
8 bulan kemudian.
"Oeee... oeee... oeeee... oeeee..."
"Selamat Tuan Sean, anak anda laki-laki," ucap Dokter yang membantu persalinan Mauren.
Setelah berjam-jam merasakan kontraksi akhirnya bayi kecil penerus keluarga Adinata lahir.
Pipinya gembul dan merah, alisnya begitu tebal dan hidungnya sangat mancung.
Dokter langsung meletakan di dada Mauren dan memberi asi pertama untuk bayi mungilnya itu.
Sean begitu terharu dan ia meneteskan air mata. Bayi mungil itu mengingatkan Daleon saat masih bayi. Dia sungguh mirip dengan Daleon.
Setelah menyusui, suster segera mengambil bayi itu dan memandikannya. Sean mengelus kepala Mauren dan mengecup keningnya.
"Terima kasih sudah berjuang memberikan anak untukku. Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita," bisik Sean.
Mauren menangis, perjuangannya kini tidak sia-sia. Semua telah dilaluinya dengan baik. 8 tahun terakhir ini membuatnya begitu kuat.
Mauren yang dibuang oleh Delia dan ditemukan kakek Askar lalu diserahkan kepada bapak dan ibunya yang sebagai tukang sayur dipasar sampai ia menemukan jodohnya secara tidak sengaja, bisa dibilang mendadak menikah ini adalah jalannya menuju kebahagiaan. Dia menikah secara tiba-tiba dengan orang yang ia tidak tahu asal usulnya. Sampai orang itu memperlakukannya dengan baik, menyayanginya sepenuh hati.
Suster lalu membawa bayi itu dan menyerahkan kepada Sean. Sean lalu menggendongnya dengan hati-hati dan membaca doa menurut keyakinannya.
Dia berharap bayi ini akan tumbuh dengan baik, memiliki sifat baik dan selalu diberi kesehatan dan keselamatan.
Setelah selesai membaca doa, Sean memandang bayi yang nampak malu-malu untuk membuka mata.
"Navier Alister Putra Adinata," ucap Sean.
"Nama panggilannya?" tanya Mauren.
"Navier"
Sean menciumi bayinya lalu menyerahkan kepada Mauren. Mauren cemberut karena kedua anak yang di kandungnya sangat mirip dengan Sean dan tidak mirip dengannya.
"Jangan bersedih sayang! Seina sangat mirip denganmu," ucap Sean sambil mengacak rambut Mauren. "Oren sayang, oppa pulang dulu ya? Mau melihat Seina dan Daleon. Nanti oppa akan datang lagi," sambung Sean.
Mauren menganggukan kepala, Sean langsung keluar dari ruangan Mauren.
Terlihat Asisten Kim sudah menunggu di luar ruangan.
Sean langsung memeluk Asisten Kim dan ia begitu senang karena anak yang dilahirkan Mauren laki-laki lagi.
"Selamat Tuan Sean. Saya juga ikut senang," ucap Asisten Kim.
"Kau juga harus buat lagi, Kim. Kasian Ali dia pasti kesepian"
Asisten Kim tersenyum, ia ingin mempunyai anak lagi tapi karena istrinya trauma dengan melahirkan maka ia tidak memaksa sang istri untuk hamil lagi.
Mereka langsung menuju mobil dan menuju ke rumah mamanya. Seina dan Daleon di titipkan di rumah mamanya dari kemarin.
Di rumah mama,
__ADS_1
"Seina, Daleon. Makan dulu!" ucap mama Sean.
"Mama kok belum pulang," tanya Daleon yang sudah berumur 5 tahun.
"Mama sebentar lagi akan pulang, Dale makan dulu," ucap Mama Sean.
Seina membantu Daleon untuk makan. Seina menyuapi adiknya dengan sabar.
Mama melihat Seina sambil tersenyum, gadis kecil itu sangat baik walaupun terkadang pecicilan.
Mama Sean sudah menerima Seina seperti cucunya sendiri. Dia juga semakin gemas dengan Seina yang semakin cantik.
"Oma... besok Sein disuruh bawa tanaman," ucap Seina sambil menyuapi Daleon.
"Tanaman apa?"
"Gak tau, kata ibu guru terserah," jawab Seina.
"Nanti oma carikan, oh ya oma mau mandi dulu. Jika makannya sudah selesai suruh Bibi Ica bereskan ya," ucap Mama Sean.
Seina menganggukan kepala, ia melanjutkan menyuapi Daleon. Daleon terlihat bermain robot kesayangannya dan sesekali membantingnya membuat Seina terkejut.
"Jangan Dale! Nanti rusak," ucap Seina.
"Lampunya gak bisa nyala kak, Dale kesel"
"Biar kakak benarkan"
5 menit kemudian Sean datang, ia membawa camilan untuk anak-anaknya.
