Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Merayu Mauren


__ADS_3

Kamar yang nampak rapi dengan warna berdominan biru serta boneka-boneka yang tersusun rapi oleh pemberian orang yang dicintainya. Lelaki itu sering sekali membelikan gadis berumur 25 tahun itu boneka, mulai dari yang kecil sampai yang paling besar.


Sean nampaknya sangat menyayangi Alana tetapi hanya sebagai seorang teman.


Hingga terdengar sebuah perjodohan tentang mereka membuat dirinya kini menjaga jarak dengan Alana.


Tok tok tok tok


Terdengar bunyi pintu kamar diketuk yang ternyata sang Papa. Dia membuka pintu saat Alana menangis. Papa Alana khawatir lalu mendekatinya. Dia mengelus putri semata wayangnya itu, ia berpikir Alana sedang sedih karena ulah Sean.


"Apa ini semua salah Sean? Apa yang dia lakukan padamu?"


Alana menggelengkan kepala, ia tidak ingin Sean yang disalahkan. Dia sangat mencintai Sean, kesalahan sedikit pun tentang Sean pasti ia tutupi dari sang Papa.


"Aku rindu Mama, jika saja Mama masih ada pasti aku tidak akan kesepian," ucap Alana berbohong, "Papa kapan mencari pengganti Mama, Papa pasti sangat kesepian," sambung Alana.


Papanya tersenyum, wajahnya tersirat ingin mencari pendamping hidup baru tetapi ia masih ragu dengan keputusannya. Dia sekarang ini hanya ingin melihat putrinya bahagia dulu baru ia bisa mencari kebahagiaannya sendiri.


"Kenapa Sean tidak jadi makan malam dengan kita?" tanya Papa untuk mengalihkan pembicaraan.


"Dia sangat sibuk lagipula masih ada hari lain"


Papanya tersenyum sambil mengelus kepalanya, ia sangat menyayangi putrinya itu.


Hanya Alana lah yang menjadi penyemangatnya.


"Katakan jika Sean menyakitimu! Papa akan membunuhnya"


"Sean sangat baik, ia menyayangi Alana. Bahkan dia sangat senang ku kunjungi setiap hari di perusahaannya"


Papa tidak boleh tau jika Sean kini sudah berubah, ia menjadi kasar terhadapku. Dia sudah tidak perhatian lagi denganku.


Sean sekarang ini bukan Sean yang ku kenal dulu.


**


Mauren merebahkan diri diranjang rumah sederhana milik Sean, ia menarik selimut sampai kepala. Pikirannya menerawang jauh entah kemana, yang ia pikirkan hanyalah ia tidak ingin sakit hati untuk kedua kalinya.


Mauren memeluk guling dan menghadap membelakangi pintu.


Tetapi lamunannya buyar saat seseorang membuka pintu kamar, ia berpikir adalah Sean.


Apa Sean akan memaki ku karena aku membawa kabur mobilnya? Sial! Sepertinya malam ini aku akan di cincang habis olehnya.


Jreeeeng jreng jreng jreng


Terdengar suara petikan gitar, mata Mauren membulat dan mendengarkan dengan seksama, jemarinya merem*s guling yang di peluknya.


(Sean menyanyikan lagu Andmesh - Cinta Luar Biasa)


*Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu

__ADS_1


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Tulus padamu*


Mauren tidak bisa berkata-kata, ia sangat tersentuh mendengar Sean menyanyikan lagu itu untuknya. Dia bangun dan terduduk memandang Sean yang masih didepan pintu dengan membawa gitar.


Sean meletakan gitarnya dan mengambil sebuah boneka beruang besar seukuran manusia. Dia berjalan mendekati Mauren dan menyerahkan boneka itu.


Mauren masih menatap lekat Sean yang menggunakan pakaian kerjanya, ia meneteskan mata karena terharu. Dia sebelumnya belum pernah mendapat perlakuan seromantis ini saat berpacaran dengan sang mantan.


"Kau tau matahari? Dia selalu menyinari bumi setiap hari sama halnya dengan dirimu menyinari hatiku sepanjang hari," ucap Sean duduk di ranjang dekat Mauren yang masih menatap seolah tidak percaya.


"Kau tau bulan? Dia membuat malam hari menjadi terang seperti halnya dengan dirimu membuat setiap malam-malamku selalu bersinar. Hanya kamu yang membuat aku menjadi tergila-gila kepadamu. Memang dari awal aku cuman iseng menikahimu tetapi hari demi hari aku sadar jika perasaanku terhadapmu sangat besar Mauren," sambung Sean.


