini," jawab Sera.
"Kau tidak boleh menginap disini, kita belum menikah dan akan menimbulkan fitnah"
"Apa om sayang berpikir akan menikahiku?" tanya Sera.
Ali nampak terkejut dengan pertanyaan Sera. Dia berdehem dan nampak salah tingkah. Apakah anak SMA jaman sekarang sudah memikirkan hal itu?
"Sera, aku tidak bisa menikahimu. Aku tidak baik untukmu. Aku sudah kotor," jawab Ali sambil membenarkan kacamatanya.
"Siapa wanita itu?"
Ali menaikan alisnya dan tersenyum kecut.
"Kau tidak perlu tau yang pasti ia tidak ingin ku nikahi. Tapi aku masih menunggunya. Aku sangat mencintainya tapi sepertinya ia tidak mencintaiku," ucap Ali.
Sera menepuk bahu Ali. Dia sama seperti Ali mendapatkan cinta bertepuk sebelah tangan. Sera memeluk Ali, entah kenapa nasibnya sama dengan pria itu dan sepertinya Ali adalah orang baik.
"Om sayang? Om sayang jangan sampai jatuh cinta denganku ya? Aku juga tidak akan jatuh cinta dengan om sayang," ucap Sera.
"Tidak janji, Sera. Gunanya pacaran untuk apa jika tidak saling mencintai?" ucap Ali.
Sera mencubit perut Ali dan sontak membuat Ali terkejut.
"Hahaha... Aku akan tetap meminta ciuman pertamaku," ucap Ali.
"Tidak mau!" jawab Sera sambil menutup mulutnya.
Ali mengelus kepala Sera, Sera memang mirip dengan adiknya yang sudah meninggal. Ali tersenyum bisa-bisanya memiliki pacar seimut Sera dan tanpa berpikir Ali mencium pipi Sera.
CUP
"Om sayang mesum sekali. Aku kan gak mau di cium," ucap Sera sambil mengelap bekas ciuman di pipinya.
"Kau membuatku gemas, manis"
Sera mundur secara perlahan lalu meraih tasnya. Dia meminta pulang sebelum Ali melakukan hal lebih kepadanya. Ali tersenyum lalu mengantarkan Sera pulang.
Disisi lain.
Pasutri yang sedang sibuk-sibuknya mengurus bayi 7 bulan itu sedang berdebat kecil karena masalah ranjang.
"Seina diletakan pada box tidurnya saja!" pinta Sean.
"Tidak usah, oppa"
"Dia mengganggu olahraga malamku," ucap Sean marah.
Dan tiba-tiba Seina menangis kencang karena terbangun akibat suara Sean yang keras.
__ADS_1
"Dasar bayi alay! Dikit-dikit nangis, cih... gagal lagi aku meminta jatah"