
Seorang gadis blasteran bule nampak terlihat sedang menunggu seseorang.
Dia membawa koper besar dan beberapa oleh-oleh.
Dia memiliki paras cantik dengan hidung mancung serta bola mata yang membulat indah. Di negaranya gadis berusia 23 tahun itu sangat terkenal menjadi seorang model.
"Aunty..."
"Bella..."
Mereka saling berpelukan seolah sudah mengenal lama. Ya... mereka adalah Mama Sean dan Bella.
Bella adalah wanita selanjutnya yang akan di jadikan calon istri sang anak.
Entah kenapa, Mama Sean masih belum menerima Mauren sebagai menantunya padahal secara keseluruhan Mauren gadis yang sangat cantik tidak kalah dari Bella.
"Aku sudah melihat foto Arse, dia sangat tampan," ucap Bella.
"Tentu saja. Dia anak Aunty pasti tampan"
Mereka lalu segera menuju mobil dan pergi menuju ke hotel tempat Bella akan menginap.
"Jadi kapan Bella ketemu Arse, Aunty?" tanya Bella sudah tidak sabar bertemu Sean.
"Malam ini sayang, sekalian makan malam"
Di ruangan Sean.
Sean memutuskan untuk makan malam bersama sang Mama dan tidak lupa mengajak Mauren. Dia menolak tawaran dari sang Kakek karena baginya itu tidak penting.
Sean senang karena sang Mama tiba-tiba mengajak mereka makan malam.
Setelah membereskan mejanya, ia melangkah keluar dengan Mauren.
Hubungan mereka semakin lengket di depan para pegawainya.
"Kita tidak usah berganti baju?" tanya Mauren.
"Tidak usah. Kau pun sudah terlihat cantik"
Mereka menuju ke restoran mewah. Sean pikir sang Mama sudah merestui hubungan mereka, ia sudah merasa senang padahal faktanya Sean akan di jodohkan lagi dengan bule cantik itu.
Sesampainya di restoran, Sean dan Mauren langsung menghampiri sang Mama. Tapi mata Sean tercekat saat melihat seorang gadis duduk di sebelah Mamanya.
Mereka duduk berseberangan, terlihat sang Mama sudah memesankan makanan favorit Sean.
Sedangkan Mauren terdiam, ia masih takut dengan Mama Sean.
Bella menatap Sean penuh kagum, ia sangat beruntung bisa di jodohkan dengan Sean, seorang presdir muda dan sangat tampan.
"Perkenalkan Sean, dia Bella. Model dari negara tetangga," ucap Mama.
Bella mengulurkan tangannya, tetapi tidak digubris Sean. Sean seolah tidak peduli dengan bule di depannya.
Bella semakin terpikat dengan kharisma Sean yang cuek, ia semakin ingin berusaha memikat hati Sean.
"Aku ingin ke kamar mandi sebentar," ucap Sean sambil mengecup kepala Mauren.
Setelah Sean pergi ke kamar mandi, Mama Sean menatap sinis kearah Mauren. Tetapi Mauren tidak menggubrisnya dan asyik menyantap makanannya.
"Mauren? Kau belum berkenalan dengan gadis cantik ini 'kan? Perkenalkan dia Bella, calon istri Sean," ucap Mama Sean membuat Mauren sangat terkejut.
"Apa maksud tante?"
"Kau budek? Aku bilang sekali lagi jika Bella adalah calon istri Sean. Dia sangat cantik 'kan? Dia juga sangat terkenal tidak seperti dirimu yang gembel"
Bella hanya tersenyum sinis, Mauren menatapnya dengan tatapan tajam.
Darah seketika mendidih dan ingin mengajak bertengkar kedua wanita kejam di depannya.
"Kau yang bernama Bella. Kau ingin jadi pelakor? Sean sudah menikah dan akan mempunyai anak. Hatimu terbuat dari apa?" ucap Mauren.
__ADS_1
"Jika memang di haruskan menjadi pelakor akan kulakukan demi mendapatkan Arsean William," jawab Bella sambil tersenyum menyeramkan.
"Oh ya... Sean belum mengatakan jika ia akan menikahi Bella kepadamu? Sungguh miris, seperti istri yang tidak dianggap," ucap Mama Sean.
Mauren langsung berdiri, hatinya sungguh sakit. Dia langsung berlari menuju keluar restoran.
Dia tidak menyangka kejadian seperti ini terulang lagi padahal saat ini posisinya sedang mengandung anak Sean.
Dia memasuki mobil dengan kecewa, sedangkan Asisten Kim yang sudah sedari tadi berada dalam mobil terkejut melihat Mauren sedih.
"Ada apa Nona?"
"Tidak apa-apa Kak Kim"
Asisten Kim membiarkan Mauren, ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan mereka lagi.
Sampai Sean tiba-tiba masuk mobil untuk mencari Mauren yang sudah tidak berada di meja makan bersama sang Mama.
"Kenapa Oren?" tanya Sean yang sudah memasuki mobil.
"Hem"
"Mamaku bilang apa kepadamu?"
"Y"
"Ada apa denganmu?"
"Hem"
"Kenapa kau tiba-tiba begini Oren?"
"Y"
"Bisakah kau jawab selain hem, y, hem, y?" tanya Sean mulai kesal.
