
Tengah malam waktu mereka untuk bangun. Seina selalu menangis ketika jam 12 lebih membuat Sean selalu kesal. Mauren menggendong Seina lalu menimangnya dan berharap bayi gendut itu tertidur lagi.
"Oeeee... oeee... laaa... laaaaa.. oaaaa,"
"Mulutnya sumpal saja Oren! Sialan aku tidak bisa tidur," umpat Sean kesal.
"Mulut oppa saja yang aku sumpal. Oppa punya mulut tidak bisa dikondisikan," ucap Mauren.
Sean berdecih, ia menarik selimutnya sampai keatas kepalanya dan membiarkan Mauren mengurus Seina sendirian.
"Kenapa sayang? Cup.. cup.. cup..."
Seina menangis semakin kencang membuat Mauren semakin kebingungan. Dia berlari ke dapur membuat susu sambil menggendong Seina. Setelah itu ia mencoba meminumkan susu itu dan nampak Seina sudah terdiam dari tangisannya.
Mauren menuju ke ranjangnya sambil menggendong Seina. Dia melirik Sean yang sudah tertidur pulas. Dia maklum kepada Sean karena besok sang suami harus bangun pagi untuk bekerja kembali.
Setelah susu habis, Seina nampak belum tertidur. Mata bulatnya terbuka lebar seakan ingin mengajak bermain.
"Ayo Seina sayang, tidurlah! Ini sudah larut malam"
Bayi itu malah tertawa sambil menghentak-hentakan kakinya membuat Mauren menghela nafas panjang. Dia sudah sangat mengantuk tetapi mata Seina masih sangat segar.
Dengan terpaksa, Mauren mengajak bermain Seina sambil menahan kantuknya hingga pukul 2 pagi bayi gendut itu terlelap lagi.
Mauren langsung merebahkan dirinya di sebelah Seina lalu tidur dengan nyenyak.
Pukul 7 pagi Sean bangun lalu mandi, hari ini ia berangkat bekerja setelah sebulan lebih beristirahat.
Kim belum kembali membuatnya ia harus bekerja sendirian mengurus perusahaan yang keuangannya mulai membaik.
Setelah selesai mandi, ia memakai jas lalu melirik Mauren yang masih tidur pulas tetapi Seina sudah terbangun.
"Oren... bangun! Sudah pagi," teriak Sean membangunkan Mauren.
Mauren terkejut lalu menguap, ia masih merasa mengantuk karena tertidur beberapa jam saja. Dia melirik Sean yang sedang mengenakan dasi.
"Oh oppa? Berangkat kerjanya hati-hati ya. I love you," ucap Mauren dengan menguap berkali-kali.
Sean mendekati Mauren lalu mengelus kepala sang istri dan menciumnya.
"Bagaimana kita sewa baby sitter untuk Seina?" ucap Sean.
"Tidak perlu, aku ingin merawatnya sendiri"
"Yasudah tapi jangan terlalu lelah tidak bagus untuk program hamilmu. Aku berangkat dulu ya sayang," ucap Sean.
Sean sama sekali tidak melirik bayi itu, ia masih belum ikhlas menerima bayi lucu itu.
Setelah itu ia berangkat ke kantor dengan mobilnya sendiri. Ini pertama kali bekerja setelah cuti sebulan penuh.
Sean melajukan mobilnya dengan santai dan setelah sampai di kantornya semua orang menunduk hormat. Sudah sebulan mereka tidak bertemu bos tampannya beserta sang asisten yang kini belum kembali.
"Selamat pagi tuan," ucap karyawannya.
"Pagi," jawab Sean dengan tersenyum.
Sean lalu menaiki lift dan tiba-tiba seseorang berkacama ikut masuk lalu menunduk hormat.
"Selamat pagi, tuan"
Sean menganggukan kepala.
"Perkenalkan saya Ali pengganti Kim untuk sementara"
Sean mengerutkan dahi, pengganti Kim? Masih lamakah Kim kembali hingga Ali menggantikannya.
