Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 109 : Orang tua egois


__ADS_3

(Balik lagi ke cerita setelah adegan telur ceplok yang viral di novel ini. Dan saya meminta maaf jika ada pihak yang kurang berkenan dengan bab tersebut)


Pagi hari aku terbangun di rumah sakit ini, bau obat-obatan sudah memenuhi rongga dadaku. Semenjak aku menikah dengan Oppa, aku sering keluar masuk rumah sakit padahal sebelumnya aku tidak pernah sekalipun menginap di rumah sakit. Huh! Kesal, kata yang tepat untuk kondisiku sekarang. Hidupku penuh lika-liku ketika menjadi istri seorang presdir, apakah istri-istri presdir lainnya bernasib sama sepertiku? Sepertinya tidak jika mereka berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Sedangkan aku hanya lah dari kalangan golongan orang menengah kebawah, aku pun juga tidak pandai-pandai amat.


Walaupun aku menjadi istri presdir bukan aku selalu merasa bahagia. Banyak tekanan batin yang selalu menghantuiku setiap malam. Apakah keluarga Oppa mau menerimaku? Sebuah pertanyaan yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri tetapi aku belum menemukan jawabannya.


"Oren. Lihatlah Mama dan Tanteku datang!" ucap Sean.


Mata Mauren terbelalak, ia langsung refleks berteriak kencang seperti orang ketakutan. Sean langsung menenangkan istrinya.


"Pergi! Kalian jahat! Aku tidak mau bertemu kalian," teriak Mauren sambil mengacungkan tangannya ke arah mereka.


"Mauren, kami mau minta maaf," jelas Mama Sean.


"Pergi kalian! Aku tidak butuh permintaan maaf kalian, kalian wanita kejam. Aku sangat benci kalian"


Mama Sean dan Mama Zara lalu bersujud di lantai mengharap pengampunan dari Mauren tetapi Mauren seolah tak acuh dengan mereka.


Sean langsung mengkode Mama dan Tantenya untuk keluar. Dia lalu memeluk Mauren yang ketakutan dengan kedatangan mereka.


Mauren sangat histeris membuat Sean mengerahkan para suster untuk membiusnya. Lalu akhirnya Mauren tertidur kembali untuk sementara waktu.


Tidak mungkin jika Mauren mau memaafkan Mama.


Sedangkan di luar ruangan.


Mama Zara cemberut dan kesal karena ia sudah susah-susah berakting penuh penyesalan tetapi malah diusir oleh Mauren. Kedua wanita itu akhirnya memilih menunggu di luar ruangan dengan hati yang mendongkol.


"Kak, susah-susah kita ngedrama tetapi gadis miskin itu malah mengusir kita," ucap Mama Zara.


"Diamlah! Terserah dia mau memaafkan atau tidak yang terpenting aku sudah merasa tenang jika ia tidak bisa hamil lagi, aku tidak sudi jika cucuku harus di kandung gadis miskin sepertinya," ucap Mama Sean santai.


Tiba-tiba pintu terbuka yang ternyata Sean yang keluar, kedua wanita paruh baya itu berubah ekspresi menjadi sedih dan kecewa.


"Sepertinya Mauren memang masih butuh waktu untuk memaafkan kalian," ucap Sean.


Sang Mama menghela nafas, ia menjelaskan jika akan meminta maaf lagi sampai Mauren memaafkannya.


Sean menatap wajah Mama penuh curiga, ia bisa membedakan ekspresi wajah seseorang yang ingin meminta maaf tulus atau tidak.


"Aku harap Mama dan Tante sangat tulus untuk meminta maaf kepada Mauren. Jika tidak aku tidak akan pernah memaafkan kalian dan kalian akan ku buang jauh ke antah berantah. Aku tidak main-main," ucap Sean dengan tegas.


"Apa maksudmu Sean? Kami sangat menyesal dan ingin meminta maaf kepada Mauren, benar 'kan Kak?" ucap Tante.


