
"Ah... ah... ah... ya disitu Oren. Yang kuat Oren. Ah.. ah..," ucap Sean.
Plaaaaaak
Mauren memukul punggung Sean, ia merasa risih karena Sean mendesah ketika dipijat punggungnya.
"Kenapa memukulku? Tidak ikhlas kau," ucap Sean terduduk lalu meraih kaosnya dan memakainya.
Malam ini Sean sangat lelah dan ingin dipijat oleh Mauren tetapi gadis itu tidak suka jika Sean terus-terusan mendesah ketika ia pijat.
Mauren lalu merebahkan dirinya di ranjang ia menatap langit-langit kamar lalu ia menampar pipinya sendiri, apakah ini cuman mimpi? Dia masih tidak menyangka menjadi seorang istri konglomerat dan kehidupannya kini seperti seorang putri.
"Kenapa kau?" tanya Sean.
Mauren menggelengkan kepala tetapi tiba-tiba Sean menciumnya.
Sean melakukannya sangat pandai membuat gadis itu selalu ikut terbawa suasana.
Lidah saling beradu dalam kehangatan dan kenikmatan yang tak tertandingi.
Sean lalu melepas ciumannya lalu memandangi wajah Mauren dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Jangan pernah kabur dariku dan jangan pernah mencoba bunuh diri lagi, aku mencintaimu, Oren"
Mauren mengusap pipi Sean, ia tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Sean. Mereka berciuman lagi sampai mereka merasakan kantuk yang luar biasa.
Mereka lalu tidur dengan saling memeluk, mereka saling bersyukur memiliki satu sama lain.
Tuhan. Semoga mereka tidak ada yang memisahkan.
Hari minggu.
"Betina satu ini jika mandi lama sekali. Cepat kau Oren! Kau mandi apa bertapa?" teriak Sean mulai kesal.
"Meeow"
"Jiaaaaah... Kenapa kau keluar dari kandangmu? Pergi kau!"
Kucing oren itu malah naik ke sofa termahal yang baru diganti Sean beberapa hari yang lalu karena kucing nakal itu e'ek disana.
"Turun kau dari sofaku! Dasar kucing sialan!"
"Meeooow"
Sean melototi kucing itu tetapi kucing itu menunjukan mata lebar dan tajamnya ke arah Sean.
Terjadi tatapan yang cukup sengit antara Sean dan kucing oren itu.
Sean kesal lalu mendekati kucing itu dan menggendongnya dengan cengkraman tangan yang cukup kuat sehingga kucing itu mengeong sangat keras.
"Lepaskan Oppa!" ucap Mauren yang keluar dari kamar mandi.
Tetapi saat itu juga Sean memeluk kucing itu dan menciumi kepalanya.
"Ucuk.. ucuk.. ucuk.. lucu sekali kucing imut ini. Mau ikut jalan-jalan kau ucing? Kita brum-brum naik mobil," ucap Sean dengan sok imut.
__ADS_1
Mauren tersenyum melihat Sean yang menggoda kucingnya padahal Sean sangat geram dengan kucing oren itu.
Mauren lalu berjalan menuju ruang ganti pakaian meninggalkan Sean yang masih bermain-main dengan kucingnya.
Setelah Mauren pergi Sean menunjukan wajah marahnya kepada kucing itu.
"Kucing brengs*k! Kalau Orenku tidak selalu membelamu, kau pasti sudah aku tenggelamkan di kolam renang. Mau kau ku tenggelamkan di kolam renang?"
"Meeeow"
Sean terkejut dan seolah menyimpulkan jika kucing itu menantangnya. Dia lalu membawa kucing itu menuju kolam renang dan Sean siap melemparkan kucing itu ke kolam renang yang nampak biru terkena sinar matahari pagi.
"Apa yang kau lakukan Oppa?" tanya Mauren sudah berdiri dibelakang Sean.
"Oh ucing. Lihat itu nak! Ada burung hantu. Lucu sekali seperti kau gembulku," ucap Sean berpura-pura baik dan imut di depan Mauren.
Pagi begini mana ada burung hantu. Batin Mauren.
Mauren lalu merebut kucing itu dari gendongan Sean.
Dia meraih tas miliknya dan berjalan membuka pintu apartemen untuk segera berangkat menjemput sang ibu di terminal.
Sean mengikutinya dari belakang dan menatap tajam kearah kucing yang di gendong Mauren.
Mauren membuka pintu apartemen tetapi ia dikejutkan dengan kehadiran Asisten Kim yang sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu sangat terkejut membuatnya meloncat mundur lalu tidak sengaja menginjak kaki Sean.
"Aaaaaw," teriak Sean.
Tidak hanya sampai itu juga, tubuh Mauren yang terjatuh kebelakang menabrak tubuh Sean membuat Sean kehilangan keseimbangan lalu meraka terjatuh di lantai dengan posisi siku Mauren yang lancip mengenai sang ular beserta dua buah sawo yang telah masak berwarna coklat itu.
