
"Kau hanya iri denganku 'kan Kak Desy? Aku bisa setiap hari masuk keruangan presdir melihat ketampanan Tuan Sean. Kau iri dengan wajahku yang glowing dan terawat ini apalagi dengan tadi pagi aku menaiki mobil mewah membuat kau semakin panas. Benar 'kan?" tanya Mauren sangat yakin.
"Hey jaga mulutmu! Aku tidak mungkin iri dengan dirimu yang murahan itu," jawab Desy tak kalah pedas.
Mauren terkejut dan segera pergi meninggalkan mereka. Dia bergegas menuju ke toilet dan bertapa disana sambil melihat website perusahaan Young Group.
Dia terkejut saat melihat foto dirinya saat berada di klub malam saat berpacaran dengan Reza. Saat itu ia hanya ikut dengan Reza dan tidak tau jika itu adalah sebuah klub malam.
Tangannya bergetar hebat dan ia sudah tidak berani keluar dari toilet.
Saat pulang.
Mauren membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
Sedari tadi ia mendapat gosip-gosip aneh yang tengah booming di pegawai Young Group. Dia hanya cuek dan menganggap omongan tak penting tentang dirinya.
Banyak mata yang menatapnya sinis tetapi Mauren menyikapinya dengan tatapan datar.
Dia berjalan menuju keluar gedung perusahaan, ia melihat sudah ada Pak Zainal yang menunggunya dan ingin membawakan tasnya tetapi Mauren menolak. Dia hari iniĀ ingin naik taksi saja dan tidak ingin naik mobil mewah itu tetapi Pak Zainal melarangnya karena ia takut akan mendapat hukuman dari Sean.
"Saya sudah izin Sean, Pak. Dan dia mengizinkan saya," ucap Mauren berbohong kepada Pak Zainal.
Mendengar ucapan Mauren yang meyakinkan, Pak Zainal tidak bisa membantah dan ia membiarkan Mauren pulang naik taksi.
Dia dengan cepat berlari ke arah jalan raya dan menaiki taksi yang ia sudah pesan dari aplikasi online.
Dalam perjalanan ia hanya termenung tidak memikirkan apa-apa bahkan sedari tadi ponselnya berbunyi ia tidak menghiraukannya.
Di dalam mobil milik Sean.
Sean nampak panik ketika tau Mauren tidak naik mobil bersama Pak Zainal. Dia berusaha menelpon Mauren tetapi gadis itu tidak mengangkatnya.
Asisten Kim melihat wajah panik Sean dari pantulan kaca spion di depannya. Tubuh Sean tidak bisa diam dan mencoba menelpon Mauren berulang kali.
"Apakah anda sangat khawatir Tuan, Sehingga tubuh anda tidak bisa diam?" tanya Asisten Kim keheranan.
"Khawatir kepala bapak kau! Aku kebelet pipis, Kim. Cepat cari pom bensin!" ucap Sean membuat Asisten Kim merasa geli.
10 menit kemudian.
Aah... lega rasanya. Batin Sean.
Dia berjalan menuju mobil dan duduk dibangku depan bersama sang Asisten.
Dia selalu mengecek ponselnya tetapi tidak ada balasan dari Mauren.
"Sudah ada kabar Kim yang memposting komentar jahat di website kantor tentang Mauren?" tanya Sean.
__ADS_1
"Belum Tuan. Dia memakai akun palsu tetapi jangan khawatir Tuan, mungkin besok akan terlacak siapa pelakunya"
Memang pertama kali melihat artikel yang terposting di website perusahaan ternama itu membuat Sean sangat marah. Tetapi ia tidak bisa sepenuhnya percaya pada postingan sampah itu apalagi si pembuat menggunakan akun palsu.
Di artikel itu menyebutkan jika salah satu karyawan Young Group adalah kupu-kupu malam dan di dalam postingan itu terdapat foto Mauren sedang berada di klub sambil mengenakan celana super pendek.
Sean masih belum mendapatkan penjelasan dari Mauren karena sejak munculnya artikel sampah itu Mauren selalu menolak ketika di suruh mengantar dokumen ke ruangan Sean.
Sean lalu teringat dengan ucapan Valto ketika Mauren sedang sedih pasti ia akan datang ke taman favoritnya. Sean segera menyuruh Asisten Kim untuk menuju ke taman itu dengan cepat.
Sesampainya di taman.
Sean bisa melihat Mauren terduduk di bangku taman tetapi ia tidak langsung menghampirinya, ia mengambil ponsel dan menelpon gadis yang duduk membelakanginya.
Sudah beberapa kali Mauren tidak mengangkat telepon dari Sean. Dan pada akhirnya gadis itu mengangkatnya dengan malas.
"Hallo Oppa, malam ini aku pulang terlambat," ucap Mauren melalui panggilan telepon.