"Mari saya bawakan tas anda, tuan"
Sean menyerahkan tasnya kepada Ali dan beberapa menit kemudian lift itu terbuka dan Sean keluar dengan diikuti Ali. Sean berjalan masuk ke ruangannya dan menunjukan ruangan Ali yang berada di sebelah persis ruangannya.
"Jadi ini ruanganmu. Kau harus pandai saat menjadi asistenku. Aku yakin sebelum ini kau sudah membaca aturan di perusahaan ini," ucap Sean.
__ADS_1
"Baik Tuan Sean"
Sean menuju pintu ruangannya lalu masuk dan tercengang semua perkakas di kantornya sudah di ganti oleh Kakek Askar.
Parah sekali kakek tua itu. Cih... bahkan sofa legendarisku bisa-bisanya diganti tanpa seizinku.
Sean lalu menuju kursi direkturnya dan duduk sambil membuka laptopnya.
"Ali... Ali... Ali...," teriak Sean memanggil asisten barunya.
Ali masuk ke ruangan Sean dengan tergesa-gesa. Dia melihat sang tuan menampilkan mimik wajah kesal.
"Namamu susah sekali dipanggil. Ganti nama saja kau!" ucap Sean.
Ali mengerutkan dahi, ia sudah dengar jika Sean sedikit aneh dan ia tidak boleh membantah.
"Ali itu nama yang sangat mudah tuan. Letak kesusahannya dimana?" tanya Ali.
"Kau bilang letak kesusahannya dimana? Lidahku sampai keseleo menyebut namamu," ucap Sean.
"Maaf tuan. Tapi saya tidak bisa mengganti nama saya karena nama ini pemberian ibu saya"
"Siapa yang menyuruhmu mengganti nama?"
Baru bekerja beberapa menit dengan Tuan Sean saja bisa serumit ini padahal hanya masalah nama. Kenapa Kak Kim bisa betah dengan orang seperti ini? Batin Ali.
Ali terdiam, ia menundukan kepala pertanda mengalah untuk berdebat. Sean lalu menjentikan jari dan menyuruh Ali mendekat.
Sean membenarkan dasi Ali yang nampak miring sedangkan Ali sedikit risih.
"Sudah punya istri?" tanya Sean sambil membenarkan dasi Ali.
"Belum tuan"
"Kenapa tidak mencari istri supaya bisa membenarkan dasimu?" tanya Sean.
"Ehmm... saya"
"Sudah sana pergi! Aku ingin kembali bekerja. Mengganggu saja kau," ucap Sean.
Ali kembali ke ruangannya. Dia kembali berkutat pada laptopnya. Sebelumnya ia seorang sekertaris perusahaan lain tetapi masa kontraknya habis lalu memutuskan untuk menjadi asisten Sean untuk sementara.
"Ali... Ali... Ali...," teriak Sean membuat Ali berlari keruangan Sean lagi.
"Ada apa, tuan?" tanya Ali sopan.
"Lama sekali kau? Kau membuatku berteriak 3 kali"
Ali menghela nafas dan tersenyum lalu menunjuk telepon pada meja Sean dan menyuruh Sean menelpon ke nomornya supaya tidak berteriak jika memanggil nama Ali.
"Kau baru bekerja disini sudah sangat sok mengajariku?" tanya Sean.
"Bukan begitu tuan"
"Pergi sana!" pinta Sean.
Jadi dia memanggilku ke ruangannya untuk apa? Untuk memarahiku saja?
Ali menundukkan kepala lalu berjalan keluar ruangan dari Sean. Dia berharap setelah ini Sean tidak memanggilnya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sean baru saja pulang kerja, dia membuka pintu apartemen dan melihat Mauren sedang bermain dengan Seina.
"Papa sudah pulang," ucap Mauren.
Mauren menghampiri Sean lalu melepaskan dasinya.