"Papa...," teriak Daleon sambil berlari memeluk papanya.
"Anak papa sedang apa?"
"Paa... mana mama dan adek? Dia cowok atau cewek?" tanya Seina antusias.
"Dia cowok, tampan sekali dan imut"
Sean lalu duduk dan memangku kedua anaknya di sofa. Dia menceritakan bayi Navier kepada mereka. Seina dan Daleon begitu antusias lalu ingin segera bertemu dengan adiknya.
"Sudah pulang, Sean? Dimana Mauren dan cucuku?" tanya Mama.
"Dia masih di rumah sakit, mah. Bayi kami laki-laki. Dia mirip dengan Daleon," ucap Sean.
Sean menceritakan saat Mauren mulai masuk diruang persalinan. Sean sangat panik dan ketakutan saat tensi darah Mauren sangat rendah. Mauren sempat kehabisan tenaga lalu Sean memberikannya sugesti beserta semangat.
"Kenapa Mauren kau tinggal, Sean?" tanya Mama.
"Dia bersama ibu dan mamanya. Aku kesini untuk membawa Seina dan Daleon untuk melihat adiknya," jawab Sean.
Mereka bersama-sama menuju rumah sakit, Seina begitu antusias ingin bertemu adiknya.
Sean sedari tadi memancarkan aura kebahagiaan.
__ADS_1
Mamanya begitu senang jika sang anak merasa bahagia dengan pernikahan yang di jalaninya.
Mama dulu sempat egois dengan kebahagiaanmu. Maafkan mama.
Mama sangat senang melihat kau bahagia dengan istri beserta anak-anakmu. Batin Mama.
Disisi lain,
Dokter Juna sedang bekerja seperti biasanya. Dia kini berada di ruangannya untuk sekedar istirahat makan siang.
Dokter Juna selalu membawa makanan dari rumah tentu saja masakan istrinya yang tercinta walau makanan buatan Zara tidak begitu enak.
Dokter Juna selalu menghargai jerih payah Zara yang selalu membuatkan makanan untuknya dan ia selalu menghabiskan makanan Zara yang kadang asin, hambar atau terlalu pedas.
Dokter Juna membuka kotak makan dan ia terkejut melihat sesuatu dengan dua garis merah, apalagi jika bukan tespack?
Zara membungkusnya dengan plastik dan terlihat kotak makan itu bukan berisi makanan melainkan kaos kaki dan sepatu bayi.
Dokter Juna menemukan kertas lalu ia membacanya.
Hari ini aku bahagia banget honey.
Aku merasa mual dan muntah. Aku pikir hanya masuk angin biasa tapi dengan iseng aku pipisin testpack itu dan terlihat dua garis merah tergambar.
Aku sangat bahagia. Aku hamil lagi, honey. Aku senang. Terima kasih honey sudah banyak memberiku banyak kebahagiaan. Keluarga kita udah lengkap dengan kehadiran si kembar Naira dan Naiza lalu kini bayi mungil di dalam perutku menambah kesempurnaan keluarga mereka.
Dokter Juna terharu, ia memeluk surat itu di dadanya. Dia sangat bersyukur jika Zara hamil lagi. Dokter Juna lalu menelpon Zara dan mengatakan banyak terima kasih.
"Aku mencintaimu, Zara sayang. Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu," ucap Dokter Juna melalui panggilan telepon.
"Sama-sama sayang, setelah ini aku akan mengantar makanan untukmu. Maaf aku tadi tidak sempat memasak karena saking lupanya karena senang atas kehamilanku"
"Sayang dirumah saja, jaga anak-anak kita dengan baik. Aku mencintaimu, Zara"
Sedangkan disisi lain,
Sera bersama anaknya yaitu Ali mengunjungi makam mantan pacarnya yaitu Zachary Ali.
Sudah beberapa tahun semenjak Ali meninggal Sera tetap mengunjungi dan merawat makam Ali.
Ali sangat berjasa di kehidupannya. Berkat Ali juga ia bisa hidup sampai sekarang bersama keluarga kecilnya.
"Om Ali apa kabar? Aku rindu Om Ali," ucap Sera.
"Mah, kenapa namanya sama dengan Al?" tanya Ali Aldebaran.
"Om Ali sangat berjasa bagi mama. Dia pahlawan mama," jawab Sera.
"Apa Ayah gak berjasa buat mama? Ayah 'kan juga baik," ucap Ali.
"Mereka berdua begitu baik dengan mama. Mereka berdua pahlawan mama," jawab Sera.
Sera lalu membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar makam Ali. Sera sangat begitu merindukan sosok Ali yang selalu baik dan perhatian kepadanya.
__ADS_1