
Suasana semakin panas, terlihat kemarahan Sean semakin tinggi.
Sedangkan Asisten Kim berada tidak jauh dari sang tuan. Dia tidak berani ikut campur urusan sang tuan beserta keluarganya.
"Kim?"
"Iya, Tuan"
"Blokir semua aktivitas kartu debit maupun kartu kredit milik mereka kecuali milik Kakekku," ucap Sean dengan mata menatap tajam.
"Baik, Tuan"
"Kau tidak bisa begitu Arsean!" ucap sang Mama tidak terima.
Sean tidak menggubris ucapan sang Mama. Dia langsung berjalan ke luar rumah tanpa mengindahkan mereka yang meminta maaf. Telinga Sean sudah sangat sakit mendengar permintaan maaf mereka dan kali ini sikap mereka kepada Mauren tidak bisa ditoleransi.
Ketika Sean masuk ke dalam mobil, Asisten Kim mendapat kabar dari detektif suruhannya. Asisten Kim tercengang mendapat kabar yang tidak diduganya. Sedangkan Sean sudah menatapnya dengan penasaran.
"Ada apa Kim?"
"Gawat Tuan. Nona Mauren ternyata di bawa ke klinik aborsi ilegal di pinggir kota"
Sean langsung terkejut, darah mulai naik lagi dan kemarahan Sean semakin tak terkendali. Dia sangat kesal kepada keluarganya, dia juga ketakutan dengan keadaan Mauren sekarang.
"Bagaimana keadaan Oren dan bayiku, Kim?"
"Keberadaan Nona Mauren belum terlacak lagi. Terakhir hanya sampai di klinik aborsi itu"
Sean memegangi kepalanya, ia semakin khawatir dengan keadaan sang istri. Dia sangat takut kehilangan Mauren dan. calon buah hatinya.
Semoga Mauren dan Vino baik-baik saja. Jika tidak maka aku tidak akan pernah memaafkan mereka.
Sesampainya di klinik aborsi, Sean dengan cepat masuk kedalam klinik yang sangat sepi itu. Dia berusaha mencari keberadaan seseorang tetapi nihil di tempat itu tidak ada seorangpun membuat Sean semakin frustasi.
"Kim. Tutup tempat ini dan laporkan ke polisi karena telah membuka tempat praktek biadab ini," pinta Sean tidak main-main.
"Baik, Tuan"
Asisten Kim mendapat telepon lagi, ia mendapat kabar jika Mauren sudah ditemukan titik terakhir keberadaanya.
Menurut informasi, Mauren dibuang di pinggir hutan tetapi ia masih belum ketemu.
Sean langsung meminta untuk kesana, ia takut jika Mauren terjadi apa-apa.
Bertahanlah Oren! Oppa akan menemukanmu.
Dalam perjalanan, Sean sangat panik sampai menyuruh Asisten Kim melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Bangs*t! Seperti keong kau menyetir mobil. Berikan padaku biar aku yang menyetir!" ucap Sean.
"Biar saya saja, Tuan. Tuan sedang emosi bisa berbahaya jika menyetir mobil"
"Bagaimana aku tidak emosi, Kim? Istri dan bayiku dalam keadaan bahaya. Sialan! Brengs*k!" ucap Sean sambil menggebrak kaca mobil.
Asisten Kim memilih diam, ia tidak ingin menambah suasana hati sang tuan semakin buruk. Dia melajukan mobilnya secepat mungkin membuat Sean malah ketakutan.
__ADS_1
"Sialan kau, Kim! Kencang sekali kau menyetir mobil. Aku belum ingin mati," teriak Sean.
"Tuan tadi meminta saya untuk melajukan mobilnya dengan kencang"
"Tidak sekencang ini gobl*k! Jangan mengajak bertengkar kau!" jawab Sean.
Asisten Kim menghela nafas, dalam situasi seperti ini pun sang tuan masih bisa bersikap aneh.
Sampai setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah hutan yang sangat gelap dan disana ternyata sudah ada para bodyguard yang mencari keberadaan Mauren.
Sean lalu keluar dari mobil, ia menghampiri beberapa bodyguardnya dan ternyata belum menemukan Mauren.
Disisi lain.
Mauren tersadar dari pingsannya, ia merasa pusing dan perutnya terasa nyeri. Dia berusaha terduduk dan melihat di sekitarnya, hanya ada pepohonan tinggi nan gelap.
Dia lalu tersadar terakhir kali ia bertemu dengan Mama Sean saat diruangan aneh itu dan Mauren teringat dengan janin yang ada di perutnya.
"Nak, kau masih berada di perut bunda 'kan, Nak?" ucap Mauren sambil mengelus perutnya.
Dia lantas berdiri dan berusaha keluar dari hutan yang gelap itu. Dia berjalan tak tentu arah dan malah mengarah ke jurang yang cukup curam.
Mauren terpeleset lalu jatuh kedalam jurang, ia jatuh terguling-guling sampai kakinya menatap sebuah batu yang membuatnya tidak bisa bangkit untuk berdiri. Kakinya mengeluarkan darah, ia sangat kesakitan bahkan ia berusaha menggerakan kakinya saja terasa sangat sakit.
