Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 121 : CEO jualan sayur di pasar


__ADS_3

"Dari mana saja kau?" tanya Sean.


"Aku bertemu Arkan"


Sean melototi Mauren lalu mendekati gadis itu. Mauren menelan ludah kasar, ia menundukan kepala dan mundur perlahan. Sean terlihat ingin mengcengkeram tetapi ia malah mencubit pipi Mauren dengan gemas.


"Kenapa bertemu dengan anak kampret itu?" tanya Sean sambil mencubit pipi Mauren.


"Lepaskan, Oppa!"


Sean melepas cubitannya, ia memandang wajah Mauren dengan serius seolah menunggu jawaban.


"Arkan adik Oppa?"


Sean memalingkan wajah, ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya. Dia meraih ponselnya lalu bermain game favoritnya seolah tidak memperdulikan ucapan Mauren.


"Oppa tidak boleh begitu! Arkan tetap adik kandung Oppa, Oppa kenapa jahat sekali?"


"Jangan ikut campur, Mauren! Kau tidak tahu apa-apa diam saja kau!"


"Arkan tidak salah, Oppa. Kasian dia padahal ia hanya ingin dekat dengan Oppa"


Sean melempar ponselnya di ranjang, ia langsung membalikan badan dan menarik selimut sampai kepala sedangkan Mauren hanya menggelengkan kepalanya sampai terdengar ponselnya berbunyi rupanya dari sang Ibu.


"Halo?"


Mauren mendengarkan dengan seksama, ia begitu syok mendengar jika sang bapak masuk ke rumah sakit karena jatuh terpleset di kamar mandi.


Mauren segera berganti baju tanpa mandi dan ia memberitahukan kepada Sean jika sang bapak mertua sedang di rawat di rumah sakit.


"Ayo kita kesana, Oren!"


Mereka terburu-buru dan Sean terpaksa menyetir mobil karena ternyata Asisten Kim sedang malam mingguan dengan kekasih barunya.


Sean segera melajukan mobilnya menuju kota sebelah dan hanya membutuhkan waktu 40 menit karena Sean melajukan mobilnya dengan kencang.


"Kenapa bapak bisa terpeleset, Oren? Kamar mandimu juga licin sekali. Aku sempat terjungkal saat masuk ke kamar mandimu," ucap Sean sambil menyetir mobil.


"Kalian yang tidak hati-hati. Jangan menyalahkan kamar mandinya! Bahkan Jennie Blackpink pernah mandi disitu"


"Dikamar mandimu?"


"Dikamar mandinya sendirilah"


Sean berdecih, ia melirik wajah Mauren yang panik. Sean lalu menggenggam tangan Mauren dan meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa dengan sang bapak.


Sesampainya di rumah sakit.


Mereka keluar dari mobil lalu menuju ruangan Bapak Mauren yang merawatnya. Mauren bisa melihat sang bapak terbaring dengan balutan perban di kepalanya.


"Bapak," rengek Mauren sambil menangis.


Mata sang bapak terbuka, ia mengelus kepala Mauren.


"Bapak tidak apa-apa. Jangan menangis!"


Mauren mengusap air matanya lalu memperhatikan sang Ibu yang sudah sangat lelah.


Mauren memeluk Ibunya dan terlihat sang Ibu kebingungan.


"Kenapa sayang?"


"Jika Ibu lelah pulang saja, aku dan Oppaku akan menjaga bapak disini"


Ibu melepas pelukan Mauren, ia mencium kening sang anak.

__ADS_1


"Ibu tidak apa-apa"


"Yang jadi masalah besok kita jualannya bagaimana, Buk?" ucap Bapak.


Ibu mencubit tangan suaminya, ia heran dalam keadaan seperti ini ia masih memikirkan jualannya di pasar.


Mauren lalu mengerutkan dahi dan berpikir jika esok hari minggu pasar akan ramai otomatis jualan orang tuanya semakin laris.


Mauren menawarkan untuk menggantikan jualan orang tuanya besok di pasar bersama Sean.


Sean menelan ludah mendengar ucapan sang istri.


Aku seorang presdir harus jualan cabe di pasar? Mau menolak tidak enak, jika aku mau pasti harga diriku terjatuh. Batin Sean.


"Tidak usah, Mauren! Besok libur saja tidak apa-apa," ucap Ibu.


"Ide bagus Mauren. Besok hari minggu pasti lapak kita ramai, sekalian ajak Sean mengenalkan bisnis kita," ucap Bapak.


Sang Ibu memukul tangan suaminya, ia lalu meminta maaf kepada Sean tetapi Sean malah menyanggupi keinginan sang bapak mertua supaya ia dicap sebagai menantu yang berbakti.


"Oppa mau?" tanya Mauren heran.


"Iya tidak apa-apa," ucap Sean walau sangat ragu.


Setelah menjenguk bapaknya, mereka segera pulang ke rumah Mauren yang hanya berjarak 20 menit dari rumah sakit. Saat menyetir mobil Sean nampak ragu dengan keputusannya. Dia sangat tidak yakin bisa berjualan di pasar.


"Oppa mikirin apa?" tanya Mauren.