"Kau sudah makan?" tanya Sean.
Mauren menganggukan kepala setelah itu melepas jas Sean dan menggantungkan di tempatnya.
__ADS_1
"Papa mau makan apa?" tanya Mauren memandang lekat sang suami.
"Aku ingin makan mie rebus saja, jangan lupa tambah telur dan sawi"
"Baiklah, Papa mandi dulu nanti aku buatkan," jawab Mauren.
Mauren menuju ke dapur tidak lupa membawa Seina di gendongannya.
Dia membuatkan mie rebus kesukaan Sean dengan diirisi cabai dan bawang merah tidak lupa 2 butir telur dengan sawi.
"Sheren ingin makan? Makan mie mau? Muah... muah... muah," ucap Mauren menggoda Seina yang ia gendong dengan selendang.
5 menit kemudian.
Mie rebus itu sudah matang, ia segera meletakannya di meja makan.
Mauren kini sudah berada di ranjang meletakan Seina supaya berbaring.
Bayi gendut itu semakin aktif membuat Mauren sangat gemas.
Sedangkan Sean yang baru selesai mandi segera memakai pakaiannya dan setelah itu segera makan mie buatan Mauren.
Apa lucunya bayi itu?
Lebih lucu aku. Batin Sean iri dengan anak angkatnya itu.
Sambil makan ia menelpon Kim, ia sangat merindukan asistennya itu bahkan dengan kedatangan Ali membuat Sean semakin ingin Kim kembali untuk menjadi asistennya lagi.
"Hallo, Kim?" ucap Sean.
"Hallo tuan. Ada apa?"
"Aku baru sehari menikah sudah punya anak. Bagaimana menurutmu?"
"Apakah yang anda maksud Seina, tuan?" tanya Kim.
Sean mengerutkan dahi, bagaimana Kim bisa tahu tentang Seina?
Kim bercerita jika Mauren sudah menceritakan Seina sejak ia berbulan madu. Seina selama ini di rawat oleh orang tua Mauren selama kedua pasangan aneh itu bulan madu.
Sean menghela nafas dan mengatakan jika ia belum bisa menerima Seina.
"Anda harus menyayangi Seina, tuan. Jika tidak pasti Nona akan kecewa. Dia begitu menyukai Seina," ucap Kim.
"Aku belum ikhlas, Kim. Aku harus bagaimana?"
"Anggap jika Seina adalah anak anda. Sering-seringlah bermain dengan Seina maka anda pasti lambat laun menyukai Seina"
Sean menghela nafas lalu menyudahi teleponnya. Setelah selesai makan ia menghampiri sang istri tercinta. Dia bisa melihat kebahagiaan di raut wajah Mauren.
Sean memeluk Mauren dari samping, Mauren lalu mengelus kepala Sean.
"Sudah selesai makan, Papa?" tanya Mauren.
Sean menganggukan kepala.
"Kenapa jadi memanggilku papa?" tanya Sean.
"Kita sudah memiliki anak dan harus memanggil seperti itu supaya mencontohkan anak-anak kita nanti," jelas Mauren.
Sean merasa sedih karena ia sudah tidak di panggil oppa lagi oleh Mauren.
Dia pasti akan merindukan panggilan kesayangannya itu.
"Apakah bayi itu membuatmu lelah? Ku lihat wajahmu sangat lesu," ucap Sean.
"Papa, jika kita punya bayi kehidupan kita seperti burung hantu. Jika siang tertidur dan malam terbangun bahkan kemarin Seina tidur jam 2 pagi," jelas Mauren.
"Nah kan, bayi ini membuatmu kelelahan. Kembalikan saja ke panti asuhan! Aku takut kau kelelahan dan membuat semakin sulit untuk hamil," ucap Sean membuat Mauren menatap sinis kepadanya.
__ADS_1
Yuk VOTE nya supaya cerita ini gak cepet tamat