Mauren memeluk Sean, ia menangis terharu ternyata Sean sangat menyayanginya.


Mungkin hanya ketakutan Mauren jika suatu saat nanti akan meninggalkannya, ia terlalu takut karena Sean sangat tampan dan kaya raya membuat para gadis menyukainya.


Sedangkan Mauren hanya orang miskin yang orangtuanya penjual sayur di pasar.


"Oppa. Aku bukan anak kecil. Kenapa kamu memberiku boneka?"


"Ku pikir semua wanita suka boneka dan lagi pula kau pun masih menyimpan boneka barbie konyolmu itu," ucap Sean.


"Jadi kau tidak suka?" sambung Sean.


"Aku sangat suka. Terima kasih oppa"


Mauren mencium pipi Sean, ia juga menggesekan hidungnya ke hidung Sean.

__ADS_1


Sean membalas dengan mencium beberapa kali pipi istrinya.


"Oppa cepatlah mandi!" ucap Mauren.


"Mandikan!"


"Tidak mau! Aku ingin tidur!" ucap Mauren sambil merebahkan dirinya dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


Tuhan. Semoga saja oppa memang tulus untukku. Jangan pisahkan kami! Aku sangat menyukainya bahkan mencintainya.


___________________________________


Praaaaang.....


Suara gelas yang dilempar seketika pecah saat bersentuhan dengan lantai.


Semua orang yang berada diruangan itu terkejut. Kakek Askar sangat marah ketika melihat rekaman cctv dari luar apartemen Sean. Cucu yang ia anggap bodoh itu membawa seorang gadis yang wajahnya tertutup selembar kain dan menggunakan kaca mata hitam.


Kakek Askar memandangi Linda yaitu Mama Sean, ia sangat kesal kepadanya karena tidak pecus mengurus anak.


"Aku tidak mau tau seret anakmu itu untuk tinggal disini. Sudah berani kurangajar rupanya, jika keluarga Alana sampai tahu bagaimana? Kau mengurus satu anak saja tidak pecus Linda," ucap kakek geram.


Kakek tidak sadar diri padahal dirinya hampir setiap hari pergi ke hotel bersama gadis-gadis cantik. Batin Sera.


Sedangkan Zara yang duduk disebelah Sera tersenyum sendiri membayangkan kejadian tadi siang. Dia tidak memperdulikan disekitarnya yang sedang menegang karena kemarahan kakek.


"Hey! Kamu tidak apa? Mana yang terluka?" tanya Reno.


Zara terkejut lalu ia berdiri malu sambil menundukan kepala.


"Saya tidak apa-apa kak," ucap Zara.


Reno melirik lutut Zara yang memerah, ia segera menggandeng Zara untuk mengobati lukanya di ruangan Reno.


Jantung gadis itu berdegup dengan hebat dan tidak menyangka ia bisa mengobrol dengan Reno.


Setelah itu Reno mengambil alkohol dan plester untuk mengobati lutut Zara.


Zara menatap Reno yang sedang berjongkok di depannya, ia melihat tanpa mengedipkan mata.


"Sudah selesai," ucap Reno.


"Terima kasih kak"


Reno mengambil sesuatu di mejanya, ia menyodorkan baju hem lengan panjang miliknya.


"Kamu bisa menutupi rokmu yang basah dengan hem ini"


Zara dengan semangat mengambil hem itu, ia segera mengikat di panggulnya. Dia berterima kasih lalu berpamitan dengan Reno. Dia berjanji akan segera mengembalikannya.


"Zara!" teriak kakek memanggil namanya.


Zara tersadar dari lamunannya, semua keluarga menatap heran kepadanya.


"Kau kenapa tersenyum sendiri?" tanya kakek.


Zara menggelengkan kepala, ia sangat takut jika ketahuan sedang jatuh cinta.


Sera yang disebelahnya menahan senyum akan tingkah saudari kembarnya itu.


"Awas kalian jika berani berpacaran tanpa sepengetahuan kakek!"


Mama Sera dan Zara memandangi putri mereka, ia menaruh curiga jika mereka kini diam-diam berpacaran dibelakangnya.


Zara pura-pura menguap lalu berpamitan untuk ke kamar dan menarik Sera untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Lihatlah! Anak-anak kalian sungguh aneh!" ucap kakek memandangi kedua putrinya.


__ADS_2