
Sebuah mall megah milik naungan Young Group berada di pusat kota, sore ini nampak sangat ramai dengan orang-orang yang asyik sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang yang terkasih.
Sean dan Mauren menggunakan penutup wajah sehingga tidak ada yang mengenali mereka, Sean menyuruh Asisten Kim mengambil kursi roda dan menyuruh Mauren duduk di kursi roda itu karena Kaki Mauren tidak memungkinkan untuk berjalan lama di mall seluas itu.
"Oppa saja yang duduk di kursi itu, oppa kan baru saja sakit," ucap Mauren khawatir dengan keadaan Sean yang baru keluar dari rumah sakit.
"Diamlah! Aku sudah sehat dan kau yang masih sakit"
Sean mendorong kursi roda yang diduduki Mauren, nampak orang-orang melihat mereka bertiga yang menggunakan penutup wajah lengkap tetapi Sean cuek, ia yakin penyamarannya tidak akan ketahuan.
Sean adalah raja sosmed, dia sering narsis di akun media sosialnya. Dia sering membagikan foto-foto tampannya tetapi ia dicap sombong karena tidak pernah satupun menghiraukan para fansnya yang terdiri dari kalangan gadis-gadis muda.
Mereka menuju ke gerai ponsel yang terbesar di mall itu, Sean memilihkan ponsel keluaran terbaru untuk istri tercinta tanpa bertanya dahulu kepada Mauren. Setelah setuju dan cocok dengan ponsel itu, Sean mengeluarkan kartu tak terbatasnya, ia bisa menggunakan kapanpun, dimanapun, berapapun yang ia inginkan. Hanya Sean dan Kakek Askar yang mendapatkan kartu langka tersebut dalam keluarganya.
Coba dalam bentuk uang. Aku yakin Oppa pasti sangat perhitungan. Batin Mauren.
Setelah membeli ponsel, Sean mengajak Mauren menuju ke gerai pakaian perlengkapan kantor. Dia mendorong kursi roda itu sangat sabar karena padatnya mall yang dipenuhi orang.
Asisten Kim tersenyum teringat saat dulu tuannya pergi ke mall bersama Alana, Sean marah-marah kepada orang yang selalu menghalangi jalannya. Bahkan pernah ia sekali mengosongkan mall selama 2 jam supaya ia bebas berbelanja menemani Alana.
Itulah yang membuat Alana jatuh hati kepada Sean karena Sean selalu memperlakukannya dengan istimewa padahal bagi Sean itu nampak biasa saja karena memang mall itu miliknya, ia bisa bebas mengosongkan kapanpun yang ia mau.
Setelah sampai di gerai perlengkapan kantor, Sean memilihkan celana kain panjang untuk digunakan Mauren saat bekerja. Mauren menolak, ia tidak mau mengenakan celana padahal karyawati lain dibolehkan memakai rok span seksi semau mereka.
"Itu urusan mereka! Dan kau urusanku, aku tidak mau kaki mulus dan panjangmu dilihat seenaknya oleh pria lain"
Tetapi Asisten Kim tiba-tiba berbisik di telinga Sean, " Tuan. Jika Nona Mauren menggunakan celana saat bekerja itu membuat anda kesusahan jika ingin melakukan itu kepada Nona Mauren"
Sean terbelalak dan tersadar akan keputusannya yang salah, ia segera meletakan celana panjang ke tempat semula dan mengambil rok span sedikit panjang dibawah lutut. Mauren memperhatikan Asisten Kim, ia bertanya dengan kode tetapi Asisten Kim mengangkat bahu seakan tidak tahu.
Dua pria aneh ini apa yang mereka rencanakan? Batin Mauren.
Sean mengambil 3 potong rok span dengan ukuran sama dan hem putih 3 potong yang tidak terlalu ketat jika digunakan tubuh Mauren. Setelah menyuruh Mauren untuk mencoba satu persatu, mereka segera membelinya dan menyerahkan kartu tak terbatas milik Sean.
Setelah lelah selama 2 jam memutari mall, mereka memutuskan untuk mampir digerai makanan, Sean menyuruh Kim untuk mengosongkan gerai itu supaya mereka bisa makan leluasa.
"Oppa. Apa ini tidak berlebihan?" tanya Mauren memandangi gerai yang luas itu telah kosong hanya ada mereka 3 dan para pelayan.
"Kau mau makan menggunakan masker? Hebat sekali kau"
__ADS_1
Mauren melepaskan topi, kacamata dan maskernya dan mulai melahap makanan yang lezat itu, mereka bertiga makan dimana yang sama, sesekali Asisten Kim melirik handphonenya untuk memastikan para bodyguard suruhannya bekerja dengan benar.