Sean yang melihatnya dari jauh hanya tersenyum mendengar suara Mauren yang terlihat baik-baik saja.
"Kau berada di luar ruangan? Coba lihatlah bintang dan coba hitung jumlahnya!" pinta Sean.
Mauren mendongakkan kepala lalu tersenyum melihat bintang yang bertaburan begitu indah dan sangat banyak.
"Jumlahnya tak terhingga, Oppa"
"Seperti cintaku yang jumlahnya tak terhingga untukmu, Orenku"
Mereka saling mengobrol lewat telpon. Mereka saling tertawa bahagia tetapi tidak bagi Asisten Kim, ia hanya menjadi saksi keromantisan mereka. Malang sekali nasibnya hanya menjadi obat nyamuk bagi pasangan aneh itu.
Setelah Sean sudah lelah mengobrol, ia berniat menghampiri Mauren.
Sean berjalan mengendap-endap dan ingin mengagetkan Mauren dari belakang. Tapi sayangnya Mauren sangat terkejut membuatnya melontarkan tamparan keras di pipi Sean.
Plaaaaak
Sean sangat terkejut apalagi Mauren, gadis itu mendekati Sean yang masih syok akan tamparan kerasnya itu. Mauren berusaha memegang pipi Sean tetapi pria itu menepisnya.
"Aku jauh-jauh kesini untuk melihat keadaanmu tetapi kau malah menamparku," ucap Sean marah.
"Aku tidak sengaja, Oppa"
Sean tidak memperdulikan Mauren, ia berjalan meninggalkannya dan menuju mobil.
Mauren dengan cepat mengikutinya dari belakang.
"Oppa, maafkan aku"
__ADS_1
Sean tetap melangkah menuju mobil bersama Asisten Kim lalu mereka masuk mobil dan Mauren mengikutinya.
"Turun kau!" perintah Sean yang sudah melihat Mauren duduk sebelahnya.
Mauren memeluk Sean dengan erat dan meminta maaf bersungguh-sungguh tetapi Sean tidak memperdulikannya dan berusaha mendorong Mauren.
Mauren tidak kehabisan akal, ia mencoba menciumi sang ular hingga terbangun.
Gadis ini pandai juga bisa tau kelemahanku. Batin Sean.
"Oppa..."
"Kenapa berhenti? Ya sudah aku memberimu toleransi. Lanjutkan dirumah saja!"
Mendengar ucapan Sean, Mauren memeluknya kembali dan kini Sean menerima pelukan itu lalu menepuk-nepuk punggung Mauren. Tetapi gadis itu seolah malu dengan rumornya di kantor dan mencemarkan nama baik perusahaan Young Group, ia menangis terisak di pelukan Sean.
"Aku tidak tau jika itu benar atau tidak. Tetapi jika ada masalah jangan kabur begini, aku sangat khawatir, Orenku"
"Aku malu untuk bertemu Oppa"
Malu? Uhhh... imutnya. Batin Sean.
"Kau bisa jelaskan masalah itu besok di meeting bulanan. Kau bisa jelaskan di depan para pegawai lain tentang artikel sampah itu supaya mereka tidak salah paham denganmu"
Mauren menggelengkan kepala, ia sudah cukup malu menghadapi pegawai lain. Tetapi Sean meyakinkan esok masalah itu akan selesai dan orang yang memposting artikel sampah itu akan tertangkap.
"Aku di bully dengan mereka, aku di hina oleh mereka. Aku takut mendengar ucapan-ucapan mereka yang menyakitkan," ucap Mauren sambil terisak.
"Siapa yang berani menghinamu? Kim. Cari orang yang menghina istri cantiku! Potong gaji mereka bulan ini!"
"Baik Tuan"
Sean mencoba sedikit mendorong tubuh Mauren yang memeluknya erat, ia menangkup wajah Mauren dengan kedua tangannya. Dia bisa melihat wajah imut Mauren yang sedang menangis. Tetapi Sean mencoba melihat jas hitamnya, ia terkejut saat ingus Mauren menempel disitu.
"Itu bukan salahku, Oppa. Ingusnya yang menempel sendiri," ucap Mauren sambil tersenyum menunjukan wajah imutnya.
"Oh... begitu ya sayang?" jawab Sean mulai geram.
****
Hallo ini author.
kesehatan author lagi terganggu jadi gak bisa ngetik banyak2..
ketimbang ngetik tapi malah gak nyambung.
***Dukung karya ini dengan LIKE, KOMEN, RATE5 dan VOTE supaya author lebih semangat bikin ceritanya.
__ADS_1
OH YA... BANTU SPAM KOMEN DONG.
KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA BIAR POPULARITAS (lambang api) MENJADI CEPAT NAIK***.