Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 187 - Awas, Seina!


__ADS_3

Hari minggu, waktunya family time.


Sean menghabiskan waktunya bersama sang istri dan putrinya.


Mereka hanya di apartemen, sedari tadi Mauren hanya asyik rebahan di ranjang sambil menonton sinetron favoritnya.


Perutnya selalu terasa mual dan kepalanya pusing. Bahkan makanan apapun yang ia telan selalu dia muntahkan lagi.


"Oren sayang, ini minum vitaminnya," ucap Sean sambil memberikan 3 buah jenis vitamin yang berbeda dan segelas air.


Mauren duduk dan segera meminumnya. Sean mengelus kepalanya, dia tidak tega melihat sang istri sangat pucat.


"Dekat denganku tidak mual seperti dulu lagi sayang?" tanya Sean.


"Tidak oppa. Biasa saja, malah aku ingin selalu mencium aroma tubuh oppa," jawab Mauren.


"Nah gini, jangan merepotkan mama ya sayang!" ucap Sean sambil mengelus perut Mauren.


Sean lalu menyuruh Mauren berbaring lagi dan menyelimutinya. Dia menghampiri Seina yang sedang bermain di arena bermain dekat ranjangnya.


Seina asyik bermain mobil-mobilan sedangkan semua boneka ia lempar.


Dia tidak suka boneka bahkan semua kado boneka hadiah ulang tahunnya tidak tersentuh satu pun.


"Sein, papa ikut main ya?" ucap Sean.


"Meyah," ucap Seina menunjukan mainan mobilnya.


"Oh mobil itu warna merah, bagus sekali. Papa pinjam"


Pleeetaaaak...


Seina melempar mobil itu kearah Sean dan tepat mengenai jidat Sean. Sean sangat kesal dan memaki anaknya.


"Anak kurang ajar kau! Aku papamu kenapa kau melempar kearah papa," ucap Sean sambil merasakan jidat nya yang berdenyut.


Seina malah tertawa seolah mengejek Sean. Seina lalu mencoba berdiri mencoba mengambil sesuatu di depannya tetapi kakinya terpeleset lalu terjatuh.


Gubraaak...


Dia menangis kencang membuat Mauren terkejut lalu menghampiri Seina.


Mauren menatap Sean dengan tajam, pasti ini ulah suaminya.


"Oppa pasti memukul Sheren," ucap Mauren.


"Apa kau bilang? Tidak usah fitnah. Dia terjatuh sendiri"


"Oppa tadi sempat membentak Sheren pasti setelah itu memukul," ucap Mauren sambil menggendong Seina.


Sean sangat kesal, ia memelototi Mauren yang selalu memfitnahnya dan menyalahkan dirinya jika tiba-tiba Seina menangis.


"Mulutmu Oren, tidak pernah menghargai aku sebagai suamimu. Kau selalu menyalahkanku ketika Seina menangis. Sekarang aku tanya, menang pernah aku memukulmu?" tanya Sean serius.

__ADS_1


"Oppa memang tidak pernah memukulku tetapi Oppa pernah memukul Sheren, aku melihatnya sendiri"


Sean merasa sakit hati di fitnah oleh istrinya sendiri. Dia tidak pernah merasa memukul putrinya.


Sean mengambil jaket dan kunci motornya lalu berjalan kearah pintu dan terhenti sebentar.


"Aku sangat menyayangi Seina seperti anakku sendiri bahkan aku sering mengajaknya bermain ketika aku merasa sangat lelah sepulang kerja. Kau memang tidak bisa menghargai suami mu sendiri, Mauren," ucap Sean kecewa.


Sean berjalan keluar dari apartemennya. Dia hanya ingin dihargai oleh istrinya sendiri. Rasanya sakit hati ketika Mauren memfitnahnya dan selalu menyalahkannya ketika Seina menangis. Bahkan ini lebih dari 5 kali Mauren selalu memfitnahnya.


Sean turun dari apartemen dan menaiki motornya lalu menuju rumah sakit untuk sekedar curhat dengan Dokter Juna.


Dia melajukan motornya dengan kencang karena sudah terbawa emosi dan tidak membutuhkan waktu lama sampai di rumah sakit.


Setelah sampai, Sean masuk ke ruangan Dokter Juna dan ternyata Dokter Juna tidak ada di ruangannya.


Sean duduk di sofa sambil memijat kepalanya sendiri.


Aku selalu baik dengan Seina. Tetapi selalu saja serba salah. Apa semua perempuan itu selalu benar?


Cekleeek...


Pintu terbuka yang ternyata dokter Juna masuk. Dia terkejut ketika Sean sudah ada di ruangannya.


"Kenapa Sean? Jerawatmu pecah," ucap Dokter Juna.


"Huh... dilempar dengan mobil-mobilannya Seina"


Dokter Juna duduk di kursinya lalu membuka jas dokternya. Dia melirik Sean yang berwajah suram.