"Oh"
Sean menghela nafas, ia mengelus dadanya sendiri untuk bersabar.
Sedangkan Mauren kesal karena Sean malah membiarkannya dan tidak memperdulikannya.
15 menit kemudian.
Hanya terdengar deru mobil di sepanjang perjalanan pulang membuat Mauren semakin kesal kepada Sean.
Sean terlihat santai sambil memandang kaca mobil yang terlihat gemerlapnya malam.
"Aku kesal dengan Oppa," ucap Mauren.
"Kesal kenapa?"
"Oppa malah membiarkanku dan mendiamkanku," ucap Mauren cemberut.
"Tadi kau kutanya malah menjawab hem, y, hem, ya saja. Sekarang mau kau apa? Jika tidak hamil sudah kutampar mulutmu," jawab Sean kesal.
"Nah, tampar saja!" ucap Mauren sambil menyodorkan mulutnya kearah Sean.
Sean hanya terdiam tidak menggubris sang istri. Dia memalingkan muka lalu memandang kearah luar mobil.
Mauren mulai kesal, ia menarik tangan Sean supaya pria itu menatapnya lagi.
"Oppa jangan diam saja, coba tanya lagi, kau kenapa Oren sayang?" ucap Mauren.
"Kau kenapa Oren sayang?" ucap Sean.
"Tidak apa-apa"
Sean berdecak, ia menatap kaca mobil lagi. Dia tidak ingin marah karena sudah terlanjur lelah.
"Oppa?"
__ADS_1
"Hem"
"Oppa kenal dengan wanita bule tadi?"
"Y"
"Sungguh? Kenapa Oppa begitu tega kepadaku?"
"Hem"
"Hentikan mobilnya Kak Kim!" pinta Mauren.
Asisten Kim lalu menepikan mobilnya.
Mauren dengan cepat turun dari mobil, ia berjalan meninggalkan mereka.
Sean lalu turun dari mobil dan mengejar Mauren. Mauren mulai menangis dan tidak mempedulikan Sean yang memanggil namanya.
"Kenapa kau Oren? Mamaku bilang apa sehingga membuat kau aneh seperti ini?" tanya Sean sambil menarik tangan Mauren.
"Hiks... hiks... Oppa jahat kepadaku, Oppa mau menikahi gadis itu," ucap Mauren.
"Kata siapa aku mau menikah gadis itu?"
"Oppa bilang sendiri tadi di mobil dan Oppa tadi tidak memperdulikanku"
Ya Tuhan. Tolong kuatkan hatiku untuk sabar dengan gadis ABG ini.
Huh! Dan kapan aku bilang akan menikahi gadis itu?
"Tidak memperdulikanmu? Tadi kau kutanya hanya menjawab singkat saja, memangnya aku bisa mengartikan apa maksudmu. Kau sudah besar Mauren dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Jangan bersikap ke kanak-kanakan!
Jika di tanya jawablah yang jelas! Jangan marahmu saja yang kau lebih-lebihkan! Aku sangat lelah Mauren jangan membuatku bertambah lelah!"
Mauren terdiam, ia sangat terkejut ketika Sean malah memarahinya.
Dia meneteskan air mata dan terlihat Sean berjalan menuju mobil lalu mengetuk kaca mobil untuk berbicara kepada sang Asisten.
"Antarkan Mauren ke apartemen! Aku akan naik taksi untuk pulang ke rumah Mamaku," ucap Sean dan langsung berjalan menghentikan taksi yang lewat.
Asisten Kim kebingungan, ia menghampiri Mauren lalu menyuruh Mauren masuk ke mobilnya.
Dia tidak tega melihat Mauren menangis sesegukan.
"Apa Oppa sungguh mencintaiku?" tanya Mauren.
"Tuan Sean sangat mencintai anda. Tuan Sean sedang lelah saja karena akhir-akhir ini ia memiliki aktivitas yang padat. Anda jangan terlalu memikirkannya!" ucap Asisten Kim.
Asisten Kim lalu mengelap air mata Mauren menggunakan sapu tangannya.
Dia lalu menggandeng Mauren untuk masuk ke mobil dan mengantarkannya pulang.
Di dalam mobil, Asisten Kim melirik Mauren yang sedari tadi menangis sesegukan. Hatinya tidak tega melihat gadis yang dulu pernah mengisi hatinya sedang sedih.
"Sebenarnya ada apa Nona?"
"Hiks... hiks... Oppa ku akan menikah dengan bule cantik itu, hiks hiks"
"Bule yang mana, Nona? Tuan Sean tidak pernah mengkhianatimu"
"Bule cantik model dari negara tetangga, sepertinya ia sudah sangat dekat dengan Mama Oppaku hiks... hiks..."
Asisten Kim merem*s jarinya, ia sangat kesal dengan Mama Sean yang selalu bersikap semena-mena.
Tenang saja Nona. Aku akan membereskan semuanya. Tidak akan ku biarkan seorang pun menyakitimu.
Asisten Kim lalu menelpon seseorang,
"Cepat cari hotel yang di singgahi bule cantik yang bersama Mama Tuan Sean! Kirimkan alamatnya sekarang juga!"
"Kau mau apa Kak Kim?" tanya Mauren penasaran.
__ADS_1
Asisten Kim hanya tersenyum menyeringai.
Pria aneh ini apa yang akan ia lakukan? Batin Mauren.