"Iya, Sean. Yang di katakan Tantemu sangat benar. Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang dulu"


Sean menatap Mama dan Tantenya yang mulai pergi dari tempat itu.


Dia menghela nafas lalu terduduk di kursi, ia mendongakan kepalanya dan memejamkan mata. Dia hanya ingin semua masalah di otaknya segera cepat selesai sampai ia tidak menyadari Bapak dan Ibu Mauren datang.


"Sean?" ucap Bapak.


Sean membuka matanya, ia terkejut dan langsung memberi salam kepada kedua mertuanya. Dan setelah itu ia bersujud di bawah kaki mereka, ia memohon maaf yang sebesar-besarnya karena kejadian ini menimpa Mauren.


Bapak langsung membangunkan Sean, ia sangat benci sekali dengan keluarga Adinata tetapi ia tidak bisa membenci Sean yang tidak bersalah.


"Bapak ingin marah tetapi Bapak tidak mungkin melampiaskannya kepadamu. Kami sebagai orang kecil selalu tertindas, kami hanya bisa mengalah. Tapi kali ini sudah kelewatan, bisa-bisanya orang tuamu berbuat keji kepada cucunya sendiri bahkan sampai merusak rahim putriku. Bapak sudah memutuskan Sean bahwa setelah ini Mauren akan kami bawa pulang dan setelah itu kami akan menunggu surat perceraian dari pihakmu"

__ADS_1


Bagai tersambar petir di siang bolong, Sean sangat terkejut mendengar ucapan Bapak mertuanya. Sungguh ia tidak menyangka jika Bapak Mauren akan berucap seperti itu kepadanya.


"Maksud Bapak apa? Aku tidak mungkin menceraikan Mauren. Aku sangat mencintainya"


"Itu yang terbaik Sean. Bapak tidak tega melihat Mauren menderita dengan pernikahannya"


Sean langsung bersujud lagi, ia memohon supaya Bapak mertuanya tidak memutuskan hal yang gegabah.


Dia sangat mencintai Mauren hingga tidak ingin berpisah dengannya.


Dia juga berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi, dia akan membuat Mauren bahagia.


"Berdiri Sean! Semua tergantung pada keputusan Mauren. Apakah dia mau bercerai denganmu atau tidak?"


**


Diruangan Asisten Kim.


Sera tengah memandangi Asisten Kim yang bekerja. Hari ini jadwalnya sangat padat karena menggantikan pekerjaan sang tuan yang hari ini tidak berangkat bekerja. Sedari tadi mereka tidak mengobrol membuat Sera menjadi jenuh.


"Asisten Kim?"


"Ada apa Nona? Sudah selesai tugasmu"


"Aku merasa menyesal telah memberitahu Mama jika Kak Sean sudah menikah dengan Kak Mauren. Itu semua gara-gara aku Kak Mauren sampai keguguran," ucap Sera sangat sedih.


Asisten Kim memandang wajah Sera, ia tersenyum dan mengatakan jika itu semua sudah takdir jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri.


Tetapi Sera masih merasa menyesal atas mulutnya yang ember.


"Asisten Kim?"


"Apakah kau pernah di dikhianati oleh seseorang dan orang itu malah memilih orang lain?" tanya Sera sedih.


Asisten Kim lalu terdiam, ia teringat kisah cintanya dengan Mauren. Sungguh sangat tragis bahkan ia tidak bisa melupakannya.


"Masa lalu membuat kita belajar untuk jangan pernah mengulanginya lagi, Nona. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Buka lembaran baru dan berharap hari esok lebih baik," jelas Asisten Kim tersenyum.


"Tapi jika kita malah bertemu setiap hari dengannya bagaimana? Dan bahkan dia sudah bergandengan dengan orang lain?"


"Lupakan! Itulah kuncinya, Nona"


Sera langsung menangis, ia hari ini sangat sedih karena pacarnya malah pergi bersama gadis lain dan tidak memperdulikan dirinya. Padahal Sera selalu mengunjunginya tetapi malah ia melihat pemandangan menyakitkan. Pacarnya sedang menyelingkuhinya dan kini ia hanya bisa pasrah saja.