"Emm... aku tidak yakin bisa berjualan di pasar"


"Jangan risau, Oppa! Oppa hanya menemaniku saja. Aku yang akan berjualan"


Sesampainya dirumah.


Di dalam kamar, Sean melihat langit-langit kamar. Dia masih memikirkan hari esok berjualan di pasar.


"Oren?"


"Iya, Oppa"


"Biasanya jualan di pasar omset satu hari berapa?"


Mauren meletakan ponselnya lalu memandang Sean, " Kira-kira 2 juta jika ramai"


"Bagaimana jika semua barang jualannya ku beli 5 juta. Jadi kita tidak perlu capek-capek jualan di pasar," ucap Sean.


Mauren berdecih, sama saja itu membohongi orang tuanya dan jika sampai mereka tahu pasti akan sangat marah.


"Jika Oppa tidak mau membantu tidak apa-apa," ucap Mauren sambil membalikan badan memeluk guling.


Mauren lalu teringat akan janjinya pergi ke mall dengan Mama Sean. Dia terbangun lalu meraih ponselnya dan menelpon Mama Sean. Dia meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa pergi bersama Mama mertuanya.


Setelah menelpon, ia melirik Sean yang sudah tertidur pulas. Mauren mengecup pipi Sean lalu menyelimutinya.


Oppa sepertinya sangat kelelahan. Aku tidak tega menyuruhnya untuk ikut berjualan besok.


Keesokan harinya tepat pukul 2 pagi.


Mauren beranjak dari tempat tidur, ia ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi.


Setelah itu ia memakai jaket dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi supaya tidak membuatnya risih saat berjualan.


Mauren keluar lewat pintu belakang dan menuju mobil pick upnya.


Ternyata 2 orang laki-laki sudah menunggunya untuk menyetor kentang dan kubis.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Bapak? Ku pikir hari ini libur?" tanya pria itu.


"Bapak masih di rumah sakit dan aku menggantikan mereka jualan hari ini. Sayang sekali jika libur karena ini hari minggu pasti pasar sangat ramai"


Kedua orang itu menganggukan kepala, mereka lalu menaikan kentang dan kubis itu ke atas mobil pick up lalu mereka memberikan nota kepada Mauren. Mauren mengeluarkan sejumlah uang yang sudah disiapkan oleh Ibunya lalu memberikan kepada orang tersebut.


Setelah kedua orang itu pergi tiba-tiba Sean datang dari belakang, ia marah karena malah tidak dibangunkan oleh Mauren.


"Oppa dirumah saja, aku tau jika Oppa sangat lelah"


"Tidak mau. Aku ingin membantu istriku berjualan"


Sean masuk ke mobil pick up dan duduk di depan kemudi. Dia meminta Mauren untuk menunjukan jalan kearah pasar induk. Saat menyetir, Sean terlihat beberapa kali menguap dengan cekatan Mauren mengambil cangkir lalu menuangkan kopi yang ia sudah seduh di dalam termos kecil.


"Pandai juga kau Oren," ucap Sean sambil menyeruput kopi itu.


Setengah jam kemudian.


Mereka sampai di pasar induk.


Mereka langsung berbelanja menurut nota yang sudah diberikan kepada Ibu Mauren.


Mauren sudah terbiasa membantu orang tuanya saat hari minggu maka dari itu saat ini dia tidak merasa kebingungan.


Mereka membeli sayur mayur yang terdiri dari wortel, cabai, tomat, bawang merah, bawang putih dan beberapa bumbu dapur lainnya.


Orang tua Mauren hanya fokus berjualan sayur mayur saja dan tidak berjualan daging ayam, ikan atau sejenisnya.


Setelah mobil pick up terisi penuh, mereka segera melajukan mobilnya menuju ke pasar biasa dan kini waktu menunjukan jam setengah 5 pagi.


"Disini Oppa, ya... parkir disini," ucap Mauren menyuruh Sean berhenti.


"Terus ini bagaimana?"


"Ya kita tunggu pembeli datang," jawab Mauren sambil turun dari mobil.


"Ku pikir jualannya di ruko," ucap Sean mengikuti langkah Mauren.


Mauren membalikan badan, ia lalu bersandar pada mobil pick upnya.


"Untuk apa sewa ruko? Disini saja sudah ramai"


Sean terdiam, ia memperhatikan Mauren yang menaiki bak pick up untuk menata dagangannya supaya lebih rapi lagi.


Sedangkan Sean berjalan menjauhi mobil itu lalu menelpon sang asisten.


"Kim?"


"Iya, Tuan. Anda dimana Tuan?"


"Ku suruh kau untuk membeli ruko di Pasar Gayam untuk berjualan orang tua Mauren. Jika bisa besok harus sudah siap"


"Baik Tuan. Tetapi sekarang anda berada dimana?"


"Aku ada di kota sebelah membantu Mauren berjualan sayur di pasar"


Asisten Kim terkejut mendengar ucapan sang tuan.


Apa? Tuan Sean berjualan di pasar? Kenapa bisa? Bahkan Tuan Sean sendiripun tidak pernah menginjakan kakinya di pasar.


Aku harus menyusul kesana.


Setelah bab ini adalah bab ngakak...


tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


__ADS_2