
#Hai aku mau kasih tau aja. Mohon maaf kalau cerita yg saya buat banyak yg gak masuk akal. Apalagi cerita Cinta Dokter Juna yang bagian Zara tukeran ama Sera, banyak yang udah kasih komentar jahat sebelum baca bab selanjutnya. ITU SEMUA HANYA MIMPI ZARA jika SERA nyerahin perawannya ke Juna. Jadi pembaca yang cerdas ya gaes jangan asal sok tahu dulu sebelum baca kelanjutannya.
#Aku tau cerita tentang ABG mengarah ke s*ks itu kurang baik. TAPI untuk cerita Zara dan Sera itu malah bisa jadi pembelajaran bahayanya s*ks di usia mereka. Apalagi cerita Sera yang polos yg gak tau s*ks itu banyak sekali kasusnya di dunia nyata. Bahkan aku dulu juga gak tau apa itu s*ks. Aku tau ya setelah menikah.
#Disini aku tahu jika pembacaku juga ada yg masih remaja. Untuk adik-adik ku yang tercinta yang masih bocah jika author kasih peringatan 21+ kalian kagak usah di baca. Author kasih 21+ karena buat nyenengin emak2 hahaha.
#Aku yg nulis cerita ini, aku sutradara dan penulis skenario nya juga. Jadi semua cerita pada tangan author. Aku suka di kasih saran tp gunakan bahasa yg lebih enak. Ihh authornya baperan....
Bodo amat, ini cerita saya ya kan? Saya nulis disini juga perjuangan banget mulai dari gak punya pembaca sampai kalian ngumpul bareng baca cerita fiksi ini.
#Pembaca di noveltoon itu pedes2 kata para author. Ya emang bener, tapi ya enggak semua cuman segelondong orang aja. Sorry ya aku ngegas karena bikin cerita emang susah tapi gaji cuman bisa beli rinso saset doang itupun masih di protes para readers. wuahaha ngakak...
#Untuk kedepannya aku bakal lebih hati2 bikin cerita 21+ dan keknya gak akan ada cerita itu setelah bab ini. Makasih.
#Dan untuk mamanya Ali itu emang rada kurang jadi mohon maklumi aja. Pada dasarnya gak ada orang tua yg ngajarin jelek ke anaknya kecuali ya mohon maap kek mamanya Ali. Tapi tenang aja, Ali itu baik banget jadi jangan negatif thingking kepada Ali.
Ali gak akan merusak Sera, aku gak mau kalian mikirin aneh2 tentang Ali.
*******
Sean hari ini membawa Seina ke kantornya. Entah mengapa ia tidak mau jauh dengan Seina yang kini sedang belajar merangkak. Memang hari ini cukup senggang sampai ia berani membawa Seina.
"Jangan tarik dasi papa, Sein!" ucap Sean.
Sean mencium gemas Seina lalu membawanya duduk di sofa. Seina sekarang sudah bisa duduk sendiri walau terkadang masih belum tegak.
"Sein, papa tampan atau tidak?" tanya Sean.
"Blublu baba baaa blu...," oceh Seina tidak jelas.
"Jawab Seina! Cih... malah main ludah," ucap Sean sambil mengelap ludah Seina dan lalu menciumnya.
Kenapa ilernya tidak bau ya? Batin Sean.
Tok tok tok..
Terdengar pintu diketuk dan Sean menyuruhnya masuk ternyata Asisten Kim membawa berkas yang harus di tanda tangani.
"Mari sini ku tanda tangani tapi gendong dulu Seina," ucap Sean.
Asisten Kim menggendongnya dan mengajak bermain Seina. Seina nampak senang dan terus aktif bergerak.
"Kata Dokter Juna kini nona Zara sudah berada di rumah sakit untuk siap melakukan cesar," ucap Asisten Kim.
"Benarkah? Kenapa Junaedi tidak bilang kepadaku?" ucap Sean sambil membaca berkas satu persatu.
Setelah itu Sean meletakan berkas penting itu di sofa lalu merebut Seina dari gendongan Asisten Kim.
"Tuan Sean, Ali rupanya...," ucap Asisten Kim tidak yakin.
"Kenapa si Al?"
__ADS_1
Asisten Kim terdiam, ia ingin memberitahu jika Ali dekat dengan Sera tetapi ia urungkan karena itu bukan urusannya.
"Hei! Kau malah melamun? Kenapa si Al?" ucap Sean membuyarkan lamunan Asisten Kim.
"Tidak papa, tuan. Permisi Tuan Sean," ucap Asisten Kim sambil menunduk hormat lalu keluar dari ruangan Sean.
Sean lalu menelpon Mauren untuk segera kembali. Sean membayangkan jika ia mempunyai anak satu lagi pasti ia akan senang. Lalu lamunannya di buyarkan oleh kedatangan Sera yang sudah di depannya.
"Hai keponakan?" ucap Sera sambil merebut Seina dari gendongan Sean.