"Aaaaaaaaargghhh... sialan! Aaaaaargghhh telurku, masa depanku. Aaaaarrrgghhh.... sakit sekali aaaaaah... aduuhhhh... Mama... anakmu kesakitan Maaa...," teriak Sean sambil memegangi telur yang di balik celananya.
"Aaaaarghhh.. kenapa anda menjambakku Tuan? Lepaskan Tuan!" berontak Asisten Kim.
10 menit kemudian.
Di dalam mobil.
Sean sangat marah kepada Mauren bahkan ia tidak menatap gadis itu.
Dia menatap keluar jendela dengan ekspresi kesal sedangkan Mauren meminta maaf ke Sean karena sudah membuat buah sawonya kesakitan.
Tangan Mauren mencoba memegang paha Sean tetapi pria itu selalu menepisnya.
Mauren tidak kehilangan akal, ia melepas jaketnya lalu menutupi bagian tengah celana Sean, gadis itu dengan cepat menyusup ke sang ular dengan kepalanya yang tertutup jaket.
"Jangan ngintip Kim!" ucap Sean saat tau Mauren akan melakukan apa.
"Baik Tuan"
10 menit kemudian.
"Sudah enak Oppa?"
"Pintar sekali kau membuatku keenakan," jawab Sean senang.
__ADS_1
Haha... membuat Oppa tidak marah lagi cukup mudah. Tinggal manjakan ularnya lalu ia tidak akan marah lagi kepadaku.
Sean memeluk tubuh Mauren lalu mengecup keningnya. Sedangkan Asisten Kim dan kucing oren yang duduk di depan hanya menjadi obat nyamuk bagi pasangan yang dimabuk asmara itu. SAD BOY :(
Setengah jam kemudian mereka telah sampai di terminal, mereka lalu turun dari mobil dan masuk ke terminal itu.
Terlihat orang yang berlalu lalang memenuhi terminal yang cukup besar itu.
"Emak," teriak Mauren memanggil Ibunya.
"Mauren sayang...," ucap Ibunya sambil memeluk tubuh Mauren.
Terlihat sang Ibu begitu rindu dengan anak semata wayangnya, ia juga menciumi wajah Mauren melepas kerinduan yang tak tertahankan.
Setelah cukup puas berpelukan, sang Ibu tersenyum kearah Sean dan Kim.
Kedua pria itu dengan refleks mencium tangan ibu Mauren dengan sopan.
"Apa kabar Ibu?"
"Baik, Tuan Sean"
"Jangan panggil dia Tuan, Mak," ucap Mauren risih mendengar ibunya memanggil Tuan kepada menantunya sendiri.
Ibu Mauren tersenyum, ia menatap wajah Sean yang kelewat tampan. Dia tidak menyangka akan memiliki menantu yang kaya raya.
Sean lalu membawakan tas yang dibawa oleh Ibu Mauren, dia sangat sopan memperlakukan ibu mertuanya.
Mereka lalu menuju kedalam mobil dengan Ibu dan Mauren berjalan mendahului Sean dan Kim.
"Ibu duduk di depan saja," ucap Sean.
"Nak Sean saja yang duduk di depan, Ibu mau duduk disebelah Mauren"
Sean merasa tidak enak jika Ibu Mauren duduk dibelakang, baginya itu hal yang tidak sopan jika ia duduk didepan dan Ibu mertuanya malah duduk dibelakangnya.
Setelah mereka masuk mobil,
Asisten Kim melajukan mobilnya menuju apartemen.
Sementara itu Jia mencoba menelpon Asisten Kim tetapi pria itu tidak mengangkatnya. Baginya kepentingan sang Tuan lebih penting ketimbang urusan pribadinya.
"Dimana kau Kak Fai? Kau selalu begitu dan acuh kepadaku, padahal sudah berjanji akan menemaniku ke mall," ucap Jia yang sudah berada di depan kamar apartemen Asisten Kim.
Kling (Bunyi pesan masuk)
Maaf Jia. Aku tidak bisa menemanimu ke mall. Ada urusan penting pagi ini. SMS dari Asisten Kim.
Jia berdecak dan kesal kepada Asisten Kim, pria itu selalu membuatnya kecewa. Dengan langkah berat ia pulang ke hotelnya dengan sangat kecewa.
***
Ibu Mauren ternganga ketika melihat makanan lezat sudah tertata rapi di depan meja makan yang besar. Dengan cepat Mauren mengambilkan beberapa lauk makanan di piring sang ibu yang sedari tadi terbengong.
__________________
__ADS_1
Dukung karya author dengan cara LIKE KOMEN RATE 5 VOTE pada novel ini..
jangan pelit2 yaa