Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 124 : Preman pasar


__ADS_3

Mauren berlari tak tentu arah sedangkan para preman mengejarnya tanpa kenal lelah. Seluk beluk pasar ia lewati dan banyak yang heran kenapa ia berlari-lari didalam pasar.


Mauren menengok ke belakang, 2 orang berbadan kekar masih mengejarnya.


Nafas sudah terengah-engah, keringat mulai bercucuran dan tenaganya semakin lemah.


Sampai dia berlari kearah gang buntu, ia kebingungan dan disaat itu para preman yang kini bertambah menjadi 5 orang datang dengan menyeringai.


"Mau kemana kau cantik? Tidak bisa melarikan diri kau"


Mauren mundur sampai punggungnya menabrak tembok. Dia sangat ketakutan saat preman tersebut mulai mendekatinya.


Mauren melirik balok kayu, ia mengambilnya lalu melemparkan kepada salah satu preman itu membuat mereka semakin murka.


"Perempuan bajing*n kau!" ucap temannya sambil mengambil balok kayu itu dan mencoba memukulkannya kepada Mauren.


Gadis itu menunduk ketakutan tetapi tiba-tiba...


Buaaaaak...


Seorang pria melindungi Mauren sampai pria itu mendapat hantaman keras dipunggungnya. Pria itu adalah Sean.


Mauren mendongakan kepala sampai ia melihat wajah Sean yang tersenyum kearahnya.


"Oppa?"


Sean berdiri lalu menghadap kelima preman itu. Sean melepas jaketnya lalu memberikannya kepada Mauren.


"Sialan kalian! Beraninya mengganggu istriku," ucap Sean kesal.


Tanpa basa-basi kelima preman itu langsung menyerang Sean, Sean menghadapi mereka sekaligus.


Sean memukul 2 orang pada bagian perut lalu mereka terpental.


Sedangkan yang lain berusaha memukul Sean tetapi Sean selalu menghindar.


"Sini kau! Badan kalian saja yang kekar tetapi otak kalian di dengkul. Beraninya mengganggu perempuan," ejek Sean.


Para preman itu semakin geram, mereka menyerang beramai-ramai. Sean sangat hebat menghadapi mereka bersamaan.


Mauren yang melihatnya khawatir, ia tidak mungkin berdiam diri melihat suaminya bertarung sendirian.


Dia mengambil batako lalu melempar kearah salah satu preman.


Terlihat preman itu kesal kepada Mauren lalu menghampirinya lalu memukul wajahnya sampai Mauren tersungkur.


"Orennnnn...," teriak Sean.


Sean langsung menghampiri sang istri tetapi saat itu ia lengah sampai salah satu preman memukul kepalanya hingga ia langsung tersungkur.


"Oppaaaa...," teriak Mauren.


Kepalanya terasa pusing dan berputar-putar, Sean mencoba bangun tetapi kepalanya diinjak oleh salah satu kaki preman tersebut.


Mauren mencoba mendekati Sean tetapi preman yang lain menarik tubuhnya.


"Lepaskan! Jangan sentuh Oppaku! Bangun Oppa!" teriak Mauren.


"Lepaskan mereka!" ucap seorang pria yang sangat familiar, siapa lagi jika bukan Asisten Kim.


"Bajing*n! Siapa lagi kau? Jangan ikut campur!"


Asisten Kim yang melihat sang tuan diinjak kepalanya menjadi sangat geram, ia juga melirik Mauren yang dijambak rambutnya semakin membuat ia kesal.


Tanpa berpikir panjang, Asisten Kim lalu menendang kaki yang menginjak Sean begitu keras sampai terdengar bunyi kraaaak seolah tulang kering preman tersebut retak.


"Aaaaaarhhhh... kaki ku"


Asisten Kim lalu memukuli semua preman itu tanpa ampun dengan sekali pukulan dan tendangan membuat 4 preman langsung terkapar.