Asisten Kim menyuruh bodyguard untuk memantau apakah suruhan kakek Askar mengikuti mereka atau tidak dan Asisten Kim cukup lega karena orang suruhan itu tidak ada yang mengikuti mereka.
"Ku pikir oppa berangkat bekerja lagi mulai minggu depan?" ucap Mauren.
"Tidak, aku ingin cepat bekerja supaya bisa bertemu kau lagi"
Mauren tersenyum mendengar ucapan Sean, Sean selalu membuatnya terbang tinggi setiap ucapan maut terlontar pada mulutnya.
Apakah gombalan demi gombalan pernah dilontarkan kepada wanita lain selain Mauren.
Ah! Semoga saja tidak, Sean bukan tipe yang memperdulikan wanita lain.
Mauren mengambil ponsel barunya, ia ingin mencoba kamera pada ponsel itu apakah bagus atau tidak.
"Oppa tolong fotokan dong!" ucap Mauren meminta kepada Sean.
Sean berdecak lalu memotret Mauren.
Cekreek.
Dia ingin menyimpan foto cantik milik Mauren yang ia ambil secara langsung.
Lalu Sean dengan iseng menutupi wajah Mauren di foto itu dengan emot icon cinta dan mengunggah foto itu di akun media sosialnya.
Gadisku. Tulis Sean pada foto itu.
"Oppa. Mumpung kita ada disini bolehkah aku meminta oppa membelikan ku skincare?" tanya Mauren dengan penuh harap.
"Apa itu? Sejenis kue leker?" tanya Sean pura-pura bodoh.
"Bukan oppa tapi perawatan tubuh seperti bedak, serum, vitamin kulit dan lain-lain"
"Tidak," ucap Sean singkat.
"Oppa pelit sekali. Mungkin harganya tidak sampai 1 juta"
__ADS_1
"Tidak"
"Oppa," ucap Mauren memelas.
"Kau pun tidak pernah merawat ularku, enak sekali kau merawat kulitmu"
Mauren langsung terdiam, ia lalu menyendokan sesendok makanan dimulutnya. Dia merasa kesal dengan Sean yang pelit kepadanya. Sean meliriknya dan tersenyum melihat wajah manyun Mauren.
"Rawat dulu ularku baru aku akan menuruti semua keinginanmu," ucap Sean menyeringai.
"Tidak mau!" menggebrak meja," Ular oppa berbisa," ucap Mauren sambil membawa topi, masker dan kacamata lalu berjalan ke luar gerai makanan.
Semua ular lelaki berbisa beg*! Batin Sean yang kesal dengan Mauren.
Mauren berjalan keluar mall dengan Sean dan Kim yang mengikutinya dibelakang. Sean menyuruh Mauren untuk naik ke kursi roda tetapi gadis itu tidak mau. Dia sudah terlanjur marah dengan Sean.
Lihatlah perempuan jika tidak dibelikan yang diinginkan marahnya seperti ingin menghancurkan dunia. Batin Sean melihat Mauren kesal kepada setiap orang yang menghalangi jalannya.
Tiba-tiba ponsel Sean berbunyi yang ternyata dari sang Mama, beliau menelpon setelah mengetahui postingan Sean di akun media sosialnya. Sang Mama ingin tau siapakah foto gadis yang diunggah oleh Sean. Tetapi Sean tidak mau menjawab, ia masih ingin merahasiakan Mauren dari keluarganya.
Dia yakin keselamatan Mauren dipertaruhkan jika keberadaannya terbongkar. Apalagi keluarga Sean selalu melihat dari segi bibit bebet bobot dari seseorang.
Jika saatnya tiba aku akan memperkenalkan Mauren tetapi tidak untuk sekarang.
Kira-kira seperti ini yang diunggah Sean. Wkwk.
**Hallo ini author.....
Terima kasih udah baca cerita saya yg penuh kehaluan ini.
Minta dukungannya dengan vote, like, rate5 dan tinggalkan komen juga supaya author semangat buat ngelanjutin cerita.
Maaf juga buat mas lee min ho dan mbak lisa blackpink yang fotonya aku colongin buat visual novel ini.
Karna dalam dunia nyata lee min ho dan lisa gak pernah berinteraksi jadi agak susah mencari foto mereka yang berfoto berdua.
jadi gini lah.. aku cocok2.in mana gambar yang pas.
__ADS_1
Mohon votenya dong.. Vote gratis kok... biar rangking novel ini cepet naik**.
Ikuti instagram author juga ya di : marr_mystory.