Asisten Kim lalu menepuk pundak Sera, ia memang tidak tega melihat seorang gadis menangis.


"Mungkin anda salah lihat, Nona? Mungkin mereka hanya berteman"


"Tidak mungkin. Ku lihat mereka bergandengan tangan"


"Bisa saja anda hanya salah paham saja"


Kliiiing...


Terdengar bunyi ponsel Sera mendapatkan sebuah pesan, ia langsung membacanya. Dia terkejut lalu tersenyum ketika sang pacar menjelaskan jika gadis itu hanya adiknya bahkan sampai mengirim gambar Kartu keluarga beserta foto keluarga.


"Benar kata Asisten Kim, aku hanya salah paham ternyata dia hanya adik pacarku saja. Hehehe... aku jadi malu sudah menangis di depan Asisten Kim," ucap Sera sambil mengelap air matanya.

__ADS_1


"Menangislah jika ingin menangis, Nona! Dan jangan pernah merasa malu," jelas Asisten Kim sambil mengusap kepala Sera.


**


Di rumah sakit.


Mauren sudah terbangun, ia melihat jika Bapak dan Ibunya sudah ada di sebelahnya. Dia langsung memeluknya, dia sangat rindu dengan mereka.


"Bapak dan Emak datang kapan?" tanya Mauren.


"Baru saja, Mauren sayang," ucap Ibunya berbohong padahal mereka sudah datang 2 jam yang lalu.


Mauren langsung menangis, ia meminta maaf karena belum bisa memberikan cucu kepada orang tuanya.


"Sudah jangan menangis! Jangan cengeng sayang," ucap Ibu sambil mengelap air mata Mauren.


"Setelah keluar dari rumah sakit. Kau mau 'kan pulang ke rumah? Jalani kehidupan baru lagi. Kau tidak bisa terus begini, Bapak tidak tega melihatmu menderita di keluarga Adinata"


"Maksud Bapak apa?"


"Kau mau 'kan bercerai dengan Sean?"


Mauren terkejut, ia tidak menyangka jika Bapaknya mengatakan seperti itu.


"Aku tidak mau bercerai dengan Oppaku. Kenapa Bapak malah seperti itu? Bapak bukannya mendukung kami malah meminta kami bercerai. Aku kecewa dengan Bapak"


_____________________________


Ayo dong jangan pelit VOTE


Rangking novel ini gak pernah naik...


Bagaimana mau semangat update jika tidak ada dukungan dari kalian?


Dan usahakan setiap babnya di Like...


popularitas novel ini jadi lambat jika kalian pelit LIKE, VOTE maupun KOMEN.


Di NOVELTOON/MANGATOON itu udah gratis gak perlu beli koin gaes... apa susahnya untuk beri LIKE KOMEN VOTE RATE5?


Sorry ya klo kesannya ngemis... Jujur ya... Saya udah bikin 3 novel di aplikasi ini memang belum dapet apresiasi apa-apa dari pihak aplikasi... aku masih semangat2 aja... coba lihat author lain... udah pada nyerah di tengah jalan lalu pindah di aplikasi lain....


aku bertahan di noveltoon itu karena Supaya pembaca bisa baca secara gratis... ah... kami kan modal kuota kak?


Wkwkwk... author pun modal kuota juga yaa... emangnya NOVELTOON/MANGATOON bisa mode ungu?


Di apk ini emang kurang menghargai penulis padahal iklan slalu berjejer-jejer.


hmmm maka dari itu para author minta dukungan dari kalian dengan cara LIKE VOTE KOMEN RATE5...


Yuk mulai sekarang hargai penulis!


Dan satu lagi... karena saya dalam sehari bikin 2 novel maka dari itu updatenya sekarang hanya 1 bab sehari aja... mau minta banyak?


coba bikin sendiri! Aku mau lihat kalian sanggup ngetik berapa bab... aku yakin mentok paling 2 bab aja...


(udah ah malah ngebicit mulu)

__ADS_1


__ADS_2