Para preman itu kesakitan lalu memegangi perutnya akibat pukulan dan tendangan dari pria berdarah Cina itu.

__ADS_1


Sedangkan masih satu preman yang dibelakang Mauren sambil mengarahkan pisau dileher Mauren.


"Jika kau mendekat akan ku gorok leher gadis ini," ancam pria itu.


Asisten Kim masih santai, ia mendekati preman tersebut tanpa rasa takut.


"Jangan mendekat! Akan ku pastikan gadis ini mati jika kau mendekat"


Asisten Kim tersenyum menyeringai, ia semakin mendekati preman tersebut.


Sampai Asisten Kim berhenti hanya 3 langkah dari mereka lalu tangannya menunjuk keatas hingga membuat Mauren dan preman itu mendongakan kepalanya keatas dan disaat itu kesempatan Asisten Kim untuk menendang telapak tangan preman tersebut yang menggenggam pisau sampai pisau itu terlempar.


"Arrhhhh tanganku..."


Mauren lalu berlari kearah Sean yang berusaha untuk bangun. "Oppa tidak apa-apa? Mana yang sakit, Oppa?" tanya Mauren khawatir.


Sean berusaha berdiri, ia melihat wajah Mauren merah akibat pukulan preman tadi. Dia sangat geram lalu memandang wajah Asisten Kim lalu memberikan kode.


"Baik, Tuan," jawab Asisten Kim pelan.


"Oren sayang. Maafkan aku, selama kau menikah denganku kau sering terluka. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu," ucap Sean menyesal.


Mauren tersenyum, dia sering terluka karena bukan dari ulah Sean. Justru Sean yang selalu mengobati luka itu sampai sembuh.


"Aku tidak apa-apa, Oppa. Ayo ku bantu berdiri, Oppa. Apa mau ke rumah sakit?" tanya Mauren.


Sean menggelengkan kepalanya lalu mereka kembali ke mobil pick up milik orang tua Mauren.


Sesampainya disana mereka bertiga membereskan sayuran yang tercecer di tanah nampak Mauren sangat kesal dengan ulah preman yang semena-mena itu.


"Oren sayang, jangan khawatir! Oppa akan mengganti semua sayuran yang rusak"


"Tidak usah, Oppa. Aku sudah banyak merepotkan Oppa. Terima kasih sudah membantuku jualan hari ini"


Mauren memeluk Sean, ia sungguh tidak tega dengan Sean karena sudah membantunya sedari jam 2 pagi sampai hampir 11 siang. Pekerjaan Sean sangat banyak di kantor dan hari minggu adalah waktu yang tepat untuk istirahat tetapi Sean gunakan hanya untuk membantu Mauren berjualan dipasar.


"Jangan khawatir! Oppa sudah biasa bekerja keras. Segini saja tidak ada apa-apanya," jawab Sean sambil mengelus rambut Mauren.


Dia menjauh dari mereka lalu mengangkat telpon itu.


"Hallo, Lili?"


"Bisakah kita bertemu?" tanya Lili.


"Kemarin malam kita sudah bertemu"


"Aku rindu lagi"


"Tapi maaf Lili, aku tidak bisa. Ada hal yang harus segera aku urus"


"Dan hal itu lebih penting dari pada aku?"


Pertanyaan dari Lili membuat Asisten Kim terdiam. Lili sangat penting baginya tetapi saat Asisten Kim mengingat sang tuan yang diinjak kepalanya dan Mauren yang dijambak dan dipukul membuatnya dilema.


"Maaf Lili, aku nanti akan telpon lagi," ucap Asisten Kim langsung menutup telponnya lalu berjalan kearah Sean dan Mauren yang sudah selesai beberes.


"Kau lakukan apa yang ku suruh, Kim! Setelah beres kau susul kami di rumah Mauren," pinta Sean.


"Baik, Tuan"


Sean dan Mauren bergegas pulang ke rumah orang tua Mauren.


