
Asisten Kim lalu menyandarkan kepalanya di ranjang sambil menggenggam tangan Mauren.
Sampai dirinya terlelap karena sudah mengantuk dan sangat lelah karena aktivitas hari ini.
Sampai ketika Sean datang melihat Asisten Kim tertidur sambil menggenggam tangan Mauren.
"Awas kau, Kim!" ucap Sean kesal.
Sean lalu mendekati Asisten Kim lalu memukul punggung pria itu dengan keras.
Plaaaaak...
"Aaaaaw," teriak Asisten Kim.
Dia terbangun karena kesakitan, punggungnya terasa panas akibat tamparan keras dari sang tuan.
Sedangkan Sean menatap wajah Asisten Kim dengan geram.
"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Kim.
Sean langsung memberi kode sang Asisten untuk melihat tangannya yang menggenggam tangan Mauren, Asisten Kim terkejut lalu segera melepaskan tangan Mauren.
"Anda salah paham, Tuan. Nona Mauren sedari tadi mengigau lalu saya mencoba menenangkannya," jelas Asisten Kim.
Sean masih memandangnya sedang tahan yang bersedekap di dada. Dia lalu melirik tangan Mauren dan tangan Asisten Kim yang di perban.
"Sialan kau! Ku pikir kau sudah melupakan Orenku ternyata kau masih menginginkannya," ucap Sean marah.
"Maksud anda apa, Tuan?"
"Lihatlah tanganmu dan tangan Oren couple.an perban. Sialan kau!"
Asisten Kim mengernyitkan dahi, ia menggeleng-gelengkan kepala, ia heran kenapa sang tuan makin hari makin aneh saja.
"Sialan! Kenapa kau? Ku pecat baru tau rasa kau," ucap Sean yang merasa Asisten Kim seperti mengejeknya.
"Pecat saja, Tuan. Uang saya sudah banyak"
Sean terkejut mendengar ucapan Asisten Kim lalu ia menjambak rambut Asisten Kim sedangkan Asisten Kim tidak mau kalah, ia malah menggelitiki tubuh Sean.
Mereka bertengkar seperti anak kecil membuat suara yang gaduh sehingga Mauren terbangun.
Mauren langsung melihat mereka yang bertengkar, ia langsung berteriak histeris.
"Pergi kau! Pergi kau, Sean! Keluargamu sudah membunuh anakku, pergi kau keparat! Hidupku hancur gara-gara menikah denganmu," teriak Mauren sambil melempar bantal kearah Sean.
__ADS_1
Mauren sangat ketakutan melihat Sean, ia sampai terduduk sambil memegangi kepalanya dengan kencang. Dia begitu takut bertemu dengan keluarga Adinata.
Sean lalu mendekati Mauren, ia terkejut dengan sikap Mauren yang malah takut dengannya.
"Oren, kenapa kau Oren sayang? Aku suamimu, aku orang tertampan dinegeri ini, apakah kau lupa?"
"Pergi kau! Aku tidak ingin mengenalmu lagi, keluargamu sudah membunuh anakku," teriak Mauren sambil menangis histeris.
Sean memeluknya dengan paksa, ia terkejut jika Mauren sudah tahu jika bayi yang ada dikandungannya sudah tidak ada. Sean tahu kesedihan Mauren, ia juga merasakan kesedihan itu.
Dia sangat terpukul kehilangan anaknya apalagi mengetahui jika Mauren sulit hamil lagi.
"Lepaskan! Aku benci denganmu," ucap Mauren sambil memberontak.
"Tenanglah Oren! Jangan khawatir! Kau masih bisa hamil lagi, kita masih bisa buat setiap hari. Ikhlaskan bayi kita Oren! Dia sudah berada di surga. Ku mohon Oren jangan begini! Aku sangat mencintaimu"
Mauren masih menangis, ia dengan terpaksa membalas pelukan dari Sean. Dia menumpahkan kesedihannya di pelukan Sean. Hatinya memang masih sangat sakit mengingat keluarga Sean yang semena-mena terhadapnya.
Sean lalu melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Mauren, ia bisa melihat air mata Mauren yang mengalir beserta ingusnya.
Sean lalu melihat jasnya yang belum sempat ia ganti dari tadi pagi, ia bisa melihat air mata Mauren dan ingus Mauren menempel pada jas termahalnya.
"Ingusnya menempel sendiri, Oppa," ucap Mauren sambil sesegukan.
"Kali ini tidak apa-apa sayang, lain kali akan ku potong gajimu," ucap Sean sambil tersenyum kesal.
Sean lalu melirik cermin yang retak, ia heran padahal sebelum ia pergi tadi cermin itu masih utuh.
"Ada apa sebenarnya, Kim? Kenapa cermin itu retak dan kenapa tangan kalian di perban?"
