
Dengan langkah tegap dan pandangan lurus kedepan, Sean dengan angkuhnya berjalan memasuki gedung Young Group. Tidak lupa sang Asisten Kim berjalan di belakangnya sambil membawakan tas kerja milik Sean.
Para pegawai yang memberi sapa kepada Sean tidak di gubris oleh Sean.
Suasana hatinya sangat buruk karena kejadian tadi pagi yang memergoki sang istri sedang selingkuh.
Cih! Awas kau Oren! Kau keterlaluan.
Sampai matanya tertuju pada gadis tinggi berponi yang berjarak 10 meter dari ia berdiri. Gadis itu juga menatap Sean yang siapa lagi jika bukan Mauren.
Mereka saling bertatapan layaknya di drama-drama Korea.
Sean lalu mengacungkan tangan kearah Mauren, ia lalu mengarahkan tangannya kearah lehernya seolah ingin memenggal Mauren sebagai ancaman.
Mauren menelan ludah, ia malah tertantang dengan Sean.
Dia memberikan jempol terbalik kearah Sean dan menepuk bokongnya seolah mengejek Sean.
Mauren lalu mengibaskan rambutnya dan berjalan meninggalkan Sean yang masih mendongkol oleh ejekan Mauren.
Sialan! Kalau bisa ku hamili akan kuhamili kau sampai 10 kali.
Biar tau rasa dan tidak kurangajar kau.
"Kim?" ucap Sean yang masih fokus memperhatikan langkah Mauren.
Sean mengerutkan dahi karena sang asisten tidak menyaut panggilannya.
Sean lalu membalikan badan, ia terkejut melihat sang asisten sedang tebar pesona dengan pegawai wanitanya.
Sean berjalan menuju Asisten Kim, ia langsung memukul punggung sang asisten dengan kencang.
Plaaaaak...
Asisten Kim langsung mengelus punggungnya yang panas dan para pegawai wanita tadi langsung memberi hormat dan berpamitan pergi.
"Ngapain kau?" tanya Sean.
"Tidak, Tuan. Mereka memberi tahu klien kita yang berasal dari Jepang sudah datang dan mereka kini menunggu di ruang HRD"
"Cepat sekali datangnya? Ya sudah. Suruh mereka masuk keruanganku!"
"Baik, Tuan"
Sean langsung menuju ke ruangannya.
Ruangannya yang wangi dengan parfum termahal membuat pikirannya menjadi tenang. Dia langsung duduk di kursi direkturnya dan tidak sengaja memandang foto konyol Mauren yang ia letakan di atas mejanya sebagai penyemangat.
"Kurang apa aku untukmu Oren? Aku tampan, aku kaya, aku punya segalanya masih saja kau selingkuhi. Sakit hatiku. Awas saja lelaki itu akan kubunuh"
Sean lalu menyimpan foto konyol Mauren di laci mejanya. Tetapi ia menemukan sebuah kertas yang berisikan tulisan.
Isi tulisan itu :
Beli ikan asin di Cina
Jangan lupa membeli terasi
Untuk apa bercinta?
Jika saling bergengsi
Berjalanlah kearah utara! Kau bisa melihat lemari? Ya.. Disana ada sesuatu. Lihatlah!
"Apa-apaan ini?" ucap Sean kebingungan.
Sean langsung melihat kearah lemari, ia mengerutkan kening lalu dengan cepat bangun dari kursi direkturnya dan menuju lemari itu.
Sean yang kini sudah didepan lemari kebingungan. Tetapi ia menemukan kertas di lemari yang bertulisan sesuatu.
Isi dari tulisan itu :
__ADS_1
Lihatlah di belakang lemari!
Sean lalu meremas tulisan itu, ia langsung menengok di belakang lemari yang rupanya ada sebuah kertas tertempel di belakang lemari tersebut.
Sean langsung mengambil kertas itu.
Isi dari tulisan itu :
Saya bisa menghipnotis anda jika kini anda sangat kebingungan. Maka dari itu bertanyalah pada Asisten Anda. Dia pasti tau jawabannya. Jika dia tidak tahu maka umpatilah dia lalu lihatlah dibawah mejanya!
Sean meremas kertas itu lagi, ia merasa kesal karena dipermainkan.
Dia lantas menuju ruangan sang asisten, ia langsung bertanya pada Asisten Kim.
"Siapa yang mengirim kertas ini, Kim?" tanya Sean kesal dan kebingungan.
Asisten Kim membaca isi kertas itu.
"Saya tidak tau, Tuan"
"Sialan kau! Kupikir kau tau siapa yang mengirim surat ini. Cih! Tidak berguna"
Sean lantas teringat isi tulisan tadi, ia langsung melihat dibawah meja Asisten Kim.
Dia menemukan kertas lagi yang berisi sebuah tulisan.
Isi tulisan tersebut :
Aku bisa meramal jika dua pria bodoh sedang membaca pesan ini.