"Kau membuatku kaget saja"
Sera nampak bermain-main dengan Seina bahkan Seina menjambak rambut Sera yang panjang.
"Jambak saja, Sein! Tante nakal itu," ucap Sean.
"Kak Sean, bantuin dong!"
Sean lalu ikut menjambak Sera membuat gadis itu kesakitan.
"Aaaww sakit kak! Lepasin!" ucap Sera.
"Katanya tadi minta di bantuin"
"Bantuin lepasin kak, bukan bantuin Seina menjambak rambutku. Huh...," ucap Sera.
Sean tertawa lalu membantu melepaskan tangan Seina yang mencengkeram rambut Sera dengan kuat.
"Iya aku mau ajakin Kak Sean kesana," jawab Sera.
"Mamamu dimana?"
"Gak tau, cari berondong mungkin," jawab Sera asal.
Sean menghela nafas, ia tahu kini Sera sangat kesepian apalagi sudah tidak ada Zara dan sang kakek di rumah.
Gadis yang selalu ceria itu banyak menyimpan kesedihan.
Sean memainkan rambut Sera yang panjang lalu membelainya.
"Jangan pacaran dulu, Sera! Kakak tidak mau kau terjerumus dalam pergaulan nakal. Jika memang kau punya pacar coba suruh temui kakak, kakak hanya ingin kau bahagia dengan pria yang benar-benar baik. Mamamu memang tidak memperdulikanmu tapi kakak tetap peduli padamu. Kau boleh main ke apartemenku dan menginap disana jika kau kesepian di rumah," ucap Sean sangat perhatian kepada adik sepupunya itu.
Sera menggigit bibirnya lalu menahan air matanya yang akan terjatuh. Sean walau galak tetapi ia paling perhatian dengan Sera bahkan sering menyisir rambut Sera. Mamanya sendiripun tidak pernah melakukannya.
"Oppa...," teriak Mauren sambil membuka pintu.
Mauren telah kembali lalu melihat Sera yang akan menangis. Mauren menangkup wajah Sera dan mengelap air mata nya yang akan terjatuh.
"Kenapa, Sera? Dimarahi kakakmu lagi?" tanya Mauren.
"Gak kak. Tidak papa"
__ADS_1
"Oppa apakan Sera?" tanya Mauren kepada Sean.
"Aku tidak melakukan apapun kepadanya," jawab Sean.
Sera tersenyum lalu memeluk Sean dan Mauren. Dia kini menganggap mereka berdua adalah ayah dan ibunya.
"Aku akan pergi kak... huhuhuhu," ucap Sera menangis.
"Mau pergi kemana, Sera?" tanya Mauren.
Sera melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya. Sean terdiam memandangi adik sepupunya yang tiba-tiba menangis padahal Sera dikenal sangat ceria.
"Jika kau punya masalah ceritakan kepada kakak," pinta Sean.
Sera menggelengkan kepala. Sean lalu memeluk Sera dengan erat. Dia memang tidak tahu kesedihan Sera tetapi sampai Sera menangis pasti masalah Sera sangat berat.
Setelah Sera terdiam mereka lalu diantar ke rumah sakit bersama Ali. Di dalam mobil, Ali selalu curi pandang kearah Sera yang duduk di belakang bersama Mauren sedangkan Sean duduk bersama Seina di depan.
"Oppa?"
"Apa kau?" ucap Sean.
"Seina tidak akan di perbolehkan masuk ke dalam rumah sakit karena dia masih kecil," ucap Mauren.
"Hancurkan saja rumah sakitnya jika tidak boleh masuk"
"Mulut oppa yang ku hancurkan, punya mulut enak sekali bilangnya," gumam Mauren.
"Apa kau bilang?"
"Ehh... tidak papa," jawab Mauren takut.
Mauren lalu melirik Sera yang sedari tadi terdiam. Dia menggenggam tangan Sera. Sera lalu bersandar pada pundak Mauren.
"Sebentar lagi Sein akan punya teman. Sein akan punya 2 adik," ucap Sean menggoda Seina.
Seina hanya tertawa sambil bermain ludah, Sean mencium gemas pipi anak angkatnya yang kian menggembul.
Sedangkan Ali melirik sang pacar yang tengah lesu tanpa tenaga. Entah kenapa ia begitu khawatir dengan Sera.
"Nona Sera sepertinya sakit, tuan?" ucap Ali.
"Mungkin karena Kim menolaknya dia jadi putus harapan begini," ejek Sean.
"Apaan sih kak Sean?" ucap Sera.
"Sera, sekolah dulu yang benar! Jangan memikirkan hal lain! Jangan seperti Zara yang di hamili dokter kampret itu. Cih... Sialan! Jika teringat hal itu hatiku sakit sekali bisa-bisanya Juna melakukan itu kepada Zara," ucap Sean kesal.
"Takdir tidak ada yang tau, oppa," jawab Mauren.
"Takdirnya Juna enak sekali bisa menghamili bocah. Dasar sialan!"
__ADS_1