"Bertengkar lagi dengan Mauren?" tanya Dokter Juna.


Sean menganggukan kepala. Dokter Juna menghampirinya lalu duduk di sebelahnya.


"Mauren selalu memfitnahku memukul Seina padahal aku tidak pernah melakukannya. Aku sangat sayang kepada putriku tetapi tetap saja Mauren menganggapku selalu jahat dengan Seina," ucap Sean.


"Kita harus protes kepada pihak indosiar. Kenapa hanya ada catatan hati seorang istri? Harusnya ada catatan hati seorang suami. Bukan kau saja yang sering dimarahi istrimu bahkan aku juga sering di marahi Zara. Kau tau ketika aku mengambil baju di lemari tidak kuangkat tetapi ku tarik, Zara langsung memukul punggungku dan memakiku. Satu lagi, ketika sehabis mandi aku menggeletakan handukku sembarangan Zara selalu memukulku dengan handuk itu," ucap Dokter Juna panjang lebar.


"Nasib kita ternyata sama, Juna"


Kedua pria aneh itu saling curhat tentang kegarangan istri mereka. Apalagi ketika sudah mempunyai anak, istri mereka seperti monster jika marah.


"Terus aku harus bagaimana, Juna?" tanya Sean.


"Kau harus mengalah apalagi kini istrimu sedang hamil. Jangan membuatnya kecewa! Kau harus sabar menghadapinya"


Sean menghela nafas, sabar? Itu sudah makanan sehari-harinya. Entah kenapa Mauren yang dulu imut kini menjadi emak-emak menyeramkan.


Sedangkan Mauren yang berada di apartemen merasa kesal karena sifat Sean yang belum sepenuhnya berubah. Sean selalu marah dan pergi begitu saja.


Mauren menghela nafas lalu meletakan Seina di arena bermain dan tidak lupa menutup pagarnya.


Mauren kini berbaring di ranjang dan memperhatikan Seina bermain sendiri.

__ADS_1


Pertengkaran dalam rumah tangga itu hal yang wajar. Dia sudah tidak kaget apalagi Sean selalu lebih dulu meminta maaf.


Disisi lain,


Sonia melamun di dalam kamar kosnya. Dia tidak menyangka jika bertemu Reno di kafe. Mungkin Sean memang sengaja mempertemukan mereka.


Reno mengajak Sonia untuk kembali rujuk tetapi mengingat perlakuan egois Reno saat dulu membuatnya cukup trauma.


Sonia mengambil ponselnya lalu membuka IG untuk mengintip foto anaknya yang kian tampan seperti papanya.


Sonia menangis dan ingin memeluk sang anak tetapi apalah daya sang anak justru tidak menganggapnya ibunya lagi.


Aku hanya ingin bertemu Dylan. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak mau rujuk dengan kak Reno.


"Sonia, aku ingin kita rujuk lagi. Memulai semua dari awal. Aku hanya ingin Dylan mempunyai seorang ibu," ucap Reno.


"Jika hanya ingin memiliki seorang ibu kenapa kakak tidak mencari wanita lain dan menjadikannya ibu untuk Dylan?"


"Aku hanya mencintaimu, Sonia"


Sonia mengacak rambutnya tatkala mengingat ucapan Reno saat di cafe.


Dia lalu berbaring di ranjang sambil memeluk guling.


Rujuk dengan Kak Reno bukan suatu penyelesaian. Aku tidak ingin memberi kesempatan Kak Reno lagi.


**


Mauren yang ketiduran tidak menyadari jika pagar arena bermain milik Seina terbuka. Seina kini leluasa untuk merangkak dan sesekali berjalan.


Gadis gembul itu merangkak dengan cepat sampai tidak menimbulkan bunyi.


Seina memainkan benda yang ada di depannya sampai ia melihat sebuah bolpoin tergeletak di lantai.


Seina merangkak dengan cepat lalu mengambilnya. Dia memasukan ujung bolpoin itu kedalam mulutnya membuat bibirnya membiru.


Setelah itu ia mencoret dinding tembok dengan bolpoin tersebut.


Dia menggambar benang ruwet sampai tembok itu benar-benar kotor karena coretannya.


Bayi gembul itu kini melirik pintu yang menuju ke kolam renang terbuka. Seina tersenyum lebar dengan ludahnya yang menetes dan terlihat dua gigi atasnya yang sudah tumbuh.


Seina merangkak cepat ke pintu itu dan keluar kearah kolam renang.


Dia merangkak semakin cepat, ia penasaran dengan air biru yang nampak tenang di depannya.


Seina semakin dekat dengan kolam renang, semakin dekat, semakin dekat dan...


Byuuuuurrrr...


Seina terjatuh di kolam renang tanpa sepengetahuan Mauren.


__ADS_1


__ADS_2