Asisten Kim menjelaskan semuanya tentang aksi bunuh diri Mauren dengan mencoba mengiris urat nadinya sendiri dengan pecahan vas bunga. Sean sangat terkejut, ia memandang Mauren yang masih menangis.
"Kenapa kau selalu begitu Oren? Kenapa kau suka sekali bunuh diri? Kau sudah tak sayang denganku lagi? Kau tega meninggalkanku? Aku tau kau sangat terpukul tetapi ku mohon berpikirlah yang jernih, jangan menyakiti dirimu sendiri!" ucap Sean memandang Mauren.
Mauren masih menangis membuat Sean semakin khawatir. Sean menghela nafas lalu memeluk Mauren lagi.
"Oppa akan menceraikanku?" tanya Mauren yang berada di pelukan Sean.
"Tidak ada alasan untuk menceraikanmu"
"Tapi aku sudah tidak bisa hamil lagi," jawab Mauren sambil menangis terisak.
"Kau lupa jika suamimu ini seorang sultan yang punya segalanya? Kita bisa melakukan bayi tabung, Oren. Kita bisa membuat 10 anak langsung," jawab Sean dengan bangganya.
Sean menepuk punggung Mauren, ia menenangkan Mauren yang sedari tadi tidak berhenti menangis.
__ADS_1
Lalu Sean menyuruh Mauren tidur lagi, ia juga menyanyikan lagu nina bobok untuk Oren.
"Oren bobok, oooh Oren bobok, kalau tidak bobok digigit kebo"
Bukannya tertidur, Mauren tertawa mendengar nyanyian Sean. Sean tersenyum melihat Mauren tertawa karena nyanyiannya.
"Aku mau tidur malah Oppa ngelawak," ucap Mauren tersenyum.
"Nah, gini kan seperti Mauren yang sebenarnya. Aku hanya ingin melihatmu tertawa dan tersenyum, aku tidak ingin melihatmu sedih"
Mauren tersenyum, ia memegang pipi Sean. Mereka saling berpandangan cukup lama dan tidak sadar jika Dokter Juna datang.
"Obat nyamuk... obat nyamuk...," ucap Dokter Juna menggoda Asisten Kim yang terduduk di sofa.
Sean berdecak, ia lantas menyuruh Mauren tidur dan dijaga oleh seorang suster. Sedangkan ketiga pria itu menuju ruangan Dokter Juna untuk membahas kesehatan mental Mauren yang mengalami trauma hingga menyebabkan ia selalu berusaha bunuh diri.
"Aku akan menyuruh psikiater untuk mendampingi Mauren supaya Mauren bisa cepat menghilangkan traumanya," ucap Dokter Juna sambil menyeruput teh hangat.
"Aku serahkan padamu, Juna," ucap Sean sambil menyeruput kopi favoritnya tetapi ia langsung menyemburkannya karena kopi itu sangat panas, dia lantas memelototi Dokter Juna.
"Tiup dulu Sean! Main seruput aja kau," ucap Dokter Juna.
"Tapi Tuan, anda memaafkan Mama anda setelah beliau membunuh bayi anda?" tanya Asisten Kim penasaran.
"Aku sebenarnya sangat marah dan kecewa tetapi mau bagaimana lagi, beliau tetap Mamaku walaupun dia jahat dan egois lagi pula ia sudah mengakui kesalahannya dan besok ia mau meminta maaf kepada Mauren walaupun kemungkinan Mauren tidak akan memaafkan Mamaku," ucap Sean sambil mengusap kepalanya.
"Disisi lain aku tidak mau menjadi anak durhaka tetapi disisi lain jug aku tidak ingin menjadi suami yang jahat karena memikirkan diri sendiri. Mauren dan Mamaku adalah dua wanita yang terpenting dalam hidupku," sambung Sean.
Hoaaaam....
Terlihat Dokter Juna menguap, Sean menatapnya tajam.
"Aku tidak mendongengkanmu beg*," ucap Sean kesal.
"Lihat tuh!" suruh Dokter Juna untuk melihat Asisten Kim yang sudah tertidur di sofa.
Sean sangat geram, dia berbicara panjang lebar malah membuat kedua temannya mengantuk.
Tetapi dia sangat berterima kasih kepada temannya karena disaat posisi seperti ini mereka mau membantunya bahkan sampai lembur bekerja seperti Dokter Juna yang harusnya sudah pulang jam 7 malam tadi tetapi ia harus lembur menjaga Mauren dan Asisten Kim yang bekerja lembur dan dobel mengurus ini dan itu disaat hal genting seperti ini.
"Aku akan menaikan gaji kalian," ucap Sean.
"Berapa?" tanya Dokter Juna.
"15 %"
__ADS_1
"Pelit sekali kau!" ucap Dokter Juna.