Dalam perjalanan, Mauren selalu mengajak mengobrol Sean supaya sang suami tidak mengantuk.


Mobil pick up putih itu membelah lalu lintas yang sepi.


**


Braaaak...


Suara pintu dari besi didobrak oleh seseorang. Dia bertubuh tinggi, berwajah datar dengan sedikit senyuman menyungging di sudut bibirnya.

__ADS_1


Para preman yang bermain catur disalah satu gedung kosong sudut pasar terkejut dengan kedatangan pria itu dan beberapa dari mereka seolah ketakutan.


"Bos, itu yang menghajar kita tadi," ucap salah satu preman yang sempat dihajar oleh Asisten Kim.


Bos preman yang berusia 40 tahunan langsung berdiri menyambut kedatangan Asisten Kim dan yang lain terlihat memasang badan supaya siap menghajar jika Asisten Kim menyerang.


"Oh... kalian di hajar dengan anak kecil ini? Miris sekali"


"Dia sangat hebat bos"


"Tidak ada yang hebat selain aku disini," ucap bos preman itu.


Asisten Kim mulai mendekat membuat para preman yang hampir 20 orang itu bersiap-siap. Mereka yakin jika mereka akan menang karena Asisten Kim sendirian.


"Hajar dia!"


Para preman itu mulai melontarkan pukulan ke arah Asisten Kim. Asisten Kim dengan cepat menghindari pukulan itu. Pukulan dan tendangan selalu terlontar tetapi tidak membuat Asisten Kim terkena satu pukulan pun.


Dia lalu mengambil tongkat besi yang tergeletak dilantai lalu menghajar mereka tanpa mengotori tangannya langsung.


20 menit kemudian.


Asisten Kim terduduk diatas meja dengan kaki yang ia angkat dan ia letakan di kaki yang lain sedangkan tangannya bersedekap.


Dia melihat 20 preman sedang bertekuk lutut di depannya. Terlihat preman itu babak belur akibat hajaran dari Asisten Kim.


Tangan Asisten Kim masih mulus dan terlihat tongkat besi yang disebelahnya berlumuran darah.


"Kalian meminta jatah pada setiap pedagang disini?" tanya Asisten Kim dengan sorot mata yang mematikan.


"Iya, Tuan"


Praaang...


Asisten Kim langsung melempar tongkat besi yang berlumuran darah di lantai membuat bunyi yang nyaring dan menggema. Para preman itu semakin ketakutan dengan pria di hadapannya yang sangat menyeramkan.


"Siapa tadi yang meludahi sepatuku?" tanya Asisten Kim.


Hening.


Mereka tidak mau menjawab, mereka hanya menundukan kepala seolah ketakutan.


"Jangan membuatku bertanya untuk kedua kali!"


"Sa--saya Tuan"


Salah satu preman mengangkat tangannya, badannya bergetar saat Asisten Kim menunjukan mata elangnya.


"Bersihkan!"


"Ba--baik Tuan"


Preman itu lalu maju dengan merangkak karena kakinya terluka parah. Preman itu terlihat lebih tua darinya membuat Asisten Kim tidak tega.


"Berhenti! Kembali ketempatmu!"


Preman itu mengerutkan dahi, ia berterima kasih lalu kembali merangkak ketempatnya semula.


"Siapa tadi yang menjambak dan memukul gadis berambut panjang tadi?"


Sebelum Asisten Kim marah, kedua preman itu mengangkat tangannya.


"Berdiri kalian!"


Mereka langsung berdiri dengan wajah yang menunduk.


"Pukuli wajah yang berada di depan kalian!"


Dua preman itu mengerutkan kening, mereka melirik Asisten Kim yang mulai menunjukan sorot mata mautnya.


Mereka dengan cepat saling memukuli sampai mengeluarkan darah tetapi bukannya jijik malah Asisten Kim menunjukan wajah senang dan puas.

__ADS_1


Sepertinya orang itu psychopat. Batin beberapa preman.


__ADS_2