Sepertinya aku akan mati disini. Bapak, Emak, maafkan Mauren yang selalu nakal. Mauren menyesal.
Maafkan aku Oppa. Aku tidak bisa menemani Oppa sampai tua nanti.
Tetapi tiba-tiba Mauren mendengar suara yang memanggil namanya dan tidak asing di telinganya.
Dan tidak hanya suara Sean saja tetapi suara Asisten Kim dan beberapa suara asing lainnya terdengar di telinga Mauren.
"Oren?" teriak Sean sekali lagi.
"Oppa...," sahut Mauren.
Sean dan Asisten Kim menajamkan pendengaran mereka, Sean langsung senang ketika yakin jika suara itu adalah suara Mauren.
"Dimana kau Oren?"
"Aku disini Oppa, di jurang"
Mereka mencoba mencari keberadaan Mauren di jurang yang gelap itu, mereka mengarahkan senter kearah jurang dan menemukan Mauren terbaring lemah di pinggir batu.
"Oren... bertahanlah! Oppa akan kesana"
"Biar saya saja, Tuan," pinta Asisten Kim.
"Tidak usah, Kim. Dia istriku, aku yang harus menyelamatkannya"
Sean turun dengan hati-hati, ia mengarahkan senter dimana ia harus berpijak. Jurang itu begitu curam dan licin, ia cukup kesusahan untuk melangkah turun.
Sampai kakinya tidak sengaja menginjak ranting membuatnya ia terpeleset lalu jatuh.
"Oppa...."
__ADS_1
"Tuan...."
Mereka sangat panik, Sean berusaha bangkit, terlihat celananya terkoyak dibagian lutut. Dia tidak memperdulikan kakinya kesakitan karena beberapa langkah lagi ia akan sampai ke Mauren.
"Oren sayang," ucap Sean sambil mengusap kepala Mauren.
Dia begitu miris dengan keadaan Mauren yang berdarah-darah.
Sean lalu menggendong Mauren dibelakang tubuhnya, ia juga mendengar suara Mauren yang merintih kesakitan.
"Bertahan sayang," ucap Sean.
Sean mulai naik keatas, ia merasa kesusahan untuk naik dengan kondisi medan yang licin.
Terlihat para bodyguardnya bahu membahu untuk membantu Sean untuk naik. Dan benar saja, tidak sampai lama ia bisa naik keatas dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Hah... hah... hah... berat sekali kau Oren. Gendong Oren sampai mobil, Kim! Kaki ku sangat perih karena terjatuh tadi"
"Anda tidak apa-apa, Tuan?"
"Aku tidak apa-apa? Hanya sedikit pincang saja"
Mereka lalu berjalan menuju mobil, sesekali Mauren yang berada digendongan belakang Asisten Kim melirik Sean, Sean lalu mengusap kepala Mauren dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Berhenti, Kim!" pinta Sean.
Sean lalu mengecup kepala Mauren membuat gadis itu terkejut.
"Oppa memang sengaja membuat Asisten Kim cemburu?" tanya Mauren.
"Kau cemburu, Kim?"
"Tidak, Tuan"
"Nah, dengar sendiri, 'kan? Awas jika cemburu! Ku suruh kau menggendong Mauren sampai ke Antartika!"
Asisten Kim tersenyum kecut, cemburu? Memang benar ia cemburu. Tetapi ia tidak mau terlalu memikirkannya.
Sesampainya di mobil, mereka langsung menuju ke rumah sakit. Sean terlihat memeluk Mauren dan mengelus perut Mauren, ia berharap jika bayinya masih ada di dalam perut sang istri tercinta.
"Ceritakan Oren apa saja yang dilakukan mereka kepadamu! Apakah mereka menyakitimu dan bayi kita? Dan apakah mereka juga yang membuangmu ke jurang?"
"Aku tidak terlalu ingat, Oppa. Seingatku aku berada diruangan yang kuat dengan aroma obat-obatan dan aku melihat Mama mu dan Mama Sera. Aku dibungkam dan diikat di ranjang, aku tidak bisa bergerak"
Sean mengepalkan tangannya, ia tidak menyangka seorang Mama yang terlihat baik ternyata sangat kejam.
"Tapi apakah bayi kita baik-baik saja?"
"Aku tidak tau Oppa, setelah itu aku tidak sadar dan tiba-tiba terbangun sudah berada di hutan. Aku mencari jalan keluar tetapi aku tidak sengaja terpeleset lalu jatuh ke jurang"
Sean lalu memeluk Mauren, ia merasa sangat kasihan dengan sang istri mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarganya.
Dia melirik Kaki Mauren yang sangat terluka, ia mengelap darah yang mengalir menggunakan sapu tangannya.
Itu baru Mama dan Tanteku yang tahu.
__ADS_1
Jika Kakekku yang tahu pasti akan lebih parah dari ini. Aku harus berhati-hati.