Hahaha... sekarang berjalanlah ke kamar rahasia. Cari kertas terakhir di ranjang termahal anda Tuan Sean!
Sean meremas kertas itu lagi dan melemparnya kearah Asisten Kim.
Dia langsung berjalan menuju kamar rahasianya.
Sean membuka pintu dengan kuat sedangkan sang asisten mengikutinya dari belakang seolah ingin tahu.
Oppa... aku mencintaimu setinggi langit, seluas samudra. Tetapi kau malah jahat kepadaku. Kau memotong gajiku.
Jahat! Sungguh jahat! Oppa orang terkikir yang pernah aku temui. Kekikiran Oppa tidak ada yang menandingi.
Lihatlah Oppa! Wajahku menjadi jelek jika Oppa memotong jatah skincareku.
Lihat! Lihat! Oppa tidak bisa melihat?
Oh ya ini hanya tulisan saja.
"Menyebalkan," gerutu Sean sangat kesal.
Oppa... tolong jangan potong gajiku! Aku mempunyai seekor kucing yang harus kuberi makan setiap hari. Jika kami kelaparan bagaimana Oppa? Maka dari itu jangan potong gajiku! Sarangeyo Oppa :)
Oh ya Oppa dibelakang kertas ini ada curhatan dari Cimol, siapa lagi jika kucing kesayangan kita yang sering Oppa maki dan Oppa jahati. Oppa sungguh keterlaluan!
Sean langsung membalik kertas itu.
Matanya terbelalak membaca tulisan itu.
Untuk : Papa Sean
Dari : Cimol
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
__ADS_1
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
Meeeow... meow... meow... meow...
MEEEEEEOOWWWWWW!!!!
Sean meremas kertas itu, wajahmya menjadi kesal karena telah dikerjai oleh sang istri.
"Kim. Suruh Mauren datang kesini, Kim! Biar ku beri pelajaran dia," ucap Sean dengan mode monster yang siap menerkam.
"Tidak ada waktu untuk itu, Tuan. Klien anda yang berasal dari Jepang sudah menunggu," jawab Asisten Kim.
"Huft... Ya sudah. Suruh orang Jepang itu kesini! Masalah Oren akan kuselesaikan setelah ini"
***
Saat istirahat tiba Mauren tengah asyik meminum susu kotak di lantai teratas gedung itu. Seperti biasa, ia tidak berselera makan.
Tiba-tiba ponselnya berdering ternyata dari nomor yang tidak di kenal. Dia dengan cepat mengangkatnya.
"Hallo?" ucap Mauren.
"Ini Mauren? Aku Mamanya Sean"
DEG!
Mauren langsung menutup telpon tersebut, ia masih trauma dengan orang yang menurutnya paling kejam.
Dia kini langsung berjongkok dan menangis teringat bayinya yang kini sudah tiada.
Rasa sedih menjalar di seluruh tubuhnya, ia memegang perutnya supaya diberi kesempatan untuk hamil lagi.
"Nona Mauren?"
Mauren mendongakan kepala, ia melihat Asisten Kim berdiri di depannya.
"Ada apa, Nona? Kenapa anda menangis?"
Mauren mengusap air matanya, ia langsung berdiri.
"Tidak apa-apa Kak Kim. Cuman teringat bayiku saja. Kak Kim apakah Oppa ku sempat mencari tubuh janinku yang di aborsi? Kenapa dia hanya diam saja dan tidak bercerita kepadaku? Kenapa dia santai-santai saja, Kak Kim?" tanya Mauren heran.
"Nona, Tuan Sean sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Janin anda ditemukan bersama puluhan janin lainnya dan kini mereka sudah di kubur selayaknya di sebuah pemakaman. Dan klinik aborsi tersebut telah di tutup dan sang pemilik kini mendekam di penjara seumur hidup"
"Tapi bagaimana dengan Mama dan Tante Oppa ku? Kenapa mereka tidak di tuntut oleh Oppaku? Mereka sangat jahat Kak Kim"
Asisten Kim menepuk pundak Mauren. Mauren menatap lekat wajah pria itu seolah menunggu jawaban.
"Tuan Sean sudah melakukan yang terbaik, Nona. Anda pasti akan mengerti sendiri. Oh ya Nona, anda dipanggil Tuan Sean untuk makan siang bersama"
"Aku tidak mau bertemu Oppa dulu. Dia seenak jidat memotong gajiku"
"Tuan Sean tidak pernah memotong gaji anda, malah ia memberi 2 kali lipat dari gaji anda"
Mauren terdiam, ia menatap wajah Asisten Kim membuat pria itu salah tingkah. Menaikan gaji? Hahaha bagi Mauren sangat tidak mungkin seorang Arsean William yang sangat pelit menaikan gaji. Bahkan meminta uang 50 ribu saja harus berdebat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Oh ya Nona, siapa pria yang anda temui tadi pagi?" tanya Asisten Kim mencairkan suasana.